2/21/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 16 PART 2

Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 16 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 16 Part 1

Kang Dae Sung masuk ke ruangan itu dan sangat terkejut melihat tumpahan darah di hadapannya. 
“Siapa aku, dan apa kemampuanku... Kau sudah mendapat jawabannya? Bersihkan ini. Aku akan pergi.” Ucap Ah Sa Nyeo lalu pergi meninggalkan Kang Dae Sun yang masih tercengang.


Sa Oh Jeong memberitahu Oh Gong kalau peti batu Ah Sa Nyeo disimpan di sebuah tempat milik Yayasan Korea, dan Ah Sa Nyeo pasti bersama peti matinya.
“Kang Dae Sung bukan orang biasa. Dalam beberapa tahun ini, dia di prediksi akan menjadi tokoh teratas negara ini.”
Oh Gong ingat, Ah Sa Nyeo  pernah memberitahunya kalau Ah Sa Nyeo  akan akan memanggil naga lagi dan akan menobatkan seorang raja. Oh Gong pun memberitahu Sa Oh Jeong kalau Ah Sa Nyeo pernah memberitahunya saat berada di tubuh Sam Jang.
“Bagaimana pun, ada kemungkinan dia berada di sekitar orang tersebut.” Lalu Oh Jeong melihat pesan yang masuk ke ponselnya.


Oh Jeong mengatakan ada pesan baru yang masuk ke grup obrolan, dan ternyata pesan itu dari Bu Ja yang menyapa semua anggota di grup itu.


Ma Wang yang sedang bermain bersama bayi, harus berhenti sejenak untuk membaca pesan di grup obrolan. Sekertaris Ma mengernyit membaca pesan dari Bu Ja.
Bu Ja: Halo, semuanya.
“Halo? Omong kosong apa ini?”
“Mentalnya sudah membaik. Dia cukup kuat.” Ma Wang mengomentari pesan yang ditulis oleh Ah Sa Nyeo.


Pal Gye sedang bersama Jenderal Es dan Naga Giok, mereka pun membaca pesan itu.
“Walau aku tidak mengenalkan diri, aku yakin kalian sudah tahu. Tapi tetap saja, bagi yang masih bingung, aku Ah Sa Nyeo.”
“Kurasa dia tidak normal.” Pal Gye menaggapi pesan itu.


“Jika kalian tahu keberadaan Son Oh Gong, kirim pesan padaku. Jika tidak, katakan padanya keberadaanku.”
Oh Gong membaca pesan itu dari ponsel Oh Jeong, Oh Gong mengatakan jika Ah Sa Nyeo memanggilnya, dia pasti memiliki sesuatu yang diandalkannya.


Seon Mi mengatakan Ah Sa Nyeo jalang saat membaca pesannya, begitu kesalnya dia hingga semua kertas yang ada di meja jadi bertebangan. Han Joo keheranan dari mana datangnya angin yang menerbangkan kertas-kertas itu.


Seon Mi beranjak dari kursinya, dia ingin segera menemui Oh Gong. Dengan sungkan dia bertanya apakah keluarga Son Oh Gong adalah orang-orang yang membuat ponsel yang biasa mereka pakai. Karena Han Joo sudah pernah bertemu Sa Oh Jeong, maka Seon Mi membenarkan pertanyaan Han Joo.

“Pantas saja. Pantas saja. Menurutku Sekretaris Son sangat kaya. CEO, anda sangat menakjubkan. Hormat! Aku sungguh menghormati anda. Anda bahkan mendapat cincin. Lalu, anda akan pindah ke rumah chaebol?”

Tapi Han Joo melihat Seon Mi sudah tidak lagi memakai cincin dari Oh Gong, dia pikir malam itu (saat Sa Oh Jeong yang dikira ayahnya Oh Gong datang ke rumah Seon Mi) Sa Oh Jeong datang untuk menyeret Soen Mi dan melemparkan uang ke wajah Seon Mi dan juga menamparnya. Dia melakukan itu karena keluarga besar Oh Gong tidak menyetujui Seon Mi.

“Iya. Tentangan dari atas sana sangatlah kejam.” Kata Seon Mi sambil menunjuk ke atas, maksudnya tentangan dari surga. Seon Mi pun duduk lagi, tidak jadi menemui Oh Gong.


Oh Gong menemui Ah Sa Nyeo di sebuah restoran mewah. Oh Gong mengatakan kalau ini adalah bukan tempat yang bagus untuk mati. Ah Sa Nyeo mengatakan ini adalah tempat yang bagus untuk kencan, dia menemukannya dari internet, dia merasa dimudahkan melakukan apapun di internet.

“Ya, lalu bukalah website dan mulai belanja. Coba cari peti mati. Peti mati. Atau kau ingin menggunakan peti mati itu lagi?”

Ah Sa Nyeo menagatakan kalau suasana hati Oh Gong sedang buruk.

“Jika aku tahu, saat kita bersama waktu itu... aku akan minum anggur dan membiarkanmu menyalakan lilin. Lalu saat aku minum obat itu, pasti sangat romantis.”

“Aku akan menyalakan lilin dan anggur di peti matimu.”

“Kau tidak boleh seperti ini padaku. Sam Jang akan berada dalam bahaya. Saat berada di tubuh Sam Jang, aku memakan sesuatu yang berbahaya.”

“Apa yang bahaya? Hei! Hari itu, kau makan semangkuk sup nasi kepala sapi yang di beli Lee Han Joo di pasar dengan dua hoddeok dan makan es krim! Sudah kubilang, aku mengawasimu. Kurasa kau tidak tahu Yook Gong ada di sana. Mengapa? Itu yang kau andalkan? Mengecewakan sekali.”

Ah Sa Nyeo berjanji dia tidak akan menganggu Sam Jang lagi. Tapi Oh Gong tidak mempercayainya, sambil menarik tangan Ah Sa Nyeo, Oh Gong mengatakan dia akan memasukkannya ke peti mati agar tidak mengganggu Sam Jang lagi. Ah Sa Nyeo bertahan dengan mengatakan bahwa Ma Wang lah yang membiarkannya pergi dengan berjanji akan membantunya.


Ma Wang muncul dan membenarkan perkataan Ah Sa Nyeo.
“Jadi, Ma Wang yang kau andalkan? Kali ini, sedikit masuk akal. Kubilang, aku akan mencabiknya dan membunuhnya.”
“Aku membuatnya tetap hidup karena dia berguna. Jika tidak berguna, aku akan menyerahkannya padamu.”
“Baiklah. Biar kudengar apa maumu. Sampai nanti.”
Oh Gong mendekatkan kepalanya ke Ah Sa Nyeo, dia mengatakan tidak akan membayar makanannya dan mengusir Ah Sa Nyeo, kemudian segera pergi. Saat Ah Sa Nyeo meminta Ma Wang untuk membayarnya, Ma Wang pun segera mengukuti Oh Gong tanpa menoleh lagi.


Ma Wang mengatakan kalau selama ini dia telah tertipu selama ini. Untuk membuatnya patuh, Ah Sa Nyeo mengatakan kalau surga menipunya tentang anaknya dan berbicara yang tidak masuk akal.
“Kurasa Asanyeo menipumu dengan omongannya yang bodoh.”
“Ah Sa Nyeo yang bicara tidak masuk akal! Anakku masih hidup tapi mereka melakukan ini padaku.”
“Kau terlalu banyak menonton drama.”
“Anak itu masih hidup tapi apa mungkin mereka membunuhnya?”
“Dari melodrama, itu menjadi film thriller?”
“Aku harus membalas dendam anakku.”
“Ma Wang, hentikan!”
“Mengapa? Aku tidak tahu anakku hidup atau mati. Apa yang harus dihentikan?”


Karena bayinya terbangun karena perdebatan Ma Wang dan Oh Gong, Ma Wang kemudian berdebat lagi sambil bermain dengan bayi. Ma Wang mengatakan akan menyuruh Ah Sa Nyeo untuk mencari tahu anaknya masih hidup atau tidak. Oh Gong terus mencemooh dengan mengatakan apa hebatnya seorang anak. Karena penasaran, Oh Gong pun melihat bayi itu yang terus menarik perhatian Ma Wang.

Bayi itu tertawa saat Oh Gong melihatnya, lalu Ma Wang meminta Oh Gong agar bermain bersama bayi itu agar dia tidak menangis lagi. Oh Gong menolak tapi Ma Wang terus memaksanya, kalau Oh Gong tidak mau melakukan cilukba maka julurkanlah lidahnya.
“Itu bahkan lebih aneh. Aku tidak mau! Kau gila?! Tidak mau!”
“Hei, tapi bayi menyukainya. Lakukan sekali saja!”


Mobil Pal Gye berhenti di samping Ah Sa Nyeo yang sedang melarikan diri dari kejaran pelayan restoran yang memintanya membayar makanan. Pal Gye memintanya masuk ke mobil untuk memenuhi janji Ah Sa Nyeo waktu itu.
“Jika aku tidak mau?”
“Aku bisa membuatmu terkenal. Dalam 30 detik aku keluar dari di sini... kau akan menjadi terkenal. Jika kau berencana melakukan kejahatan, kau pasti tidak mau di kenal, bukan?”
Dengan terpaksa Ah Sa Nyeo pun masuk ke mobil Pal Gye.


Pal Gye membawa Ah Sa Nyeo ke rumah sakit tempat ibu Jung Se Ra dirawat dan meminta Ah Sa Nyeo masuk.
“Biarkan Bu Ja memenuhi keinginan untuk bertemu Ibunya.”
“Jika aku masuk dan tidak menitikkan air mata... bukankah wanita itu akan terluka?”
“Itu tak akan terjadi. Dia tidak sadarkan diri. Bu Ja... Maksudku, sakitnya semakin parah ketika mencari Jung Se Ra. Sampai di titik sekarat, dia hanya mencari putrinya.”
“Aku terlalu sibuk mengurus hal-hal semacam ini.”
Pal Gye segera menarik tangan Ah Sa Nyeo yang berusaha pergi. Ah Sa Nyeo beralasan kalau tubuh Bu Ja sangat lemah sehingga dia hampir tidak bisa bertahan.
“Kau tahu bagaimana caraku bertahan? Kau pasti tahu. Mayat akan terus membusuk. Kau juga pernah mencoba menangkapnya dan membiarkan wanita ini memakannya. Aku sangat sibuk bertahan di tubuh ini. Jika ingin membantu, maka kau juga harus menangkap beberapa manusia untukku.”


Oh Gong mengakui keahlian Ma Wang mengurus bayi. Lalu dia bertanya tentang masa kecil Jin Seon Mi, bagaimana cara Ma Wang menemukannya dan menyuruhnya ke Gunung Lima Elemen. Ma Wang dulu mencari manusia spesial, dan Seon Mi sudah terkenal waktu itu. Itu sebabnya Jonathan membuat film tentangnya.


Jonathan menceritakan tentang film yang dibuatnya yang berjudul “Wooja”. Film itu didasarkan pada kehidupan Seon Mi. Dulu ada penyakit menular misterius yang melenyapkan seluruh desa. Di antara mereka yang mati ada wanita hamil yang melahirkan bayi perempuan sehat. Gadis itu adalah Seon Mi. Dia di cemooh dan dikucilkan semua orang karena mereka mengira dia dikutuk. Jonathan yakin Seon Mi bisa menolong semua orang.
“Apa yang membuatmu bicara begitu?”
“Setelah dia lahir, penyakit menular itu berakhir. Aku belajar semua ini dari dokter yang kutemui di klinik kesehatan saat melakukan penelitian.”
Oh Gong lalu mengubungkan dokter seperti yang diceritakan Jonathan dengan wanita yang menggendong bayi dalam mimpinya. Pikir Oh Gong dia harus pergi menemui dokter itu.


Ma Wang masih saja mengagumi bayi itu, dia mengelap air liur bayi dengan tangannya sendiri. Dia menolak saat Sekertaris Ma memberikan sapu tangan. Ma Wang mengatakan bayi ini luar biasa dan masih menggemaskan walau berair liur.
“Dan walau mereka mengeluarkannya seember, mereka masih menggemaskan.”
“Jika anda memiliki anak, anda pasti sangat baik dengannya.”
“Anakku... Ah Sa Nyeo bisa saja mengatakan itu untuk menipuku. Tapi, kau tahu, sejak aku mendengar anak itu masih hidup... aku terus berharap itu menjadi kenyataan.”
“Tingkat kemungkinannya sangat rendah. Anda tidak boleh gegabah.”
“Aku tahu. Oh, cilukba! Jika anak itu masih hidup, aku bisa memaafkan  mereka walau di tipu selama seribu tahun. Cilukba. Oh!” di sela-sela pembicaraannya dengan Sekertaris Ma, dia masih sempat bermain dengan bayi.


Oh Gong datang dan langsung membuka selimut bayi itu, Ma Wang juga mengomel tentang Oh Gong yang tidak bertanggung jawab karena tidak membelikan popok. Di selimut bayi itu tercetak tulisan “Pusat Kesehatan Desa Teratai”.
“Seperti yang kuduga, ini umpan untuk menangkapku. Aku akan membawanya.”
“Hei. Sekarang? Tapi bayi ini akan tidur setelah minum susu.”
“Ucapkan perpisahan dengan bayi ini. Singkat saja karena bayi ini tak bisa mengerti.”
“Perpisahan? Oh, dasar... tanpa di duga datang ke sini...”
“Cepat!”
“Oke, baiklah. Dasar. Apa yang harus aku lakukan?”


Ma Wang tampak sangat sedih. Karena bingung harus mengatakan apa, Ma Wang lalu memunggugi bayi itu dan menyuruh Oh Gong membawanya begitu saja.
“Ah, berengsek tak berperasaan. Sulit melepaskan anak yang menghabiskan seperempat hari bersamaku. Sesulit itukah bagi Cha Eun? Jika Surga mengambil bayi itu dan masih hidup... aku tak akan pernah memaafkan mereka.”


Ma Wang datang membawa sekotak kue untuk Soo Bo Ri. Dia terkejut melihat kedatangan Ma Wang tapi kemudian memujinya.
“Ma Wang, kau sungguh sudah sembuh. Seperti yang kuduga, kau kuat.”
“Apa maksudmu, aku kuat? Dibandingkan dulu, aku jauh lebih lemah.”
“Benar, dulu Ma Wang sangat menakutkan. Sekarang, kau menggemaskan.”
Soo Bo Ri lalu mengatakan dia akan memberi Ma Wang kabar baik karena telah membawakan kue. Dia menyerahkan selembar kertas berisi data diri seorang wanita dan mengatakan kalau manusia yang membunuh anak Putri Kipas Besi di masa hidupnya akan diberikan hukuman dari dewa. Putri Kipas Besi tidak akan lagi menanggung kesakitan kehilangan anaknya dan itu adalah rasa sakitnya yang pertama.
Kemudian Ma Wang bertanya bagaimana anak itu bisa mati, karena untuk menyelamatkan anak itu Ma Wang melakukan dosa menangkap manusia untuk dimakan, dia hanya berpikir untuk mengakhiri hukuman Cha Eun. Dia memohon agar Soo Bo Ri memberitahunya bagaimana anak itu mati.
“Hukuman Putri Kipas Besi telah berakhir. Jadi, apa gunanya mencari tahu? Seperti sekarang, fokuslah untuk menjadi dewa.”
“Apa anak itu sungguh sudah mati?”
“Sudah. Dia sudah pasti mati. Sekarang, aku harus menghadiri pertemuan yang mendesak. Aku akan menikmati kuenya.”
Ma Wang bergumam setelah Soo Bo Ri pergi kalau Soo Bo Ri tidak mengatakan yang sebenarnya.
Advertisement


EmoticonEmoticon