2/15/2018

SINOPSIS Radio Romance Episode 5 PART 3

Advertisement
SINOPSIS Radio Romance Episode 5 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Radio Romance Episode 5 Part 2

Teryata bantuan yang diminta Nona La bukan hanya membungkus hadiah saja, melainkan juga untuk mempromosikan acara Jay yang bertajuk ‘Mari Bertemu Jam 6 Sore’.  Geu Rim pergi ke jalanan dan mempromosikan bahwa Jay akan memberikan hadiah untuk acara barunya.


Sedangkan di studio, Nona La dan SeungHo sudah mendapat 8 penelepon yang menunggu. Saking senangnya mereka hampir saja melakukan tos bersama, namun tidak jadi.


Jay memulai siarannya dengan mengatakan bahwa akan ada timnya di Sincheon yang akan memberikan hadiah bagi orang pertama yang datang sambil memberikan jawaban yang benar. Ia membacakan pertanyaan pertama.


Jay: “Ada berapa member di....”
Tae RI: “Untuk drama apa yang membuatku, Jin Tae Ri, memenangkan artis cilik terbaik? Bisa kalian tebak?”
Seung Ho: “Apa? Apa yang dia lakukan?”
Nona La: “Sudah kuduga ini akan terjadi. Ah, sial.”
Tae Ri: “Ji Soo Ho juga ikut bermain di drama itu. Kita seperti Yeo Jin Goo dan Kim So Hyun saat itu.” (Mereka benar bermain drama bersama berjudul I Miss You)


Nona La lalu memberikan kode di layar. Jay membacakan penelepon 4422 memberikan jawaban benar yaitu drama highlight dan dapat mengambil hadiahnya di Sincheon. Nona La frustasi karena tingkah Tae Ri.

Di Sincheon, Geu Rim memanggil 4422 untuk menerima hadiahnya. Ia juga memberikan hadiah kepada para pemenang lain dan terus mempromosikan acara Jay.

Jay memberitahu pendengarnya bahwa lokasi pengambilan hadiah berpindah ke Hongdae. Dan Geu Rim pun sudah siap disana untuk membagikan hadiahnya dan mempromosikan acara yang sama. Ia juga membantu pemenang mengambil foto mereka.


Geu Rim sangat senang ketika ada pemenang yang memberikan kue kepadanya.


Di kedai, asisten penulis selama 7 tahun mengeluhkan kalau nasib buruk yang menimpanya adalah karena kesalahan Geu Rim. Drought yang juga ada disana mengatakan bahwa itu tidak benar. “Apa kau tidak kasihan padanya karena berada di jalanan sekarang?” tanya Geu Rim. Tapi Si 7 tahun tampaknya tidak peduli.


Seorang asisten penulis yang satu lagi bertanya kenapa Geu Rim tidak pergi ke JH saja, karena mereka membuat kontrak secara terpisah.Drought merangkul bahunya dan menyuruhnya diam karena dia tidak tahu apa-apa. “Apa kalian pernah melihat kontrak yang Soo Ho dan Geu Rim tandatangani?” tanya Si 7 tahun.


Dengan membawa perlengkapannya, Geu Rim pergi ke studio Nona La. Tapi sudah tidak ada siapapun disana. Ia meletakkan barangnya dan pergi.


Geu Rim kemudian pergi ke sudut favoritnya di kantor dan memakan kue yang ia terima sebelumnya.DJ Moon datang sambil membawa naska. Sebagai gantinya, Geu Rim memberinya coklat. DJ Moon bertanya kenapa penulis yang bisa mendapatkan Soo Ho malah terlihat kesal.


Geu Rim: “Aku hanya tidak bisa menebak kehidupan. Maksudku, akhirnya aku menjadi penulis utama, tapi aku tidak bisa melakukan siaran dengan tulisanku dan penulis lain tumbuh semakin jauh. Bahkan hari ini, aku merasa lelah karena membagikan hadiah, tapi kue ini menghangatkanku. Pak, kenapa hidup mudah sekali berubah? Manis lalu pahit, kenapa?”
DJ Moon: “Berhenti bicara seperti orang tua yang membahas tentang kehidupan.”
Geu Rim: “Apa itu terdengar tua?”
DJ Moon: “Mengomentari hidup atas setiap rintangan itu sangat tua, kau tahu.”
Geu Rim: “Kenapa kau tidak pernah memihakku? Tunggu aku..”


Mereka kemudian pergi ke studio DJ Moon. Geu Rim heran kenapa para penulis senior bisa menuliskan naskahnya dengan baik. Ia juga berkata bahwa jika dia menulis di tempat seperti itu, maka ia pasti sangat terinspirasi dan menulis dengan sangat baik. Geu Rim juga bilang akan hebat jika timnya bisa siaran disana.


DJ Moon bertanya apakah Geu Rim selalu mendengarkan siarannya setiap hari. Geu Rim bilang ia terlalu sibuk kemarin. “Penggemar 10 tahun apanya? Itu tidak berguna,” kata DJ Moon. Geu Rim lalu menggamit lengan DJ Moon dan berkata bahwa itu tidak benar. “Kau tahu bagaimana Post-It dibuat?” Geu Rim menggelengkan kepalanya. “Post-It adalah produk gagal yang tadinya akan dibuat dengan lem yang kuat. Ini adalah kegagalan yang menjadi hit.”


Geu Rim mengerti. Dia bisa mengubah kegagalannya menjadi sesuatu yang bagus.


Di dalam bus dalam perjalanan pulang, Geu Rim membuka buku agendanya yang berisi aneka Post-It. Ia kemudian membuat catatan di Post-It berbentuk hati ‘Kegagalan bisa berubah menjadi kesuksesan’. Ia lalu tersenyum.


Soo Ho kembali membaca komentar tentang penampilannya di radio. Kali ini lebih banyak komentar positif. Seorang pendengar menuliskan bahwa walaupun Soo Ho membuat  kesalahan, baginya itu lucu dan akan mendengarkan lagi siarannya besok.


Setelah membaca komentar yang mengatakan bahwa sangat menyenangkan bisa mendengar suaranya, Soo Ho membaca artikel berjudul ‘Ji Soo Ho berkolaborasi dengan Kim Sang Soo!’ Soo Ho menutup laptopnya lalu pergi


Nyonya Nam sedang memilih-milih pakaian di salah satu butik di department store. Tiba-tiba Tae Ri masuk, padahal pelayan sudah melarangnya. Tae Ri langsung menyapa Nyonya Nam dan mengatakan bahwa siaran radionya sukses. “Namaku berada di puncak pencarian di internet. Apa kau mendengar siarannya?” tanya Tae Ri. Tapi Nyonya Nam tidak menjawab dan berjalan ke bagian pakaian yang lain. Tae Ri mengikutinya dan bahkan merebut pakaian yang sedang dipegang Nyonya Nam.


Tae RI: “Bagaimana jika gaun ini kupakai saat pesta donasi JH? Acaranya 2 minggu lagi, bukan? Maukah kau membelikan ini untukku sebagai hadiah, jadi aku bisa memakainya?”
Nyonya Nam: “Permisi..”
Pelayan: “Ya..”
Nyonya Nam: “Dari sini hingga kesini.”
Pelayan: “Baiklah, akan aku menyiapkannya.”


Pelayan membawa pergi bajunya. Nyonya Nam mengatakan bahwa itu semua untuk Tae Ri. Sedangkan dia sendiri akan pindah ke department store lain, karena tempat itu tidak bagus. Tae Ri sempat terkejut, tapi dia senang-senang saja dan mematut dirinya dengan gaun merah yang dipegangnya.


Soo Ho datang ke rumah ibu tirinya dan menanyakan apa yang terjadi. Nyonya Nam mengatakan bahwa Sutradara Kim Sang Soo akan datang 10 menit lagi dan Soo Ho dilarang membuatnya tidak nyaman. “Duduk. Dan berhenti siaran radio. Aku tidak perlu mengatakan alasannya karena kau sudah tahu,” kata Nyonya Nam.


Tuan Ji lalu datang dan berkata dengan pelan, “Tenanglah, Putraku. Aku ada disini karenamu. Reality Show itu tidak akan bertahan lebih dari satu bulan. Hanya satu bulan. Setelah itu kita akan merasa nyaman selama satu tahun. Oke? Ayo makan.” Tuan Ji menepuk bahu anaknya, lalu duduk.


Tiba-tiba terdengar bunyi dering ponsel. Tuan Ji bertanya ponsel milik siapa itu, karena itu bukan ringtone istrinya. Soo Ho lalu mengecek ponsel Geu Rim yang di sakunya. Itu telepon dari ibu, tapi Soo Ho membiarkannya. Nyonya Nam bertanya apakah Soo Ho membeli ponsel. “Tidak,” jawab Soo Ho dan ponselnya kembali berdering.


Soo Ho lalu mengangkatnya, “Halo? Apa? Tunggu sebentar.” Ia kemudian buru-buru pergi.


Nyonya Nam sangat marah. Ia melempar gelas yang ada di hadapannya.


Soo Ho menemui ibu yang sudah menunggu di pinggir jalan. Ia memperkenalkan dirinya sebagai teman Geu Rim yang tadi mengangkat teleponnya. Ibu merasa lega dan tersenyum penuh rahasia.


Di dalam mobil ibu bertanya apakah mereka bisa mendengarkan radio. Soo Ho lalu menyalakan radio dan bertanya apakah ibu sudah tenang sekarang. Ibu bilang ia sudah lega dan berkata bahwa tasnya dijambret dan itu sudah terjadi beberapa kali, tapi dia merasa gugup jika tidak memegang dompetnya. Ibu mengucapkan terima kasih.


Ibu: “Apa kau mendengarkan siaran radio Geu Rim kemarin?”
Soo Ho: “Ya.”
Ibu: “Ji Soo Ho sangat manis. Dia DJ di siaran Geu Rim. Dia pasti si brengsek yang kasar.”


Soo Ho mengantar ibu ke dalam rumah. Ia tampak khawatir melihat ibu bolak-balik di dapur dan menawarkan bantuan, tapi ibu tetap mengerjakannya sendiri. “Aku pikir Anda tidak bisa naik tangga sendirian,” kata Soo Ho. Ibu bilang ia bohong dan melakukan itu karena ingin memegang tangan Soo Ho dan membuatkannya makan malam.   


Soo Ho masih memperhatikan ibu dengan khawatir. Ibu bilang walaupun tidak bisa melihat dengan matanya, ia masih bisa melihat banyak hal lain. “Kaena aku tidak bisa melihat, aku bisa tahu suara indah yang dimiliki teman putriku. Kau bisa menicum kebaikan dari orang baik. Dalam hidup kau bisa kalah sekali tapi mendapat lebih banyak kemudian,” kata ibu. Ibu lalu menyuruhnya duduk dan makan.


Soo Ho baru saja akan makan, ketika Geu Rim pulang. Dia menyebut nama Soo Ho, tapi Soo Ho menyuruhnya diam. “Geu Rim, aku berteman baik dengan si brengsek,” kata ibu yang ternyata mengenali suara Soo Ho. Geu Rim merasa tidak enak dan berusaha mengatakan bahwa Soo Ho tidak seperti itu. “Ini dia, benar kan?”


Soo Ho mulai makan dan memperhatikan Geu Rim yang memberikan lauk pada ibunya. Soo Ho sepertinya merasa iri sekaligus senang melihat kedekatan mereka. Kemudian Lee Gang datang dan minta makan sup.


“Eeeh...?” Lee Gang terkejut karena melihat Soo Ho juga sedang makan disana. Soo Ho jadi canggung, sedangkan Geu Rim menjadi khawatir. Dan pada akhirnya mereka makan berempat. Lee Gang juga memberikan lauk ke piring ibu. Ia juga memberikan buku (mungkin buku braille) pada ibu.


Lee Gang: “Oh iya. Ibu,  Aku ingin memberikan ini padamu, ini edisi baru.”
Ibu: “Terimakasih, PD-nim.”
Lee Gang: “Jangan memanggilku begitu. Kita selalu makan bersama. Kita seperti ibu dan putranya.”
Ibu: “Benarkah?”


Soo Ho terkejut. Geu Rim sepertinya merasa tidak enak pada Soo Ho, karena Lee Gang berkata seperti itu. Mereka saling bertatapan.


Lee Gang lalu mengajak mereka semua minum teh di tempatnya setelah makan nanti. “Oke!” kata ibu bersemangat.


Di kamar Lee Gang penuh dengan tanaman. Ia menuangkan teh untuk semua orang. Dia bilang yoga dan teh herbal, hatinya bisa merasa nyaman. Ibu berterima kasih da meminum tehnya. Lee Gang lalu menanyakan naskahnya, dan Geu Rim pergi untuk mengambilnya.


Soo Ho bertanya apakah besok juga ia akan melakukan siaran langsung. Lee Gang berkata bahwa siaran radio harus dilakukan secara langsung. Ia juga mengatakan bahwa berkat Soo Ho, acara mereka mendapat banyak pendengar. “Bagaimana jika aku menolak?” tanya Soo Ho.


Lee Gang bilang ia tahu sedikit tentang Soo Ho bahwa Soo Ho tidak memiliki keberanian untuk melakukan itu. “Kau tidak bisa membuat orang lain tidak nyaman. Terutama jika itu adalah sesuatu yang kau janjikan,” kata Lee Gang. Soo Ho mengingatkan bahwa dalam kontraknya ia akan mencoba dulu selama satu bulan.


Lee Gang: “Soo Ho..”
Soo Ho: “Apa?”
Lee Gang: “Ah, tanaman ini namanya Soo Ho. Dia adalah malaikat penjaga kami di radio. Soo Ho, kau harus mengendalikan emosimu. Hanya itu caranya agar kau tumbuh besar.”


Ibu tersenyum geli mendengar perkataan Lee Gang. Geu Rim lalu datang sambil membawa naskahnya dan menyerahkannya pada Lee Gang. Lee Gang bilang naskahnya tidak buruk, tapi ia tidak yakin apakah tim Soo Ho dari JH akan memilih naskah itu.


Soo Ho pamit pergi. Geu Rim lalu mengembalikan syal yang dipinjamkan Soo Ho tempo hari. “Oh, kau pemilik syal itu? Tidak heran,” kata ibu. Soo Ho dan Geu Rim tidak mengerti maksud ucapan ibu.


Lee Gang: “Kau harus memperbaiki pembukanya. Malam ini, kita akan bekerja...”
Soo Ho: “Tidak. Aku butuh bantuanmu untuk berlatih malam ini. Permisi...ibu... Bisakah aku meminjam putrimu malam ini?”


“Oh?” ibu merasa heran dengan permintaan izin Soo Ho. Lee Gang dan Geu Rim pun sama herannya.


Di mobil Geu Rim ingin mengatakan sesuatu, tapi Soo Ho bicara lebih dulu. Soo Ho bilang ia khawatir untuk acara siaran esok hari. Geu Rim berkata bahwa ia selalu gugup saat siaran langsung. “Kalau begitu, ajari aku,” pinta Soo Ho. Geu Rim setuju.


Di kantornya, Geu Rim memberikan penjelasan gelombang elektrik tidak terlihat namun memungkinkan mereka untuk melakukan siaran radio. Menurut Geu Rim, siaran radio yang mereka lakukan akan menjadi cahaya di langit. Soo Ho mendengarkan penjelasan Geu Rim sambil tersenyum.


Geu Rim lalu mengajak Soo Ho ke studio DJ Moon yang legendaris. Geu Rim mengingatkan bahwa sebelumnya Geu Rim sudah memperlihatkannya di video yang dia buat. Mereka lalu berjalan ke area mading dan Geu Rim menunjuk foto ibunya.


Geu Rim bercerita bahwa ibunya menjalani operasi mata saat usianya 14 tahun. “Sejak itu, aku berhenti menonton televisi. Aku tidak mau tertawa atau menangis sambil melihat dunia yang tidak bisa dilihat ibuku. Itulah yang kurasakan saat aku masih sangat muda,” kata Geu Rim. “Sebagai gantinya, radio selalu menyala di rumah. Aku ingin mendengar dunia yang ibuku dengarkan.”


Dan ternyata disana pun ada foto Soo Ho muda dan temannya yang mengalami kecelakaan. Mereka lalu duduk bersama.


Geu Rim mengatakan bahwa keheningan selama 7 detik dalam siaran radio dianggap sebagai suatu kesalahan, jadi mereka harus memainkan sebuah lagu selama waktu stanby. Ia bilang dalam dunia radio, 7 detik itu sangat lama.


Geu Rim lalu memberikan contoh dan menghitung 7 detik tanpa bersuara. Soo Ho memperhatikan Geu Rim bukan hitungannya. “Terasa lama bukan?” tanya Geu Rim menyadarkan Soo Ho. “Itulah mengapa kau tidak boleh terdiam.” Geu Rim lalu memberitahu tombol mana yang dapat DJ tekan untuk memainkan lagunya.


Geu Rim: “Aku mendapat pemberitahuan kalau kau sudah membuka emailku.”
Soo Ho: “Ya.”
Geu Rim: “Apa kau membaca naskahnya?”
Soo Ho: “Ya, aku membacanya.”
Geu Rim: ”Aku melewati tahap pertama.”


Soo Ho memperhatikan Geu Rim yang sedang tertidur di hadapannya.

INSTAGRAM TABLOID SINOPSIS


Geu Rim lalu terbangun dan Soo Ho masih menatapnya.


“Aku penasaran... tentangmu,” kata Soo Ho. [crstl]


Advertisement


EmoticonEmoticon