2/27/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 18 PART 1

Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 18 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 17 Part 4

Kang Dae Sung mempertanyakan niat Oh Gong yang akan membantunya dan berpikir Oh Gong hanya membuat lelucon saja, bagaimana dia ingin membantu tapi juga mengkritiknya. Oh Gong mengatakan dia memang bermain-main tapi bukan lelucon dan tidak ingin bercanda. Dia akan memberi uang dan kekuasaan untuk Kang Dae Sung, serta memintanya mengumpulkan orang-orang seperti Kang Dae Sung.

“Tanpa peduli kenyataan bahwa kau orang jahat, orang-orang yang ingin mendorongmu ke puncak dunia ini dibutakan karena uang dan kekuasaan. Kau dan orang-orang seperti mereka akan memanggil sesuatu yang kuinginkan.”

“Jadi, maksudmu aku bisa sampai ke puncak dan membawa apa yang kau mau? Jadi, ini semacam kesepakatan.”


Kang Dae Sung meminta Oh Gong melanjutkan pembicaraan untuk membahas rincian kesepakatan mereka, tapi Oh Gong mengatakan dia tidak punya waktu karena harus menonton My Golden Life dan juga Yoon's Kitchen. Jadi dia menyuruh Kang Dae Sung berbicara saja dengan “orang yang di sana” sambil menunjuk ke arah Oh Jeong.

“Aku akan meneleponmu saat kubutuh. Jadi datanglah.”


Oh Gong hendak pergi, tapi Kang Dae Sung masih berbicara padanya. Kang Dae Sung merasa tersinggung dengan sikap Oh Gong yang tidak menunjukkan rasa hormat. Oh Gong memintanya untuk mengganggap bukan dialah yang akan membuat kesepakatan dengan Kang Dae Sung, dia hanya kekuatan mutlak yang akan membantu Kang Dae Sung.

“Apa kau Tuhan atau semacamnya?”

“Hei, sudah jelas dunia seperti apa yang akan kau buat, jadi apa Tuhan akan menolongmu?  Pikirkan aku sebagai iblis, lalu kau pasti bisa mempercayaiku.”

Ma Wang pulang dan melihat bantengnya sebagai tempat jaket lagi. Tapi kali ini dia tidak mengambilnya, dia hanya menggerutu.

“Astaga. Bantengku. Kau berubah menjadi gantungan baju.”


Dia masuk dan melihat Oh Gong menonton tv sambil berbaring di sofa lalu mengomelinya. Posisi Oh Gong menonton tv membuat sofa mahal jadi berlekuk. Dan juga biaya yang harus dibayarkannya untuk tayangan yang dilihat Oh Gong bisa untuk membeli 12 sofa. Oh Gong menasehati Ma Wang agar hidup dengan baik, dan Ma Wang membantahnya dengan mengatakan bagi seseorang yang menggantung lukisan senilai 10 miliar won di kamar mandi, Oh Gong tidak pantas berbicara begitu.


Oh Gong akan memberikan lukisan itu pada Ma Wang dan juga semua botol di Sureumdong. Ma Wang bertanya apa yang terjadi dengannya sehingga Oh Gong bersikap seperti itu.

“Roh jahat yang harus dihadapi Sam Jang. Aku menemukannya. Sesuatu yang akan dipanggil Ah Sa Nyeo.”

“Naga? Bagaimana Naga bisa menjadi roh jahat? Itu titipan Tuhan.”


Soo Bo Ri memberitahu pemilik toko kalau yang akan muncul kali ini adalah naga hitam, dan Oh Gong sudah mengetahuinya. Saat itu semua roh jahat akan berkumpul bersama. Mereka mengubah titipan Tuhan menjadi jahat. Jika Naga Hitam keluar ke dunia dan memilih orang jahat sebagai tuan, maka kehancuran dunia yang di lihat Sam Jang akan segera tiba. 


Oh Gong telah menemukan manusia yang akan dipilih Naga Hitam itu, dia adalah Kang Dae Sung. Sebelum naga hitam itu keluar ke dunia, dia akan menghancurkannya. Ma Wang sangat terkejut mengetahui rencana Oh Gong, karena naga hitam itu sangat kuat dan jika bertanrung dengannya Oh Gong bisa hancur berkeping-keping.

Melihat reaksi Ma Wang, Oh Gong yakin Ma Wang pernah bertarung dengan naga itu tapi tidak berhasil mengalahkannya.

“Bukan kalah. Kami dengan hormat menguji kekuatan masing-masing. Lalu, mundur.”

“Jelas sekali takut kalah, jadi kau menyerah. Tapi, jika itu sesuatu yang kau takuti sepertinya itu sangat kuat.”

“Dua mata merah darah yang kulihat 3.200 tahun lalu masih muncul di mimpiku. Kau sungguh bisa mati.”

“Apa begitu? Jika Sekretaris Ma membawa obat manjur, bagikan denganku. Jadi, aku bisa menambahkan kekuatanku.”

Ma Wang mengatakan kalau sebenarnya ada solusi yang lebih sederhana yaitu memanfaatkan Sam Jang karena takdirnya sudah diputuskan. Jika Oh Gong menggunakan Sam Jang sebagai tameng, maka Oh Gong bisa dengan mudah melawan naga itu. Oh Gong jelas menolaknya, dan Ma Wang menyalahkan Geumganggo yang membuat Oh Gong tidak bisa melakukannya.


Oh Gong melatakkan tangannya dan meminta Ma Wang memotong tangannya agar Geumganggo itu lepas. Ma Wang pun bersiap meletakkan tangannya untuk memotong Geumganggo, tapi malah dia sendiri yang ragu dan membatalkannya.

“Kau pikir jika aku memotongnya tidak akan ada yang berubah, bukan?”

“Aku sangat berharap begitu.”

“Mari hentikan. Mengapa memotong tangan ketika tidak ada yang pasti? Baik. Berjuanglah melawan naga itu dan hancurkan berkeping-keping. Bahkan jika pergelangan kakinya masih ada, aku akan menguburnya dengan baik.”

“Aku akan tinggal di tempat lain untuk sementara waktu. Jika kau bosan, bertahanlah.”

“Syukurlah aku berlangganan bulanan. Jika berlangganan tahunan, tidak akan ada yang menontonnya. Itu akan terbuang sia-sia.”


Oh Gong datnag karena Seon Mi memanggil namaya. Seon Mi sedang berada di sebuah kedai dan sudah agak mabuk.


Oh Gong berusaha bersikap dingin dengan mengatakan tidak tampak ada bahaya jadi kenapa memanggilnya, apa Seon Mi memerlukan sopir untuk mengantarnya pulang.

“Aku memanggil untuk menyuruhmu melakukan sesuatu. Letakkan benda ini di langit seperti bintang yang lain. Kau tidak bisa? Kau selalu bilang bisa melakukan semuanya. Tapi, tidak bisa melakukan sesuatu yang sederhana ini?” Seon Mi memberikan sebuah batu kecil pada Oh Gong dan Oh Gong pun menjentikkan batu itu ke langit dan menjadi bintang.


Seon Mi ingin menunjukkan sesuatu pada Oh Gong, dia lalu dengan serius memandang sendok di dalam mangkok ramen di hadapannya. Perlahan sendok itu bergerak. Oh Gong memegang sendok itu dan mengatakan kalau ingin makan ramen maka gunakan tangan. Seon Mi kemudian meracau.

“Son Oh Gong, aku suka belut. Kau bisa membuat gunung belut, bukan? Dan dengan kaldu kue ikan, kau bisa membuat samudera, bukan?”

“Jika kau meminta, aku akan melakukannya, tapi apa kau mau tinggal di tanah anju?”

“Anju terdengar bagus. Ayam panggang banyak di sana dan kaki babi ada di mana-mana. Kau punya banyak alkohol di Sureumdong, jadi haruskah kita membuatnya menjadi tanah anju dan tinggal bersama? Sampai kita meminum semua alkohol di sana dan menghabiskan semua makanan di anju aku berharap bisa bersama denganmu. Sejujurnya, aku tidak marah saat kau bilang ingin memakanku dan mengusirku. Apa pria tampan seperti dia... sungguh akan memakanku? Sejak kau terus mengikutiku, dan bilang mencintaiku aku merasa sudah gila. Aku sangat menyukainya. Aku suka es krim yang kita makan bersama, gulali yang manis, dan deokbokki yang membuatku bahagia. Saat Geumganggo menghilang kau bilang kita tidak bisa bertemu lagi, bukan? Apa yang harus kulakukan? Aku sangat menyukaimu.”

Seon Mi lalu menangis tersedu-sedu sambil memegang dadanya, Oh Gong juga sangat sedih tapi dia tidak mengatakan apapun.


Seon Mi sudah tidur nyenyak di ranjangnya, sedangkan Oh Gong diam termenung di Sureumdong.


Kang Dae Sung memberitahu Ah Sa Nyeo kalau Oh Gong berniat membantunya. Dia meminta Ah Sa Nyeo untuk menyingkirkan batu sandungan dan Oh Gong yang membuka jalan maka dia akan bisa naik ke puncak tertinggi. Ah Sa Nyeo mengatakan dia akan melakukan apapun untuknya tapi jika terlalu banyak orang di sekitar Kang Dae Sung yang mati, bukankah akan curiga mencurigakan. Kang Dae Sung tidak mau tahu, karena menurutnya itu bukan perbuatan manusia. Dia bersedia mempersiapkan semua yang diperlukan Ah Sa Nyeo untuk ritual memanggil naga.

Ah Sa Nyeo memandang Kang Dae Sung dengan wajah tidak senang “Son Oh Gong benar” gumamnya.


Flashback. Oh Gong memberitahu Ah Sa Nyeo kalau naga yang akan dipanggilnya akan disingkirkan oleh Oh Gong.

“Kau pikir sesuatu yang keluar dari sini hanya hal sepele? Sam Jang lebih kuat darimu seperti yang kuduga. Walau tidak melihat dengan mata sendiri, dia tahu betapa banyak energi jahat di tempat ini. Naga yang keluar dari sini bukan makhluk mistis melainkan roh jahat. Ini kegelapan yang paling gelap.”

“Apa Naga Hitam? Tidak mungkin. Naga yang kupanggil memancarkan cahaya emas. Dia mengkhianatiku pada akhirnya, tapi orang yang menjadi raja dari naga, memperoleh kekuasaan dan pemerintahan yang stabil.”

“Tapi, itu dulu dan sekarang kau adalah roh jahat. Itulah mengapa kau tidak merasakan energi jahat yang memenuhi tempat ini. Karena tempat ini sama sepertimu. Kau masih berpikir dirimu yang menemukan Kang Dae Sung bukan? Tidak. Pria jahat Kang Dae Sung... dengan sendirinya memulai kejahatannya padamu.”

“Dia membunuh Jung Se Ra. Itu sebabnya aku datang padanya.”


Han Joo memberitahu Seon Mi kalau Oh Gong mengirimkan sup mabuk rasa kacang untuk Seon Mi yang semalam minum-minum. Seon Mi tersentuh tapi kemudian menyuruh Han Joo yang memakannya.
“Mansour Son mengirimkannya demi kesehatan Anda, jadi Anda harus memakannya. Aku akan icip sedikit. Duduk. Duduk.”


Seon Mi duduk memandang sup itu sambil mengenang saat-saat indah bersama Oh Gong lalu dia menangis.
“Aku juga tidak bisa makan es krim.Gulali juga... deokbokki juga.”
“Oh, CEO, kenapa Anda menangis, bukannya makan? Aku tidak akan minta. CEO...”


Ma Wang merasa senang tidak ada yang mengganggu di hari libur. Tapi dia menggerutu, karena Oh Gong sofanya menjadi kendor.


Ma Wang lalu membersihkan patung bantengnya, dia berbicara pada patung itu kalau si brengsek yang menjadikannya gantungan baju sudah tidak ada di sana. Tapi kemudian dia merasa kesepian dan bosan karena tidak ada yang mengganggunya. Ma Wang menoleh ke arah patung monyet dan bertanya-tanya apa patung itu juga akan mengjilang kalau Oh Gong menghilang. Ma Wang mengahampiri patung monyet dan siap meludah, tapi dia mengurungkan niatnya dan membersihkan patung itu.

“Jika hanya ada banteng di sini, rasanya sedikit hampa.”

INSTAGRAM TABLOID SINOPSIS


Ma Wang sangat senang saat ada suara pintu rebuka, dia mengira Oh Gong yang datang. Wajahnya masah saat menegtahui Sekertaris Ma yang datang dengan membawakan makanan untuknya. Sekertaris Ma heran melihat Ma Wang membersihkan patung monyet, dia juga berpikir sama kalau akan terasa hampa tanpa patung monyet itu.

Ma Wang langsung ceria mendengar ucapan Sekertaris Ma “Benar? Hah? Lebih baik tetap di sini walau membuat mata sakit, bukan? Aku memang tidak menyukainya, tapi demi desain interior, kita taruh saja monyetnya di sini.”
Advertisement


EmoticonEmoticon