2/18/2018

SINOPSIS Mother Episode 7 PART 2

Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 7 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 7 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 7 Part 3

Soo-jin membawa Hye-na pulang ke rumahnya. Di depan pintu kamar Soo-jin, tertempel sebuah papan tulis bertuliskan, ‘yang tidak bisa menjawab pertanyaan dilarang masuk’

Hye-na bertanya, “Pertanyaan apa bu?”

Soo-jin tersenyum, dia menjelaskan bahwa ini merupakan benda yang dia buat semasa SMP. Inginya, semua orang dilarang masuk ke kamarnya, tapi karena tak bisa mengatakannya secara lansgung, maka dibuatlah papan pertanyaan yang sangat sulit hingga takkan ada yang bisa menjawab. Kadang, Soo-jin menulis soal matematika rumit, atau jenis burung yang jarang diketahui orang-orang.


“Hmmm.. jadi pertanyaannya seperti kunci. Kalau begitu, berikan aku satu pertanyaan bu..” ucap Hye-na


Pertanyaannya: ‘Hal yang paling diseukai Kang Soo-jin?’


Hye-na menjawab, “Makan sendirian”. Soo-jin tersenyum, lalu membawa Hye-na masuk kedalam kamarnya yang ternyata masih sangat rapi, seakan tak pernah ditinggal oleh pemiliknya.


Hye-na serta Soo-jin mengeluarkan barang-barangnya. Ketika melihat setumpukan buku di rak, Hye-na penarasaran dan bertanya “Kenapa banyak sekali buku disini bu?”

“Sewaktu kecil, ibu ingin pergi ke tempat yang sangat jauh.. makanya ibu selalu tertidur bersama dengan tas barang bawaan. Tapi ibu tak tahu harus pergi kemana.. makanya ibu membaca banyak buku. Rasanya.. bisa pergi jauh hanya dengan membuka sebbuah buku..” ungkap Soo-jin

Hye-na mengambil sebuah buku di meja, kemudian bertanya: “Bagaimana caranya?”

“Ada pintu darurat dalam setiap buku itu..” jawab Soo-jin yang kemudian mengutarakan perasaannya, “Ibu sangat merindukan kamar ini karena masa-masa itu. Padahal dulu, ibu sangat ingin pergi darisini..”


Hye-na menemukan sebuah kunci terselip dalam buku yang tengah dipegangnya. Ternyata.. kunci itu bisa membuka loker di meja rias, yang didalamnya ada kunci lagi untuk membuka tempat lainnya. Namun sebelum membukanya, saling bergantian.. mereka mengajukan pertanyaan untuk satu sama lain..


Soo-jin: “Ingin menjadi apa, ketika kamu telah tumbuh dewasa nanti?”

Hye-na: “Anak lain.. bagus jika aku bisa menjadi anak laki-laki. Tak apa, meskipun sifatnya agak jorok.. tapi dia tak akan mengangis bahkan disaat kesakitan..”


Hye-na: “Apakah ibu membenci nenek kelingking, atau justru ingin bertemu dengannya?”

Soo-jin: “Ibu membencinya.. sangat membencinya.. dan sejujurnya, kurasa sangat sulit untuk memaafkannya. Tapi, ibu pernah merindukannya dalam waktu yang sangat lama dan ibu rasa, sekarang pun masih sama..”

Hye-na: “Ibu membencinya, tapi ingin bertemu dengannya?”


Terakhir, sebuah kunci untuk membuka kotak rahasia dalam buku. Soo-jin bertanya pada Hye-na: “Kamu merindukan ibu (kandung) mu ???”

Hye-na tak menjawabnya, dia hanya diam dan menatap Soo-jin. Akhirnya tanpa perlu menunggu jawaban, Soo-jin lansgung membuka kotak tersbut yang di dalamnya terdapat sehelai bulu berwarna putih..


“Apa ini akhirnya? Apa ini sebuah kunci juga?” tanya Hye-na


Soo-jin merenung, tiba-tiba.. dia teringat satu momen, ketika dirinya berdiri di pesisir lautan.. melambaikan tangan sambil memegang bulu itu dan sang ibu ada di sampingnya~


Bu Nam sendiri, tengah melakukan rutinitasnya yaitu mencukur rambut. Kali ini, dia tengah memotong rambut kakak dari anak yang kemarin dicukur tapi setelah jalan (untungnya enggak ada gangguan apa pun lagi)


Dari luar, Jae-bum ahjussi terus memantaunya. Dia menerima laporan mengenai masa lalu Bu Nam yang ternyata pernah dipenjara selama 8 tahun, tapi dipotong menjadi 6 tahun. Penyebabnya, karena telah membunuh pria yang tinggal dengannya. Entah apa motifnya, karena selama persidangan berlangsung, Bu Nam tak pernah mau menceritakan apa pun.


Utuk bahan berita investigasi khusus, Hyun-jin tertarik pada kasus yang menimpa Hye-na. Dia mencobauntuk menghubungi ibu kandungnya, namun tak ada respon. Maka, dia pun memutuskan untuk mendatanginya langsung ke daerah Mooryung, sore ini..


Ketika Soo-jin dan Hye-na tengah asyik membaca buku, datangah Yi-jin dan putrinya Tae-mi yang bereaksi sama seperti ibunya, dia bertanya apa Hye-na ini perempuan atau laki-laki..


“Dia itu perempuan..” bisik Yi-jin


Tujuan Yi-jin datang kesini, adlah karena ibu memintanya untuk membawa Hye-na belanja pakian ke mall serta mendandaninya ke salon. Soo-jin menolak, Yi-jin tak mempermasalahkannya dan dia memberikan sekotak makanan ringan untuk Hye-na.


“Bu.. apakah dia menggunakan pakaian seperti itu karena dia orang miskin?” tanya Tae-mi dengan polosnya

“Tae mi.. kalau temanmu terlihat menyedihkan, kamu harus bersikap baik pada mereka..” jawab Yi-jin


“Dia mengenakan pakaian seperti ini, bukan karena dia miskin tapi karena dia menyukainya. Yoon Bok tak suka baju renda atau pink. Kita tak akan pergi ke salon.. jadi tinggalkanlah kami..” ungkap Soo-jin

“Eonni.. kamu sangat aneh! Kenapa kamu membesarkan anakmu dengan cara yang seperti ini? Kamu ingin membuatnya tumbuh menjadi wanita sepertimu? Mana ada perempuan yang suka mengenakan pakaian sepertimu? Itu hanya pemikiranmu saja..” tukas Yi-jin


Melerai perdebatan tersebut, Hye-na tiba-tiba mengungkapkan kalau dirinya ingin pergi ke mall dan salon bersama dengan teman barunya, yaitu Tae-mi.


Ketika Hye-na berada di salon bersama Yi-jin dan Tae-mi, Young-shin tengah bertemu dengan dokternya. Dia menyatakan perasaannya yang kini, semakin bersemangat untuk menjalani pengobatannya.


“Dokter.. kalau dalam angka, kira-kira berapa persen kemungkinanku untuk bisa tetap hidup hingga melihat seorang anak yang kini baru berusia 7 tahun kelak masuk perguruan tinggi?” tanya Young-shin

“Tapi.. hidup tak bisa bergantung pada sebuah kemungkinan..” jawab dokter

“Berikanlah aku angka pasti..” pinta Young-shin

“10 persen..” jawab Dokter dengan berat hati


Young-shin tak kecewa, dia malah bilang kalau jawaban itu memang sudah di duga olehnya. Maka dari itu, dia ingin memaksimalkan 10% kemungkinan itu.. dan dia minta dokternya diganti, karena sebentar lagi dokternya yang sekarang akan pensiun..

“Masih ada 90 persen, kemungkinan aku akan meninggal. Maka kuharapkan dokterku yang baru, bisa menjadi orang yang menguatkan keluargaku ketika hal buruk itu, memang benar-benar terjadi~” ungkap Young-shin


Seol-ak masih berkutat di hadapan komputernya.. sekarang, dia telah berhasil menemukan latar belakang Soo-jin. Dia pun tengah menonton film dokumenter aktris Cha Young-shin, yang merupakan ibu angkatnya Soo-jin..


Yi-jin membawa Tae-mi dan Hye-na ke ruangan Young-shin. Disana, Young-shin hanya memperhatikan Hye-na dan mengabaikan Tae-mi yang ingin juga dipuji olehnya.

“Yoon-bok aa.. kamu sangat mirip dengan ibumu sewaktu kecil..” ucap Young-shin


“Mirip apanya. Anak ini sama sekali berbeda dengan eonni..” sanggah Yi-jin, “Apakah kamu mirip dengan ayah mu?” tanyanya

Dengan suara kecilnya, Hye-na menjawab ragu, “Iya..”


Melihat sikap Yi-jin, membuat ibu berkomentar bahwa siapa pun ayahnya itu tidak masalah. Karena ketiga putrinya, yaitu Soo-jin, Yi-jin dan Hyun-jin, memiliki ayah yang berbeda dan tidak terlahir dari rahimnya.. namun mereka tetap putrinya karena dibesarkan olehnya.


Untuk mendinginkan suasana, Hyun-jin mengaja Hye-na dan Tae-mi untuk minum susu yang dia bawa. Kedua anak ini bersikap manis, hingga tiba-tiba.. secara sengata Tae-mi menumpahkan susunya ke baju Hye-na..


Hyun-jin membantu Hye-na berganti pakaian, pada saat itu tak senagaj dia melihat tanda lahir berwarna ungu di dekat ketiak Hye-na.

Ketika ditanya ingin menggunakan pakaian yang mana, Hye-na menjawab dirinya ingin mengenakan pakaian miliknya saja,

“Kenapa? kamu ‘kan punya banyak baju baru..” tanya Hyun-jin

“Karena aku suka pakaian lamaku..” jawab Hye-na dengan polosnya


Soo-jin menemui dokter baru ibunya, yang ternyata adalah Jin-hong. Dia agak kaget, karena baru mengetahui hal ini sekarang. Jin-hong menjelaskan, bahwa pada awalnya dia pun menolak.. Namun kemudian, dia rasa dirinya bisa memahami pemikiran ibunya Soo-jin..

Sedikit berbagi cerita, ternyata ibunya Jin-hong pun penderita kanker payudara sama seperti ibunya Soo-jin. Mereka sering mengobrol hingga larut malam.. namun pada akhirnya Ibu Jin-hong harus pergi menghadap Yang Maha Kuasa lebih dulu.


Ketika melihat hasil pemeriksaan ibunya Soo-jin, Jin-hong menaydari bahwa kondinya telah sangat buruk. Pada saat-saat seperti ini, sepertinya Ibu Soo-jin berharap untuk dirawat oleh seorang dokter yang bisa menjadi pemberi informasi serta dukungan dan kekuatan untuk pihak keluarganya, terutama Soo-jin~


Ketika tengah dalam pengintaian, Jae-bum ahjussi dibuat kaget karena Bu Nam iba-tiba mengetuk kaca mobilnya, “Kalau anda ingin mencaritahu tentangku, masuklah dan tanyakan langsung kepadaku. Jangan diam diluar seperti ini..”


Bu Nam menjelaskan bahwa dirinya, tak akan mengusik kehidupan Soo-jin dan hanya ingin tinggal di tempat ini sampai dirinya meninggal kelak..

Tetai dengan sangat menyesal, Jae-bum memberitahukan keinginan Young-shin yang meminta Bu Nam untuk pindah dari tempat ini, “Memang sulit.. tapi kami akan memberikan uang berapa pun yang anda minta..”

Bukan karena uang, tapi karena sadar diri.. Bu Nam akhirnya setuju untuk pindah. Namun, dia butuh waktu untuk membereskan barang-barangnya.


Jae-bum ahjussi bertanya, mengapa Bu Nam menelantarkan Sooo-jin?


Enggan untuk menjawabnya, Bu Nam hanya memaparkan bahwa selama ini dirinya telah mengorbankan banyak hal supaya Soo-jin tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.. dan kedepannya, biarlah semuanya berjalan seperti ini saja. Karena dirinya, tak butuh pengakuan atau hal semacamnya~~
Advertisement


EmoticonEmoticon