2/21/2018

SINOPSIS Radio Romance Episode 7 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Radio Romance Episode 7 BAGIAN 1


#7 – Setelah Ciuman


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Radio Romance Episode 6 Part 3

Geu Rim mendorong tubuh Soo Ho untuk melepaskan ciumannya. Ia bertanya kenapa Soo Ho melakukannya. Soo Ho tampak sedih, karena ternyata Geu Rim belum mengingatnya. Geu Rim malah meminta maaf karena sebelumnya ia memeluk Soo Ho karena terlalu senang atas keberhasilan siaran radio mereka.


Geu Rim: “Siaran langsung kita berjalan dengan baik, kita dikelilingi pemandangan yang indah dann... kita sudah kehilangan akal, bukan?”
Soo Ho: “Tidak.”
Geu Rim: “Apa?  Lalu... apa itu tadi?”
Soo Ho: “Aku juga tidak tahu kenapa aku melakukannya, tapi aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Aku menjadi penasaran dan ....”


Percakapan mereka terganggu karena Geu Rim menerima telepon dari Lee Gang. “Halo, PD-nim, ya kami sudah selesai tapi.... Dia bersamaku, tapi..... Maaf? Kau akan datang untuk menjemput kami?” Soo Ho merebut ponselnya dan mematikannya. Soo Ho mengajaknya pulang dan dia yang akan menyetir.


Dalam perjalanan pulang, suasana di antara Geu Rim dan Soo Ho menjadi canggung. Ketika Geu Rim ingin mengatakan sesuatu, Soo Ho malah menekan klakson dengan sangat kencang, sampai membuat Geu Rim terkejut. Geu Rim berkata tidak ada apa-apa di depan mereka, tapi kenapa Soo Ho menekan klaksonnya.

Ketika Geu Rim ingin bicara lagi, Soo Ho berpura-pura kalau ia tidak bisa melihat jalan dengan jelas dan sibuk menyalakan lampu sen, tapi salah dan Geu Rim yang memberitahu mana tombol yang benar. Geu Rim ingin bicara lagi,tapi tiba-tiba Soo Ho merasa kedinginan. Dan karena canggungnya itu, Soo Ho malah menyalakan AC-nya.  


Geu Rim ingin bicara lagi dan Soo Ho menyuruhnya diam karena ingin mendengarkan radio. Soo Ho menyalakan radionya dan Geu Rim terlihat kesal. Dan akhirnya mereka tidak bicara hingga mereka sampai.


Soo Ho: “Aku akan mengatakannya sekarang. Hhmm.. Oh...”
Geu Rim: “Apa? .... Apa?.... Ah, yang benar saja. Kau belum mengatakan satu kata pun sejak dua jam terakhir. Kau harus mengatakan kenapa kau melakukan itu...”
Soo Ho: “Haruskah aku mengatakan semua yang ingin kukatakan?”
Geu Rim: “Ya, katakan.”


Soo Ho: “Oh.. oh... Hari ini aku belum siap.”
Geu Rim: “Siap untuk apa?”
Soo Ho: “Ada yang harus kusiapkan. Besok... Aku akan mengatakannya besok, jadi beri aku waktu.”


Geu Rim tidak mengerti, kenapa dia harus memberikan waktu. Tapi Soo Ho langsung menyuruhnya keluar. Geu Rim pun akhirnya turun, lalu Soo Ho pun pulang. Geu Rim menghela napasnya kesal.


Saat akan tidur, Geu Rim penasaran apa yang akan Soo Ho katakan esok hari. Ia mengingat lagi saat Soo Ho menutup matanya lalu menciumnya. “Tidak...Tidak...”


Soo Ho sendiri sedang sibuk menyalamatikan lampunya, dan akhirnya ia pergi merenung di ruang tamu.


“Aku pulang, pasien...!” teriak Dokter Jason. “Apa kau susah tidur lagi? Apa kau berjaga sepanjang malam karena merindukanku?”


Tanpa menjawab ataupun melihat ke arah Jason, Soo Ho bertanya apakah bisa melupakan seseorang sepenuhnya. Jason bilang itu bisa terjadi jika mengidap amnesia atau keracunan alkohol. Dia bilang butuh informasi lebih detail, tapi Soo Ho memintanya melupakannya saja. Soo Hoakan kembali ke kamarnya, tapi Jason mengatakan itu bisa juga terjadi karena mengganggap orang itu tidak penting untuknya.


Soo Ho berbalik lagi dan bertanya bagaimana dengan tindakan yang dilakukannya tanpa sadar. Jason bertanya apa contohnya. Soo Ho lalu mengingat saat ia mencium Geu Rim.


“Hmm.. mungkin apa yang kau sangat butuhkan dalam hidup, mulai kau dapatkan. Ada beberapa hal yang pasienku harus ikuti. Au tidak diperbolehkan untuk mengganti malam dan siang. Kau tidak boleh bersedih sendirian. Mengkhawatirkan sesuatu tanpa keputusan atau mencari alasan untuk masa itu, itu tidak perbolehkan. Jadi, berhentilah merasa khawatir dan lakukan apa yang kau inginkan,” pesan Jason.


Keesokan harinya saat masuk ke kantor, Hun Jung mengatakan banyak mereka menerima banyak surat dari murid-murid SD untuk acara radio mereka. Hun Jung lalu keluar.


Lee Gang berkata bahwa acara mereka sukses dan dia memberikan tanaman yang sebelumnya ia beri nama Soo Ho. Geu Rim terkejut. Lee Gang lalu mengatakan bahwa tanaman yang dibawanya itu kuat bertahan. “Simpan dia di mejamu dan dia akan menjadi penjagamu,” kata Lee Gang. “Ngomong-ngomong kau jadi berani, kau menutup teleponku dan tidak menghubungiku balik. Kau tidak peduli siapa yang mengkhawatirkanmu.”


“Kau tidak peduli,” gerutu Geu Rim lalu berjalan ke mejanya dan menatap tanaman Soo Ho denga tidak bersemangat. Lee Gang bertanya apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Soo Ho semalam. Geu Rim sedikit menggelengkan kepalanya lalu menghela napasnya.


Geu Rim keluar dari ruangannya dan mendengar beberapa asisten penulis membicarakannya. Mereka merasa iri karena Geu Rim sudah melakukan siaran dengan naskahnya sendiri untuk pertama kalinya dan menurut mereka, itu semua berkat Soo Ho. Geu Rim berjalan menghampiri mereka.


“Benar. Aku sangat senang, karena kami menggunakan naskahku.  Benar, aku sangat beruntung. Tapi... ini semua bukan berkat Ji Soo Ho. Dia membuat hal menjadi sangat rumit,” kata Geu Rim lalu pergi meninggalkan mereka.


Sementara itu, seorang reporter meliput rencana Nyonya Nam atas pembukaan galerinya yang katanya semua keuntungannya akan didonasikan.


Nyonya Nam yang didampingi Soo Ho mengatakan bahwa dia sudah lama memiliki ide itu dan itu hanyalah langkah kecil. Dia bahkan berbohong kalau Soo Ho sellau menemaninya.

Reporter lalu bertanya bagaimana Soo Ho bisa terlibat dalam acara radio. Nyonya Nam berkata bahwa itu tidka ada di daftar pertanyaan yang reporter itu kirimkan padanya. Tapi ternyata Soo Ho tidak keberatan. Soo Ho mengatakan bahwa itu adalah keputusan spontan dan itulah kenapa dia membuat banyak kesalahan serta banyak hal tidak terduga.


“Tapi aku banyak belajar. Itulah mengapa ini menyenangkan,” kata Soo Ho. Nyonya Nam menatapnya. Setelah wawancara selesai, Nyonya Nam berbicara secara pribadi dengan Soo Ho.


Nyonya Nam menyindir Soo Ho yang bisa menjawab dengan baik tanpa naskah. “Tapi jika kau akan mengucapkan atau melakukan hal sesuai keinginanmu, maka tidak alasan bagi kita untuk bersam,” kata Nyonya Nam. Soo Ho tersenyum dan berkata kalau sementara ini dia akan fokus di radio dan meminta Nyonya Nam mengosongkan semua jadwalnya.


Nyonya Nam bertanya, “Bisakah aku tahu siapa yang mempengaruhimu?” Soo Ho tidak menjawab dan mengarahkan pandangannya ke arah lain. “Itu enulis yang merekrutmu ,Song Geu Rim, bukan?” Soo Ho tidak menjawab dan malah pergi tanpa pamit.


Geu Rim dan Lee Gang terlihat sedang makan di sebuah kedai. Geu Rim masih murung. Lee Gang memuji rasa tteokbokki yang enak dan bertanya kenapa bibi pemilik kedai mendengarkan radio.


Pemilik kedai mengatakan bahwa dia mendengarkan radio sambil memasak tteokbokki dan menyiapkan sundae. “Aku bisa mendengarkannya sambil bekerja,” katanya.


Geu Rim: “Pd-nim, kenapa dulu kau memintaku untuk merekrut Soo Ho?”
Lee Gang: “Kenapa kau tiba-tiba membicarakannya?”


Soo Ho tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Geu Rim. Ia malah membayar makananya dan pergi. Kali ini mereka naik taksi dan disana Lee Gang bertanya kepada supirnya kenapa dia mendengarkan radio. “Ini menyenangkan. Aku harus menghabiskan waktu sendirian, ketika menyetir. Dan acara radio berlangsung selama 24 jam,” jawabnya.


Lee Gang menoleh ke arah Geu Rim dan bertanya kenapa hari ini kepala Geu Rim tertutup awan. Dia bertanya apakah Geu Rim sudah menyelesaikan naskahnya dan Geu Rim menjawabnya dengan gugup.


Di kantor, Geu Rim membuat naskah yang baru saja ditulisnya. Lee Gang bertanya apakah Gmenurut Geu Rim tulisannya itu bagus.Lee Gang mengatakan bahwa dia tidak akan menghakimi tulisan Geu Rim, karena tugasya adalah mempercayai Geu Rim dan menunggu sampai Geu Rim melakukan tugasnya dengan baik. Lee Gang meminta Geu Rim menulis ulang naskahnya dna pastikan pendengar memahami apa tujuan Geu Rim.


Geu Rim: “Pd-nim, kenapa kau mempekerjakanku sebagai penulis utama?”
Lee Gang: “Dengan syarat merekrut Ji Soo Ho?”
Geu Rim: “Ya.”
Lee Gang: “Aku ingin tahu apakah kau akan menyerah. Aku ingin melihat seberapa jauh kau berusaha.”
Geu Rim: “Lalu bagaimana jika aku gagal merekrut Soo Ho?”
Lee Gang: “Aku akan tetap bekerja denganmu. Aku harus mengecek terlebih dulu apakah kau orang yang bisa aku pekerjakan sampai akhir. Itulah mengapa aku menyuruhmu merekrut orang yang sulit. Tapi kau malah membawa  orang yang sulit itu. Itulah kenapa kau tidak boleh menyerah. Aku yakin kau akan menjadi penulis yang sangat baik.”


Di area parkir KBC, Soo Ho sudah membuka pintu mobilnya, tapi ia masih ragu untuk keluar. Ia mengingat kembali saat Jason berkata bahwa sesuatu yang ia butuhkan mungkin sedang muncul. Ia akhirnya keluar dari mobil dan berjalan menuju ruangan Geu Rim.


Soo Ho sudah memegang gagang pintunya dan berpikir bagaimana menjelaskannya pada Geu Rim. Ia berbicara dalam hati, “Song Geu Rim, tentang kemarin... Song Geu Rim, tidakkah kau mengenalku?... Song Geu Rim, aku...”


Soo Ho melepaskan lagi gagang pintunya. Ia kembali mengingat pesan Jason untuk berhenti khawatir dan melakukan apapun yang ia inginkan. Tapi ia malah melangkah mundur, saat pintu dibuka dari dalam dan Lee Gang akan keluar bersama Geu Rim.


Soo Ho bertatapan dengan Geu Rim. Lee Gang sepertinya merasakan suasana canggung di antara kedua orang itu. Ia lalu mengajak Soo Ho untuk minum kopi bersama mereka. Soo Ho tidak menjawab, tapi ia malah melihat ke arah Geu Rim. Geu Rim tersenyum agak ragu padanya.


Di cafe, Geu Rim memberikan es kopi pesanan Lee Gang. Ia memprotes selera kopi Lee Gang yang seperi anak kecil. “Bagaimana dia tahu apa yang Pd-nim sukai?” batin Soo Ho.Geu Rim lalu dengan cangung memberikan segelas kopi pada Soo Ho.


“Hanya kau yang tahu apa yang kusukai,” kata Lee Gang pada Geu Rim. Soo Ho semakin terkejut lagi. Geu Rim memberi kode agar Soo Ho mengikuti mereka.


Saat akan keluar gedung, Lee Gang membuka pintunya dan menahannya untuk Geu Rim, dan setelah Geu Rim lewat, dia juga berjalan pergi sehingga pintunya tertutup. Alhasil, Soo Ho harus membuka pintunya sendiri (hahaha).


Soo Ho mensejajari langkah Lee Gang dan Geu Rim. Sepanjang jalan, ada saja masyarakat yang mengenalinya. Lee Gang bertanya bagaimana rasanya melakukan siaran tanpa naskah.”Apa itu menyenangkan?” tanya Lee Gang. Soo Ho bertanya balik bagaimana itu bisa menyenangkan. “Aku akan meninggalkan program radioku, jika proposalku tidak terpilih. Acara sekolah itu juga bagian dari proposalku.”


Lee Gang lalu mengeluh kalau kopinya terlalu manis dan meminta agar Geu Rim membeirkan kopinya. “Pd-nim, belilah sendiri. Kau selalu mengambil milikku,” protes Geu Rim lalu berjalan lebih dulu. Soo Ho tersenyum senang. Ia lalu memanggil Geu Rim dan mengajaknya bicara.


Soo Ho: “Ada yang ingin kukatakan. Kita...”
Geu Rim: “Soo Ho, aku ingin bertemu denganmu setiap hari. Aku ingin kita tetap berhubungan dan bicara setiap hari. Jadi tolong, jangan lakukan itu lagi. Aku merasa terlalu senang karena naskahku akhirnya mengudara dan aku membuat kesalahan.Maafkan aku.”
Soo Ho: “Kesalahan?”
Geu Rim: “Jika kita akan bertemu setiap hari di booth sebagai DJ dan penulis, jadi tolong berhati-hatilah, ini akan menjadi tidak nyaman.”


Soo Ho bertanya apanya yang tidak nyaman. SooHo mengingatkan bahwa saat ia merasa tidak nyaman dengan Geu Rim, Geu Rim malah terus mengikutinya. “Siapa yang peduli jika kau merasa tida nyaman? Aku menjadi tidak nyaman karena dirimu. Dan juga, mulai sekarang, bicara langsung padaku, tidak melalui manajerku. Tentang segala hal.”


Geu Rim mengatakan kalau Soo Ho tidak punya ponsel. Geu Rim lalu mengecek ponselnya yang berdering. “Aku rasa Pd-nim tidak bisa melakukan apapun tanpamu. Kenapa dia selalu menghubungimu?” protes Soo Ho. Geu Rim menjawab teleponnya dan Soo Ho pergi meninggalkannya.


Dengan menutupi sebagian wajahnya, Soo Ho pergi untuk membeli ponsel. Pemilik toko memberikan formulir dan Soo Ho diminta untuk menulis nama, nomor ID dan nomor rekeningnya. Soo Ho mengambil pulpennya dengan ragu. “Bolehkah aku menghubungi seseorang?” tanya Soo Ho.


Tak lama kemudian, Pak Kim terlihat masuk ke toko ponsel dan Soo Ho menyapanya dari jauh. Pak Kim menghampiri Soo Ho dan terus menatapnya.


Soo Ho sudah memegang ponselnya barunya. Pak mengatakan bahwa dia terkejut, karena akhirnya Soo Ho memiliki sebuah ponsel. Soo Ho tidak menjawab. Dia sedang mengetik nomor ponsel Geu Rim dan akan langsung menghubunginya. Tapi ia merasa ragu.


Geu Rim sedang  bersiap untuk makan, ketika ia menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenal di ponselnya.”Penulis Song?” sapa Soo Ho. Geu Rim terkejut tidak percaya dan melihat lagi ke layar ponselnya.


Soo Ho: “Bukankah kau harus bertanggung jawab?
Geu Rim: “Bertanggung jawab untuk apa?”
Soo Ho: “Aku melakukan siarannya dengan menggunakan naskahmu. Suit bagiku untuk melakukannya dengan baik besok, jika aku tidak menguasai naskahnya dengan baik.”


Soo Ho bilang ia ingin mengecek naskahnya dan menyuruh Geu Rim datang untuk membantunya. Geu Rim menawarkan agar mereka bertemu di kantor radio. Soo Ho beralasan kalau dia sedang tidak bisa keluar rumah, karena kamera terus mengikutinya. Geu Rim membatin kalau akhir-akhir ini Soo Ho hanya berjalan sendirian tanpa ada reporter. “Jadi, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan merusak acaranya?” tanya Soo Ho. 


Geu Rim bilang ia akan segera datang setelah menghabiskan mie-nya. Tapi Soo Ho memintanya datang sekarang juga, lalu menutup ponselnya.


Advertisement

4 comments

Nulis y jgn lma lma y...๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜makasih

Oh y eps 8 tayang ga sih kk??

Iya Ka Putri eps 8 juga tayang.
hehe sabar menanti ya, insya Allah segera hadir

Ditunggu part 2 thor ๐Ÿ˜†
semangat terus buat nulisnya๐Ÿค“

Lanjut min ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


EmoticonEmoticon