2/03/2018

SINOPSIS Mother Episode 4 PART 1

Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 4 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 3 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 4 Part 2

Dengan langkah yang berat, Soo-jin berjalan memasuki rumah yang dia sebut sebagai tempat yang paling tak ingin dia datangi di dunia ini.. dan itu adalah rumah Young-shin yang merupakan ibu angkatnya.


Melihat Soo-jin, seketika mmebuat Young-shin kaget sekaligus bahagia, hingga dia sempat kebingungan untuk berkata apa. Namun sikap Soo-jin yang sangat pendiam, terpaksa membuatnya bertanya begitu banyak hal, “Kabarmu bagaimana? Apa yang kamu lakukan selama ini?”

Soo-jin tak menjawabnya, membuat Young-shin terus berbicara sendiri, “Kamu bahkan, masih mengenakan mantel pemberianku 10 tahun yang lalu..” ucapnya


Perlahan Soo-jin berjalan menghampirinya, “Aku butuh bantuanmu..” ucapnya

Young-shin: “Jadi itulah alasanmu datang kemari..” 

Soo-jin: “Aku butuh uang..”

Young-shin: “Berapa banyak?”

Soo-jin: “10 juta won..”

Young-shin: “Kamu sakit?”

Soo-jin: “Tidak”

Young-shin: “Ada masalah apa? Karena setelah beranjak dewasa, kamu bahkan tak pernah meminta 10.000 won dariku kamu bersikeras untuk memebeli makan dengan uangmu sendiri, apapun yang terjadi. Jadi sekarang, apa yang terjadi? Seberapa besar masalahnya sampai kamu datang kesini, hanya untuk meminjam uang dariku?”

Soo-jin: “Bisakah.. anda tak bertanya apa pun pun dan meminjamkan uangnya padaku, sekali ini saja..”

Young-shin: “Butuh uangnya cash atau transfer?”

Soo-jin: “Kumohon cash..”


Dengan tangan yang bergetar, Young-shin membuka brankas-nya. Dia ambil setumpuk uang, sejumlah 1 juta won, “Aku punya satu syarat.. bertemulah denganku sebanyak 10 kali. Setiap kali bertemu, aku akan memberikanmu 1 juta won...”


Hye-na tengah menikmati cemilannya, sambil tertawa menonton film kartun. Wanita pemilik barber shop (*bukan salon yaa) tengah menyapu dan terus menatapnya..

“Tenang saja, ibuku pasti akan menjemputku. Dia bukan orang yang akan meninggalkanku..” ucap Hye-na yang kemudian mendengar bunyi aneh dan bertanya, “Itu bunyi apa? Yang kedengarannya seperti ‘ccallang.. ccalllang..’ ???”


Belum sempat dijawab, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka Hye-na tersenyum, mengira itu adalah ibunya.. tapi ternyata, itu hanyalah seorang pelanggan.


Setelah Soo-jin pergi, Young-shin langsung menelpon seseorang meminta untuk diaturkan jawal kemoterapi. Tak hanya itu, dia pun mengatakan bahwa dirinya bersedia di operasi, jika hal itu memungkinkan untuk dilakukan..


Ketika Soo-jin datang untuk menjemputnya, Hye-na sangat gembira, dia pun langsung memeluknya dan berkata “Aku menunggumu..”, Soo-jin tersenyum, “Aku tahu..” jawabnya


Untuk beberapa hari ke depan, Soo-jin memutuskan untuk menginap di hotel. Hye-na sangat gembira, dia melompat-lompat diatas kasurnya yang empuk, sementara Soo-jin sibuk mengeluarkan barang-barangnya dari dalam tas..


Beberapa saat kemudian, Soo-jin kebingungan, karena menyadari bahwa Hye-na tak tak terlihat disekelilingnya, “Yoon-bok aa.. Yoon-bok aa..” panggilnya. Tiba-tiba, sambil tertawa cekikikan.. Hye-na keluar dari dalam lemari.


Ketika So-jin tengah menutup tirai, terdengar Hye-na berteriak.. Yoo-jin kaget, dia bertanya “Ada apa?”. Hye-na keluar sambil memegangi sebuah handuk, “Ibu.. pernahkah ibu melihat handuk yang selembut ini?” tanyanya dengan penuh antusias membuat Soo-jin tersenyum sambil menghela nafas panjang..


Young-shin berbicara dengan Yi-jin, dia menceritakan kedatangan Soo-jin lalu mengajaknya untuk makan malam bersama besok. Satu hal yang dia tekankan, “Jangan bertanya pada Soo-jin, kenapa dia datang kemari dan kenapa dulu dia pergi..”

“Terus kita harus mengobrolkan apa? Cuaca? Politik? Gossip?.. memangnya, kita ini kerabat dekat..” tukas Yi-jin

“Bicarakan saja masalah pernikahanmu.. proses kelahiran anak kembarmu.. atau bagaimana menyebalkannya ibu mertuamu dan ceritakan saja kucing peliharaanmu yang sagata lucu itu, atau cerita tentang rumah tanggamu yang hampir cerai tahun lalu..” papar Young-shin


Karena hari sudah sangat larut.. Soo-jin dan Hye-na berbaring untuk tidur. Soo-jin bertanya, apakah Hye-na tak takut pada ahjumma dari barber shop itu?


Hye-na: “Kenapa aku harus takut?”

Soo-jin: “Karena dulu, anak-anak sangat takut padanya. Ahjuma itu.. tidak memiliki jari kelingking. Kamu melihatnya?”

Hye-na: “Iyakah?”

Soo-jin: “Ada gossip yang mengatakan, kalau dia kehilangan kelingkingnya saat dipenjara. Dan beberapa orang bilang, kalau dia telah membunuh seseorang.. saat ibu kecil, anak laki-laki biasanya pergi ke barber shop itu dan berteriak ‘pembunuh’! Mereka melakukannya sebagai permainan uji nyali.. Ibu harus melewati tempat itu setiap hari, ketika melihat plang-nya saja.. ibu ketakutan dan langsung berlari pergi..”

Hye-na: “Aku merasa kasihan pada ahjumma itu.”


Berpindah ke apartemen milik Ye-eun, sekarang dia tengah membuka paketnya. Melihat foto-foto Hye-na, seketika membuatnya terkejut.. ditambah lagi, setelah membaca suratnya, dia benar-benar tak percaya bahwa segala hal yang terjadi adalah karena Soo-jin..


Dia pun segera mendatangi sekolah, dia membuka laci meja Soo-jin lalu mengambil kertas surat untuk Oh-cheol milik Hye-na, yang masih kosong belum bertuliskan apapun..


Soo-jin dan Hye-na tengah berkeliling mencari rumah yang nyaman untuk mereka tempati. Agen mengantar mereka pada sebuah rumah rooftop yang posisinya tak jauh dari kantor polisi.. Spontan, Soo-jin minta dibawa ke tempat lain,..


Mereka pun menemukan rumah yang nyaman dan pas.. tapi sayang sekali, mereka tak bisa menempatinya karena mereka hanya akan tinggal sekitar setengah bulan dan tak lebih dari 2 bulan. Agen menjelaskan.. bahwa rumah-rumah hanya bisa disewa, minimal selama 3 bulan. Kalau kurang dari itu, dia memberia saran supaya mereka tinggal di penginapan pelajar saja.


Berpindah ke sekolah, Detektif Chang ditemani rekannya datang kesana karena ditelpon oleh Ye-eun yang ingin memperlihatkan surat yang dia bilang ditulis oleh Hye-na..

Surat itu, isinya seperti ini: “Untuk Oh-cheol yang telah berada di surga,.. Oh-cheol aku Kim Hye-na dari kelas 1-3. Sekarang kamu sedang apa? Kamu tak merasa sakit lagi ‘kan? Aku ingin pergi kesana juga.. aku akan ikut denganmu.. tunggu aku..”


Ternyata sebelumnya, Bu Ye-eun sendiri yang menuliskan isi surat tersebut, dia pun telah mengirim e-mail pada Soo-jin, mengatakan bahwa dirinya akan memberikan bantuan sebisanya dan berharap agar Soo-jin bisa sampai ke tempat tujuannya dengan selamat..


Intinya Ye-eun ingin membuat detektif percaya, kalau lewat surat itu Hye-na mengisyaratkan bahwa dia ingin pergi ke surga, dan kata ‘aku akan ikut denganmu’, berarti Hye-na ada niat untuk bunuh diri..

“Mana mungkin anak umur 9 tahun punya pikiran untuk bunuh diri..” komentar Detektif Chang

Tetapi rekannya, mempercayai penjelasan Ye-eun. Karena semua ceritanya, sejalan dengan apa yang mereka lihat di CCTV. Meskipun terlihat gelisah, tetapi Ye-eun tetap mengontrol ekspresinya, dia pun menunjukkan bukti lain, berupa laporan konsultasi milik wali kelas, yang isinya terdapat pengakuan Hye-na mengenai kekerasan yang dia dapat ketika berada di rumahnya (*tentunya, laporan itu pun buatan Ye-eun)


Berpindah ke rumah Ja-young, disana dia tengah sibuk membereskan seluruh barang-barang milik Hye-na. Datanglah Seol-ak, dia melihatnya dan bertanya: “Kamu tidak tidur?”


Tak menjawabnya, Ja-young malah menangis dan berulang kali mengatakan: “Seharusnya, aku tak melahirkannya! Tapi kenapa aku melahirkannya!”


Ja-young meminta Seol-ak untuk memeluknya, dan Seol-ak melakukannya. Pada saat itu, tak sengaja dia melihat catatan milik Hye-na yang telah dibungkus dalam plastik bening..


Di hotel, Soo-jin pamit pada Hye-na.. dia izin pergi keluar untuk makan malam, dia berpesan supaya Hye-na tetap disini dan tidak membukakan pintu untuk sembarang orang. Hye-na faham, dia tersenyum lalu melambaikan tangannya..


Ketika Soo-jin pergi, Hye-na pun membaca poster berisi informasi mengenai tangga darurat yang tertempel di balik pintu. Dia pun mendengar suara gaduh, yang seketika membuatnya ketakutan dan langsung bersembunyi di balik selimut..


Kembali ke rumah Ja-young, sekarang dia tengah berada di kamarnya dan menceritakan peraasaannya pada Seol-ak. Dia bilang, beberapa kali dirinya berharap agar Hye-na mati. Tapi sambil menangis, dia mengatakan kalau sekarang tiba-tiba hatinya terasa begitu pedih, 


Seol-ak hanya diam mendengarkannya, lalu membukakan sekotak obat yang seketika lansgung diambil oleh Ja-young dan dia makan beberapa butir sekaligus..


Soo-jin datang ke rumah ibunya, dia mendapat sambutan yang sangat hangat.. dari kedua keponakan kembarnya, lalu dari Hyun-jin adiknya yang ber-profesi sebagai seorang reporter yang sangat dsibuk, tapi menyempatkan diri untuk pulang karena ingin bertemu dengannya. Sementara itu, Yi-jin juga menyapanya.. tetapi dengan cara yang agak dingin.


Mereka pun duduk di meja makan, untuk menikmati makanannya.. Hyun-jin tak bisa berada disini lebih lama karena dia harus kembali bekerja. dia pun pamit pada Soo-jin, dan memastikan untuk menghubunginya di lain waktu.


Selama Soo-jin makan, Young-shin terus menatapnya penuh perhatian. Dua anak kembar, dengan polosnya mengatakan bahwa mereka mengira Soo-jin berbadan besar, karena ibu mereka selalu menyebutnya ‘bibi besar’..


Soo-jin menyebut dua anak kembar itu sangat mirip dengan Yi-jin. Tapi Yi-jin bilang, Tae-hoon mirip dengan ayahnya dan Tae-mi mirip dengannya.

“Tidak.. karena Tae-heoon mirip denganmu semasa kecil..” ucap Soo-jin


Dalam kamarnya, Hye-na bersembunyi di balik selimut sambil terus mengganti channel TV. Dia terlihat bosan... hingga tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki, yang membuatnya ketakutan dan langsung mengambil buku catatan serta senter miliknya, kemudian bersembunyi dalam lemari.


Bersamaan dengan itu, Seol-ak tengah berjalan memasuki kamar tidur Hye-na. Dia mengambil catatan ‘kebahagiaan’ yang kala itu ditemukan tergeletak di pesisir lautan..


Kembali ke kediaman Young-shin.. disana Yi-jin masih bercerita tentang anak-anaknya. Dia bilang, Tae-hoon mirip ayahnya karena dia tak pernah mau kalah dan selalu ingin menjadi yang pertama. Sementara Tae-mi mirip dengannya, karena dia hanya menyukai hal-hal yang terlihat cantik..


Soo-jin: “Kamu pun, sangat membenci kekalahan..“

Yi-jin: “Iyakah?”

Young-shin: “Dia sangat ingin anak-anaknya menjadi pintar, dia bahkan membawa mereka untuk les di berbagai tempat..”

Soo-jin: “Piano-mu bagaimana?”

Yi-jin: “Aku tak tertarik dengan hal itu  lagi.. setelah melahirkan anak-anakku, aku tak ingin bermain piano. Lagipula, banyak orang diluar sana yang lebih hebat daripadaku, tapi anak-anakku membutuhkkanku. Ikatan darah merupakan hal yang sangat menakutkan.. aku tak tahu apa yang kulakukan, kalau aku tak memiliki mereka..”


Dengan diterangi oleh senternya saja, Hye-na menuliskan satu per-satu hal yang dia sukai selama pelariannya bersama Soo-jin: ‘mesin tiket otomatis’, ‘permainan sambung kata’, ‘suara rambut yang digunting’, ‘suara ibu yang tengah tertawa’. Tiba-tiba, Hye-na mendengar suara ketukan pintu dan itu membuatnya benar-benar ketakutan~~


Bersamaan dengan itu, kita melihat Seol-ak yang tengah membaca buku catatan yang ditinggalkan Hye-na. Apapun alasannya, seakan dia mengetahui sesuatu tentang buku catatan tersebut..


Soo-jin sendiri, masih berada di rumah ibunya. Sekarang dia tengah mendengarkan Tae-hoon yang secara fasih melafalkan perkalian hingga angka belasan. Soo-jin merasa heran, dia pun bertanya, “Memangnya, sekarang anak kecil menghafal perkalian di usia  7 tahun?”

“Dia bahkan telah menghafal sampai perkalian 9 saat masih berusia 5 tahun.  Dan sekarang, dia hafal sampai perkalian 19..” jawab Young-shin


Hye-na mengintip dari dalam lemari, ternyata orang yang mengetuk pintu dan masuk ke dalma kamarnya adalah seorang pelayan yang hendak membersihkan kamar. Tapi karena ketidaktahuannya, dia pun merasa ketakutan.. secara diam-diam, dia mengambil sepatunya lalu berlari keluar tanpa mengenakan mantel, padahal udara snagat dingin..


Sebenarnya, Soo-jin hendak pulang.. dia telah pamit, tapi Tae-mi tak ingin kalah dari Tae-hoon. Dia bilang dia ingin menunjukkan keahliannya juga..


Dengan gelisah, Soo-jin pun menuruti keinginannya. Ketika Tae-mi bernyanyi dan bermain piano, Soo-jin tak begitu memerhatikannya dan malah sibuk melirik jam tangannya..


Ketika Soo-jin berlari pulang, dia berpapasan dengan Hye-na.. sayangnya, mereka sama-sama tengah berlari dan itu membuat mereka tak menyadari kehadiran satu sama lain..
Advertisement

1 comments:

Yaaaa... kasiiiaaann iihh hye na... jgn jauh jauh...


EmoticonEmoticon