2/01/2018

SINOPSIS Longing Heart Episode 8 PART 2

SINOPSIS Longing Heart Episode 8 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Longing Heart Episode 8 Part 1

Di halaman Rumah Sakit, Ji-soo duduk berduaan dengan Joo-hwan, dia bercerita mengenai kondisinya yang sampai mabuk berat tadi malam.

Joo-hwan: “Kalau mabuk, kamu selalu menyebut nama wali kelasmu. Aku jadi cemburu padanya..”

Ji-soo : “Itu, karena aku hanya ingin bertemu dengannya. Tapi aku tak bisa menemukannya, bagamana pun caranya..”

Karena tak bisa menemani Joo-hwan di hari ultahnya, Ji-soo minta maaf, “Sunbae, kamu tidak meniup lilin sendirian ‘kan?”


Sambil tersenyum, Joo-hwan bilang kalau dirinya ditemani oleh banyak wanita dan hal itu setidaknya berhasil membuat Ji-soo merasa lega. Tapi sebagai gantinya, Joo-hwan meminta Ji-soo memberisakannya du hadiah..

Ji-soo : ”Aku akan memberikanmu tiga hadiah..”

Joo-hwan : “Bolehkah, aku meminta salah satu diantara tiga hadiahmu diganti menjadi sebuah janji kepadaku?”

Ji-soo : “Janji apa?”

Joo-hwan : “Ketika aku memberitahukanmu tempat dan waktunya, maka kamu akan datang kesana tanpa bertanya appaun.. tak peduli sedang dimana dan bersama siapa kamu berada. karena aku akan menggunakan permintaan itu, ketika aku benar-benar membuthkanmu...”

Ji-soo : “Baiklah..”

Joo-hwan : “Pegang janjimu itu yaa”


Shin-woo (remaja) yang menguping obrolan mereka, menyadari bahwa Joo-hwan tak berkata jujur, “Okelah.. dia berakting. Berarti aku pun akan melakukan hal yang sama..”


Berjalan menghampiri mereka Shin-woo lalu berkata: “Dokter.. aku menyukaimu..”


Joo-hwan menertawakannya menyebut bahwa tingkahnya  konyol dan sia-sia, karena diluar sana telah banyak pria mapan dan tampan yang mengantri demi mendapatkan cintanya Ji-soo. Tetapi, Shin-woo menyanggah jawaban Joo-hwan.. dia bilang, kalimat yang dikatakannya bukan untuk Ji-soo melainkan untuk Joo-hwan~~


Merasa kaget, Joo-hwan mengajak Shin-woo untuk mengobrol berdua di ruangannya. setelah diperjelas.. Shin-woo meluruskan kalau kata ‘suka’-nya sejenis rasa kagum.

Joo-hwan : “Tapi, bagaimana bisa kamu menyebutkan kalimat ‘aku menyukaimu’ semudah itu kepada sesama pria..”

Shin-woo : “Aku pernah melakukannya, sekali.. tapi tak usah dipedulikan”


Ternyata, kalimat itu.. hanyalah alasan Shin-wo supaya bisa memiliki kesempatan waktu mengorek informasi seputar Ji-soo dari Joo-hwan. Pertama-tama, Shin-woo bertanya apakah untuk mejadi seorang dokter, berarti harus sekolah ke luar negeri? Dan kenapa Ji-soo melakukannya?

Joo-hwan :  “Hmm.. mungkin karena dipaksa orangtuanya?”

Shin-woo : “Lalu kenapa, sebelumnya bu dokter tak pernah mau datang ke tempat ini lagi?”

Joo-hwan : “Entahlah, aku pun tak mengerti dan penasaran akan hal itu. Mungkin, karena dia tak bisa menaiki perahu?”

Shin-woo : “Bu Dokter tak bisa menaiki perahu?”

Joo-hwan :  “Hmm.. makanya dia sangat menderita dalam perjalanan menuju pulau ini”


Karena ada panggilan, Joo-hwan harus pergi memeriksa pasiennya. Dan obrolan mereka pun terhenti disana. tapi sebelumnya, dia mengingatkan Shin-woo untuk tak mengharapkan cinta Ji-soo, karena banyak pria yang telah menganti didepannya. Tap dengan santai, Shin-woo yang selalu diremehkan karena usianya, balik menyindir Joo-hwan yang memiliki badan lebih pendek darinya....


Shin-woo (remaja) menelpon Shin-woo (dewasa) untuk melaporkan segala hal yang baru saja diceritakan Joo-hwan padanya. satu hal yang sama-sama membaut merka heran, adalah fakta mengenai Ji-soo yang tidak bisa menaiki perahu. Mereka bertanya-tanya kebingungan, mengapa itu bisa terjadi?


Dalam ruang guru, Na-hee masuk dan duduk di samping Shin-woo. Dia bertanya mengenai Ji-soo yang dan itu membuat Shin-woo bertanya balik, “Darimana, noona tahu kalau Ji-soo ada disini?”

“Geun-dok yang menceritakannya  padaku..” jawab Na-hee

“Jadi, kalian masih berkomunikasi?” tanya Shin-woo

“Iylah! Dia ‘kan masih muridku juga!” jawab Na-hee


Na-hee tiba-tiba bertanya hal lain, “Shin-woo yaa.. menurutmu, berapa persen aku bisa memeprcayai kata-kata yang keluar dari bibir seorang pria?”

“Noona, kamu sedang berkencan?” tanya Shin-woo

“Kenan apaan?!” tukas Na-hee,, yang kemudian menggerutu menyalahkan sosok Pak Kang sebagai orang yang telah membuat hidupnya seperti ini, “Dia bilang, aku akan terus melihatnya sampai aku bosan! Tapi ternyata, dia tiba-tibamenghilang dan tak kembali lagi! Karena dia-lah, aku tak pernah bisa memeprcayai perkataan seornag pria lagi!”

“Hfftt.. sepertinya aku tak akan pernah bisa lari dari bayangannya kemana pun aku pergi..” gumam Shin-woo


Shin-woo: “Noona.. mungkin saja dia berkata jujur, dia tidak berbohong padamu. Maksudku, pria itu..”


Ternyata, jepit rambut yang selalu dikenakan Na-hee saat kencan buta, merupakan hadiah dari Geun-dok. Kala itu, Geun-dok memintanya untuk mengenakan itu, karena bentuknya seperti tulang anjing.. jadi, ketika tengah mabuk, dia tak perlu menggingit orang dan tinggal menggigit jepit itu saja,
“Heh dasar murid kurang aja! Memangnya aku ini,, anjing!” tukas  Na-hee


Geun-dok : “Bu guru, sekarang akku sudah lulus dan aku bukan muridmu lagi.. jadi aku ingin mengatakan, kalau aku menyukaimu..”


Kembali pada realita, ternyata Na-hee sangat sering mengecek artikel mengenai Geun-sok. Mokzart yang melihatnya, langusng berkomentar bahwa itulah alasan mengapa hingga sekarang, Na-hee masih belum menemuka pasangan hidupnya..


Fakta yang mengenai Ji-soo yang tak bisa naik perahu, benar-benar membuat Shin-woo heran sekaligus penasaran. Dia pun menelpon Min-suk dan berniat untuk mengobrol dengannya lebih lanjut.


Dirumahnya, Min-suk sendiri tengah sibuk menuruti segala hal yang diminta oleh So-ra. Dia menyiapkan kopi, sementara So-ra tengah menulis CV untuk melamar kerja. Sekarang, So-ra telah rela membiarkan Min-suk berhenti kerja, karena diirnya yang akan menggantikan tugas mencari uang. Dia memutuskan untuk mencari pekerjaan di salon, dengan syarat Min-suk harus melakukan seluruh pekrjaan rumah tangga, seperti menyapu, mengepel, mencuci baju dan yang lainnya..

Min-suk tak merasa keberatan, karena ternyata.. selama ini, memang dirinya yang sellau mengurus pekerjaan rumah tangga, bahkan seluruh gajinya pun selalu dia berikan pada So-ra, “Disini aku tak memiliki apapun, kecuali dirimu..”


Bel berbunyi, dan masuklah Shin-woo. Dia datang untuk bertanya pada mereka, apakah mereka menyadari hal aneh yang ditunjukkan Ji-soo saat terakhir kali bertemu 10 tahun lalu?


Ternyata.. pada hari pemakaman ibunya Shin-woo, Ji-soo datang kesana tapi dia tak masuk kedalam dan hanya menitipkan sebuah buku pada Min-suk. Ketika diatanya kenapa? Ji-soo menjawab,, kalau dirinya tak layak dan tak sanggup untuk masuk kedalam..


Kemudian, So-ra baru ingat.. bahwa sehari sebelum insiden itu terjadi, Ji-soo menceritakan baha dia akan pergi ke pulau sebrang untuk menghadiri sebuah acara pameran pendidikan luar negeri. Maka ketika feri itu tenggelam, So-ra sempat menelpon Ji-soo karena takut terjadi seuatu padanya.


“Apa kamu tahu, Ji-soo akan menaiki feri jam berapa?” jtanya Shin-woo

“Hmmm.. entahlah, aku tak mengetahuinya. Tapi yang jelas, dia tak jadi menaiki feri itu, makanya dia masih selamat sampai detik ini..” jawab So-ra


Setelah mendengar jawaban itu, Shin-woo pamit pergi. So-ra menyusulnya, hanya untuk bertanya apakah sampai detik ini, Shin-woo masih menyukai Ji-soo?

“Hmm..” jawab Shin-woo


“Heh, pria idiot! Kamu lupa, apa yang telah dia lakukan pada kita, terutaka kepadamu! Dia tahu kalau ibumu meninggal, tapi dia malah pergi begitu saja, tanpa mengucap selamat tinggal atau bahkan menanyakan bagaimana keadaanmu. Kamu telah banyak menderita, perempuan itu mencampakanmu!” tutur So-ra


“Kurasa dia tak punya  pilihan lain dan itu pun membuatnya mengalami masa-masa yang sangat sulit..” ujar Shin-woo yang kemudain berkata, “Hey Jang So-ra, kurasa kamu mengerti Ji-soo lebih baik dibandingkanku...”


Shin-woo (dewasa) menelpon Shin-woo (remaja), untuk memberitahukan bahwa diirnya harus naik feri karena ada seuatu yangingin dia pastikan. Ketika Shin-woo (remaja) ingin bertanya tentang sesuatu, dia tak mendapat respon karena telponnya tiba-tiba terputus..


Berikutnya, Shin-woo (remaja) berniat menemui Ji-soo. Namun lagi-lai, Ji-soo tengah tak berada dalam ruangannya. Shin-woo tetap masuk, dia memerhatikan cincin yang tersimpan di meja, “Aku masih bingung, kenapa ini ada disini? Mungkinkah ibuku pernah bertemu dengan Ji-soo?”


Ternyata, Ji-soo tak ada di tempat karena So-ra mengajaknya bertemu di sebuah kafe. So-ra bilang, dia ada wawancara kerja disekitar sini, berhubung dekat dengan tempat kerja Ji-soo makanya dia mengajaknya bertemu.

“Aku sangat bahagia, karena kamu masih bersedia bertemu denganku.. kukira, kamu akan sangat membenciku ” ucap Ji-soo

Dengan ketusnya, So-ra mengatakan bahwa dirinya masih sangat membenci Ji-soo. Bagaimana pun juga, 10 tahun bukanlah waktu yang singkat..


So-ra : “Tapi sekarang, marahku telah mereda dan semuanya karena Shin-woo.. berterimakasih-lah padanya karena selama ini, dia telah banyak menderita namun dia selalu mementingkanmu dibanding hal lainnya.. memangnya, tadi malam dia tak menceritakan apapun kepadamu?”


Ji-soo : “Tadi malam?”
Comments


EmoticonEmoticon