2/23/2018

SINOPSIS Radio Romance Episode 8 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Radio Romance Episode 8 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Radio Romance Episode 8 Part 2

Geu Rim bertanya, “Apa sebelumnya kau dan aku pernah duduk bersama disini? Apa kau pernah bertemu Song Geu Rim yang memakai penutup mata disini?”


Soo Ho yang sejak tadi diam, akhirnya menganggukkan kepalanya dan menoleh ke arah Geu Rim.
Flashback..


Soo Ho memperhatikan Geu Rim yang sedang mencoba latihan menjalani hidup tanpa melihat. Dan ketika akhirnya, Geu Rim mencoba berjalan sendirian di lorong, Soo Ho terlihat khawatir.


Sejak Soo Ho membantu Geu Rim yang hampir terjatuh, mereka mulai berteman.


Mereka mulai saling berbagi cerita dan mendengarkan radio bersama. 


“Jadi itu kau. Itulah mengapa kau melakukan itu padaku. Apa kau terluka karena aku tidak mengenalimu?” tanya Geu Rim dan Soo Ho kembali terdiam. “Kau masih belum dewasa,” kata Geu Rim sambil tersenyum.


“Senang bertemu denganmu,” ucap Geu Rim lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Soo Ho menyambut tangan Geu Rim. Geu Rim masih tersenyum, tapi ekspresi Soo Ho masih terlihat datar.


Geu Rim: “Apa kau tidur dengan baik selama ini? Dulu kau tidak bisa tidur. Apa sekarang kau tidur dengan baik?”
Soo Ho: “Tidak.”


Mereka kemudian berjalan bersama. Geu Rim berkata bahwa seharusnya Soo Ho bilang tentang dirinya sejak awal. “Aku pasti ingin kau yang mengenaliku sendiri. Aku ingin kau mengingatku,” kata Soo Ho. Geu Rim menyebutnya aneh, karena seharusnya Soo Ho menyapanya jika memang merasa senang bertemu dengannya. Geu Rim lalu bertanya kenapa dulu Soo Ho menyandung kakinya.
Flashback..


Empat tahun sebelumnya, Soo Ho bertemu Geu Rim di acara donasi JH Entertainment. Ia melihat Geu Rim sedang berbicara dengan seorang pria. Kemudian Geu Rim pergi karena harus mengangkat panggilan di ponselnya.


Soo Ho kemudian menyandung kaki Geu Rim yang melintas di sampingnya.


Soo Ho berkata kalau alasan dia menyandung kaki Geu Rim dulu adalah karena ia tidak menyukai pria yang bicara dengan Geu Rim hari itu. Geu Rim menyebut Soo Ho kekanak-kanakan dan bertanya, “Dan setelah aku minum bersama tim dramamu, kenapa kau membuatku terlihat buruk di depan ibumu?” Soo Ho bertanya apakah Geu Rim tidak ingat apa yang dia lakukan saat Geu Rim mabuk.
Flashback..


Karena Geu Rim sangat mabuk, Soo Ho membaringkannya di kasur. Tiba-tiba Geu Rim duduk dan mengomel, “Hey, Soo Ho. Kenapa kau melakukan ini padaku?” Dia lalu berbaring  lagi. Soo Ho memakaikan selimut padanya. Tapi kemudian Geu Rim bangun lagi dan muntah di tubuh Soo Ho.


Soo Ho kemudian berusaha menahan senyumnya, tapi Geu Rim menyadarinya. Geu Rim lalu berkata bahwa perasaannya sangat terluka ketika harus terjun ke kolam untuk menjadi pemeran penggantu du drama Soo Ho. “Itulah kenapa aku mengantarmu pulang,” kata Soo Ho. Geu Rim lalu ingat dan merasa aneh karena saat itu Soo Ho bisa tahu dimana rumahmu. “Aku mengikutimu 12 tahun lalu.”
Flashback..


Dulu Soo Ho pernah mengikuti Geu Rim pulang ke rumahnya. Tapi saat Geu Rim melihat ke arahnya, Soo Ho memalingkan wajahnya.


“Wah, kau benar-benar seorang penguntit,” kata Geu Rim sambil melotot. “Kalau begitu, tunggu dulu. Kau menyukaiku sejak dulu?” goda Geu Rim. Soo Ho tidak tersenyum sama sekali dan hanya memandang Geu Rim. “Maafkan aku. Aku suka berlebihan ketika aku mulai membuka mulutku.”


“Tidak apa-apa. Kau benar tentang itu,” kata Soo Ho yang membuat Geu Rim agak tersipu. Soo Ho lalu berjalan lebih dulu dan kembali ke kamar rawatnya.


Soo Ho: “Apa kau mau masuk?”
Geu Rim: “Aku kehabisan kata-kata. Meski jika kau menyukaiku 12 tahun lalu, dan meski jika sekarang kau juga mengatakan suka padaku, apa kau pikir aku akan berkata ‘Aku sangat bahagia, aku juga menyukaimu..’”


Geu Rim belum selesai bicara, tapi Soo Ho merangkulnya dan menariknya masuk ke dalam kamar rawatnya. Geu Rim bertanya apa yang Soo Ho lakukan. Soo Ho berkata kalau ada seorang reporter di luar tadi. “Astaga. Benarkah?” tanya Geu Rim panik. Tapi Soo Ho menahan senyumnya, sepertinya ia berbohong. “Apa buruk bagimu jika aku keluar sekarang? Ah, tidak. Ini malah buruk untukku. Tunggu dulu. Apa yang harus aku lakukan kalau begitu?”


Soo Ho mengatakan bahwa Geu Rim bisa melanjutkan perkataannya tadi. “Aku pergi dulu,” kata Geu Rim sambil membalikkan badannya. Tapi Soo Ho menahan lengannya. Geu Rim jadi merasa canggung. Soo Ho lalu mendapat panggilan dari Tae Ri di ponselnya. “Kenapa kau tidak mengangkatnya?”


Kemudian terdengar suara Tae Ri dari luar kamar rawat, “Kenapa dia tidak pernah mengangkat ponselnya?”  Ia lalu masuk ke dalam. “Sial. Kenapa dia keluar lagi? Ji Soo Ho! Apa dia kamar mandi?”


Soo Ho ternyata sedang bersembunyi di dalam lemari pakaian bersama Geu Rim. Di luar, Tae RI masih terus memanggil-manggil Soo Ho. Mereka baru bisa bernapas lega setelah Tae Ri pergi. Geu Rim bertanya apakah benar ada reporter di luar. “Kenapa kau banyak bicara hari ini?” kata Soo Ho mengalihkan pembicaraan.


Soo Ho: “Dan tentang Jin Tae Ri, jangan salah paham.”
Geu Rim: “Kenapa kau mengatakan itu padaku?”


Geu Rim menginap di kamar rawat ibu. Ia tidak bisa tidur. Tiba-tiba ia tersenyum sendiri. Tapi kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya seolah meminta kepalanya tidak memikirkan Soo Ho.


Soo Ho juga sedang tersenyum sendiri di kamar rawatnya.


Keesokan harinya, Lee Gang datang ke rumah sakit dan mengajarkan yoga kepada beberapa pasien. Ia mencontohkan dan menjelaskan bagaimana cara membuat gerakan ‘pohon’ yang benar. Ia kemudian mengecek apakah para pasien sudah melakukannya dengan benar.


Soo Ho yang sedang berjalan bersama Geu Rim melihat Lee Gang dan bertanya apa yang sedang dia lakukan. “Dia tinggal disini sejak kemarin,” kata Geu Rim. Lee Gang juga melihat mereka dan mengajak mereka bergabung, tapi sepertinya mereka tidak mau.


Kemudian di kafetaria rumah sakit, terlihat seorang pasien wanita agak tua yang sedang mengomel bahwa dia tidak bangga berada di rumah sakit, jadi untuk apa dia melakukan siaran radio. Wanita itu malah mengatakan bahwa radio itu hanya omong kosong.


Geu Rim tersenyum lalu berkata bahwa mereka akn melakukan siaran radionya dari rumah sakit dan akan membaca kartu pos dari para pasien di acara nanti. “Tidakkah kau merasa kesepian di rumah sakit? Apakah kau tidak merindukan anak dan cucumu?” tanya Geu Rim.


Wanita itu marah. “Kau pikir siapa kau?! Beraninya kau bicara tentang cucuku?!” Soo Ho berusaha menenangkan wanita itu, namun tidak berhasil. “Aku tidak akan tenang! Aku tidak bisa melakukannya! Aku tidak mau!” kata wanita itu lagi sambil memalingkan wajahnya.


“Nyonya Kim, aku dengar kau sangat menyukai kesemek kering. Mereka bilang rasanya sangat enak, jadi aku membawakan ini untukmu,” kata Lee Gang sambil menyerahkan kesemeknya. Nyonya Kim terlihat menyukainya tapi ia terlalu malu untuk mengakuinya.


“Apa.. Kau tidak perlu.. membawa ini,” kata Nyonya Kim. Lee Gang bilang ia sengaja membawanya untuk dimakan. “Apakah ini? Apa aku harus menulisnya disini?” Lee Gang menganggukkan kepalanya.


Setelah urusannya selesai, mereka lalu pergi ke mini market untuk membeli makanan. Geu Rim terlihat masih memilih mie-nya. Lee Gang mengingatkannya agar makan sehari tiga kali dan menjaga dirinya dengan baik, tidak hanya menjaga ibunya saja. Geu Rim akhirnya mengambil sebungkus mie dan bertanya apakah Lee Gang akan membelikan itu untuknya.


Soo Ho ingin membelikannya, tapi Lee Gang bicara lebih dulu kalau mereka akan bayar masing-masing. Lee Gang lalu pergi lebih dulu sambil berkata kalau dia akan mentraktir Geu Rim sumpit. Geu Rim hanya tertawa.


Soo Ho lalu berkata kalau dia akan membayarnya. Tapi Geu Rim menolak dan berkata kalau sebaiknya mereka bayar sendiri-sendiri. Geu Rim pergi lebih dulu. Soo Ho lalu menyusul dan memberikan sebotol susu untuk Geu Rim.


“Bagaimana kau tahu kalau dia minum susu pisang dengan mie instan?” tanya Lee Gang. Soo Ho dan Geu Rim saling menatap. Untuk mengalihkan pembicaraan, Geu Rim bertanya bagaimana Lee Gang bisa tahu tempat yang nyaman untuk makan mie seperti itu.


Lee Gang lalu berkata kalau kedua orang tuanya menghabiskan banyak waktu di rumah sakit. “Mereka berdua meninggal setelah merasakan sakit yang sangat lama,” kata Lee Gang sambil mengunyah mie-nya. Geu Rim malah menjadi merasa tidak enak. “Aku haus. Berikan aku minummu.”


Soo Ho lalu melemparkan sebungkus mie lagi untuk Lee Gang. Lee Gang bilang ia cukup makan satu bungkus, lalu tetap akan meminum susu pisang milik Geu Rim. “Berhenti mengambil makanan Penulis Song,” kata Soo Ho.


Lee Gang menurut. Ia lalu memperhatikan Soo Ho yang mendapat panggilan dari Pak Kim di ponselnya. “Angkatlah,” kata Lee Gang. Soo Ho terpaksa menjauh untuk menerima teleponnya.


Pak Kim: “Apa yang terjadi? Kau benci rumah sakit.”
Soo Ho: “Ini terjadi begitu saja.”
Pak Kim: “Ini karena Penulis Song Geu Rim, bukan? Aku tahu. Ketika kau menyukai sesuatu, kau tidak bisa melepaskannya. Itulah kenapa aku tetap bersamamu, walaupun kau memintaku pergi. Aku tahu kalau maksudmu adalah ‘jangan pergi’.”


“Hyung, berapa banyak JH membayarmu? Aku akan membayarnya dua kali lipat. Bekerjalah denganku,” kata Soo Ho.


Hun Jung lalu datang ke rumah sakit sambil membawa tugas-tugasnya. Di ponselnya, ia mengeluhkan Lee Gang yang menyuruhnya rapat di rumah sakit. Ia juga mengatakan kalau Soo Ho itu seperti rasa sakit dan leher dan sangat mengesalkan. “Kenapa Ji Soo Ho setuju untuk melakukan siaran radio dan…” Hun Jung menoleh ke belakang.


“Membuatku sangat bahagia? Maafkan aku, maksudku… Terima kasih, Soo Ho,” kata Hun Jung dengan gugup.


Rapat diadakan di kamar rawat Soo Ho. Ia memperhatikan Geu Rim yang sedang mendiskusikan naskahnya bersama Lee Gang. Tiba-tiba, Geu Rim terbatuk karena kedinginan.


Soo Ho ingin memberikan mantelnya, tapi Lee Gang melakukannya lebih dulu. Ia berpura-pura kalau dirinya kepanasan dan memberikan mantelnya pada Geu Rim. Geu Rim batuk lagi. “Apa kau membawa obat?” tanya Lee Gang. Geu Rim menggelengkan kepalanya. “Kalau kau terkena flu, aku akan membunuhmu. Jaga kesehatanmu.”


Soo Ho: “Aku akan membeli…”
Lee Gang: “Hun Jung, ambilkan obat di dalam tasku.”
Hun Jung: “Apa ini? Apa kau mengkhawatirkan Geu Rim?”
Lee Gang: “Ini waktunya aku meminum obatku.”


Lee Gang meminum obatnya, lalu ia melemparkannya kepada Geu Rim dan menyuruhnya meminumnya juga jika mau. “Apa ini?” tanya Geu Rim tapi ia tidak meminumnya. Mereka lalu mulai mendiskusikan naskahnya lagi.


Keesokan harinya, acara donasi JH di rumah sakit diadakan. Tampak Nyonya Nam memberikan hadiah kepada para pasien anak. Nyonya Nam terlihat sangat ramah.


Soo Ho lalu melihat Eun Jung diantara para pasien yang sedang duduk. Eun Jung juga melihat ke arahnya dan tersenyum. Soo Ho membalas senyumannya dengan canggung.


Kemudian nama Eun Jung dipanggil untuk menerima donasi. Di depan, Nyonya Nam mengajaknya berfoto bersama.


Setelah pemberian donasi selesai, tampak Nyonya Nam sedang bersama Soo Ho di dalam lift. Nyonya Nam ternyata sudah tahu kalau Eun Jung akan menjadi bagian dari siaran radio Soo Ho. “Apa? Sekarang karena Pak Kim sudah pergi, kau pikir aku tidak akan tahu apa yang sedang kau lakukan?” tanya Nyonya Nam.


“Tentu saja kau tahu. Hobi CEO Nam adalah mengawasi semua hal yang aku lakukan,” kata Soo Ho. Nyonya Nam bilang kalau Soo Ho tidak suka diawasi, maka dia harus kembali pindah ke rumah keluarga, karena ayahnya juga sudah kembali. “Tidakkah melelahkan hidup seperti itu?” tanya Soo Ho. “Aku terus merasa semakin lelah.”


Keluar dari lift pasangan ibu dan anak ini sudah terlihat tersenyum. Para pasien dan perawat yang ada di lantai tersebut terlihat sangat mengagumi Soo Ho. Mereka berebut untuk memotretnya.


Sementara itu, Geu Rim masih sibuk mengetik naskahnya sambil terus terbatuk. Karena tidak ingin menganggu ibunya yang sudah tidur, Geu Rim keluar.


Geu Rim melanjutkan mengetik naskahnya di sofa kenangannya bersama Soo Ho. Ia mengantuk dan akhirnya tertidur.


Jason membawakan sebuah selimut untuk Soo Ho. Ia berkata, “Itu untuk Penulis Song, bukan?” Soo Ho tidak menjawab. “Aku tahu. Itulah mengapa aku membawa yang berwarna pink. Bukankah aku yang terbaik?” Soo Ho lalu berkata ia akan lebih berterima kasih jika Jason diam.


Jason terlihat tersenyum setelah Soo Ho pergi.


Soo Ho membawakan selimutnya untuk Geu Rim, tapi ia terlambat karena Lee Gang sudah ada disana sedang menyelimuti Geu Rim. Kedua pria itu lalu saling menatap.


Soo Ho: “Ada apa? Bukankah kau melatih orang agar menjadi kuat?”
Lee Gang: “Apa kau mengingat semua yang aku katakan?”
Soo Ho: “Orang mungkin akan salah paham bahwa kau menyukai Penulis Song.”
Lee Gang: “Itu benar. Aku menyukai Song Geu Rim.”

Advertisement

3 comments

Aroma persaingan sudah semakin memuncak. Hu ha hu ha hu ha..


Jangan lama2 ya update sinopnya.

Yes... Akhirx ada persaingan... 😎😎😎So hoo oppa

Lee Gang namaste 😘😘


EmoticonEmoticon