2/12/2018

SINOPSIS My Golden Life Episode 45 PART 3

SINOPSIS My Golden Life Episode 45 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Golden Life Episode 45 Part 2
Seorang calon pembeli bertanya baju mana yang lebih cocok untuknya. Ji Ho lalu mengingat pesan ayah bahwa ia tidak boleh mengatakan bahwa calon pembeli akan bagus dengan pakaian yang mana saja. Ji Ho menarik napas. “Karena kau langsing, akan lebih baik jika kau memilih warna yang lebih cerah. Bagaimana kalau ini?” saran Ji Ho sambil mengambilkan baju berwarna kuning.


Calon pembeli itu melihat baju itu dan setuju dengan saran Ji Ho dan akan membelinya. Dan ia juga tetap akan membeli baju yang berwarna lebih gelap untuk adiknya. Ji Ho ingin memberikan cashback, karena wanita itu membeli dua baju, tapi dia sudah pergi.


Ji Ho tersenyum puas karena dengan kejujurannya, ia bisa menjual lebih banyak. “Apa bisnisnya berkembang?” tanya seorang wanita yang ternyata adalah Seo Hyun. Seo Hyun bilang ia ingin membeli sesuatu tapi sudah tidak ada yang tersisa. Ji Ho menduga kalau Seo Hyun pasti sedang bosan sampai datang kesana. Ji Ho lalu bertanya apakah Seo Hyun datang ke klub.


Seo Hyun: “Klub? Klub apa?”
Ji Ho: “Kau datang, lalu melarikan diri? Kenapa kau lari?”
Seo Hyun: “Aku tidak melarikan diri, aku pulang karena memang sudah waktunya.”
Ji Ho: “Kau baru saja masuk.”

Ji Ho lalu mendekati Seo Hyun dan bertanya apakah Seo Hyun lari karena melihatnya dan menanyakan alasannya. Seo Hyun bilang itu karena mereka sudah setuju untuk tidak saling bertemu lagi. Ji Ho lalu bertanya kenapa sekarang Seo Hyun datang kesana. Seo Hyun bilang ia ingin membantu Ji Ho.


“Apa kau menyukaiku?” tanya Ji Ho iseng. Tapi Seo Hyun diam saja. “Jangan bermimpi. Keluarga kita adalah musuh. Aku dan Tuan Putri? No, thank you.”


“Hey, aku tidak suka pria sepertimu. Aku menyukaimu? Itu mustahil. Aku muncul hanya karena aku sedang  bosan. Kau sepertinya sedang sibuk. Aku harus pergi,” pamit Seo Hyun lalu berjalan menjauh. Ji Ho menyesal karena ia belum berterima kasih pada Seo Hyun, karena bagaimanapun Seo Hyun telah membantunya mendapatkan Ji Soo kembali.


Ayah sedang menulis ‘Biaya hidup selama 6 bulan tidak akan ditanggung’ di buku catatannya. KEmudian ayah mendapat kiriman foto Ji Ho yang berhasil menjual habis barang dagangannya. “Dear ayah, aku melakukan apa yang ayah katakan dan berhasil menjual semuanya.” Ayah tersenyum senang.


Setelah itu ayah mengeluarkan Polis Asuransi kankernya yang bernilai cukup besar. 


Di kamarnya, Ji An tengah membaca lagi pengumuman pemenangnya sebaga juara 3 desain. Disana tertulis bahwa biaya pendidikan selama 6 bulan akan ditanggung oleh beasiswa, namun tidak begitu dengan biaya hidupnya.


Keesokan harinya, Pak Choi sudah memakai jasnya dan bersiap berangkat. Tapi Ibu No masih termenung di atas kasurnya. Ia tampak tidak bersemangat.


Bukannya pergi ke kantor, Pak Choi malah pergi ke taman dan melihat pertunjukan music sederhana. Ia menarik napas panjang dan tampak sedang memikirkan sesuatu yang berat.


Sementara itu, Ji An yang sedang membuat mainan untuk kucing dibawakan kopi oleh Do Kyung. Mereka tersenyum bersama dan tampak sangat bahagia.


Mereka berdua kemudian pulang naik bus dan keduanya tertidur dengan saling bersandar.


Ayah menghubungi Kantor Asuransi untuk menanyakan dokumen apa saja yang diperlukan untuk melakukan klaim atas polis asuransinya.


Pak Choi sudah mengambil keputusan. Ia menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada istrinya untuk diteruskan kepada kakek. Pak Choi bilang ia ingin beristirahat. Setelah mengatakan itu, Pak HCoi langsung pergi.


“Kau tidak bisa pergi begitu saja. Apa yang akan kau lakukan jika kau berhenti? Ada apa ini? Kenapa semua orang melakukan ini padaku?” tanya Ibu No hampir menangis, lalu merobek surat pengunduran diri suaminya. “Ah..” dia duduk dan memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Ji An sedang berias saat ayah menghubunginya. Ayah mengajaknya bertemu setelah pulang kerja. Ji An bilang dia sudah punya rencana dan menunda pertemuannya dengan ayah sampai besok. “Tidak akan lama,” mohon ayah.


Sorenya di restoran, ayah terus menatap Ji An. Ji An bertanya kenapa ayah menatapnya seperti itu karena itu membuatnya gugup. Ayah lalu bilang kalau ia tidak punya hak untuk memberitahu bagaimana Ji An harus menjalani hidup, tapi Ji An meminta ayah tidak bicara seperti itu. Ayah menyarankan Ji An pergi ke Finlandia dan dia yang akan membayar biaya hidupnya.


Ji An: “Bagaimana ayah akan melakukan itu? Aku belum memutuskan akan pergi atau tidak. Bahkan jika aku pergi, aku akan bekerja paruh waktu untuk membiayai hidup disana.”
Ayah: “Kau belum memutuskan atau tidak bisa memutuskan?”
Ji An: “Apa?”
Ayah: “Aku melihat kalian berdua. Kau dan cucu laki-laki keluarga Haesung.”


Ji An terkejut. Ayah mengingatkan bahwa sebelumnya Ji An berkata kalau mereka tidak berkencan dan tidak akan menemuinya lagi. Ayah bilang kalau ia percaya Ji An tidak akan melakukan itu. “Kami memutuskan untuk berkencan hanya selama satu minggu. Aku merasa tidak adil jika aku bahkan tidak bisa berkencan dengannya. Hari ini hari terakhir,” kata Ji An.


Ayah juga terlihat sedih. “Maaf. Maafkan aku karena membuat kalian bertemu. Maafkan aku karena aku tidak bisa membiarkan cintamu damai.” Ji An meminta ayahnya berhenti bicara seperti itu. “Mereka tidak akan pernah menerimamu.”


Ji An bilang ia juga tidak tertarik pada hal itu. “Kalau begitu, pergilah ke Finlandia dan raih impianmu yang sudah lama tertunda,” pinta ayah. Ji An mengusap air matanya dan menatap ayahnya.


Di kantor Haesung beredar kabar mengenai Do Kyung yang melakukan kerja paruh waktu sebagai penerjemah. Para karyawan heboh dan banyak versi rumor yang bereda. Salah seorang yang bekerja di Hotel MJ Cabang Eropa memberikan kesaksian bahwa Do Kyung belum datang kesana. Ada yang menduga kalau Do Kyung pergi karena masalah wanita, ada yang menduga kalau kakek sudah membuangnya, dan ada juga yang menduga kalau Do Kyung bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya membeli narkoba.


“Narkoba? Wanita misterius? Dan dia pergi dari rumah?” gumam kakek sambil membaca artikelnya. Kakek memukul meja lalu melepas kacamatanya. “Rumor akan semakin menyebar,” kata kakek. Sekretarisnya mengatakan bahwa reporter sudah banyak yang menghubungi mereka. “Katakan itu hanya rumor!” Kakek lalu memakai kacamatanya lagi dan menghubungi Pak Choi.


Pak Choi: “Halo?”
Kakek: “Apa yang kau lakukan?! Melapor ke ruanganku sekarang!”
Pak Choi: “Apakah Nyonya No belum menyampaikan surat pengunduran diriku? Aku mengundurkan diri.”
Kakek: “Apa?”
Pak Choi: “Aku mengundurkan diri. Terima kasih atas segalanya selama ini, Tuan. Aku harus pergi.”


Kakek menyebut Pak Choi bodoh dan menjatuhkan ponselnya. “Kau tidak bisa menunggu? Kau menginginkan kursiku sekarang?” gumam kakek.


Pak Choi melepaskan dasinya dan meletakkanya di saku jasnya. Ia kemudian melihat sebuah jaket sporty di toko yang ia lewati.


Do Kyung ditemani Sekretaris Yoo dan manajer pabrik melakukan pemotongan pita peresmian perusahaan DK-Eco Tech. Para penghuni rumah kos juga hadir disana dan bertepuk tangan untuk Do Kyung. Mereka kemudian berfoto bersama. Dan setelahnya, Do Kyung mengajak mereka semua masuk untuk makan bersama.


Ekspresi kebahagiaan Do Kyung berubah saat menerima pesan dari nomor resmi Haesung yang berisi ‘Presiden Haesung Apparel, Choi Do Kyung. Kepala Haesung Food & Beverages Eropa, Jung Myung Soo’.


Orang-orang di tim Haesung Apparel merasa heran dengan penunjukkan jabatan baru tersebut. Mereka merasa itu terlalu kejam untuk paman yang sudah berusaha keras. Mereka bertanya-tanya dimana Do Kyung dan apakah ia akan menerima jabatan tersebut.


Bibi melempar berkas yang ada di tangannya, kemudian paman datang kesana dengan terburu-buru. Mereka merasa kesal karena kakek melakukan hal itu kepada mereka. Bibi bilang mereka sudah berusaha keras, tapi kakek malah membuat Do Kyung menjadi Presiden. Paman tertawa sinis dan berkata bahwa kakek memujinya saat rapat hanya untuk menurunkannya kemudian. Bibi bertanya kenapa paman datang kesana, karena harusnya dia menemui kakek. Tapi mereka kemudian sadar, bahwa itu tidak ada gunanya. Kemudian kakek menghubungi bibi.


Bibi: “Halo, ayah.”
Kakek: “Aku tahu suamimu ada disana. Berikan padanya.”
Paman: “Ya, Tuan.”
Kakek: “Kau langsung berlari pada istrimu? Aku memberimu kesempatan untuk membuktikan dirimu.”
Paman: “Kesempatan?”


Kakek: “Jika kau berhasil membuat resort kita di Eropa sukses, aku akan menjadikanmu wakil CEO.”
Paman: “Apa Anda sungguh-sungguh? Akan membuatku menjadi wakil CEO?”
Kakek: “Tentu saja. Ini adalah cara untuk mendapatkan Do Kyung kembali. Kau pria yang cerdas. Kau pasti tahu maksudku.”


Para pekerja pabrik dan tamu terlihat menikmati makanan mereka. Sedangkan Ji An dan Ji Soo sudah mulai membersihkan bekas makanannya.


Ji Soo bertanya apa yang akan Ji An lakukan karena itu hari terakhirnya berkencan dengan DO Kyung. “Rahasia,” kata Ji An yang membuat mereka berdua tertawa. Ji Soo berkata bahwa Do Kyung terlihat sangat serius.


Ji An lalu menengok ke arah luar, dan Do Kyung masih berdiri disana dengan ekspresi yang sangat serius. Ji An terus menatapnya.


Sementara itu, Ibu No menemui kakek untuk menanyakan alasan kenapa kakek membuat Do Kyung menjadi Presiden Haesung Apparel. Kakek bilang kalau dia sudah muak harus bertengkar dengan Do Kyung, jadi akan memberinya kesempatan terakhir. Kemudian kakek terbatuk.


Kakek: “Aku sudah cukup menunggu.”
Ibu No: “Dia akan datang padamu. Aku yakin.”
Kakek: “Jika Do Kyung menolak tawaranku, keluargamu akan berakhir. Aku akan mengabaikan kalian semua dan memilih Jin Hee.”


Kakek lalu mengatakan bahwa dia akan kembali ke Hawaii hari itu juga. Kakek bilang ia sudah tidak tahan dengan udara yang terkontaminasi disana. “Sampaikan salamku untuk Do Kyung dan katakana padanya untuk melakukan pekerjaannya,” pesan kakek.


Ibu No berkata, “Tapi suamiku…” Kakek memintanya membiarkan hal tersebut dan membiarkan Pak Choi berpikir bahwa dia sudah mengundurkan diri. Kakek mengatakan bahwa untuk mengamankan posisi Do Kyung, Pak Choi harus tetap menjadi wakil presiden. Kakek juga meminta agar Ibu No berkata pada bibi bahwa ini hanyalah cara untuk mendapatkan Do Kyung kembali.


Ji An bertanya apa yang harus mereka lakukan untuk kencan sekarang. Ji An bertanya olahraga ekstrim apa saja yang biasa Do Kyung lakukan. Ji An berkata bahwa dia akan menunjukkan olahraga ekstrim yang sesungguhnya pada Do Kyung. “Ayo pergi,” ajak Ji An.


Ayah pergi ke resepsionis rumah sakit untuk meminta catatan medisnya untuk melakukan klaim asuransi kesehatannya. Ayah lalu pergi menemui dokter yang sebelumnya menanganinya.


Ayah: “Aku tidak mengidap kanker? Itu tidak mungkin.”
Dokter: “Anda terlalu stress dan menyalahartikan gejala radang perut sebagai kanker. Kau berkhayal bahwa kau mengidap kanker.”
Ayah: “Kau pasti salah, Dokter. Aku mengenali gejalaku. Ini bukan radang perut. Apakah hasil tesnya bisa salah?”


Dokter mengatakan bahwa dia sudah memberitahu keluarga ayah untuk melakukan perawatan psikologis. Ayah tampak shock.


Ji An menebak Do Kyung pasti tidak pernah berseluncur di tanjakan salju. Do Kyung bilang itu untuk anak-anak. “Kau tidak bisa mengatakan itu sebelum kau mencobanya,” kata Ji An. Ia lalu menari Do Kyung.


Do Kyung dan Ji An naik kereta luncur secara terpisah. Mereka berteriak senang. Mereka bahkan sampai terjatuh, tapi tetap tertawa bahagia. Ji An lalu melompat kegirangan.


Do Kyung: “Kau baik-baik saja?”
Ji An: “Bagaimana? Bukankah ini menyenangkan? Hahaha..”
Do Kyung: “Ini sangat menyenangkan. Ini olahraga paling ekstrim yang pernah kucoba. Haha..”
Ji An: “Haha.. aku tahu kau akan mengatakan itu.”


Do Kyung lalu melihat kereta luncur yang bisa digunakan untuk dua orang. Doa Kyung bilang seharusnya mereka mencoba itu dulu. “Oppa,” panggil Ji An. Do Kyung menoleh dan Ji An langsung melemparinya dengan salju.


Mereka lalu bermain lempar salju sambil berteriak. Mereka terlihat sangat senang sekali. (Hwaaaa… mau main saljuu..)


Ji Soo dan Hyuk ternyata mengikuti Ji An dan Do Kyung. Mereka memperhatikan pasangan kekasih yang akan menjalani hari kencan terakhirnya.


Ji Soo merasa prihatin.


Setelah puas bermain lempar salju, mereka kemudian naik kereta gantung untuk naik ke tanjakan seluncur es lagi.


Kali ini mereka menggunakan papan luncur untuk dua orang. Ji An berpegangan erat pada Do Kyung. “Lagi, ayo naik sekali lagi,” kata mereka.


Ji Soo: “Mereka tidak lelah-lelah.”
Hyuk: “Mari kita tunggu di area parkir di dekat mobilnya. Kau bisa sakit.”
Ji Soo: “Mereka harus makan sesuatu sebelum pergi.”
Hyuk: “Ayo. Ayo pergi.”


Ji An dan Hyuk masih bermain kereta luncur, padahal hari sudah malam. Mereka akhirnya menyerah dan tidak bisa melakukannya lagi.


Do Kyung lalu merapikan syal Ji An dan melihat kalung pemberiannya dipakai di leher Ji An. Ekspresi Do Kyung langsung berubah menjadi sedih. Ia menyentuh kalungnya dan berkata, “Kau menyembunyikannya.” Ji An bilang itu kalung yang bagus.


Ji An berkata dia baru saja menjalani satu minggu yang menyenangkan. Do Kyung mengatakan hal yang sama. Ji An berkata bahwa ada hal yang selama ini dia tidak bisa katakan.


Ji An: “Aku mencintaimu.”
Do Kyung: “Aku juga.”


Ji An mendekatkan wajahnya, lalu mengecup bibir Do Kyung sambil menangis. Ia melepaskannya, kemudian mereka berciuman sambil berpelukan.


Sementara itu, kakek yang sedang dalam perjalanan menuju bandara tertidur. Ketika hampir sampai, ia dibangunkan. Ia bangun lalu mengecek ponselnya. “Lihat, ini dari Do Kyung. DIa terlalu takut untuk menghubungiku. Sebagai gantinya dia mengirimkan pesan.”


Tapi kakek sangat terkejut ketika membaca pesan itu. Do Kyung mengirimkan foto peresmian pabriknya dengan keterangan ‘Aku sudah menjadi presiden DK Eco-Tech. Aku menolak jabatan presiden di Haesung Apparel, kakek’.


“Beraninya kau melakukan ini padaku! Beraninya kau menolak Haesung! Do Kyung, beraninya kau…”


Tiba-tiba jantung kakek terasa sakit. Ia menjatuhkan ponselnya dan mengerang kesakitan. Kakek lalu pingsan. [crstl]

3 komentar

  1. Makin seru aja, d tunggu kelanjutan y 😊😊

    BalasHapus
  2. Bikin hati meleleh partnya kali ini.
    Terima kasih

    BalasHapus
  3. Susah ditebak kejadian selanjutnya. Gak sabar nunggu preview hari kamis.

    BalasHapus


EmoticonEmoticon