2/22/2018

SINOPSIS Short Episode 1 PART 1

SINOPSIS Short Episode 1 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

KUMPULAN LINK || SINOPSIS Short
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Short Episode 1 Part 2

Terlihat spanduk bertuliskan Kompetisi Jarak Pendek Istimewa Spesial Internasional tahun 2017. Komentator memberitahukan bahwa kompetisi kali kali ini merupakan Olimpiade Pyeongchang.


Kedua komentator membicarakan atlet Park Eun Ho dan Mo Pil Tae yang berada di peringkat pertama dan kedua internasional sedang bersaing untuk lolos ke olimpiade. Selain kompetisi profesionalm di arena sebelahnya juga sedang berlangsung kompetisi amatir untuk merayakan perhelatan Pyeongchang.


Seorang atlet amatir bernama Kang Ho Young (Kang Tae Oh) tersenyum saat melihat spanduk hadiah yang bertuliskan 2 juta won bagi pemenang pertama. Dia bahkan sudah memiliki rencana untuk uang itu. Dia para saingannya bersiap di garis start. Dan ketika pistol diletuskan, pertandingan pun dimulai.


Seorang atli profesional dengan gaya yang lebih cool juga bersiap di garis start. Dia adaIah Park Eun Ho (Yeo Heo Hyun). Ia kemudian mulai bertanding dan tampak bersaing ketat dengan Mo Pil Tae.


Selama pertandingan berlangsung, terlihat seorang pria lagi yang memperhatikan jalannya pertandingan dengan sangat serius. Pria itu adalah seorang pelatih skating bernama Song Seung Tae (Yoo Ha Joon). Dia kemudian menerima telepon, “Ya. Kupikir aku harus memeriksa balapan sebelum balapan. Ya, aku menonton balapan Park Eun Ho. Hasilnya? Lihat saja sendiri.”


Setelah itu, Seung Tae pergi ke arena sebelah dan menyaksikan kompetisi amatir. Ia sepertinya tertarik dengan Ho Young yang saat itu tengah memimpin pertandingan.


Di ruang ganti atlet, Eun Ho tampak tertunduk lesu. Ia tidak mengangkat telepon dari ayahnya.
Flashback..


Eun Ho berjalan dengan langkah pincang. Langkahnya kemudian terhenti, karena ayahnya ada di hadapannya.


“Dasar bodoh. Semua cedera itu hanya untuk meraih peringkat kedua?” tanya ayahnya.


Dan di lain waktu saat dia berhasil meraih peringkat pertama, ayahnya berkata, “Jangan pikir kamu menang. Bersiaplah untuk pelatihan berikutnya.”


Melalui ponselnya, Eun Ho menonton wawancara bersama Mo Pil Tae, lawan yang berhasil mengalahkan Eun Ho beberapa detik sebelum garis finish. Tiba-tiba seorang petugas kebersihan yang adalah Ho Young masuk dan menyalakan lampunya. 


Ho Young ingin keluar lagi, tapi ia mengurungkan niatnya. Ia tetap masuk dan mulai mengepel lantainya. Eun Ho kemudian menyuruhnya keluar, tapi Ho Young tidak peduli dan malah menyuruh Eun Ho pergi.


“Apa kau tidak tahu siapa aku?” tanya Eun Ho. Tapi Ho Young masih tidak peduli. Kemudian di ponsel juga memberitakan wawancara dengan pemenang amatir. Ho Young lalu memberi kode dengan tangannya kalau orang yang diwawancarainya itu adalah dirinya.


Dalam wawancaranya, Ho Young mengatakan bahwa dia hanya menikmati pertandingannya. Eun Ho berkata kalau itu hanya akan menghancurkan diri Ho Young. Ho Young berkata kalau dia hanya menyukai es, dan menurutnya itu lebih baik daripada mantan juara yang sekarang hanya menjadi pecundang.


Ho Young tidak sengaja mengenai sepatu Eun Ho dengan pelnya. Eun Ho mendorong pelnya, dan mereka mulai saling mendorong. Hingga akhirnya, Ho Young menarik pelnya dnegan tiba-tiba sampai Eun Ho hampir terjatuh. “Aku sedang hari ini, jadi aku akan membiarkanmu. Matikan lampunya saat kau keluar,” kata Ho Young lalu pergi.


Sesuai dugaannya, Eun Ho dimarahi ayahnya karena tidak berhasil meraih peringkat pertama. Sekretarisnya berkata bahwa mereka akan mencarikan pelatih yang lebih bagus untuk Eun Ho, sehingga Eun Ho bisa berlatih lebih baik dan fokus untuk babak kualifikasi berikutnya.


“Aku berhenti bertanding,” kata Eun Ho. Ayahnya marah dan berdiri akan menghampiri Eun Ho. Tai sekretaris menengahi mereka dan berkata kalau Eun Ho hanya asal bicara. Ia lalu mendorong Eun Ho dan menyuruhnya masuk ke kamarnya.


Ho Young juga sedang dimarahi kakeknya yang bekerja sebagai pengasah sepatu skate. Ia menyuruh Ho Young belajar dan berhenti bermain es. Ho Young bilang ia tidak bermain, tetapi bekerja. Dia malah pulang membawa uang yang banyak, sehingga kakeknya akan bisa memperbaiki alat pemanasnya.


Kakek mengatakan kalau Ho Young tidak perlu mengkhawatirkan masala pemanas dan menyuruhnya mencemaskan mengenai pelajaran saja dan meraih sertifikat. “Sertifikat apanya? Aku tidak belajar apa-apa. Kakek saja yang belajar,” kata Ho Young.


Kakek akan memukuli Ho Young lagi, namun kemudian Seung Tae datang menyapa Ho Young. “Anda siapa?” tanya Ho Young yang berhasil selamat dari pukulan kakeknya.


Ayah Eun Ho bertanya kapan Seung Tae akan datang untuk melatih. Sekretaris mengatakan kalau Seung Tae akan datang besok lusa. Ayah Eun Ho mengingatkan sekretaris untuk terus mengawasi Eun Ho agar tidak berbuat macam-macam.


Terlihat foto Eun Ho kecil yang tengah memegang piala dengan didampingi ayahnya. Ia ternyata sudah sering menjadi juara sejak kecil. Banyak piala yang menghiasi kamarnya.


Namun sepertinya, Eun Ho tidak menikmati itu semua. Ia berbaring di kasurnya dan terlihat tidak bersemangat. Ia juga menolak telepon dari sekretaris.


Sekretaris yang ternyata ada di luar pintu kamar Eun Ho berkata, “Eun Ho, aku mengerti kau sedang frustasi. Tapi kita ada pertemuan dengan Pelatih Son besok siang. Istirahatlah hari ini. Sampai jumpa di pusat pelatihan besok. Mengerti?”


Eun Ho tidak menjawab dan memilih memalingkan wajahnya.


Sementara itu, Seung Tae sedang memperlihatkan rekaman pertandingan Ho Young kepada kakeknya. Kakek terkejut karena Ho Young bisa meluncur secepat itu. Menurut Seung Tae, Ho Young punya kesempatan. Tapi Ho Young bilang ia tidak mau pergi. Kakek kembali memukul kepala Ho Young dan berkata bahwa itu adalah kesempatan yang langka.


Ho Young: “Aku tidak mau pergi. Aku lebih suka disini.”
Seung Tae: “Boleh aku tahu kenapa?”
Ho Young: “Udara disini lebih bersih daripada di Seoul. Untuk para pemula, aku lebih bisa meluncur disini. Dan disini juga ada pekerjaan paruh waktu. Puas?”
Kakek: “Bodoh! Siapa yang peduli dengan pekerjaan paruh waktu?”
Ho Young: “Ini penting. Dan juga… kakek akan sendirian kalau aku pergi.”


Kakek berkata kalau dia malah lebih nyaman tanpa Ho Young. “Pergilah!” kata kakek. Ho Young meminta agar dia bisa tetap disana. “Diam dan pergi saja!” Ho Young tetap tidak mau pergi. “Harus pergi! Tidak boleh banyak alasan!”


Kakek bertanya pada Seung Tae apa yang akan terjadi kalau Ho Young pergi ke Seoul. Seung Tae bilang mereka akan mengujinya terlebih dulu. “Kalau dia lulus, dia akan diterima di universitas olahraga melalui jalur penerimaan khusus. Selanjutnya kami akan melatihnya. Pendidikan dan tempat tinggalnya akan kami tanggung. Apapun yang terjadi akan kuwujudkan,” jawab Seung Tae. Kakek bertanya lagi apakah Ho Young akan dibawa kembali ke kota terpencil itu jika tidak berhasil.


“Oh, tidak. Kami akan jadikan dia seorang atlet profesional. Dia akan berlomba di kompetisi internasional dan juga olimpiade,” kata Seung Tae yakin. Kakek sangat senang, tapi Ho Young sama sekali tidak tertarik.


Dalam perjalanan pulang, kakek berusaha meyakinkan Ho Young agar mengambil kesempatan itu apalagi Ho Young bisa kuliah juga disana. Ho Young bilang ia tidak tertarik untuk kuliah dan hanya ingin tinggal disana bersama kakeknya. Kakek menyebut Ho Young tidak punya ambisi.


Ho Young bilang kakeknya sering lupa mematikan kompor dan menutup toko. Ia khawatir kalau kakeknya juga akan lupa makan. Oleh karena itulah, Ho Young tidak mau pergi. Kakek bertariak bahwa kalau dia fokus, maka ia akan mengingat segalanya.


“Aish.. dengarkan aku. Aku memintamu untuk memudahkan hidupku juga. Cucu pemenang medali! Betapa bangganya aku nanti? Dan menangkanlah medali Olimpiade saat kamu bertanding,” kata kakek lalu berjalan pergi lebih dulu. “Apa kau tahu? Pemerintah akan membayarkan uang pensiun sampai kau mati.” Kakek juga bilang kalau itu adalah impian ayah Ho Young dulu dan akan sempurna jika Ho Young bisa mewujudkan impiannya.


Ho Young tersenyum, lalu memeluk kakeknya dari belakang. Ia juga memaksa untuk menggendong kakeknya. Ia berkata, “Hei, kakek. Aku akan ke Seoul. Aku akan jadi atlet nasional.” Kakek akhirnya tertawa dan berkata kalau ia menyukai keputusan Ho Young. Kakek juga berharap kalau ia berumur panjang.

Comments


EmoticonEmoticon