2/21/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 16 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 16 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 16 Part 2

Soo Bo Ri datang ke toko umum untuk bertanya pada cucu pemilik toko kapan neneknya akan pulang. Anak laki-laki itu tidak tahu kapan neneknya akan kembali, dia hanya tahu neneknya pergi mencari pedang.


Seon Mi sedang berada di bank, tiba-tiba dia bisa merasakan ada seorang nenek yang menangis tertipu dan kehilangan uangnya.


Saat menoleh, Seon Mi melihat nenek itu sedang duduk menunggu antiran. Seon Mi lalu bertanya pada petugas bank, apa benar nenek itu korban penipuan. Petugas bank hanya kebingungan dengan ucapan Seon Mi.


Seon Mi mengintip nenek yang sedang berbicara dengan seorang petugas, dan benar nenek itu memang tertipu orang yang memintanya mengirimkan sejumlah uang.
“Aku masih memiliki kemampuan ini.” Seon Mi kagu dengan kemampuan barunya.


Oh Gong membawa bayi itu ke kantor Seon Mi, dia menunggu Seon Mi yang belum kembali ke kantor. Han Joo mencurigai kalau Oh Gong sebenarnya sudah menikah dan itu adalah anaknya.
“Bukankah kau dan CEO memutuskan tidak jadi menikah karena keluargamu menentang?”
“Siapa yang bilang?”
“Lalu mengapa kau mengambil kembali cincinnya?”
“Oh, cincin. Aku harus mendapatkannya lagi.”
Han Joo menawarkan untuk membuatkan kopi, tapi Oh Gong menolak. Dia hanya meminta Han Joo menjaga bayi itu.
“Jika dia menangis, lakukan cilukba. Jika dia menangis saja.”


Oh Gong merasa lega karena dia bisa mendapatkan cincin Seon Mi dari tempat dupa yang sudha berada di toko umum. Cucu pemilik toko meminta imbalan karena sudah menemukan cincin itu, Oh Gong bilang dia tidak melakukan apapun.
“Nenekku akan kembali. Aku perlu mengembalikan semua uang yang kuambil sebelumnya.”
“Kemana dia pergi selama ini?”
“Entahlah. Dia bilang akan mencari pedang.”
“Pedang? Mengapa sangat lama mengambil pedang saja?”
“Tepat sekali. Itu terjadi sejak Noona datang ke sini dan guci malapeteka itu pecah, jadi sudah cukup lama. Ini pasti barang penting.”


Oh Gong teringat saat Seon Mi memberitahunya kalau Seon Mi telah melihat dunia hancur.


“Dia melihat itu di sini, bukan? Geumganggo juga datang dari sini. Dan pedang apa itu? Hei, hubungi aku saat nenekmu kembali.”
Cucu pemilik toko menyutujui permintaan Oh Gong, tapi dia meminta imbalan untuk hal itu. Oh Gong pun menyetujuinya.


Ah Sa Nyeo datang menemui Ma Wang.
“Aku memberimu pujian atas mental dan keberanianmu. Kau bahkan datang ke sini tanpa di panggil.”
“Karena kau mendukungku.”
“Jika kau sungguh ingin kudukung, lalu temukan bukti kebenaran perkataanmu.”
“Karena kau tidak percaya padaku, aku akan menemukan bukti. Beri aku waktu.”


Seon Mi terkejut melihat Oh Gong membawa bayi, Seon Mi hampir saja mencurigai Oh Gong.
“Tidak. Bahkan dia tidak mirip denganku. Kenapa semua orang seperti ini?”
“Lalu mengapa anak ini bersamamu?”
“Aku akan mengembalikan bayinya. Ayo pergi bersama.”
Oh Gong memberitahu mereka akan pergi ke tempat Seon Mi dilahirkan. Karena ada seseorang yang memanggil dan dia ingin tahu bagaimana awal mulanya.
“Mungkin takdirmu sudah di putuskan bahkan sebelum kita bertemu. Sejak kau lahir.”
“Aku membawa bencana sejak lahir. Orang tuaku dan banyak penduduk desa yang mati. Orang-orang takut bahwa aku anak sial dan tidak menyukaiku. Alasan pamanku menghindar juga karena itu.”
“Aku tahu. Ayo pergi dan cari tahu. Apa Jin Seon Mi sungguh pembawa sial.”


Seon Mi dan Oh Gong tiba di klinik tempat Seon Mi lahir. Seon Mi masih mengingat tempat itu, di mana orang tuanya dan penduduk desa meninggal karena penyakit misterius. Oh Gong mengajaknya masuk, di dalamnya persis dengan yang dilihat Oh Gong di dalam mimpi.


Seorang dokter wanita menyambut mereka, dia mengambil bayi dari gendongan Oh Gong.
“Terima kasih sudah mengembalikan anak ini dengan selamat. Kau pasti kesulitan, Sayang. Ini bukan saatnya bagimu, tapi aku menyuruhmu bepergian.”


Mereka bertiga lalu berbicara di luar.
“Jin Seon Mi, kau sudah dewasa. Aku juga di sini, saat kau lahir.”
“Apa? Tapi kau terlihat sangat muda... Kau bukan manusia kan?”
Dokter itu mengatakan kalau dia adalah bangau putih yang memanggil Oh Gong. Dia mengenal nenek Seon Mi dengan baik, nenek Seon Mi sangat menyayanginya. Dia memanggil mereka untuk memberitahu kalau Seon Mi  sama sekali bukan anak pembawa sial.


“Penyakit menular yang mendadak muncul, menyebar seperti api. Karena desa kecil, tempat ini dipenuhi pasien. Mereka yang terinfeksi, mati sangat cepat... tanpa ada yang tersisa. Ada seorang wanita hamil yang akan melahirkan di antara pasien. Aku merasakannya saat Ibu itu melangkah ke sini. Bayi itu... menyelamatkan banyak orang. Ibu itu mati tapi bayinya lahir dengan selamat. Dan darah bayi itu menyelamatkan orang lain. Penyakit itu hilang dalam sekejap.”


Dokter itu mengatakan tidak ada orang yang tahu kalau Seon Mi menyelamatkan orang sejak lahir.
“Takdirmu sudah diputuskan sejak kau lahir. Tentu saja, bau teratai darahmu tercium... setelah kau bertemu pengawalmu.”
“Tapi... bagaimana kau tahu semua ini?”
“Sejak dulu, aku telah menunggu Sam Jang lahir.”
“Terima kasih sudah memberitahuku. Aku anak pembawa sial, jadi aku khawatir semua orang di sekitarku akan dirugikan. Tapi, karena kau bilang itu tidak benar, itu membuatku senang.”
“Apa pun yang kau alami di masa depan... itu mungkin menyelamatkan, bukan merugikan. Terima kasih sudah membawanya ke sini.” Dokter bangau putih berterima kasih pada Oh Gong.


Seon Mi dan Oh Gong berjalan-jalan mengelilingi desa, saat menyebrangi sebuah jembatan Seon Mi mengatakan dia tidak pernah berjalan di sana dengan perasaan bahagia.
“Aku selalu sendirian. Jika tidak, anak-anak biasa melempariku dengan batu.”
“Kau bahagia sekarang?”
“Pertama, takdirku bukan salahmu. Lalu, apa pun yang terjadi padaku, bukanlah salahmu, jadi aku bahagia.”
“Kau tidak takut sekarang?”
“Tidak. Aku merasa sedikit lebih hebat, dan ketakutanku berkurang karena ada kekuatan. Ketika aku menjadi lebih kuat, aku tidak akan takut. Seperti dirimu.”
“Kapan aku bilang tidak takut? Aku merasa akan mati karena takut padamu.”
“Kau bilang aku membuatmu lemah, bukan? Aku tidak suka itu. Aku akan menjadi jauh lebih kuat, dan melepaskan ini untukmu. Jika aku tidak cantik sama sekali setelah ini di lepas, maka pergilah. Tapi jika aku sedikit cantik saja, aku akan menahanmu saat itu. Tapi kurasa nenekku tahu kau akan datang. Ketika aku bicara tentang Peri, dia selalu bilang kau akan datang.”
Mereka berdua kembali berjalan sambil bergandeng tangan.


Dokter itu termenung sambil mengatakan kalau pasti masih adala hal yang membuat Oh Gong penasaran.


Seon Mi meminta maaf pada Han Joo karena terlambat kembali ke kantor. Han Joo tidak merasa keberatan, lalu dia melihat Seon Mi sudah memakai cincinnya lagi. Soen Mi bahkan tidak menyadarinya, itu pasti saat Oh Gong menggenggam tangannya. Han Joo sangat antusia melihatnya, dia pikir itu karena nasihat dari dirinya.
“Sekretaris Son mengembalikannya kepadamu, bukan? Begini, aku tadi memberitahunya. Tidak peduli seberapa kuat tentangan, kau harus mendorongnya melalui cinta!”


Oh Gong kembali menemui dokter itu karena masih ada hal yang ingin dia ketahui.
“Benar. Ada sesuatu yang ingin kukatakan. Karena kau pengawal Sam Jang.”
“Siapa kau sebenarnya?”
“Seperti dirimu, aku juga pengawal yang melindungi Sam Jang yang terakhir. Sebelum kehancuran dunia datang, mereka bilang Sam Jang akan muncul.”
“Aku yakin Jin Seon Mi bukan yang pertama. Lalu?”
“Secepatnya, pedang akan muncul. Dengan pedang itu, kau akan menusuk Sam Jang. Sama seperti yang aku lakukan dulu.”


Di seluruh penjuru kota sedang disiarkan berita tentang Kang Dae Sung yang mengumumkan dirinya terjun ke dunia politik.


Dokter bangau putih mengatakan roh jahat yang sangat kuat akan muncul di mana kejahatan terjadi di dunia, sehingga Sam Jang harus membayar dengan hidupnya. Itulah akhir dari tugas Sam Jang.
“Tugasmu adalah menikam Sam Jang dengan pedang  bersama roh jahat dan akhiri kehancuran dunia. Jadi, itulah yang telah dituliskan... dan alasan Lonceng Kematian berbunyi.”
“Apa alasanmu memanggilku untuk memberitahu ini?”
“Aku ingin meminta bantuanmu. Saat pedang diberikan padamu, bantu bunuh aku. Tanpa itu, terlalu menyakitkan bagiku untuk bertahan dalam hidup yang panjang.”
Advertisement


EmoticonEmoticon