2/08/2018

SINOPSIS Radio Romance Episode 4 PART 2

Advertisement
SINOPSIS Radio Romance Episode 4 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Radio Romance Episode 4 Part 1

Nyonya Nam kesal karena Pak Kim belum berhasil menemukan keberadaan Soo Ho.  Nyonya Nam lalu meminta agar dijadwalkan rapat dengan Sutradara Kim Sang Soo. Tapi sekretarisnya bilang bahwa akan terjadi perubahan jadwal jika Soo Ho benar-benar memulai siaran radionya.


Nyonya Nam menegur dua bawahannya yang tidak melakukan tugasnya dengan benar, padahal ia memperlakukan mereka lebih baik daripada perusahaan lainnya. Nyonya Nam lalu memperbolehkan Pak Kim pergi setelah memberinya tugas untuk mengawasi Tae Ri.


Nyonya Nam berkata, “Jika kita tidak bisa melarang Soo Ho siaran di radio, kita bisa membuat Song Geu Rim berhenti dari pekerjaanya. Apa kau sudah tahu bagaimana caranya?” Sekretarisnya tidak menjawab. Nyonya Nam lalu mengatakan bahwa dari proposal yang ia baca, ia tahu bahwa akan ada tim yang berkompetisi melawan Soo Ho. “Nama penulisnya adalah La La Hee, bukan?”


Nona La yang tahu kalau Tim Lee Gang sedang melakukan perjalanan, mengajak Seung Ho untuk mencari tahu rencana lawan mereka di kantornya. Tapi tampaknya mereka tidak menemukan apa-apa.


Bahkan mereka belum menemukan konsep acara mereka sendiri dan siapa calon Dj-nya. Mereka mulai bertengkar lagi, karena saling mengejek satu sama lain. Nona La sadar dan mengajak Seung Ho agar bekerja sama dengan baik. Kemudian ponsel Nona La berdering.


“Ya, halo? JH?” tanya Nona La terkejut sekaligus heran.


Sesampainya di dermaga, Geu Rim menemui seorang pria yang ada di depan kantor dan menanyakan tasnya. Pria tersebut menyuruhnya menunggu sebentar lalu mengambilkan tas laptop Geu Rim. Geu Rim sangat lega saat berhasil memegang laptopnya kembali.


Sedangkan, Soo Ho ada di loket untuk menanyakan feri yang bisa membawanya pulang. Petugas tetap mengatakan bahwa hanya ada satu feri sehari, dan bahkan untuk keadaan darurat pun mereka tidak bisa pergi dari pulau tersebut.


Geu Rim menghampiri Soo Ho dan mengatakan bahwa dia sangat senang karena berhasil menemukan naskah yang ia buat untuk dibacakan oleh Soo Ho nantinya. Soo Ho tidak mengucapkan apa-apa.


Mereka berdua lalu pergi ke halte dimana bus akan datang setiap dua jam. Melihat Geu Rim yang terus memeluk laptopnya, Soo Ho lalu bertanya apakah itu sangat penting. “Tentu saja. Semua naskah yang aku pernah tulis ada di sini,” jawab Geu Rim.


Soo Ho menatap wajah Geu Rim, tapi kemudian pura-pura melihat ke arah lain saat Geu Rim menoleh kepadanya. “Kau tidak berencana untuk pulang bukan? Kau tidak membawa barang-barangmu. Kau datang karena khawatir padaku bukan?” tanya Geu Rim.


Soo Ho: “Tidak. Aku tidak bisa pergi karena tidak ada kapal. Jangan berpikiran aneh-aneh.”
Geu Rim: “Oh, itu dia. Busnya sudah datang.”


Di dalam bus, Geu Rim menduga bahwa Soo Ho pasti sudah lama tidak naik bus dengan jendela besar yang bisa melihat pemandangan di luar seperti itu. Soo Ho tidak menjawab, tapi kemudian ia melihat ke arah Geu Rim.
Flashback..


Soo Ho mengingat saat dulu ia pernah melihat Geu Rim remaja sedang menulis di jendela bus dengan jarinya.


Soo Ho remaja menatapnya dengan terus tersenyum.


Di bus sudah tidak ada penumpang lagi selain mereka.Soo Ho lalu melihat Geu Rim yang tertidur. Ia lalu pindah duduk ke samping Geu Rim dan membiarkan kepala Geu Rim bersandar di bahunya.


Soo Ho kembali memperhatikan Geum Rim yang sedang membicarakan tentang alasannya menyukai radio. “Radio berjalan dengan sangat lambat, sama seperti bus ini, sama seperti matahari tenggelam yang sedang mengikuti kita,” kata Geu Rim yang kemudian menengok kembali ke arah Soo Ho. Dan Soo Ho langsung mengalihkan pandangannya.


Hari sudah malam dan hanya tinggal mereka berdua di dalam bus. Geu Rim lalu bertanya kepada supir bus apakah mereka masih jauh dari Donggong-ri. Supir terkejut dan mengatakan bahwa tempat itu berlawanan dengan jalur mereka sekarang.Ia bilang saat jam itu, sudah tidak ada lagi bus ke arah sebaliknya.


Geu Rim dan Soo Ho saling berpandangan, bingung. Mereka lalu turun di suatu tempat.


Soo Ho: “Kekacauan apa ini? Kenapa hal ini selalu terjadi ketika aku bersama...”
Geu Rim: “Ji Soo Ho, jangan khawatir. Aku akan menghubungi PD-nim dan...”


Soo Ho lalu memberikan syalnya pada Geu Rim yang kedinginan. Geu Rim mengambilnya dan mengucapkan terima kasih. Geu Rim mengambil ponselnya dan menengok kesana kemari untuk mengetahui lokasi mereka. Papan nama di belakangan mereka tertulis ‘Penginapan dan Sarapan Sung Yi’.


Soo Ho lalu terkejut saat melihat pria tiba-tiba muncul di hadapannya. Soo Ho sampai terjatuh dan Geu Rim berlari menghampirinya. Pria itu kembali mendekati Soo Ho. Soo Ho bertanya siapa pria itu, tapi pria itu mulai menangis dan memeluknya.


“Kau kembali. Kau akhirnya kembali. Terima kasih. Aku menunggumu  kedatanganmu setiap hari,” kata pria. Soo Ho dan Geu Rim saling bertatapan dengan bingung.  Mata Soo Hon pun terlihat berkaca-kaca.


Soo Ho pergi ke rumah pria tersebut dan melihat foto pria tadi dengan seorang anak laki-laki. Soo Ho lalu menengok keluar dan melihat Geu Rim yang sedang menghubungi Lee Gang.


Geu Rim memberitahu Lee Gang bahwa dia ada bersama Soo Ho, dan karena ada sesuatu yang terjadi, mereka harus tinggal di suatu tempat.


“Hey, kau! Jam berapa sekarang?! Apa kau tahu bagaimana khawatirnya aku?! Kenapa kau tidak menghubungiku?” kata Lee Gang kesal. Geu Rim meminta maaf, karena tidak sadar bahwa dia naik bus ke arah yang berlawanan. “Dimana kau? Dimana alamatnya?”


Soo Ho keluar dari kamar tadi dan mengajak Geu Rim pergi. Geu Rim menutup teleponnya dan bilang akan menghubungi Lee Gang lagi. Geu Rim menyarankan agar Soo Ho berpamitan terlebih dahulu pada pria tadi. Pria tersebut keluar dari dalam rumah sambil membawa makanan, dan saat melihat Soo Ho akan pergi ia menghalanginya.


“Hey, Tidak! Kau tidak bisa pergi! Tidak bisa! Tidak bisa! Kau bilang kau akan kembali saat pergi dulu, tapi kau tidak pernah kembali sampai sekarang. Kau tidak bisa pergi! Tidak bisa! Ayo masuk,” kata pria itu sedih.


Setelah Geu Rim menutup teleponnya, Lee Gang terdiam. Dia tetap saja diam ketika dokter bertanya apakah Soo Ho bersama Geu Rim atau tidak. Lee Gang masuk ke kamarnya tanpa menjawab. Dokter frustasi.


Pria tersebut memotongkan paha ayam untuk Soo Ho dan menyuruhnya makan. Geu Rim tersenyum dan memberi kode pada Soo Ho agar memakannya. Soo Ho akhirnya mengambil ayam itu dan mulai memakannya.


Pria itu menyarankan Soo Ho agar makan dengan perlahan dan menyuruhnya makan yang banyak. Geu Rim ingin ikut makan, tapi pria itu memukul tangannya dan menyuruh Geu Rim memakan leher ayamnya saja. Setelah menegur Geu Rim, pria itu kembali menyuruh Soo Ho makan.


Geu Rim: “Ngomong-ngomong, apakah Soo Ho terlihat sangat mirip dengan anakmu?”
Pria: “Dia putraku. Ada apa denganmu? Ngomong-ngomong, apa kau pacar putraku?”
Geu Rim: “Bukan. Aku bukan pacarnya.”


“Baiklah,” kata pria itu dan menyuruh Soo Ho makan lagi. “Kau akan menginap bukan?” tanyanya pada Soo Ho. Soo Ho melihat ke arah Geu Rim. “Makanlah,” kata pria itu lagi.


Setelah makan, Geu Rim kembali menghubungi Lee Gang dan menceritakan apa yang terjadi. Geu Rim bilang mereka memutuskan untuk menginap, karena pria itu tidak memperbolehkan Soo Ho pergi dan juga tidak ada bus. “Maafkan aku. Kita tidak bisa mengadakan rapatnya karena aku,” kata Geu Rim menyesal.


Lee Gang bilang tidak masalah dan mengingatkan Geu Rim agar jangan sampai terkena flu. Hun Jung bertanya apakah Geu Rim bersama Soo Ho. Lee Gang mengiyakan dengan lesu, tapi dokter malah tersenyum senang. Mereka lalu minum bersama.


Tae Ri terlihat sedang menari di sebuah klub. Seorang pria ikut menari di belakangnya. Tapi kemudian Pak Kim datang dan menjatuhkan pria tersebut, lalu menarik Tae Ri agar ikut bersamanya.


Pak Kim mengingatkan bahwa Tae Ri adalah seorang bintang dan bisa saja ada yang akan mengambil gambarnya. Tapi Tae Ri bilang memang itulah yang dia inginkan.


Tae Ri: “Jadi kapan kau akan melakukan apa yang kuminta?”
Pak Kim: “Aku Manajer Soo Ho.”
Tae RI: “Lalu?”
Pak Kim: “Soo Ho menentukan tugasku. Jadi, aku bertarung untuknya, bukan untukku sendiri. Itulah peranku.”


“Lalu? Kau tidak tahu dimana dia sekarang. Kau manajernya, tapi kau mengabaikannya 12 tahun lalu,” kata Tae Ri. Pak Kim diam saja. “Aku rasa aku benar,” kata Tae Ri lalu pergi. (wah..wah.. siapa ni sebenarnya Pak Kim)


Terdengar suara radio di rumah pria yang dipanggil kakek oleh Geu Rim itu. Ia ternyata selalu mengirimkan kartu pos ke stasiun radio dengan harapan agar bisa menemukan anaknya. “Dan lihatlah, dia pulang ke rumah. Ini kartu pos yang belum sempat aku kirimkan,” kata kakek.


Geu Rim bertanya apa kakek sendiri yang menulis semua itu, tapi kakek tidak menjawab. Ia memberikan kartu-kartu pos itu dan meminta Soo Ho membacanya. Geu Rim lalu berkata bahwa dia akan pergi ke kamar sebelah dan membiarkan mereka berdua.


“Tapi.. tapi..” kata Soo Ho pada Geu Rim. Kakek menggenggam tangan Soo Ho dengan erat. Geu Rim melihatnya dan tersenyum. Geu Rim lalu mengucapkan selamat malam dan keluar dari kamar kakek.


Kakek sudah tidur, namun tidak begitu dengan Soo Ho. Soo Ho kemudian bangun dan pergi keluar. Ia terkejut, karena Geu Rim ternyata ada di teras.


Soo Ho: “Apa yang kau lakukan di luar sini?”
Geu Rim: “Aku sedang tidur, tapi kecoa sebesar ini keluar dan membuatku terbangun. Dan akhirnya aku mengedit naskahku.”
Soo Ho: “Tetap saja, bagaimana jika kau terkena flu?”
Geu Rim: “Aku terlalu takut untuk masuk. Kau mau menangkapnya untukku?”
Soo Ho: “Apa kau sudah gila?”


Geu Rim lalu meminta Soo Ho membaca naskahnya untuk siaran pertama mereka. Soo Ho duduk di samping Geu Rim dan mulai membacanya. “Aku selalu bermimpi hari pertama yang indah ketika DJ-ku membaca naskah buatanku,” kata Geu Rim. Kemudian terdengar lagu dai radio di kamar kakek. “Oh, ini lagu favoritku. Kau tahu lagu ini?”


Soo Ho tidak menjawab. Geu Rim lalu meletakkan selimutnya di atas kaki Soo Ho, karena udaranya sangat dingin. Geu Rim mendengarkan lagu itu sambil tersenyum, dan Soo Ho terus memperhatikannya. “Apa kau tahu lagu apa yang paling sering di-request saat hari hujan?” tanya Geu Rim. “Ketika lagu yang ingin kudengar diputar karena di-request orang lain, itu menyenangkan.”


“Kau tahu bagaimana rasanya?” tanya Soo Ho dan mereka saling bertatapan.


“Seperti apa dia?” tanya Lee Gang. Dokter mengeluarkan kartu namanya dan tersipu malu. Lee Gang lalu membacanya dan tertawa. “Bukan, bukan kau. Ji Soo Ho.” Dokter terkejut, lalu mereka tertawa bersama.


Dokter: “Aku yang lebih penasaran. Kenapa kau menggunakan Soo Ho sebagai DJ-mu, padahal kau tidak tahu seperti apa dia.”

Lee Gang: “Ada kata Bahasa Arab, ‘Insya Allah’, jika Tuhan mengizinkan. Itulah bagaimana ini semua terjadi. Aku ingin mengundangmu ke studio siar kami, Terapist Rahasia kami.”
Dokter: “Aku?”
Lee Gang: ”Ya.”
Dokter: “Insya Allah..”


Sementara itu, Geu Rim tertidur di bahu Soo Ho. Soo Ho menatap Geu Rim. Kemudian membawanya masuk ke kamar kakek.


Soo Ho menyelimuti Geu Rim yang tidur sangat nyenyak. Ia pun ikut berbaring dan menggunakan jaketnya sendiri sebagai selimut.


Soo Ho memiringkan wajahnya ke arah Geu Rim.


Tidak lama kemudian, Geu Rim yang sudah tidur, memiringkan tubuhnya menghadap ke Soo Ho.


Soo Ho kemudian tertidur. [crstl]
Advertisement


EmoticonEmoticon