2/09/2018

SINOPSIS Mother Episode 5 PART 2

Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 5 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 5 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 5 Part 3

Young-shin bertanya pada Soo-jin, mengapa dia mesti pergi ke Islandia? Memangnya disana ada apa?

Yoo-jin menyebut burung.. lautan.. bergitu banyak laporan yang mesti diselesaikan, serta sebuah rahasia yang hanya bisa diketahui olehnya.

“Seorang pria?” tanya Young-shin

“Bukan..” jawab Soo-jin


“Ah sangat membosankan. Bisakah kamu perginya nanti saja, jika alasannya bukan seorang pria? Lapila.. tak lama lagi aku akan mati..” pinta Young-shin

“Aku akan kembali lagi, setidaknya 6 bulan.. atau mungkin 3 bulan lagi..” jawab Soo-jin

“Hah.. berarti aku harus bertahan hidup selama 6 bulan lagi?” keluh Young-shin

“Kumohon...” pinta Soo-jin


Ponsel Young-shin berdering ada telpon dari Jin-hong yang bertanya tentang Soo-jin. Ketika diberitahu bahwa Soo-jin ada disampingnya dan hendak dipersilahkan untuk bicara langsung dengannya, Jin-hong malah buru-buru mematikan telponnya..


Hye-na asyik menjiplak gambar kunci-kunci milik ahjumma. Satu per-satu, dia tanyakan kegunaannya untuk apa. Ahjumma menjawab semuanya sambil tersenyum tetapi ada satu kunci yang tak bisa dia jawab gunanya untuk apa.. dan seketika dia pun meminta Hye-na untuk membereskan seluruh kunci tersebut pada tempatnya.


Dalam ruang interogasi, Ja-young masih melanjutkan pemeriksaannya dan kali ini dengan menggunakan alat pendeteksi kebohongan. Dia mengakui kejadian di supermarket, tapi dia menyanggah tuduhan dirinya atau Seol-ak yang telah menyebabkan Hye-na menghilang. Pernyataan itu dinyatakan jujur oleh mesin..


Namun ketika dia mengatakan bahwa Seol-ak tak pernah menyiksa Hye-na, dengan mudah mesin menyatakan itu sebagai sebuah kebohongan. 


Bersamaan dengan itu, Seol-ak mendetangi rumah seorang wanita yang menyambutnya dengan senyuman dan menyebutnya ‘oppa’


Jae-bum ahjussi, melakukan hal yang diminta oleh Soo-jin.. yaitu mencarikan passport ilegal. Prosesnya tidak mudah, dia mesti menghadapi oknum yang kelihatannya sangat berbahaya dan ‘menjengkelkan’ 


Soo-jin pulang.. dia merasa tak enak pada ahjumma yang harus merawat Hye-na seharian. Tapi ahjumma bilang, dirinya bersedia menjaga Hye-na selama Soo-jin pergi ke RS, karena menurutnya anak kecil tak boleh dibawa ke RS..

“Tetap saja.. rasanya terlalu merepotkan..”

“Kalau begitu, kamu bisa membayarku..”

“Bolehkah seperti itu?”

“Hmm.. mungkin, kamu bisa membayarku sebanyak 5000 won..”

“Baiklah, saya akan membayar 5000 won per-jam..”


Ahjumma menolak, dia bilang dirinya hanya butuh 5000 won per-hari. Karena tak sulit untuknya menjaga Hye-na yang sangat pintar dan mandiri. “Aku merawatnya, karena aku senang dengan kehadiarannya.. biasanya aku makan sendirian, tapi sekarang ada dia yang membuat nafsu makanku bertambah..”


Mengalihkan pembicaraan, Ahjumma bertanya: “Ibumu sakit apa? Apa penyakitnya sangat parah?”

“Dia mengidap kanker..”

“Yaampun.. padahal, baru kemarin aku melihatnya di TV..”

“A.. an.. da tahu siapa ibuku?”

Dengan gugup, ahjumma menjelaskan bahwa seluruh warga disini mengenalnya, “Lagipula aku telah tinggal di daerah sini, selama lebih dari 27 tahun..”


“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.. 20 tahun lalu, ketika aku masih SMA, ada kecelakaan mobil didepan sini, bukankah anda yang membantuku pertama kali dan langsung menelponkan ambulans?”
“Hmm.. bukan..”
“Ibuku mendatangi anda untuk memberi berterimakasih, tapi anda bilang.. itu bukan anda..”


“Aku tak ingat.. aku mengantuk, sebaiknya anda tidur.. sudah malam..”


Ketika melihat Soo-jin datang dan berbaring disampinga, Hye-na langsung memelukya dan dia menangis,

“Kenapa Yoon-bok aa? Aku pulang terlalu malam yaa? Kamu menungguku seharian ini?”


“Aku menangis.. karena aku sangat bahagia.. kita tak perlu pergi kemaa pun lagi, kita tak perlu berlari, karena kita bisa tinggal disini.. seperti ini..”


“Hari demi hari.. Kita akan menjadi semakin bahagia. Suatu saat, bahagia menjadi suatu hal yang biasa, bahkan kamu tak akan mengingat nama serta kehidupan lamamu. Ketika ibu mengatakan kalau kamu pernah menangis karena bahagia, kamu akan tertawa dan mengatakan kalau itu tidak masuk akal...”

Sambil memeluk Hye-na, Soo-jin mengatakan kalau sepertinya perkataan Hye-na itu benar, “Ahjumma.. memang orang yang baik..”


Esok harinya, Yong-shin memanggil pengacara serta mengumpulkan ketiga putrinya. dia ingin menjelaskan isi surat wasiatnya.. Yi-jin agak kesal, karena sengan hal semacam ini, kesannya ibu akan asegera pergi.. padahal ibu masih berjuang dengan kemo-nya.

Pengacca mengatakan bahwa membuat surat wasiat merupakan hal yang wajar. Karena orang yang masih sehat pun, banyak yang melakukan hal serupa..


Ketika Young-shin baru menjelaskan bebrapa kalimat, Hyun-jin harus pamit karena pekerjaannya, “Bu.. aku berterimaasih jika ibu memberikanku sesuatu. Namun, taku tak masalah jika ibu tak memberikan apapun untukku..”


Hyun-jin pun berjalan pergi, lalu Youngshin melanjutkan pemaparannya. Seluruh aset akan dibagi rata, terkhusus rumah ini.. akan diberikan untuk Yoo-jin, “Tapi jangan dulu dijual sampai aku meninggal..”

“Tapi bu,.. perlu biaya besar untuk merawat rumah sebesar ini, lagipula mungkin aku akan butuh uang besar dalam waktu dekat..”

“Kita masih butuh tempat untuk berkumpul bersama.. sebagai gantinya, kamu boleh memiliki seluruh pakaian, perhiasan san benda lainnya milik ibu..”


Soo-jin menyatakan bahwa diirnya tak ingin menerima warisan apapun. Young-shin meminta maaf, dan mengatakan bahwa dirinya memang tak memberikan apap pun untuk Yoo-jin, “Nantinya, kamu tak akan memiliki ikatan apa pun denganku. Jadi pergilah dan lakukan hal apa pun yang kam inginkan..”

“Terimakasih.. tapi di surat ini~”


Pengacara menjelaskan, bahwasanya warisan itu bukan untuk Soo-jin.. melainkan untuk anaknya di masa yang akan datang.

“Aku tak ingin anakku mendapatkan warisan apa  pun..” tukas Soo-jin

“Karena kamu putriku, maka aku tak bisa memaksamu.. dan kurasa, kamu pun tak akan bisa memaksakan keinginanmu pada anakmu kelak..” ujar Young-shin, yang kemudian menjelaskan bahwa semua keputusan ada pada anaknya Soo-jin.

Kalau pun, Soo-jin tak memiliki anak maka seluruh warisannya akan digunakkan untuk mengembangkan yayasan yang akan dibangun 5 tahun setelah kematian Young-shin. Yayasan itu, dibentuk untuk membantu ibu tunggal yang mengurus anak, dan Yi-jin ditunjuk sebagai presdir yang akan mengurus semuanya.


“Yi-jin orang yang paling cocok.. lagipula, dia sangat menyayangi anak kecil..” ucap Young-shin

“Benarkah aku bisa melakukannya? Aku memang sangat ingin melakukan hal semacam itu..” ujar Yi-jin dengan senyuman bahagia


Jae-bum berbicara empat mata dengan Soo-jin, dia menjelaskan apa yang telah dilakukannya untuk membantu mendapatkan passport itu. Ini merupakan tindakan yang beresiko tinggi.. kkhawatirnya, jika mereka tertangkap basah, maka nama bersih Young-shin sebagai seorang aktir akan terbawa-bawa kedalamnya, “Aku telah berusaha keras, membuat nama ibumu tidak pernah muncul dalam skandal apapun selama lebih dari 30 tahun, supaya dia bisa fokus berakting..”


Meskipun sangat berbahaya, namun pada akhirnya Jae-bum berhasil bertemu dengan pemimpin organisasi ilegal tersebut. Katanya, passport yang diminta, baru jadi sekitar 2 minggu lagi, “Mereka akan menghubungimu.. jadi siapkan saja uangnya..”


Yi-jin duduk disamping ibunya, dia melirik Yoo-jin dan Jae-bum yang tengah berbicara ditempat yang kedap suara, “Aneh.. apa yang sedang mereka bicarakan? Disana adalah tempat yang tidak memungkinkan pembicaraannya didengar oleh orang lain... disana lah, eonni memarahiku setelah kedapatan mereokok di sekolah, dan ketika aku ketahuan hamil anak kembar disana pula aku menangis dalam pelukan Hyun-jin.. sampai berdebat, apakah aku harus aborsi atau tidak..”


Sambil mencuci rambut ahjumma, dengan polosnya Hye-na bertanya: “Apa ahjumma tak punya jari kelingking? Katanya putus waktu berada di penjara?”

Ahjumma agak kaget tapi kemudian dia menunjukkan kelingkingnya yang emmang benar-benar putus dan sekarang harus dia tutup dengan kelingking palsu, “Selain ini.. hal apa lagi yang kamu dengan tetangku?”

“Apa.. ahjumma telah membunuh seseorang?”

“Kamu tidak takut padaku?”


Hye-na tertawa, dia bilang diirnya tidak takut arenamenganggap semua itu hanyalah kebohongan, “Ibuku saja.. menyebut ahjumma sebagai orang baik..”

“Yoon-bok aaa.. karena ahjumma sudah tua. Bisakah kamu memannggilku halmeoni (artinya nenek) saja?”

Sambil tersenyum, Hye-na melakukannya, “Halmeoni.. bolehkah aku memanggilmu ‘halmeoni kelingking’ ??”

“Iya.. tentu saja...”


Berpindah ke tempat Seol-ak berada.. disana wanita yang memanggilnya ‘oppa’, ternyata memiliki dua orang anak. Ketika wanita itu akan pergi, anaknya yang perempuan memintanya untuk tinggal dirumah saja..

“Apa yang akan kamu makan kalau ibu tak bekerja..”

“Aku tak akan makan apapun hari ini..”

“Kamu bisa memesan ayan dan memakannya dengan paman (Seol-ak)”

Gadis itu menggelengkan kepalanya, lalu sang ibu bertanya, “Kenapa? Bukannya kamu sangat suka makan ayam?”

“Aku takut pada paman..”


Sambil menatapnya tajam, sang ibu bertanya: “Kenapa kamu takut padanya? Dia tiggal bersama kita, semenjak kamu masih kecil..”

“Karena paman, So-mi...”

“Diam.. So-mi meninggal ketika ibu memandikannya! Lagipula, dia memang selalu sakit-sakitan..”

“Itu tidak benar.. paman mengajak So-mi untuk mandi bersamanya. Karena So-mi sakit, maka banyak alat yang menempel di pundak, tangan serta bagian lainnya. Tapi paman mencabut seluruh alat itu dan memabawanya ke kamar mandi untuk memandikannya.. dan tak lama setelah itu, paman memanggil ibu dan ibu berlari kesini sambil menangis... lalu ambulans datang~”

“Hey! Jangan mengarang cerita! Bagiamana mungkin, kamu yang masih berusia 5 tahun bisa mengingat hal semacam itu?!”

“Kalau ibu memang harus pergi, bawalah Byung-gook (adiknya). Bagiamana, kalau pamat mencoba untuk memandikan Byung-gook juga?”


Byung-gook yang tengah tidur.. tiba-tiba bangun. Dia pun berjalan mengampiri mantel Seol-ak, kemudian mengambil catatan milik Hye-na yang tersimpan di sakunya..


Dalam kondisinya yang sepert sekarang,, Young-shin meminta So-jin untuk menemaninya menonton konser musik. Alasannya, karena mendengar musik bisa membuatnya tak merasakan sakit..


Hye-na bermain-main dengan kunci kertas buatannya. Tak sengaja, dia melihat kunci asli, milik ahjumma yang tergeletak begitu saja di atas meja~


Ketika sampai di depan gedung konser, Young-shin malah pamit.. dengan alasan harus fitting pakaian. Padahal nyatanya, dia sengaja melakukan ini, untuk mempertemukan Jin-hong dengan Soo-jin..
Advertisement


EmoticonEmoticon