2/21/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 16 PART 4

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 16 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 16 Part 3

Kang Dae Sung berterima kasih pada Ah Sa Nyeo karena berkat dirinya, rintangannya untuk maju ke dunia politim telah hilang.
“Banyak hal yang bisa aku lakukan.”
“Di antara semua itu, apa mungkin termasuk memanggil naga untuk menobatkan raja?”
“Jadi kau ingin menjadi raja. Lalu pertama, ada seseorang yang harus kau temui. Ada kekuatan wanita yang kita butuhkan untuk memenuhi keinginanmu. Temui dia.”
Ah Sa Nyeo bertanya apa benar Kang Dae Sung yang merawat ibu Jung Se Ra, dia membenarkannya dan mengatakan kalau dia membantunya karena ibu Jung Se Ra sangat membutuhkan.
“Karena aku membuat kesalahan, aku harus merawatnya dengan baik.”
“Merawat Ibu dari wanita yang kau bunuh... Kau pasti akan menjadi Raja yang jahat.”


Ah Sa Nyeo datang mengunjungi ibu Jung Se Ra dengan mata berkaca-kaca.


Ah Sa Nyeo muncul di hadapan pal Gye dan Naga Giok, mereka berdua berusaha menghindari Ah Sa Nyeo.
“Kau tidak senang bertemu denganku lagi?”
“Aku tidak ingin berpikiran buruk tentangmu. Aku tidak ingin bertemu kau lagi.”
“Jeo Pal Gye, aku menemui Ibunya.”
Naga Giok mengajak Pal Gye pergi dan melarangnya mendengarkan Ah Sa Nyeo.
“Berkatmu, aku memenuhi harapan wanita ini.”
Pal Gye mendengar ucapan Ah Sa Nyeo lalu berbalik lagi.
“Terima kasih. Kau mencoba memanfaatkanku lagi?”
“Iya. Aku ingin meminta bantuan. Biarkan aku bertemu Sam Jang.”


Mereka bertiga mengamati Seon Mi yang berjalan memasuki gedung.
“Kau sungguh hanya bertemu sebentar untuk bicara dengannya, bukan? Jika ini membahayakan dan Dewa Agung datang, kau akan mati.”
“Aku tahu itu. Bukan aku yang akan menemuinya.”


Seon Mi berpapasan dengan Kang Dae Sung, pada saat itu pula Seon Mi melihat kehancura dunia.


Seketika itu juga langit menjadi gelap. Oh Gong, Ma Wang dan Sekertaris Ma menyadari hal itu.


Saat Seon Mi menyadari sesuatu dan akan menyusul Kang Dae Sung, Oh Gong datang dan menarik tangannya. Dia mencemaskan Soen Mi.
“Kau baik-baik saja? Ada masalah?”
“Ya. Aku baik-baik saja. Tapi... ini sedikit aneh.”


Pemilik toko umum sudah kembali, dia datang membawa bungkusan berpentuk persegi panjang. Dia mengatakan pergi dalam waktu yang lama untuk menemukan benda itu yang akan digunakan di hari yang penting.


Ma Wang mengatakan pada Sekertaris Ma kalau langit bertingkah aneh saat ini, mereka pasti sedang mengincar sesuatu.
“Bahkan jika Surga menipu anda... jangan bertindak gegabah. Anda telah kehilangan banyak kekuatan saat ini.”
“Aku tahu. Aku menjadi semakin lemah. Aku tidak memiliki energi untuk membalikkan semuanya. Tapi... dengan mudah, aku memiliki cara menjadi lebih kuat dari sebelumnya.”
“Apa?”
“Sam Jang. Jika aku memakannya, aku bisa melakukannya.”
“Tapi... Dewa Agung...”
“Kita hanya perlu melepas Geumganggo. Begitu kita melepas Geumganggo yang kutemukan, kita bisa menghilangkannya dari sisi Sam Jang. Jika mereka menipuku selama seribu tahun, apa yang tidak bisa aku lakukan?”


Seon Mi mengatakan kalau dia melihat hal yang sama saat guci malapetaka pecah.
“Sejujurnya, terkadang aku melihat masa depan. Rasanya seperti sesuatu yang ditakdirkan, semakin dekat.”
“Sepertinya kau semakin kuat. Ada sesuatu yang tidak kukatakan padamu. Dokter yang kita temui... Dia pengawal Sam Jang yang lain. Seperti kau dan aku.”
“Sungguh? Lalu, apa yang terjadi?”
Oh Gong tidak mengatakan yang sejujurnya, dia berbohong kalau Sam Jang dan pengawalnya melakukan tugasnya dengan baik dan mendapat banyak penghargaan, lalu menjadi Dewa dan hidup bahagia selamanya. Seon Mi sangat senang mendengarnya lalu dia bertanya apa dia juga akan menjadi dewa.
“Menjadi dewa bukanlah masalah. Pastikan kau meminta apa maumu saat kesempatan itu datang. Mereka bilang akan memberiku posisi resmi tapi mengurungku di ladang buah persik. Surga sangat kekanakan.”
Mereka pun tertawa dengan lelucon yang dibuat oleh Oh Gong. Oh Gong mengatakan bagaimanapun nanti, mereka akan tetap bersama.


Seon Mi lalu mengatakan jika salah satu menghilang dan satunya lagi berakhir sendiri, maka menurutnya yang ditinggalkan pasti lebih menyedihkan dan lebih menyakitkan. Seon Mi juga bertanya pada Oh Gong apa dia tidak ingin hidup bahagia selamanya bersama Seon Mi.
“Entahlah... Aku sedang berpikir tidak melakukan apa-apa dan menganggur. Haruskah aku memberitahu Oh Jeong untuk memberimu posisi?”
“Tidak, aku punya banyak uang. Kau hanya perlu bersenang-senang.”
“Baik. Aku hanya akan bersenang-senang. Tapi untuk saat ini, ada sesuatu yang harus kita lakukan. Kita butuh semangat untuk menang.” Kata Oh Gong sambil memegang tangan Seon Mi. Oh Gong lalu meletakkan kedua tangan Seon Mi yang digenggamnya ke keningnya.
“Saat aku takut, kesulitan, dan dalam bahaya... aku akan memanggil Jin Seon Mi. Aku pergi.”


Seon Mi dengan sedih memandang Oh Gong yang pergi meninggalkannya.


Pemilik toko membawakan pedang untuk Soo Bo Ri.
“Ini pedang yang kau gunakan tempo hari itu.”
“Kau sudah bekerja keras.”
“Aku telah melakukan tugasku.”


Soo Bo Ri lalu mengumumkan pada orang-orang di belakangnya, sepertinya mereka datang dari surga.

“Akhirnya, pedang Sam Jang telah tiba!”

Sebagian dari mereka bergumam kalau kehancuran akan segera muncul.


Soo Bo Ri terkejut saat pedang hilang dari tangannya. Ternyata Oh Gong yang mengambilnya dan dengan sangat cepat menghilang dan menjauh bebera langkan di belakang Soo Bo Ri. Dia mengatakan kalau Oh Gong belum boleh memiliki pedang itu. Oh Gong mengatakan dia tahu dari bangau putih kalau Soo Bo Ri akan memberikan pedang itu padanya.

“Pedang itu tak akan pernah bisa hancur. Demi tugasmu Sam Jang akan dikorbankan, dan dengan perjanjian, Dewa Agung, kau akan menikamnya dengan pedang itu! Tapi, jangan khawatir. Saat kau menjalankan tugas itu, Geumganggo akan lenyap, dan kau akan bisa menusuk Sam Jang tanpa rasa sakit. Setelah itu, hukuman menyakitkan yang diberikan padamu akan berakhir semuanya.”

Oh Gong mengatakan itu hanya omong kosong dan langsung menghilang.


Soo Bo Ri bertepuk tangan dan mengatakan kalau pedang telah diserahkan ke pengawal. Orang-orang itu pun bersorak gembira. Tapi Soo Bo Ri juga sepertinya merasa khawatir.
“Apa yang akan dilakukan berengsek itu dengan mengambil pedangnya?”


Oh Gong kembali ke Sureumdong, saat sedang mengamati pedang itu, bangau putih datang.

“Kau menemukannya. Lalu, berikan pedang itu... sehingga aku bisa mati seperti yang dijanjikan. Kau memakai Geunganggo. Lalu... walau kau hidup sendirian di dunia ini seperti aku, kau akan bisa lolos dari penderitaan ini.”

“Karena aku memakai ini, sakit apa yang akan dirasakan setelah ini menghilang. Seberapa sakitnya itu, aku tidak bisa menebaknya. Aku lebih takut akan hal itu.”

“Jangan berakhir seperti aku. Aku tidak akan pernah seperti itu. Sekarang, aku ingin mengakhiri ini.”


Oh Gong memberikan pedangnya lalu pergi. Bangau putih melempar pedang itu ke atas, kemudian pedang itu melayang menuju dadanya dan menusuknya.


Oh Gong mengambil pedang yang tertancap di tanah.


Pemilik toko bertanya pada Soo Bo Ri apa yang akan terjadi jika pedang itu hilang, akankah Sam Jang akan aman. Soo Bo Ri mengatakan itu mungkin terjadi, tapi pedang itu tidak akan pernah hilang.
“Bagaimana jika Son Oh Gong tidak menggunakan pedang itu?”
“Jika dia melindungi Sam Jang tanpa pedang itu,  Dewa Agung harus mengorbankan hidupnya.”


Oh Gong menghunuskan pedang itu ke sebuah batu besar. Pedang itu masuk ke dalam batu dan rerumputan segera menutup dengan sendirinya. Setelah pedang itu menghilang, Oh Gong berbicara pada dirinya sendiri.
“Pedang yang harus aku gunakan untuk membunuh Sam Jang, tidak akan pernah kembali ke dunia.”
Advertisement

3 comments

Lanjut lanjut lanjut...

Lagu ostnya lagu nuest w. Mantap mah

Lagu ostnya lagu nuest w. Mantap mah


EmoticonEmoticon