2/12/2018

SINOPSIS My Golden Life Episode 45 PART 2

SINOPSIS My Golden Life Episode 45 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Golden Life Episode 45 Part 1
Do Kyung menerima kunjungan Yong Gook dan memintanya agar memposting tentang produknya di website perusahaan Yong Gook. Yong Gook memujinya dan meminta Do Kyung segera mengirimkan desainnya jika sudah selesai. “Apa aku CEO sekarang? Aku sudah dipromosikan dari Wakil Presiden?” canda Do Kyung.


Saat akan pergi, Yong Gook berpapasan dengan Ji An. Yong Gook bilang Do Kyunglah alasannya mengapa Ji An membuat pesanannya sangat cepat. Ji An hanya tersenyum dan mengucapkan sampai jumpa besok.


Do Kyung bertanya kenapa Ji An sudah datang, padahal Do Kyung ingin menjemputnya. Ji An bilang ia berencana untuk membuatnya di kantor Do Kyung. “Kita akan meletakkan mainan kucing di dalam toilet kucingnya. Itu akan dibuat satu set, dan hanya 30 orang pertama yang akan mendapatkannya,” jelas Ji An.


Do Kyung: “Apa yang kau bicarakan? Kita harus berkencan.”
Ji An: “Tapi aku ingin melakukan ini. Aku ingin membantu pacarku yang sedang sibuk bekerja. Choi Do Kyung, kau akan membuka bisnis. Apa kau pikir punya waktu untuk berkencan?!”
Do Kyung: “Tentu saja. Kita tidak bisa berada disini sepanjang waktu.”

Ji An memegang lengan Do Kyung dan bertanya, “Bukankah itu bagus selama kita berada di tempat yang sama?” Do Kyung tersenyum senang. “Hari ini akan seperti kemarin dan besok akan seperti hari ini.”


Ji An lalu menunjukkan mainan kucing yang ia buat, dan Do Kyung sangat menyukainya. “Ini cantik,” kata Do Kyung lalu memainkannya dan mereka tertawa bersama.


Soo A menatap hadiah gelang bayi dari ayah. Ia berkata pada Seung Won bahwa itu adalah pertama kalinya ia mendapat hadiah seperti itu. Soo A berkata bahwa ia tidak menganggap keluarga suaminya sebagai keluarganya, tapi ternyata ayah mertuanya menganggapnya seperti putrinya sendiri.


Teman ayah di klub musik berkata bahwa mereka berencana untuk membuat konser saat musim semi. Ayah bilang kemampuannya belum bisa ditampilkan untuk konser. Temannya berkata bahwa ayah masih bisa tetap berlatih sampai hari pelaksaannya nanti.


Teman ayah bilang waktunya di pecan pertama April. “April?” tanya ayah. Ayah kemudian harus mengangkat ponselnya yang berdering.


Ayah menerima telepon dari Ji Tae yang menanyakan keberadaan ayah sekarang. “Apa ayah ada di Jeongseon?” tanya Ji Tae.


Ibu tengah bekerja sebagai kasir, dan manajernya memuji hasil kerja ibu. Ibu tersipu. Kemudian ia menerima telepon dari Ji Tae.


Do Kyung memperhatikan Ji An yang sedang menggambar pola untuk produk toilet kucingnya. Do Kyung mengingat pesan ibunya bahwa jika ingin kakek menerima Ji An, maka Ji An harus memiliki kualifikasi yang bagus. “Tiga tahun?” gumam khawatir saat mengingat perkataan ayahnya bahwa dia harus berpisah dari Ji An selama tiga tahun.


Ji An kemudian mengangkat ponselnya, “Ya, Oppa. Benarkah? Baiklah. Aku akan naik taksi.” Ji An lalu memberitahu bahwa kakak iparnya pulang ke rumahnya setelah bertengkar hebat. Ji An berkata bahwa ia tidak pernah bertemu  lagi dengan kakak iparnya lagi sejak Do Kyung membuatnya hadir di pernikahan mereka.


“Benarkah? Kalau begitu, kau harus pergi. Tapi aku akan mengantarmu,” kata Do Kyung. Ji An tertawa.


Di depan rumah, Ji An berterima kasih karena Do Kyung sudah mengantarnya.


Ayah terkejut melihat kedekatan mereka berdua.


Ji An: “Pergilah.”
Do Kyung: “Aku tidak mau pergi.”
Ji An: “Aku masuk sekarang.”
Do Kyung: “Baiklah, sampai jumpa.”


Di dalam rumah, Ji An meminta maaf karena baru bisa bertemu dengan Soo A setelah sekian lama kakaknya menikah. Soo A juga meminta maaf, karena ia tidak ada saat Ji An kembali. Ji Tae mengakui bahwa mereka bertengkar hebat. Ibu yang selama ini pura-pura tidak tahu kalau mereka bertengkar, mengucapkan terima kasih karena Soo A sudah kembali. Ji An berkata bahwa dia sudah membuat lampu untuk mereka dan akan membawakannya besok.


Ji Tae: “Ibu darimana tadi?”
Ibu: “Aku mendapat pekerjaan sebagai kasir di toko.”
Ji An: “Ibu bekerja?”
Ibu: “Setelah aku menjalani masa sulit tanpa ayah, aku menyadari kebodohanku. Hidup dibawah perlindungannya, membuatku tidak tahu apa-apa. Aku yang membuat ayah sakit.”
Ji An+ Ji Tae: “Itu tidak benar.”


Ibu lalu berterima kasih karena mereka sudah menerimanya kembali sebagai seorang ibu. Ibu bilang ia tidak akan menggantungkan dirinya kepada suaminya atau anak-anaknya. Ibu akan berusaha menghasilkan uang, walaupun itu hanya sedikit.


Ji An tidak menentang keputusan ibu. Ji An bilang ibunya masih muda dan itu juga akan membuat ayah merasa lebih baik. Kemudian ayah masuk dan melarang semua orang berdiri, tapi mereka tetap melakukannya.


Ayah menyapa Soo A, dan Soo A meminta maaf pada ayahnya. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi Ji Tae mendahuluinya, “Soo A sedang hamil.” Semua orang terkejut dan bahagia. Mereka mengucapkan selamat pada Soo A dan Ji Tae.


“Ayah, tentang hadiahnya. Terima kasih banyak,” kata Soo A. Ayah bilang itu bukan apa-apa. Ji Tae lalu meminta semua orang duduk. Tapi ibu melarangnya dan menyuruh Soo A naik ke kamarnya dan beristirahat. Ayah juga setuju.


Ibu bilang ia akan memasakkan yang sesuai untuk Soo A. Ji An lalu ikut mengantarkan Soo A ke kamarnya. Sebelumnya Ji An sudah tidak sabar apakah dia akan mendapatkan keponakan perempuan atau laki-laki.


Ayah berkata bahwa dia sudah makan dan akan langsung kembali ke Jeongseon. Ayah melarang ibu memberitahu Soo A kalau dia sedang sakit dan meminta ibu berkata bahwa dirinya sedang bekerja di Jeongseon. Ibu menyarankan agar ayah menginapa saja dulu. Tapi menurut ayah, Soo A akan merasa tidak nyaman jika mendengarnya merintih dan muntah.


Ibu bertanya, “Apa masih sering sakit?” Ayah bilang kadang masih terasa sakit.


Bu Min mengetuk pintu kamar Ibu No dan memberitahu kalau Do Kyung datang. Ibu No dan Pak Choi terkejut. Mereka kemudian duduk bersama di ruang tamu.


Pak Choi bertanya apa yang membada Do Kyung kesana pagi-pagi sekali. Do Kyung berkata bahwa ia dan Ji An tidak akan menikah. “Jadi, Ji An tidak perlu belajar keluar negeri dan aku tidak akan kembali ke perusahaan,” kata Do Kyung.


Ibu No: “Kalian tidak akan menikah?”
Pak Choi: “Do Kyung, aku kira kalian berdua cukup serius, tapi kau tidak mau menikahinya? Apa maksudmu kau hanya ingin berkencan dengannya sekarang?”
Do Kyung: “Kami akan berkencan selama satu minggu, sesuai perjanjian kami.”
Ibu No: “Kenapa? Aku sudah menyetujui kalian berdua. Apa kau piker itu mudah? TIdak bisakah kau menunggu selama tiga tahun? Kau ingin Ji An belajar seni keluar negeri.”


Do Kyung berkata bahwa menjadi manajer galeri setelah selesai belajar keluar negeri bukanlah keinginan Ji An. Do Kyung merasa orang tuanya hanya ingin agar ia berpisah dari Ji An selama tiga tahun itu.  “Aku akan kembali ke perusahaan dan Ji An akan menjauh dengan sendirinya. Tiga tahun cukup untuk menikahkanku dengan orang lain dan mendapatkan cucu untukmu dan kakek,” kata Do Kyung.


Pak Choi: “Choi Do Kyung! Bagaimana kau bisa menyalahartikan maksud ibumu seperti itu?”.
Do Kyung: “Kalau begitu, izinkan aku mendaftarkan pernikahan kami sekarang.”
Ibu No: “Apa?”
Do Kyung: “Aku tidak akan mengumumkannya sampai Ji An kembali. Bisakah aku mendaftarkan pernikahannya, ibu?”


Ibu No diam saja dan Do Kyung sudah tahu kalau ibunya akan menolak. Pak Choi bertanya kepada istrinya kenapa tidak menjawab. Ibu No gugup, “Tidak ada rahasia di dunia ini! Bagaimana kau bisa mendaftarkan pernikahan tanpa upacara pernikahan?” Pak Choi bilang tidak akan ada yang tahu jika mereka tidak mengatakan apapun.


Do Kyung berdiri dan pamit pergi. Ia berpesan agar ibunya menjauhi Ji An, dan ia khawatir kakek akan mengganggu Ji An. Ibu No lalu berdiri dan berkata bahwa dia melakukan itu semua demi dirinya. “Apa kau ingin tidak dianggap oleh kakekmu?” tanya Ibu No. Do Kyung hanya menganggukkan kepalanya, lalu pergi


“Apa Haesung tidak berarti apa-apa bagimu? Kau pikir ini bisa didapatkan oleh setiap orang? Kenapa kau melakukan ini?!” kejar Ibu No, tapi Do Kyung tidak mempedulikannya dan tetap berjalan pergi.


Ibu No lalu melangkah dengan lemas ke kamarnya. Pak Choi marah karena istrinya itu sudah menipunya. Ibu No mengatakan bahwa ia melakukannya hanya demi Do Kyung. “Kau memanfaatkanku untuk membuatnya percaya padamu? Aku ayah Do Kyung! Myung Hee, apa kau sungguh harus melakukan itu?” 


Ibu No duduk di kasurnya dan berkata bahwa dia tidak punya pilihan lain. “Bagaimana jika aku tidak bisa membawanya kembali?” gumam Ibu No lalu membaringkan tubuhnya. Pak Choi menghela napas dan mencoba menahan kemarahannya.


Setelah kelas desain berakhir, pengajarnya menghampiri Ji An dan memberitahunya kalau Ji An memenangkan kontes desain di sekolah mereka. “Aku memang mengirimkannya, tapi tidak mungkin aku yang menang,” kata Ji An. Pengajar menebak kalau Ji An belum mengecek emailnya. “Ya, aku sedang cukup sibuk.”


Ji An berlari ke atap sekolah dan menjadi gugup sendiri. Ia lalu membuka ponselnya dan mengecek emailnya. Ia membaca email ucapan selamat atas kemenangannya di kontes desain.


Ji An melompat-lompat kegirangan. “Oh, astaga! Aku tidak percaya ini! Astaga!” Dia kemudian ingin menghubungi Do Kyung, tapi tidak jadi.


Ayah bercerita pada Seok Doo bahwa sejak dia sakit, anak-anaknya terus mengganggu dan mengunjunginya. Tapi ia menyukai saat mereka tersenyum padanya. Ia juga berkata bahwa menantunya hamil. Ayah sangat senang. Kemudian dia menerima telepon dari Ji An.


“Ayah, coba tebak. Aku dapat juara tiga di kontes desain. Ini semua berkat ayah. Aku mendapatkan idenya saat melihat kamar ayah sebelumnya. Itulah kenapa aku memberitahumu lebih dulu,” kata Ji An ceria.


Ayah memberitahu Seok Doo tentang kemenangan Ji An. Seok Doo ikut tersenyum senang. Ji An yang tahu kalau pamannya ada disana, lalu menutup teleponnya dan berpesan agar ayah bersenang-senang dengannya.


Seok Doo berkata bahwa dia iri pada ayah karena memiliki anak perempuan. Ayah tersenyum lalu membaca pesan dari Ji An bahwa ia menerima hadian 1000 dollar dan bisa belahar di Sekolah Desain Onnea di Finlandia selama 6 bulan. “Bukankah itu menakjubkan?” tanya ayah. Seok Doo berkata bahwa mereka sudah tahu kalau Ji An memang punya bakat seni.


Tapi kemudian ayah khawatir saat mengingat Ji An dan Do Kyung saling bergandengan tangan di depan rumah mereka. “Aku tidak bisa mendukung bakatnya. Ayah Ji Soo bisa melakukan itu untuk putrinya. Aku merasa iri padanya,” gumam ayah.


Pak Choi terlihat sangat galak. Sedangkan Ji Soo dan Hyuk yang duduk di depannya terlihat gugup. Hyuk lalu meminta maaf karena sudah membuat banyak masalah. Pak Choi membenarkan apa yang diucapkan Hyuk dan menanyakan alasan Hyuk melakukanya.


Hyuk berkata bahwa dia tidak bisa membiarkan Ji Soo pergi keluar negeri karena dirinya. “Aku tidak bisa membiarkannya membiarkannya menjalani kehidupan yang tidak dia inginkan,” kata Hyuk. Dia juga mengatakan bahwa dia menyesal sudah putus dari Ji Soo. “Aku tadinya tidak tahu betapa aku menyukainya.


Pak Choi: “Seberapa banyak kau menyukainya.”
Hyuk: “Aku sangat menyukainya. Amat sangat menyukainya.”
Pak Choi: “Seberapa banyak?”


Ji Soo menjawab bahwa mereka baru saja memulai hubungan mereka. Pak Choi tersenyum dan berkata, “Benar, kalian harus berkencan untuk saling mengenal satu sama lain.”


Hyuk dan Ji Soo saling bertatapan. Mereka terlihat sangat lega dan bahagia.


Pak Choi yang sudah keluar lebih dulu memperhatikan putrinya dari dalam mobil. Ia tersenyum bahagia melihat putrinya  yang bersorak karena ayahnya mengizinkannya berkencan dengan Hyuk. [crstl]

2 komentar

  1. Ayoooo donk sinopsisnya mana lagi..... makin seruuuu

    BalasHapus
  2. Mana ji ho dan seo hyun... kangen mereka

    BalasHapus


EmoticonEmoticon