2/18/2018

SINOPSIS Mother Episode 8 PART 3

Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 8 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 8 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 9 Part 1

Petugas polisi menegur halmeoni gelandangan (yang kita lihat di episode 1-2), yang tertidur di bangku taman. Tapi tak sengaja, mengera melihat begitu banyak, selebaran Hye-na yang dia bawa dalam rodanya.

“Halmeoni.. anda tak boleh mengambilnya seperti ini. Nanti, bagaimana orang-orang bisa melihatnya..”


Spontan, halmeoni mengatakan: “Aku telah melihatnya.. aku melihat dia membawanya pergi.. dekat pemberhentian di pesisir laut..” 

“Siapa dan kapan?”

“Dia wanita yang sangat jahat.. aku yakin dia membawanya pergi, karena dia tak akan pernah bisa melahirkan seorang anak!”

“Apa.. orang yang membawanya, adalah orang yang dikenal oleh anak itu?”

“Dia itu gurunya..”


Meskipun terlihat enggan, tapi pada akhirnya.. Soo-jin mendengarkan rekaman suara yang diberikan Jae-bu ahjussi.


Di halaman, Soo-jin berdiri sendirian mendengar semuanya tanpa melewatkan sedikit pun. Ketika awal masuk penjara, sipir itu menjelaskan kondisi Bu Nam yang sangat putus asa, bahkan seperti seorang mayat hidup. Tapi suatu saat, setelah menonton tayangan dokumenter aktris Cha Young-shin, dia mulai bersemangat.. mau makan.. mau beraktivitas seperti orang lainnya.


Perlahan.. mata Soo-jin mulai berkaca-kaca. Kemarin dia hanya ingat suara ibunya yang mengajanya berjalan ke tengah laut. Tapi sekarang, dia ingat bagaimana rupa ibunya kala itu..


Sangat menyedihkan.. karana wajah ibunya, penuh dengan luka memar dan babak belur. Satu kalimat lain, dia ingat.. sang ibu sambil menangis, memintanya untuk melupakan segala hal di momen itu, “Laut.. burung.. rumah yang penah kita tempati.. apa yang terjadi kemarin, dan Ibumu.. lupakanlah semuanya..”


Di pagi hari, Soo-jin sempat mendandani Hye-na. Dan Hye-na bertanya, “Apakah sekarang, aku sama seperti anak yang lainnya?”

“Tidak.. kamu lebih cantik dibanding anak lainnya..”

“Ibu mengatakannya, akrena ibu adalah ibuku..” 

“Hari ini, kamu yakin bisa mengejarkan tes-mu?” 

“Iya.. tapi, ibu mau pergi kemana?”

“Ada urusan yang harus ibu selesaikan sebelum kita pergi..”


Ja-young tengah menumpangi sebuah taksi, dia benar-benar pergi sendirian menuju kediaman Cha Young-shin.


Hye-na sendiri, akan berangkat ke TK ditemani Yi-jin. Tapi sebelum itu, dia sempat menggunting kukunya terlebih dulu. Dia melakukannya sendirian, tanpa bantuan..

“Kok bisa, anak usia 7 tahun melakukannya sendiri?” tanya Yi-jin

“Ibuku yang mengajariku.. dia bilang, anak-anak tak akan menyukaiu jika kuku-ku kotor. Maka, aku harus bisa melakukannya sendiri..” jawab Hye-na


Ketika Ja-young tiba.. Hye-na pergi.. mobil mereka pun berpapasan, teapi Ja-young tak sempat melihat Hye-na~


Soo-jin datang ke barber shop. Suasananya canggung, tetapi dia mencoba untuk tenang, memulai pembicaraan dengan bertanya: “Kamu mau pergi, tanpa memberitahuku?”

Tak mendengar jawaban, berikutnya Soo-jin mengutarakan isi pikirannya yang selama ini, selalu mengira kalau ibu kandungnya yang menyiksanya... lalu mengira, kalau ibu kandungnya berniat membunuhnya.. tapi sekarang, dirinya telah ingat semuanya..


“Ingat apa?” tanya Bu Nam dengan suaranya yang bergetar

“Kata-kata ibuku, yang memintaku untuk melupakan segalanya. Laut.. Burung-burung.. rumah tempat kita tinggal... apa yang terjadi sehari sebelumnya.. dan ibu..” jawab Soo-jin yang kemudian bertanya, “Apa yang terjadi sehari sebelumnya? Dimana rumah tempat kita tinggal?”


Sempat diam.. namun akhirnya, Bu Nam mau bercerita, “Aku telah membunuh seseorang.. dia adalah pria yang sifatnya seperti monster..”


Yi-jin menemani Hye-na mengerjakan tes-nya, sekarang masih tes tulis, dan sepertinya Hye-na agak kesulitan..


“...Mengapa aku melahirkanmu? Kala itu, aku masih berusia 19 tahun.. ayahku, nenekku dan bibiku.. semuanya melarangku untuk melahirkanmu. Tapi aku sangat menikmati.. momen ketika aku membawamu dalam rahimku.. ketika mengandungmu, aku tak pernah merasa kesepian...”


“... Ayahku selalu memarahiku, jika aku tinggal di rumah. Makanya aku pergi, dengan membawa tas besar di punggungku...” 


“... Kadang aku tinggal di rumah temanku, kadang aku datang ke yayasan untuk ibu tunggal. Bahkan, sempat aku tinggal ti sebuah greenhoouse...”


“...Sejujurnya, hidupku terasa begitu berat. Aku tak tahu, bagaimana caranya merawat seorang bayi atau apa yang harus kulakukan...”


“...Aku hanya membawanya kemana pun aku pergi, hingga kemudian aku berterimakasih pada seorang pria yang memberiku kehidupan sederhana...”


“... Aku bisa nonton TV, sambil menikmati makan malam. Tak pernah ada seorang pun di dunia ini, yang menawarkan kemewahan itu pada kami..”


“.. Dia memukulku ketika dia mabuk. Tapi aku menahannya, karena sadar, bahwa tak ada yang gratis di dunia ini..”


“Tapi.. ketika kamu dipukul oleh pria itu, dan ketika kamu jatuh dari tangga.. aku marah..”


“...Aku segera membawamu kabur darisana. Tapi tak lama kemudian, dia menemukanku dan aku dipukuli lagi olehnya..  Aku berpikir, ‘sepertinya aku akan mati dalam kondisi begini’. Aku berjanji padanya, aku tak akan pernah mencba untuk kabur lagi..” 

Pada momen itu, kelingking Bu Nam dipotong secara paksa oleh pria itu yang tengah marah besar, hingga menghajarnya secara membabi-but. Soo-jin diam di dalam kamar, tapi jelas.. dia bisa mendengar seluruh kegaduhan yang terjadi.


“...Di saat itulah aku memutuskan, bahwa ini adalah akhirnya. Aku tak akan pernah membiarkan, diriku diperlakukan seperti ini lagi... Aku tak menyesal, karena telah membunuh pria itu. karena jika tidak, maka kita yang akan mati. Kalau pun ada, satu hal yang kusesali, adalah.. fakta bahwa aku tidak membunuhnya lebih awal. Jadi, aku bisa mengurangi rasa sakit yang kamu terima.. Setelah membunuhnya, aku sadar bahwa diriku pasti akan tertangkap. Kupikir, aku harus memelukmu erat dan berjalan ke tengah lautan.. kurasa, aku tak akan takut jika melakukannya bersama denganmu.. Tapi aku takut, jika harus meninggalkanmu sendirian..”


“... Aku telah mati di hari itu.. tapi kamu harus tetap hidup. Aku tidak menelantarkanmu.. aku hanya melepasmu dari kehidupanku yang memalukan. Aku ingin, putriku menjalani kehidupan yang berbeda denganku ...”


“...Seakan aku telah mengetahui semuanya dari awal.. bahawa dia memang akan kembali untuk menjemputku, meskipun akan sangat lama. Tapi dia pasti akan datang, suatu saat nanti..”


Sekarang, saatnya Hye-na melakukan tes wawancara. Sesuai janjinya,, Tae-mi datang untuk melihatnya, lewat kaca di balik pintu.

Ketika ditanya, alasannya ingin masuk TK ini.. Hye-a menjawab kalau dirinya kagum pada Tae-mi yang terlihat begitu cantik, panda ernyanyi dan main iano, “Kurasa.. aku bisa menjadi sepertinya, jika aku masuk TK ini..”


Pertanyaan berikutnya, Hye-na diminta untuk menjelaskan.. seprti apa sosok ibunya. Hye-na tersenyum, “Ibuku...”


Di tempat lain, Ja-young masih berusaha mencari informasi. Dia bertanya pada ahjumma warung, untuk memastikan bahwa rumah yang didatanginya, adalah rumah Cha Young-shin.


Kemballi pada Hye-na.. dia menjelaskan sosok ibunya menggunakan boneka miniatur miliknya. Secara mundur, dimulai dari ibunya di usia 38 tahun yang menurutnya pandai memasak nasi kare, dan mengajarinya membaca.. lalu di usia 28 tahun ibunya yang sangat mengetahui segala hal tentang burung. Di usia 18 tahun, ibunya ingin pergi jauh, makanya membaca banyak buku. Di usia 8 tahun, ibunya bertemu dengan ibu angkatnya. Terakhir.. ketika ibunya masih kecil.. Hye-na bercerita mengenai ibunya yang dilentarkan oleh ibu kandungnya,


“Ibuku menceritakan semua hal itu padaku. Karena dia ingin mengajarkanku.. bahwa seorang anak, tetap bisa hidup meskipun dilentarkan oleh ibunya. Dan juga, seorang anak bisa menjadi seorang ibu.. suatu saat nanti..” ungkap Hye-na


Bu Nam, menceritakan pengalamannya yang serasa kembali ‘hidup’, setelah menonton film dokumenter itu, “Kurasa.. mungkin suatu saat, aku bisa menjadi seorang ibu lagi. Mungkin, suatu saat, kamu akan membuthkanku lagi.. dengan pemikiran seperti itu, aku pun membuka tempat ini selama 27 tahun. Hingga suatu hari, kamu datang sambil mengenggan tangan Yoon-bok. Dan kurasa, alasanku tinggal disini memanglah untuk bisa memberi kalian makan dan tempat tidur yang nyaman,  untuk beberapa hari itu..”


Mendengarnya, seketika membuat Soo-jin tak kuasa menahan tangisnya. Terlebih, ketika Bu Nam mengatakan bahwa dirinya tak menginginkan apa pun lagi, “Sekarang.. bolehkah aku pergi? Bolehkah.. aku pergi melintas menuju kehidupan lainnya?”


Seol-ak memacu truk-nya menuju tempat yang masih belum kita ketahui..


Pada waktu bersamaan, terlihat YI-jin yang tengah mengendarai mobil membawa Tae-mi dan Hye-na pulang ke rumah nenek mereka. Dalam perjalanan, Tae-mi bertanya.. apakah Hye-na akan sekolah di TK yang sama dengannya?

“Iya.. dia memang tidak lulus ujian tulis, tapi dia lulus dalam ujian kepribadian dan kreatifitas..”


“Mengapa mereka menerimaku? Apa karena aku sama seperti anak lainnya?” tanya Hye-na

“Tidak.. justru karena kamu sangat berbeda dengan aka yang lainnya. Mereka menyebutmu ‘spesial..’” jawab Yi-jin

Mendengar jawaban itu, sepertinya membuat Hye-na sedih..


Ketika mereka sampai di depan rumah, satu per satu mulai turun dari mobil. Dari jauh, Ja-young memerhatikannya..

Betapa kagetnya dia, ketika melihat Hye-na.. dan dia pun langsung berlari menghampirinya sambil berteriak memanggilnya, “Hye-na yaa!!!”


Suasana hening seketika, dan mereka saling tatap, “Eomma..” ucap Hye-na (entah dalam hati, entah dia ucapkan beneran)

KOMENTAR :

Geregettttt.. pengen cuap-cuap setelah nonton episode ini. Kesel sama sikap ibu angkatnya Soo-jin, iya enggak sih? Okelah.. selama ini, memang dia yang merawat Soo-jin dan sekarang kondisinya udah ‘dying’, tapi bukan berarti dia bisa menutupi fakta etnang ibu kandungnya Soo-jin. Dia egois.. tapi aku enggak bisa benci sama karakternya, karena kurasa dia memang berhak untuk egois~

Hmm.. kalau yang bikin kesel beneran, adalah sikapnya Yi-jin. Dia tuh sebenernya, sayang banget sama ibunya.. tapi dia teralu iri sama Soo-jin dan tingkahnya benaran ‘annoying’. Padahal Soo-jin gaada niatan ambil uang warisan, dia mah pengen pergi dan yaudah..

Tapi sekesel-keselnya nonton episode minggu ini, untunglah ada karakter Jin-hong yang makin hari, makin manis aja gombalannya. Bisa enggak sih, Soo-jin kawin lari sama Jin-hong aja.. bawa Hye-na pergi ke Islandia, tinggal disana aja?! *tapi kalau ceritanya gitu, berarti drama ini tamat. Hahahah..*

Dan yang enggak disangka, adalah betapa cepatnya fakta terbongkar.. cuman karena omongan si halmeoni, tamatlah pelarian Soo-jin. Entah apa yang bakalan terjadi di episode berikutnya.. *jadi cemas*
Advertisement

4 comments

Wahh. G sabar nunggu minggu depan... Makasih sinopsisnya cingu😊

Mungkin jinhong udah nonton film dilan....hahaha
Aq seneng akhirnya misteri terbuka satu persatu di episod ini....lanjut kaka

Ditunggu kelanjutannya yah min, ceritanya semakin Seru😍...

Tiap episode dibikin geregetan...
Alurnya susah ditebak...


EmoticonEmoticon