2/27/2018

SINOPSIS Radio Romance Episode 9 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Radio Romance Episode 9 BAGIAN 1


#9 – Menangis dalam Diam


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Radio Romance Episode 8 Part 3

Lee  Gang: “Itu benar. Aku menyukai Song Geu Rim. Bagaimana jika aku bilang begitu?”
Soo Ho: “Apa kau bermain-main denganku?”
Lee Gang: “Penulis yang mengikuti kemana bintangnya pergi dan melakukan apapun yang diinginkan. Apa yan kau pikirkan?”


Lee Gang menyebut Geu Rim menakjubkan karena Geu Rim bisa melakukan apapun yang Soo Ho minta, datang kapanpun, bahkan tidak protes saat Soo Ho mengacaukan naskahnya. Soo Ho melarang Lee Gang untuk meletakkan tangannya di bahu Geu Rim dan juga bicara secara santai padanya. Lee Gang bilang ia melakukan itu pada semua orang, bukan hanya Geu Rim.


Soo Ho: “Jadi, kau menyukai Song Geu Rim atau tidak?”
Lee Gang: “Kubilang aku menyukai Song Geu Rim, tapi aku juga menyukaimu. Bukankah alami bagi seorang produser untuk menyukai penulis dan DJ-nya?”


Soo Ho lalu menghampiri Geu Rim yang masih tidur dan menatapnya. Perlahan senyum tulus muncul di wajahnya. Ia ingin merapikan selimutnya, tapi Geu Rim malah terbangun. “Oh, astaga!” kata Geu Rim. Soo  Ho tergugup dan menyuruh Geu Rim tidur di dalam.


“Bagaimana denganmu? Kenapa kau berjalan keluar?” tanya Geu Rim. Soo Ho bilang agar Geu Rim mengkhawatirkan dirinya sendiri saja. Ia mengomel bagaimana bisa Geu Rim tidur di lorong dimana banyak orang lewat. “Aku sering melakukan ini. Apa masalahnya?” Soo Ho tidak percaya Geu Rim sering melakukannya. “Kau harus ingat kalau kau adalah aktor, jangan terus mengikutiku.”


Soo Ho berkata kalau ia tidak pernah mengikuti Geu Rim, bahkan jadwalnya sangat padat. Geu Rim lalu bertanya selimut apa yang ada di tubuhnya.Soo Ho melempar selimut itu ke lantai dan memberikan selimut miliknya. Geu Rim tidak mengerti.


Geu Rim kemudian menerima telepon dari Eun Jung. Terdengar Eun Jung menangis sambil memanggil nama Geu Rim. Geu Rim dan Soo Ho kemudian pergi menemui Eun Jung.


Geu Rim meminta Eun Jung berhenti menangis dan mengatakan masalahnya. “Aku tidak mau tampil di siaran radio besok!” teriak Eun Jung sambil terus menangis sesenggukkan. “Aku sudah dibuang! Dia mengabaikan panggilan dan pesanku!” Geu Rim bertanya siapa orangnya. “Cinta pertamaku!” Geu Rim dan Soo Ho saling berpandangan bingung.


Geu Rim kembali berjalan pada Soo Ho dan menyadari pahit manisnya hidup. Tapi tetap saja ia bingung karena acaranya besok dan bertanya apa yang harus mereka lakukan untuk mengatasinya. Soo Ho belum menemuka ide apapun. “Oh ya, Eun Jung itu penggemarmu bukan?” tanya Geu Rim.


Soo Ho: “Lalu?”
Geu Rim: “Apa maksudmu? Kenapa kau sering tidak sadar?”
Soo Ho: “Dan? Apa yang akan kau lakukan untukku jika aku membujuknya?”
Geu Rim: ”Apa kau anak kecil? Kau ingin membuat kesepakatan? Ini acaramu juga”


Soo Ho menyuruh Geu Rim melupakannya, jika memang tidak mau. “Aku akan melakukan apapun yang bintang kami tersayang inginkan,” kata Geu Rim berakting ramah. Soo Ho bertanya berapa keinginan yang bisa ia berikan. “Satu?” Tapi Soo Ho minta dua. “Ah, kau sangat kekanakkan.” Tapi Geu Rim terpaksa setuju.


Soo Ho menemui Eun Jung di kafetaria. Eun Jung berkata bahwa tadinya ia berencana untuk mengakui perasaannya pada siaran radio besok. Soo Ho bertanya bukankah Eun Jung bilang suka padanya. “Ya, benar. Tapi bukan sebagai pria. Aku memintanya datang ke acara besok karena ada yang ingin kukatakan padanya,” kata Eun Jung sedih.


Eun Jung: “Aku mengirimkannya banyak pesan, tapi dia tidak membalasnya ataupun mengangkat ponselnya.”
Soo Ho: “Aku tahu seperti apa rasanya itu.”
Eun Jung: “Dia bilang dia terlalu sibuk untuk bicara denganku.”
Soo Ho: “Yang dia bicarakan hanya siaran radio.”
Eun Jung: “Dia berjanji akan datang menonton acaraku, tapi dia mengubah keputusannya!”


Soo Ho: “Kau pasti sangat marah.”
Eun Jung: “Bagaimana kau tahu?”
Soo Ho: “Karena aku sangat marah pada si brengsek itu.”
Eun Jung: “Si brengsek?”


Si brengsek yang dimaksud Soo Ho sedang mendengarkan musik dari piringan hitam di kamarnya. Ia melihat-lihat buku di kamarnya dan menemukan foto lamanya bersama Geu Rim dengan sebuah sketsa wajah. Ia tampak sedih.


Eun Jung bertanya apakah si brengsek yang dimaksud Soo Ho adalah PD-nim yang terlihat seperi gelandangan itu. Soo Ho tersenyum dan berkata kalau sebutan gelandangan terlalu kasar. Eun Jung berkata kalau Soo Ho lebih tampan. “Tentu saja,” kata Soo Ho.


Eun Jung bertanya apakah yang disukai Soo Ho adalah si penulis. Soo Ho diam saja. “Apa ini? Ya atau bukan?” tanya Eun Jung. Soo Ho balik bertanya kenapa harus memberitahunya.”Ah, aku sangat iri. Lalu? Apa yang Unnie katakan?” Soo Ho berkata kalau saat inilah masalahnya dimulai dan dia berada di posisi yang sama dengan Eun Jung.


Soo Ho bilang Geu Rim sangat mencintai radio dan hanya itu yang dia pikirkan. “Bukankah kau penggemarku? Aoa tidak masalah jika aku memberitahumu?” tanya Soo Ho. Eun Jung lalu menyuruh Soo Ho diam, karena Geu Rim datang menghampiri mereka.


Geu Rim membawakan mereka minuman dan bertanya apakah Eun Jung sudah mmebuat keputusan. “Unnie, kami berdua perlu bicara secara pribadi,” kata Eun Jung ingin mengusir Geu Rim secara halus. Soo Ho juga minta agar mereka diberi kesempatan. Geu Rim bertanya apakah mereka ingin agar dia pergi. Eun Jung dan Soo Ho menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Geu Rim bertanya bagaimana mereka diskusi tanpa penulisnya. “Pergi dan tulis saja naskahnya. Kau sangat menyukai menulis, bukan?” kata Soo Ho. Geu Rim berdiri dan berharap mereka menahannya. Tapi mereka berdua tidak melakukan itu sama sekali.


Dari kejauhan, Geu Rim tersenyum saat melihat keakraban Soo Ho  yang sampai membantu Eun Jung membuka botol minumannya. Ia lalu menghubungi Lee Gang dan memintanya tidak mengkhawatirkan apapun, karena Soo Ho sedang mengurusnya. Geu Rim bilang Soo Ho ternyata lebih baik daripada yang ia pikir.


Lee Gang mengerti dan mengingatkan Geu Rim memakai selimut agar tidak terkena flu. Dia lalu menutup ponselnya begitu saja. “Selimut?” gumam Geu Rim. Kemudian di menerima telepon dari Soo Ho yang mengingangatkan tentang kesepakatan mereka. “Dia akan melakukannya? Kau yakin?” tanya Geu Rim senang.


“Jangan lupa, aku mendapatkan dua permintaan,” kata Soo Ho. Geu Rim bertanya lagi apakah Eun Jung benar-benar setuju. “Ya, dia akan melakukannya. Jangan lupa perjanjian kita.” Geu Rim bertanya-tanya apa yang sedang Soo Ho rencanakan. “Terserah padaku. Jangan lupa memakai selimutnya.”


Geu Rim mengomel, karena Soo Ho terus saja berbuat seenaknya seperti tentang naskah. “Dan ciuman... Geu Rim, masuk dan tidurlah,” katanya pada dirinya sendiri. Ia lalu masuk ke kamar rawat ibunya dan tersenyum lega karena ibu tidur dengan nyenyak.


Geu Rim lalu melihat dua buah selimut yang ada di kursi tamu. Ia tersenyum lagi.


Jason ternyata masih menunggu Soo Ho di kamar rawatnya. Ia berkata kalau Soo Ho banyak berubah. “Sudah 12 hari kau tidak meminta obat tidur. Akhir-akhir ini kau jga tidur dengan nyenyak,”kata Jason. Soo Ho bertanya dalam hal apa ia paling banyak berubah. “Kau mulai membuat percakapan dengan orang lain. Dulu kau hanya menjawab sesuai naskahmu, sekarang kau memberikan jawaban yang sebenarnya.”


Jason menggoda Soo Ho dengan mengatakan kalau Soo Ho juga mulai menyukai orang lain secara tulus. “Aku sangat terharu, teman,” kata Jason dan dia benar-benar menangis bahagia.


Keesokan harinya, Soo Ho berkata pada ayah dan ibunya bahwa dia tidak mau melakukan syuting film, drama, ataupun hubungan palsu dengan Tae Ri. Nyonya Nam bertanya apa rencana Soo Ho. Soo Ho balik bertanya apakah perusahaan akan jatuh jika ia tidak melakukan itu.


“Kau akan kehilangan banyak iklan, jika tidak syuting drama. Kau harus menunjukkan wajahmu untuk bisa menghasilkan uang,” kata Nyonya Nam. Tuan Ji membenarkan ucapan istrinya dan meminta Soo Ho mendengarkan ibunya, karena dia ada disana itu demi Soo Ho.


Nyonya Nam: “Itulah kenapa kau harus segera berhenti siaran radio.”
Soo Ho: “Aku akan tetap melakukannya.”
Tuan Ji:”Ayo masuk.”


Di dalam lift, Nyonya Nam mengatakan kalau kontrak drama sudang distempel. “Jika kau membatalkannya sekarang, kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi.” Soo Ho berkata bahwa bukan dia yang menandatanganinya, lalu kenapa dia yang harus bertanggung jawab. “Kau bukan putraku, tapi aku bertanggung jawab terhadapmu.”


Tuan Ji lalu meminta agar Nyonya Nam memberikan peran pada Da Seul di drama Soo Ho, karena beberapa hari terakhir ini Da Seul terus marah-marah padanya. Nyonya Nam menolak dan meminta Tuan Ji membereskan masalahnya sendiri. Ia terus membujuk Nyonya Nam, tapi yang ada Nyonya Nam malah menendang kakinya dan memukulinya dengan tas.


Ketika keluar dari lift, ekspresi mereka bertiga sudah tersenyum lagi, padahal kaki Tuan Ji masih terasa sakit. Nyonya Nam berjalan lebih dulu. Tuan Ji lalu berbisik agara Soo Ho bersedia menerima dramanya. “Kita harus selalu mendengarkan perintahnya,” kata Tuan Ji.


Soo Ho: “Ayah, aku benar-benar ingin berhenti.’
Tuan Ji: “Sudah terlalu terlambat. Apa yang bisa kita lakukan sekarang? Dengarkan saja dia. Dan juga, lakukan dramanya. Lalu buat Da Seul...”
Soo Ho: “Ayah.. Tolong hentikan ini. Tidak masalah untukku, tapi kau jangan melakukan itu pada ibu.”


“Apa kau baru saja melotot padaku?” gumam Tuan Ji setelah Soo Ho pergi.


Di KBC, Seung Ho bertanya apakah Tim Lee Gang melakukan siaran di rumah sakit karena Geu Rim. “Aku tidak melakukan itu karena Geu Rim. Aku hanya akan siaran. Apa kau sudah selesai?” kata Lee Gang sambil menarik kedua telinga Seung Ho lalu pergi.


“Aku belum selesai, brengsek! Aku ingin mengatakan itu, tapi dia lebih dulu menarik telingaki,” gerutu Seung Ho.


Lee Gang lalu datang ke rumah sakit dan memberikan makanan pada Geu Rim.Ia juga menanyakan keadaan ibu. “Jauh lebih baik,’ kata Geu Rim senang. Lee Gang lalu menanyakan Soo Ho, tapi Geu Rim hanya tersenyum.


Soo Ho ternyata sedang berada di kamar rawat Eun Jung dan sibuk memberikan tanda tangannya. Mereka juga ingin berfoto bersamanya.


Di belakang Soo Ho terlihat seorang wanita yang menerima pesan di ponselnya bertuliskan, “Aku sudah mengirimkan uangnya.” Wanita itu tersenyum senang. Eun Jung juga membuat teman-temannya iri dengan mengatakan kalau ia dan Soo Ho sering saling mengirimkan pesan. Soo Ho terkejut, tapi Eun Jung memintanya tersenyum.


Geu Rim mengajak Lee Gang melihat apa yang sedang Soo Ho lakukan. “Apa yang terjadi? Apa orang yang tersenyum itu benar-benar Ji Soo Ho?” tanya Lee Gang tidak percaya. Geu Rim menganggukkan kepalanya dna berkata bahwa untuk membujuk Eun Jung, Soo Ho bersedia memberikan tanda tangannya kepada teman-teman Eun Jung.


Geu Rim memuji kalau kemampuan negosiasi Soo Ho bagus. Ia lalu menyadari kalau Soo Ho terus saja memegang pelipisnya. “Apa dia sedang sakit?” gumam Geu Rim.


Mobil siaran radio disiapkan.


Para pasien, dokter dan perawat yang ingin menonton siaran radionya pun terlihat sudah mulai mendatangi aula. Eun Jung dan Soo Ho pun sudah siap di meja siar mereka. Walaupun tidak bisa melihat, ibu juga hadir disana.


Wanita yang sebelumnya menerima pesan tentang kiriman uang, juga terlihat hadir disana. Ia terus memperhatikan ke depan panggung.


Dari kursinya, Geu Rim kembali melihat Soo Ho yang memijat pelipisnya. Ia lalu permisi pada Lee Gang dan naik ke atas panggung.


Geu Rim menanyakan apakah Soo Ho baik-baik saja. “Apa?” tanya Soo Ho. Geu Rim bilang Soo Ho terlihat tidak baik kondisinya. “Aku baik-baik saja.” Geu Rim tersenyum lalu kembali ke kursinya. Tidak lama kemudian, Lee Gang memberikan kode dengan tangannya agar Soo Ho memulai siarannya.


Soo Ho berkata kalau dia sedang berada di tempat yang istimewa, bersama seseorang yang istimewa juga. Para penonton bertepuk tangan. Eun Jung lalu memperkenalkan dirinya sebagai penggemar acara Radio Romance Soo Ho dan berkesempatan menjadi DJ hari itu.


Nyonya Nam ikut mendengarkan siaran radio itu. Begitu juga Tuan Ji dan banyak orang lain. Mereka mendengarkan Eun Jung yang berkata bahwa dia menghabiskan setengah masa hidupnya di rumah sakit.


“Tapi aku tidak banyak menangis disini. Jika aku menangis, seseorang lainnya akan lebih sedih daripada diriku,” kata Eun Jung. Soo Ho bertanya siapa orangnya. “Orang itu berjanji akan datang hari ini. Itulah kenapa aku menunggunya, tapi dia tidak datang. Tapi akutahu kalau dia sedang mendengarkan, dimanapun dia berada.”


Soo Ho: “Aku penasaran siapa orang itu.”
Eun Jung: “Dia cinta pertamaku. Dan orang yang hampir tidak pernah datang kesini. Tapi dia adalah orang yang paling kurindukan.”


INSTAGRAM TABLOID SINOPSIS

Seorang pria pengantar barang tersenyum sambil mendengarkan radionya. Eun Jung mendekatkan mulutnya ke mikrofon, “Ayah! Apa kau mendengarkan?” Semua orang terkejut. Wanita tadi juga terlihat mulai menangis.


“Ibu sangat sibuk mengurusku dan ayah sangat sibuk mencari uang untukku. Kami bertemu satu bulan sekali. Itulah kenapa aku iri kapanpun aku melihat Oppa Soo Ho bersama keluarganya. Kalian bertiga selalu bersama. Kau selalu tersenyum,” kata Eun Jung.

Advertisement

2 comments

D tunggu part2 nya mba

D tunggu part2 nya mba


EmoticonEmoticon