2/23/2018

SINOPSIS Mother Episode 9 PART 2

Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 9 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 9 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 9 Part 3

Soo-jin mengejar Ja-young, dia mengajaknya berbicara empat mata. Namun tanpa ragu, Ja-young mengatakan, bahwa Soo-jin boleh mengambil Hye-na darinya. 

“Tenangkanlah dulu dirimu, baru kamu bisa berfikir untuk tinggal bersama dengannya atau tidak..” pinta Soo-jin


JA-YOUNG: “Sejujurnya, kurasa kau itu orang yang sangat aneh! Kau mengambil anak orang lain yang tak ada urusannya denganmu dan pergi sejauh ini! Kalau aku melaporkanmu ke polisi, tak pernahkah kau berpikir apa yang akan terjadi padamu?”

SOO-JIN: “Aku memikirkannya setiap hari.. tentang bagaimana jadinya, kalau aku sampai tertangkap. Aku sangat takut.. karena jika itu benar-benar terjadi, tentunya akan menjadi luka yang tersembuhkan bagi Hye-na di kemudian hari. Namun, aku berubah pikiran.. ketika aku menemukan Hye-na di tempat sampah. Karena jika dibiarkan terus seperti itu, Hye-na akan meninggal esok paginya! Tapi Hye-na menerima kenyataan itu dengan tenangnya.. Dia tak berteriak atau pun menangis..”

JA-YOUNG: “Dia memang begitu.. dia selalu mempermainkan perasaan orang lain seperti itu! Seberapa sering aku memukulnya, dia pasti akan kembali dan memintaku memeluknya! Tahukah betapa mengerikannya hal itu! Tahukan kamu, betapa bencinya aku  karena harus menjadi ibu yang paling jahat di muka bumi ini!”

SOO-JIN: “Ibunya Hye-na.. ternyata kamu sangat menyedihkan. Hye-na sangat menyayangimu, tapi sampai akhir kamu tak pernah menyadari hal itu..”

JA-YOUNG: “Lakukanlah yang terbaik.. aku akan melupakan semuanya dan melanjutkan hidupku. Aku akan hidup, seakan aku tak pernah melahirkan seorang anak... dan menganggap kalau semua ini hanyalah mimpi burukku saja. Sekarang aku memperingatkanmu, jangan pernah berani untuk mengembalikan Hye-na kepadaku! Karena aku, TAK AKAN PERNAH bersedia untuk mengambilnya kembali!”

SOO-JIN: “Mungkin, aku memiliki kekurangan dalam banyak hal. Tapi aku akan berusaha keras untuk merawat dan membesarkannya.. Terimakasih, karena telah membiarkan Hye-na pergi..”


Sambil menangis terisak, Ja-young berjalan pergi meninggalkan Soo-jin.


Di kantor polisi, detektif agak kesulit mengorek informasi dari Halmeoni yang memang cara bicaranya sudah agak ngawur dan harus dipancing dengan berbagai hal hingga bersedia mengunggapkan sedikit demi sedikit informasi.


Berpindah ke tempat lain, Seol-ak tengah mengisi sebuah truk dengan beberapa barang seperti air mineral, makanan ringan, koper (tempat tidur Hye-a?) dan peralatan lainnya. Dia ingin menyewa truk tersebut untuk beberapa hari.. tapi dia tak menjelaskan alasannya untuk apa, dia hanya mengatakan bahwa itu merupakan sesuatu yang tak bisa diceritakan olehnya.


Setelah memberikan uang sewa, Seol-ak pergi mengendarai truk tersebut. Tapi dia meninggalkan truk miliknya disana (Agak kurang jelas, apakah berarti Seol-ak udah tahu kalau di truk-nya ada GPS pelacak? Atau justru.. truk yang barusan diisi peralatan tuh, truknya dia? Tunggu, episode berikutnya buat kejelasan lebih lanjut deh..)


Kembali ke kantor polisi, akhirnya Halmeoni mulai menceritakan kejadian ketika dirinya melihar Hye-na dibawa Soo-jin menaiki sebuah bis di dekat pesisir laut. Dia tak ingat nomor bis yang mereka tumpangi, tapi dia melihat dengan jelas bahwa anak itu adalah Hye-na.


“Apa wajah anak itu terlihat terpaksa atau bagaimana?” tanya detektif

Halmeoni malah tersenyum lalu menjawab, “Sepertinya waktu itu... aku bersyukur, anak itu tak akan kelaparan lagi.. dia tak akan kembali kesini lagi..”


Soo-jin kembali ke barber shop, dimana Hye-na tengah terdiam dalam pelukan Bu Nam.


Melihat kedatangannya, Hye-na langsung berpindah memeluknya dengan erat. Soo-jin berkata, “Sekarang tak apa..  kamu tak usah tersenyum.. kamu boleh menangis..”


Seketika itu juga, Hye-na yang sedari tadi diam lansgung menangis terisak dalam pelukan Soo-jin yang hanya bisa mengelus-elus rambut Hye-na untuk menenangkannya.


Pada waktu bersamaan, terlihat Ja-young yang juga hanya bisa diam.. tapi matanya berkaa-kaca, dia berusasa keras menahan air matanya untuk jatuh~


Young-shin duduk di meja riasanya, dia teringat obrolannya dengan Hye-na disaat diirnya masih terbaring di RS. Kala itu, dirinya sempat berjanji untuk menunjukkan pada Hye-na, dandanannya yang paling cantik dan memukau, kelak disaat diirnya tlah sehat kemballi.


Dan sekarang, Young-shin mulai bersiap menegnakan riasannya.


Soo-jin dan Hye-na pulang.. langkahnya sempat tertahan di depan pintu gerbang. Tanpa mereka sadari, ternyata Seol-ak tengah mengawasi mereka dari dalam truk yang dia parkir tepat disamping rumah Young-shin.


Ketika masuk kedalam.. semuanya telah berkumpul di ruang tengah. Yi-jin menyampakan pesan ibu yang meminta Yoon-bok untuk menemuinya dikamar atas.


Sendirian, Hye-na menemui Young-shin yang kini telah berdandan sangat glamor, “Bagaimana penampilanku?” tanyanya

“Sangat.. sangat.. cantik.. seperti seorang ratu..” jawab Hye-na, yang kemudian bertanya kenapa mengenakan pakaian seperti itu? Apa karena ingin pergi ke suatu tempat?


YOUNG-SHIN: “Aku telah memainkan begitu banyak peran selama hidupku. Ketika masih muda dan naif, aku berperan sebagai Ophelia. Dan ketika aku diselingkuhi seorang pria dan sangat marah, aku berperan sebagai Medea. Tapi malam ini, kurasa aku harus mengambil peran yang paling sulit..”

HYE-NA: “Peran apa?”

YOUNG-SHIN: “Demeter.. Seorang wanita yang kehilangan putri yang sangat dia cintai..”

HYE-NA: “Lalu.. apakah orang itu, tak pernah meneukan putrinya lagi?”

YOUNG-SHIN: “Entahlah.. tapi kurasa, peranku sebagai Demeter akan kehilangan putrinya, yakni Persephone untuk selama-lamanya..”


Young-shin menggenggam tangan Hye-na, lalu beratnya: “Yoon-bok aa.. siapa nama aslimu?”

HYE-NA: “Hye-na.. Namaku Kim Hye-na.. nek..” 

YOUNG-SHIN:  “Aku bukanlah nenekmu..” 

HYE-NA: “Kuhomon maafkanlah ibuku. Alasasnnya melakukan semua ini, dan berbohong kepadamu.. adalah karanaku. Aku yang salah..”

YOUNG-SHIN: “Aku sangat bahagia.. ketika berpikir, bahwa aku memiliki cucu kecil dan cantik sepertimu...”

HYE-NA: “Maaf..”

YOUNG-SHIN: “Aku harus mengambil kembali seluruh perhatian dan kasih sayang yang kuberikan padamu. Karena aku adalah orang yang sebentar lagi akan mati. Jadi aku tak bisa mencintai terlalu banyak orang..”


“.. tapi sebagai gantinya, aku akan memberikanmu ini..” ucap Young-shin, sembari memberikan kalung miliknya, yang ternyata dia terima dari ibunya dulu, “Kurasa kalung ini memabwa banyak keberuntungan. Aku memakainya pertama kali, ketika bertemu dengan Soo-jin.. dan kurasa, kamu akan membutuhkan banyak sekali keberuntungan di kemudian hari~”


Perlahan, Young-shin menuruni tangga menemui seluruh orang yang telah menunggunya dibawah. Kemudian, dia meminta Soo-jin duluan yang berbicara mejelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Soo-jin mengaku, bahwa Hye-na buknalah putri kandungnya.. melainkan muridnya yang dia bawa kabur karena mengalami penyiksaan dari ibu kandungnya dan jika dibiarkan, mungkin bisa meninggal begitu saja.

Meskipun alasannya terdengar baik, tetapi Yi-jin tak terima karena yang dilakukan Soo-jin itu termasuk tindakan kriminal, “Dan eonni.. apa kamu tak pernah mempertimbangkan bagaimana perasaan ibu yang harus kehilangan cucu yang sangat dia sayangi?!”


“Maaf.. aku pun sangat bahagia ketika melihat ibu begitu menyayangi Hye-na, tapi aku pun merasa bersalah karenanya..” ucap Yoo-jin


Ketika ditanya apa yang akan dilakukannya, Soo-jin menjawab bahwa besok dirinya akan pergi ke Islandia bersama dengan Hye-na. Karena kemungkinan, passport serta dokumennya, baru selesai besok.

Lagipula, ibu kandung Hye-na telah melepas Hye-na dan membiarkannya untuk tinggal bersama dengannya.


Namun, Yi-jin memprotes keputusan Soo-jin, karena tahu betul resikonya sangat besar jika Soo-jin sampai tertangkap. Hal itu akan mempengaruhi karir ibu mereka, dan juga karir suaminya sebagai seorang jaksa.

Dan juga, menurunya... mana ada seorang ibu yang menyerahkan anaknya begitu saja? Klau pun iya, apsti suatau saat, dia bisa berubah pikiran dan meminta anaknya kembali.


Diam-diam.. Hye-na menguping seluruh obrolan mereka dari lantai atas. Dia hanya diam, menyendiri di balik dinding... wajahnya terlihat sedih dan dia merasa begitu bersalah~
Advertisement


EmoticonEmoticon