2/27/2018

SINOPSIS My Golden Life Episode 48 PART 2

SINOPSIS My Golden Life Episode 48 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Golden Life Episode 48 Part 1

Do Kyung menyusul paman dan bibi yang baru saja keluar dari kamar kakek. Ia memanggil dan meminta untuk bicara dengan mereka. Mereka lalu bicara di luar rumah.


Do Kyung: “Kalian menerbitkan artikel untuk mengambil alih perusahaan. Kalian berencana untk menendang orang tuaku.”
Bibi: “Ini untuk kebaikan perusahaan.”
Paman: “Ketua sudah memimpin terlalu lama.”


Do Kyung berkata kalau kakeklah yang mendirikan perusahaan itu. Tapi bibi bilang kalau setelah perusahaan itu berkembang, kakek bukanlah lagi pemilik tunggal. Paman mendukung istrinya bahwa semua orang ikut andil dalam mengembangkan perusahaan. “Kau benar. Aku tahu kau berusaha keras demi perusahaan. Jika kau merasa tidak dihargai, harusnya kau berbagi pikirannya dengannya,” kata Do Kyung.


Paman bilang hal itu tidak akan berguna. Bibi bertanya kenapa Do Kyung marah pada mereka dan mulai berbicara buruk tentang Pak Choi dan Ibu No. Do Kyung meminta bibi agar menjaga bicaranya. Do Kyung mengingatkan bahwa ayahnyalah yang membangun hotel dan cabang-cabangnya.


Do Kyung mengatakan kalau ia tidak akan menerima keadaan yang paman dan bibinya buat itu. Do Kyung menyebut metode yang mereka pakai itu rendahan. Paman bilang ia mempelajari metode itu dari kakek. “Itu bukan tugasmu, Tuan Jung, Kepala Hotel Cabang Eropa,” kata Do Kyung.


Pak Choi bertanya kepada Direktur Kim dan Woo kenapa mereka memihak pada Paman. Mereka bilang kalau mereka sudah membuat keputusan dan ingin berhenti berada dalam posisi tidak nyaman. Mereka meminta maaf.


Direktur Kim juga mengatakan kalau ia kecewa pada Do Kyung yang meninggalkan jabatannya sebagai Kepala Hotel Cabang Eropa dan kakek yang berbohong kalau Do Kyung sedang liburan.


Direktur Woo menambahkan kalau paman berhasil meluncurkan tiga merk baru untuk perusahaan mereka sebagai Presiden Direktur Haesung Apparel dan semuanya sukses. Pak Choi menduga kalau artikel tentang putrinya juga mempengaruhi keputusan mereka. Direktur Kim tidak menyangkal, karena berita itu sudah membuat saham perusahaan mereka merosot.


Kakek mengatakan bahwa paman dan bibi sudah memecatnya bahkan membuat orang yang tadinya mengekornya, kini mengkhianatinya. “Jin Hee dan Myung Soo sudah merencanakan ini sejak lama,” kata kakek. Ibu No meminta maaf karena artikel itu menambah masalah kakek. “Jika kau menyesal, pertahankan posisimu! Kau harus melakukan segala hal untuk mempertahankannya, jadi aku bisa menuntut para komisaris dan mengambil kembali milikku.”


Do Kyung berkata kalau mereka akan melakukannya dan meminta kakek beristirahat. Kakek bilang ia tidak bisa mati seperti itu dan berkata kalau dia sudah memberikan segalanya untuk membangun haesung. Do Kyung menyesal dan meminta maaf, ketika kakek berkata kalau Do Kyung sudah membuat kesehatannya terganggu.


“Jika ayah dan ibumu dipecat dari daftar komisaris, kau yang akan menjadi selanjutnya, Do Kyung,” ucap kakek.


Sambil menunggu lift, Do Kyung mengungkit kejadian 25 tahun lalu, tapi Ibu No bilang itu bukan saat yang tepat untuk membicarakannya. Ibu No mengatakan kalau kebenaran tentang keluarga mereka harus tetap terjaga dan mengajak Do Kyung untuk menyelesaikan masalah terbesar lebih dulu.


Di ruang kerja ayahnya, Do Kyung bertanya-tanya kenapa mereka bisa memegang kakek yang merupakan pemilik 7,5% saham. “Ibu, ayah, paman, dan bibi, kita semua punya jumlah saham yang sama. Begitu juga aku dan Ji Soo, tapi saham Seo Hyun tidak sebesar itu,” kata Do Kyung.


Ibu No menduga pasti banyak pemilik saham lain yang memihak paman setelah artikel itu keluar dan kemungkinan paman juga membeli saham dengan nama pinjaman. Do Kyung menyarankan agar menghubungi para pemilik saham dan mengamankan saham mereka.


Do Kyung: “Jika kalian dipecat, posisi CEO dan Wakil Presiden akan kosong. Pemilik saham kecil akan memainkan peran mereka juga.”
Pak Choi: “Skandal itu pasti sudah merusak kredibilitas kita. Selain itu, kita tahu berapa saham yang mereka miliki dengan menggunakan nama pinjaman.”
Ibu No: “Periksalah daftar pemegang saham. Mereka tidak punya cukup banyak saham untuk memecat ayah.”


Pak Choi berkata kalau ia akan mengecek pemegang saham yang berpihak pada mereka, dan meminta Do Kyung untuk mengecek pemegang saham besar. Tapi Ibu No mengingatkan agar Do Kyung tidak mengabaikan tugas di jabatannya sekarang.


Di rumah kos, Ji Soo berkata kalau tadi ia menjual roti yang dijualnya sendiri untuk pertama kalinya. “Benarkah? Apa kau akhirnya menjadi murid Hyung?” tanya Hyuk. Ji Soo menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Ji Soo: “Hari ini aku dipecat.”
Hyuk: “Apa? Kau dipecat?”
Ji Soo:”Aku terlalu sering tidak masuk kerja. Aku pikir tadinya dia merasa kalau ini tidak masalah”
Hyuk: “Tapi tetap saja, bagaimana bisa dia memecatmu tanpa peringatan?”


Ji Soo bilang itu tidak masalah. Menurutnya Bos Kang tidak memberikan peringatan karena dia baik. “Selama satu minggu terakhir, dia memberikanku pelajaran spesial tentang pembuatan adonan,” kata Ji Soo. “Aku merasa sedih, tapi aku tidak marah. Aku memang terlalu sering tidak masuk kerja.”


“Baiklah,” kata Hyuk sambil menganggukkan kepalanya lalu menggenggam tangan Ji Soo. Ia menyarankan agar Ji Soo tetap membuat rotinya sendiri atau bekerja dan belajar di toko roti lain. Ji Soo tidak menjawab itu, ia bilang ia senang karena dengan dipecat itu, ia bisa menghadiri upcara pemberian penghargaan yang diraih Ji An.


Hyuk bilang ia juga punya waktu luang besok, jadi ia akan pergi bersama Ji Soo. Ji Soo tersenyum senang, setidaknya itu bisa sedikit mengobati kesedihannya karena sudah tidak bisa bekerja lagi di Toko Roti Bos Kang.


Sambil menikmati makan malamnya, Hee khawatir jika Ji Soo berpikir kalau dialah penyebab Ji Soo dipecat. Bos Kang memintanya tidak khawatir, karena dia memang membutuhkan seseorang yang mamu memprioritaskan Toko roti. Hee berkata bahwa ia akan membantu di toko sampai Bos Kang mempekerjakan staf baru. “Haruskah aku berhenti dari cafe dan bekerja bersamamu?” tanya Hee.


“Kau tidak bisa melakukan itu.” Menurut Bos Kang tidak baik jika pasangan terus bersama sepanjang waktu. Tapi Hee merasa itu akan menyenangkan, tapi ia mengakui kalau ia sangat suka menjalankan cafe dan tidak ingin berhenti.


Hee menatap suaminya. Ia tahu kalau suaminya itu pasti sangat sedih, karena terpaksa memecat Ji Soo.


Sementara itu di workshop, Ji An sedang sibuk bekerja, ketika Do Kyung datang sambil membawak kopi.Ji An bertanya apa Do Kyung lakukan disana. “Aku akan melihatmu sebentar. Hanya sekitar lima menit, sambil aku meminum kopi ini,” kata Do Kyung.


“Baiklah,” kata Ji An. Do Kyung lalu memberikan satu gelas kopi untuk Ji An dan berkata kalau dia tidak akan menganggu Ji An.


Ia memperhatikan Ji An bekerja sambil meminum kopinya. Do Kyung terlihat sangat merindukan Ji An, tapi ia merasa tidak berhak mengungkapkannya. Ji An lalu meminum kopinya. Do Kyung berkata, “Kau pasti sangat mencintai kayu, bukan? Kau sampai lupa waktu.”


Ji An: “Ini pekerjaan paruh waktu. Aku mendapat keuntungannya. Aku mendapat 70% dan mereka 30%.”
Do Kyung: “Kau bekerja malam juga? Kenapa?”
Ji An: “Aku berusaha untuk menghasilkan lebih banyak uang.”
Do Kyung: “Uang? Kau tampak menikmatinya.”
Ji An: “Apa ada masalah?”


Do Kyung lalu berkata kalau dia datang kesana untuk mendapatkan udara segar. “Aku pergi sekarang. Semoga beruntung,” kata Do Kyung. Ji An membalasnya dengan ucapan selamat tinggal. Ia pun menghentikan pekerjaannya, setelah Do Kyung pergi.


Ji Tae berkata kalau sepulangnya ia berjalan-jalan dengan Soo A hari Sabtu nanti, mereka akan sekalian menjemput ayah. Soo A meminta ibu mengatakan tentang kanker khayalan ayah nanti. Ibu berkata kalau ia juga ingin melakukan itu, tapi Ji An menyarankannya agar menunggu sampai ayah menyadarinya sendiri. Ibu juga mengatakan kalau ayah pasti tidak mau merepotkan Soo A yang sedang hamil.


Soo A memegang perutnya dan bertanya apakah nanti ibu bersedia membesarkan anaknya. Ibu terkejut. “Ji Tae bilang ibu tidak pernah memarahi anak-anaknya. Jika ibu mau membesarkannya, maka aku bisa bekerja tanpa merasa khawatir,” kata Soo A.


Ibu merasa terharu dan berkata kalau ia bersedia melakukannya. “Tapi apa kalian sungguh-sungguh menginginkanku untuk mengurus anak kalian?” Soo A berkata bahwa tidak akan ada yang lebih menyayangi anaknya daripada neneknya sendiri.  “Memikirkannya saja sudah membuatku bahagia,” kata ibu lagi. 


Di kamar, Ji Tae bertanya apakah Soo A sungguh-sungguh, karena sebelumnya Soo A sudah yakin untuk pindah rumah. “Saat itu, kita berencana untuk tidak punya anak,” kata Soo A. Ji Tae masih tampak khawatir. Soo A berkata lagi, “Saat kita menikah, aku mengatakan bahwa....”
Flashback..


Saat itu dalam janji pernikahannya, Soo A berkata kalau ia tidak akan pernah membandingkan Ji Tae dengan orang lain dan akan berusaha mencari kebahagiaan mereka sendiri.


“Aku memutuskah untuk memulai sesuatu yang baru,” kata Soo A yakin. Dia mengajak Ji Tae pindah keluar Seoul dan akan mengajak ibu dan ayah bersamanya. Ji Tae bilang itu tidak akan semudah yang Soo A pikirkan. “Aku sudah memikirkannya dengan baik. Menurutku, mereka berbeda dari mertua teman-temanku,” kata Soo A.


Ji Tae mengingatkan kalau orang tuanya pernah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak mereka lakukan. “Tapi ibuku adalah orang yang berhati baik,” kata Ji Tae.


Di kamarnya, Ji An sedang belajar bahasa Finlandia. Dia tampak mencatat dan menirukan ucapan orang yang ada di video. Tapi sesekali konsentrasinya buyar, karena mengingat Do Kyung. Ia menghilangkan bayangan Do Kyung dan kembali belajar.


Tidak jauh berbeda, Do Kyung yang masih ada di kantor sedang mempelajari daftar pemegang saham besar.


“Kau memiliki kontak dengan Perusahaan Konstruksi Sira, Kimia Sangha dan Obat Jeongeun. Jawaban mereka kurang meyakinkan,” kata Do Kyung pada Gi Jae keesokan harinya. Gi Jae setuju untuk membujuk mereka, tapi ia memberitahu kalau banyak orang yang kehilangan kepercayaannya.


Gi Jae mengatakan kalau penyakit kakek memainkan peranan besar dan ditambah lagi Ibu No yang merupakan wajah perusahaan. Do Kyung mengerti dan itulah alasannya mengapa mereka harus mengembalikan posisi kakek dan tidak akan pernah membiarkan paman dan bibi mendapatkan apa yang mereka inginkan.


Do Kyung tersenyum dan mengatakan bahwa kakek tetaplah keluarganya, ketika Gi Jae mengungkit kalau kakek sangat menentang Ji An, tapi Do Kyung malah tetap membantu kakek. “Walaupun aku mengecewakannya, aku tidak dapat menyingkirkan 30 tahun yang kami habiaskan bersama. Dia sangat menyayangiku ketika aku kecil, hanya karena aku putra tertua,” kata Do Kyung lagi.


Gi Jae: “Apa kau tidak akan menemui Ji An lagi?”
Do Kyung: “Selama kami berada di arah yang berbeda.’
Gi Jae: “Apa maksudmu? Arah kalian selalu berbeda.’
Do Kyung: “Aku akan memberitahumu setelah rapat komisaris.”


Di workshop, Hyuk meminta Ji An mengantarkan produk toilet kucing mereka sebelum menghadiri acara pemberian hadiahnya. Ji An setuju, karena penasaran dengan Sekretaris Yoo yang psati bekerja keras. Ji An lalu bertanya kenapa Hyuk akan datang ke upacara pemberian hadiahnya.


Hyuk bilang ia melakukan itu bukan untuk Ji An, melainkan mengikuti Ji Soo karena ingin menyapa ayah dan ibu secara resmi.


Ji An kemudian terlihat mengantarkan toilet kucingnya ke pabrik. Ji An mengatakan kalau Sekretaris Yoo berpakaian berbeda. Sekretaris Yoo berkata kalau ia ada rapat di tempat lain dan menanyakan hal yang sama pada Ji An. “Aku ada pertemuan keluarga,” kata Ji An.


Ji An menduga kalau Sekretaris Yoo pasti sangat sibuk karena bekerja tanpa Do Kyung. “Itulah kenaa dia memujiku,” kata Sekretaris Yoo yang membuat Ji An terkejut. “Oh, dia datang untuk mengecek,” kata Sekretaris Yoo menjelaskan.


Ayah sudah menunggu di depan sekolah desain dan melihat ibu yang datang sambil berlari. Ayah berteriak dan meminta ibu agar tidak berlari. Ayah tampak masih sangat mengkhawatirkan istrinya. Kemudian Ji An datang dan menyapa orang tuanya. Ayah mengajak mereka masuk dan dia berjalan lebih dulu.


Ibu memberitahu Ji An kalau Ji Soo akan datang bersama kekasihnya. “Ngomon-ngomong ibu, pacar Ji Soo adalah teman sekelasku. Ibu juga pernah bertemu dengannya,” kata Ji An. Ibu terkjeut da bertanya kapan pernah bertemu dengannya. “Nyonya Yang, ketika ada seorang pria mencariku, kau bilang bahwa aku sudah pindah, bukan?”


“Itu dia? Astaga. Apa yang harus kulakukan?” tanya ibu khawatir. Ji An tertawa dan berkata kalau ibu harus menghadapinya. Ji An lalu memeluk ibunya dan berkata kalau pacar Ji Soo, Hyuk, sudah tahu segalanya, jadi ibu tidak perlu khawatir. Ayah lalu memanggil mereka, karena Ji Soo juga sudah sampai disana.


Di dalam gedung, Ji Soo merapikan baju Hyuk, lalu melambaikan tangannya ketika melihat keluarganya datang. Ji Soo langsung memperkenalkan orang tuanya pada Hyuk dan seketika suasana menjadi canggung. Ji An berusaha mencairkan suasana.


“Wah, orang akan berpikir kalau aku memenangkan hadiah pertama, karena terlalu banyak orang yang datang,” kata Ji An. Ayah dan ibu tersenyum.


Hyuk memberi salam pada ayah dan ibu, lalu memperkenalkan dirinya. Ayah mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya sebagai ayah Ji Soo. “Aku bertemu denganmu beberapa kali saat SMA dulu. Aku ada di kelas perkayuan,” kata Hyuk. Ayah terkejut lalu melihat ke arah Ji An. Hyuk lalu memberi salam pada ibu. Ibu meminta maaf atas apa yang ia lakukan terakhir kali.


Ji An: “Hey, Seo Ji Soo. Ini acaraku , tapi ini seperti kau sedang memperkenalkannya.”
Ji Soo: “Hey, bukan seperti itu. Apa kau tidak gugup? Aku belum pernah menerima penghargaan apapun, jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya.”
Ji An: “Tentu saja aku merasa sepertinya hatiku akan meledak.”


Di panggung, Ji An menerima penghargaannya sebagai juara partisipasi ketiga. Ayah dan Ji Soo langsung berlari untuk memberikan bunga kepada Ji An.


Ayah memberikan bunganya dan memeluk erat Ji An, begitu pula Ji Soo. Mereka semua bertepuk tangan untuk Ji An yang terlihat sangat bahagia. Ibu melambaikan tangannya dari kursi penonton. Sedangkan Hyuk mengacungkan dua jempolnya.


Di kantor, Do Kyung berkata bahwa dia sudah mengecek daftar pemegang saham, namun menghubungi pemegang saham mayoritas, namun tidak bisa menghubungi CEO Gil Min Ah dari Funny Factory yang sedang dalam perjalanan bisnis di Rusia dan Yang Joon Ho sedang berada di Spanyol.


Ibu No berkata kalau Yang Joon Ho memiliki 1,5% dan dia adalah anak dari teman kakek. Pak Choi mengatakan kalau Funny Factory memiliki 1% saham, jadi kalaupun bergabung bersama paman dan bibi, pihak kakek masih akan unggul 0,5%.

INSTAGRAM TABLOID SINOPSIS


Do Kyung berkata kalau bibi pasti sudah memikirkan itu saat berpikir untuk menjadikan suaminya sebagai Ketua. Pak Choi dan Ibu No kompak menyarankan agar mereka menghubungi pemegang saham minoritas dan Do Kyung setuju.


Do Kyung mengkhawatirkan jumlah saham yang dimiliki oleh bibi melalui nama pinjaman, tapi Ibu No percaya diri kalau mereka sudah mendapatkan lebih dari 25% saham.
Comments


EmoticonEmoticon