2/12/2018

SINOPSIS Misty Episode 3 PART 3

Advertisement
SINOPSIS Misty Episode 3 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Misty Episode 3 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Misty Episode 3 Part 4

Pak Jang heran melihat Hye Ran masih berada di ruangan, pada saat News Nine akan segera disiarkan. Hye Ran meminta Pak Jang untuk membuat keputusan sekarang juga, tapi dia tidak mengerti maksud ucapan Hye Ran.
“Anda bersungguh-sungguh bertanya kepadaku?”
“Hei, Go Hye Ran! Apa yang kamu lakukan? Kembalilah. Waktu kita tinggal tujuh menit.”
Dae Woong muncul dengan sangat kesal.


Hye Ran terus menekan Pak Jang, dia tidak gentar sedikitpun. Han Ji Won juga melihatnya dari balik kaca.
“Bukankah Anda hendak mengatakannya? Kalau begitu, berilah Han Ji Won jabatan itu. Aku akan mengosongkan kursi itu sekarang.”
“Yaa. Kamu mau bertanggung jawab?!” Dae Woong membentak Hye Ran.
“Aku mengundurkan diri.”


Pak Jang akhirnya berbicara “Yang mana?! Thailand atau Han Ji Won?!”
“Anda menyuruhku memberi untuk menerima. Anda pun harus memberi.”
Seorang kru memberitahu kalau waktu yang tersisa tinggal lima menit.
“Ini gila!” Dae Woong juga semakin tertekan oleh tindakan Hye Ran.
Pak Jang: “Aku tidak bisa membatalkan Thailand! Sudah kubilang itu keputusan CEO!”
Dae Woong: “Kamu akan membuat kita semua dipecat. Baiklah. Aku paham. Mari kita bicarakan di sana.”
(Narasi suara Hye Ran: Aku telah menghadapi banyak jalan buntu dalam hidupku. Aku tidak bisa maju ataupun mundur. Dalam situasi itu, aku tidak pernah kabur atau menghindarinya. Aku selalu menghadapinya. Aku yang dipukuli atau kamu.)


Seorang kru berteriak dengan panik, waktu tunggal tiga menit. Pak Jang terus menatap Hye Ran, dan akhirnya dia berbicara pada Dae Woong.
“Dae Woong. Kirim Han Ji Won ke Daejeon.”
“Apa?!”
“Umumkan penunjukannya besok. Lakukan itu! Hari ini ulang tahun istriku. Jika terlambat, aku akan bercerai sepertimu. Kalian berdua akan dipecat jika menyebabkan kecelakaan penyiaran.” Pak Jang lalu pergi setelah memberikan bebannya kepada Dae Woong.
“Kenapa Anda tiba-tiba... Astaga. Yang benar saja.”


Hye Ran lalu masuk ke studio dengan penuh keangkuhan. Dia melewati Han Ji Won yan berdiri terpaku.
(Narasi suara Hye Ran: Dan aku tidak pernah kalah.)


Soo Eun Joo sedang menyaksikan News Nine dengan wajah yang sedih, dia juga merasa cemas.


Han Ji Won mengemasi barang-barangnya. Dia berpapasan dengan Hye Ran yang sama sekali tidak memandangnya.


“Seberarti apa jabatan itu bagimu? Kamu tidak akan bertahan lebih dari setahun. Haruskah kamu melakukan ini selama setahun itu? Kenapa kamu tidak bisa membiarkan dan memberikannya kepadaku?” Han Ji Won tiba-tiba berbicara dan membuat Hye Ran menoleh.


“Mungkin aku bisa saja membiarkan dan memberikannya kepadamu. Jika kamu pantas. Mungkin.”
“Kenapa aku tidak pantas? Pak Kepala menyetujuiku, begitu pun CEO.”
“Keinginan. Keputusasaan. Keinginan yang mendesak untuk mendapatkannya. Kamu tidak memiliki salah satu pun.”
“Aku juga ingin. Aku putus asa. Dan itu juga untukku.”
“Aku yakin begitu. Kamu ingin pamer dan menikmatinya. Itu sebabnya kamu yang sangat ingin mendapatkan jabatan itu. Tapi Ji Won. Kamu tidak bisa dapat jabatan itu hanya dengan keserakahan. Hanya dengan satu kata yang kamu ucapkan, pemirsa menangis, tertawa, menghela, dan khawatir. Jika berita bergantung pada suasana hatimu, kamu sudah didiskualifikasi.”
“Bagaimana kamu bisa sangat mengenalku?”
“Pernahkah kamu merasa sangat lapar? Pernahkah perasaanmu hancur karena diskriminasi dan duka? Pantas saja kamu tidak tahu makna merasa putus asa. Keputusasaanmu terlihat sangat rendah dan remeh bagiku. Dan itu dangkal.”
“Jadi, apa yang sangat ingin kamu lakukan?”
“Realisasi masyarakat yang adil. Mungkin itu kalimat yang membosankan dan kuno bagimu, tapi itu kalimat yang pupus bagiku seperti hidupku. Realisasi masyarakat yang adil. Paham?”
Hye Ran menatap tajam Han Ji Won dan menekankan setiap kata-katanya, tidak memperdulikan Han Ji Won yang meneteskan air mata.


Hye Ran minum dengan teman reporternya. Dia menceritakan tentang penunjukannya sebagai kandidat juru bicara Blue House. Temannya itu mengucapkan selamat, tapi Hye Ran mengatakan perjalanannya masih panjang karena proses verifikasinya memakan waktu satu bulan.
“Kamu bertahan selama bertahun-tahun hingga sekarang. Satu bulan bukanlah apa-apa.”
Wanita itu lalu pergi ke toilet.


Hye Ran menerima telepon dari ibu mertuanya, dia meminta maaf karena sibuk menyiapkan berita, jadi tidak bisa menjawab telepon darinya.


Hye Ran sudah berada di rumah dan sedang berbicara dengan ibu mertuanya. Mereka berdua sama-sama terkejut dengan surat cerai yang berada di meja Kang Tae Wook.
“Sudah berapa lama kalian pisah ranjang?”
“Dia sibuk dengan pekerjaannya belakangan ini.”
“Selalu ada selimut di sofa ruang kerja. Ibu selalu membersihkan mi gelas di ruangan itu, tapi ibu selalu berpikir dia hanya sibuk. Tapi segalanya sekacau ini? Dan kamu tidak tahu?”
“Maafkan aku. Aku tidak tahu.”
“Sudahlah. Kamu tidak perlu meminta maaf. Kalian berdua sebaiknya berpisah. Ayah mertuamu sedang sakit. Ibu telah sabar menghadapimu agar dia memiliki cucu. Kini itu sia-sia. Tae Wook hanya ingin bercerai darimu.”
“Ibu.”
“Ibu tidak mau mendengar alasan. Bercerailah.”


Ibu mertuanya menuju meja makan untuk mengambil tas. Hye Ran hanya duduk termenung sambil berbicara pada dirinya sendiri.
“Aku tidak bisa maju ataupun mundur lagi.”


Hye Ran bersujud di hadapan ibu mertuanya, dia mulai meneteskan air mata.
“Semuanya salahku. Aku melakukan aborsi tujuh tahun lalu.”
“Apa?!”
“Aku tidak bisa mengikuti audisi pewarta jika hamil. Jadi...”
“Hye Ran. Kamu mengatakan ini sebagai alasan kepada ibu mertuamu? Astaga. Teganya kamu melakukan hal semacam itu.”
“Aku ingin diakui oleh ayah mertuaku.”
“Jangan menyalahkan orang lain. Dia tidak pernah menyuruhmu aborsi dan menjadi pewarta.”
“Tidakkah Ibu ingat? Dia menemuiku begitu mendengar aku menjadi pewarta. Dia tidak datang ke acara pernikahan kami, tapi dia menerimaku setelah aku menjadi pewarta utama News Nine. Saat itu, kukira aku bisa hamil lagi sesuai kemauanku. Aku juga yakin Tae Wook akan melupakannya seiring berjalannya waktu. Andai bisa kembali ke hari itu... Andai bisa mengubah masa lalu, aku tidak akan pernah membuat pilihan semacam itu.”


Kang Tae Wook berdiri mendengarkan Hye Ran yang berbicara sambil menangis tersedu-sedu.


Flashback 10 tahun lalu. Kang Tae Wook memberikan sebuah cincin untuk melamar Hye Ran. Hye Ran hanya memegang cincin itu sambil berbicara dengan ketus pada Kang Tae Wook.
“Maukah kamu menikah denganku? Ayo kita menikah.”
“Aku bilang ingin sukses, bukan menikah.”
“Kamu bilang ingin memiliki latar belakangku, termasuk keluargaku. Kamu iri denganku karena aku terlahir kaya. Jika kamu menikah denganku, semua itu akan menjadi milikmu.”
“Aku tidak mencintaimu. Itu tidak masalah bagimu?”
“Tapi aku mencintaimu. Dan kamu juga akan mencintaiku. Aku tahu aku bisa mewujudkan itu.”
“Manusia tidak mudah berubah, Tae Wook.”


Hye Ran mengembalikan cincin itu kepada Kang Tae Wook lalu pergi. Tapi Kang Tae Wook masih berusaha meyakinkannya.
“Menikahlah denganku.”
“Kamu yakin tidak akan menyesal?”
“Menikahlah denganku, Hye Ran.”
“Aku harus bagaimana? Haruskah aku mengakhiri hubungan dengan para pacarku?”
“Tentu.”


Kang Tae Wook akhirnya menikah dengan Hye Ran tanpa kehadiran orang tuanya.


Kang Tae Wook datang ke rumah orang tuanya bersama Hye Ran, tapi tidak ada yang membukakan pintu. Ibu Kang Tae Wook berbicara melalui interkom memintanya untuk pulang saja, karena ayahnya tidak mau menemui.
“Kini dia putri menantu Ibu. Izinkan dia menyapa Ibu. Ibu.”
“Tidak apa-apa. Ayo kita pulang. Aku baik-baik saja. Dia akan menerimaku suatu hari.” Hye Ran berusaha membesarkan hati Kang Tae Wook.


Kang Tae Wook masuk dan merobek surat cerai.


Kang Tae Wook lalu berbicara dengan ibunya, dia mengatakan kalau ini  bukan salah Hye Ran.
“Ini karena aku belum cukup. Karena aku terlalu pengecut.”
“Ibu tidak buta. Ibu cukup bisa melihat penderitaanmu.”
“Ini masalah kami. Kami akan menyelesaikannya sendiri. Ibu, silakan pulang.”
“Dan aku bahkan belum pernah kalah.” Ucap Hye Ran dalam hatinya.


Kang Tae Wook membuatkan teh untuk Hye Ran. Hye Ran mengatakan kalau dia tidak mengira Kang Tae Wook berpikir untuk bercerai.
“Kurasa aku tidak akan mampu memutuskan jika tidak bertindak sejauh itu. Maksudku, tentang pernikahan kita.” Ucap Kang Tae Wook.

Hye Ran lalu memberitahunya tentang penunjukan dirinya sebagai kandidat juru bicara kepresidenan. Yang akan melalui masa verifikasi selama satu bulan, setelahnya mungkin dia bisa bekerja di sana.
“Aku membutuhkanmu untuk mewujudkannya. Kamu pernah bilang semua latar belakangmu adalah milikku. Aku membutuhkannya sekarang. Kita tidak boleh bercerai sekarang. Aku tidak bisa, Tae Wook.”
Ucapan Hye Ran melukainya, dia pikir Hye Ran sudah berubah. Ternyata Hye Ran masih sangat ambisius seperti biasa.
“Rupanya kamu benar. Manusia tidak mudah berubah. Aku ingin menanyakan satu hal. Kenapa kamu pergi ke Thailand?”
“Karena syuting. Kami merekam film dokumenter tentang Kevin Lee secara eksklusif.”
“Itu saja?”
“Aku mendengar kabar Sekretaris Senior akan datang. Dia dijadwalkan bermain golf bersama Kevin Lee. Aku juga tidak bisa membayangkan bisa bermain golf bersamanya. Akan menyenangkan jika aku bisa makan siang bersamanya.”
“Itu saja?”
“Ya. Itu saja.”
Advertisement


EmoticonEmoticon