2/23/2018

SINOPSIS Short Episode 2 PART 1

SINOPSIS Short Episode 2 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Short Episode 1 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Short Episode 2 Part 2

Ho Young tampaknya tidak jadi berhenti. Ia kembali ke ruang ganti, namun wajahnya masih terlihat murung. Ia kemudian mengatur nada bicara, karena kakek meneleponnya.


“Halo, kakek. Tentu saja aku lulus! Tidak, sungguh! Aku akan masuk universitas mereka. Aku akan masuk kompetisi. Dan aku akan bergabung di tim nasional! Olimpiade? Ya! Tentu aku akan kesana. Kakek, tunggu sebentar lagi. Akan kubawa pulang medali emas itu, dan aku kalungkan di leher kakek! Oh, benar. Mereka menyediakan tempat tinggalku dan menanggung biaya pendidikanku! Mengagumkan, bukan?” Ho Young bicara dengan cerita pada kakeknya di telepon. Setelah memastikan kakeknya sudah makan, ia berjanji akan sering-sering menghubungi kakeknya lalu menutup ponselnya.


Ho Young kembali murung.


Eun Ho menghampiri ayahnya yang ada di meja makan. Presdir Park berkata bahwa Eun Ho sangat ceroboh hari ini. “Aku berhenti. Aku serius,” kata Eun Ho tanpa menatap ayahnya. Presdir Park bilang akan ada waktunya yang tepat untuk berhenti. “Aku muak olahraga.”


Sambil menikmati makanannya, Presdir Park mengatakan bahwa Ho Young akan menjadi teman berlatih yang sempurna untuk Eun Ho. “Jangan kecewakan aku lagi. Kalau kau kalah lago, kau yang akan jadi pemacunya,” kata Presdir Park.


Eun Ho: “Tentu saja. Medali olimpiade adalah segalanya bagi ayah.”
Presdir: “Apa? Aku hanya ingin menjadikanmu atlet yang hebat. Kau tahu seberapa keras usahaku padamu?”
Eun Ho: “Itu untuk kepuasan ayah sendiri, bukan untukku. Aku pindah. Aku selalu tinggal di asrama saat latihan. Tidak ada yang batu, bukan?”
Presdir: “Kau akan bolak-balik dari rumah.”
Eun Ho: “Tidak.”


Setelah memberi salam, Eun Ho pergi. “Dasar kau! Kenapa tiba-tiba membangkang?” kata Presdir Park kesal.


Di arena, Ho Young sudah mulai berlatih. Ia mengingat perkataan Seung Tae yang mengatakan bahwa ototnya bagus, namun keahlian dasar dan taktiknya kurang.


Tiba-tiba Eun Ho muncul dari belakangnya dan mengoreksi gerakan seluncur Ho Young. Ho Young tidak marah, ia malah mendengarkan saran Eun Ho dengan baik. Ho Young mau protes ketika Eun Ho menyebutnya seorang pemula, tapi Eun Ho kembali memberikan instruksi agar membungkukkan badannya.


Mereka kemudian meluncur bersama dan saling bertanya kenapa akhirnya mau berlatih. Ho Young tidak menyangkal ketika Eun Ho mengatakan kalau itu karena merasa jalannya yang masih panjang. “Sebaiknya kau berlatih lebih baik dariku,” kata Ho Young.


Karena kesal, Eun Ho kemudian mengejar Ho Young dan akhirnya mereka bertanding.


Seung Tae ada di pinggir lintasan dan memperhatikan atlet binaannya. Ia tersenyum melihat mereka bisa berlatih bersama dengan baik.


Sambil berolahraga di jalan, Ho Young juga melatih gerakan seluncurnya. Ia tidak mempedulikan orang-orang yang menganggapnya aneh.


Man Hee datang ke arena dan menanyakan Ho Young pada Eun Ho yang kebetulan bertemu dengannya. Eun Ho bilang kalau Ho Young baru saja pergi. Man Hee kecewa, karena ia ingin mendengar cerita pertandingan Ho Young. Man Hee lalu pergi, tapi kemudian dia berbalik lagi.


“Oh, sepertinya pergelangan kakimu lemah. Kau mungkin perlu latihan penguatan,” kata Man Hee lalu benar-benar pergi. Eun Ho terkejut dan menatap pergelangan kakinya.


Ho Young akan pergi berolahraga lagi, namun ia melihat Ji Na yang sedang berlatih menari di dalam restoran bibi. Ho Young benar-benar terpesona.


Eun Ho terlihat ada di dalam bus dan menghubungi seseorang.


Ternyata Eun Ho menghubungi Ji Na. Namun Ji Na tidak mendengar dering ponselnya, karena suara musik yang ia dengarkan untuk menari.
Flashback..


Ji Na tampil menari untuk audisinya.


Seorang juri wanita mengatakan kalau gerakan tarian Ji Na sulit, namun tidak natural. Ia juga bilang kalau tidak terlihat ada penjiwaan dalam tarian tersebut. Juri pria berkata, “Walau kau punya teknik yang bagus, bukan berarti tarianmu bagus.” Juri wanita meminta maaf karena Ji Na bukan orang yang mereka cari.


Ji Na kecewa.


Tapi sepertinya, kegagalan audisi itu tidak membuatnya putus asa. Buktinya, ia tetap berlatih menari seperti sekarang ini.


Man Bok pulang ke rumah dan memergoki Ho Young yang sedang mengintip Ji Na menari. Man Bok menyuruh Ho Young mengelap air liurnya dan menganggap Ji Na mengacaukan restoran. Man Bok ingin masuk, tapi Ho Young melarangnya.


Ho Young menyebut Ji Na sangat seksi dan bisa membuat pose menari yang indah dengan jari tangannya itu. Ia juga menganggap Ji Na sangat cantik.  Man Bok lalu mengatakan bahwa jika waku kecil Ji Na tidak mengalami cedera kaki, maka ia pasti sudah menjadi ratu seluncur indah berikunya. Man Bok mengeluh harusnya sepupunya itu belajar, bukannya bermain-main. Ho Young berkata kalau Ji Na itu ingin menjadi seniman. “Seniman apanya?” protes Man Bok.


Karena Ji Na memergokinya mereka, Ho Young akhirnya membuka pintu restoran dan masuk ke dalam. Ia bertepuk tangan dan mengatakan kalau tarian Ji Na sangat keren. “Tidak ada gunanya. Aku gagal audisi,” kata Ji Na.


“Gagal?” tanya Man Bok sambil tersenyum. Ia lalu bertepuk tangan. “Oh, itu bagus. Jadi kau akan kembali ke Amerika?” Ho Young memukul dada sahabatnya itu. Ji Na mencibir dan berkata bahwa dia akan mencobanya sampai berhasil.


Ji Na lalu memuji kalau penampilan Ho Young di arena saat bertanding sangat keren. Ho Young tersipu malu. Tapi kemudian Eun Ho datang dan tersenyum manis menyapa Ji Na. Ji Na membalas senyumannya..


Ho Young bertanya kenapa Eun Ho terus saja muncul. “Aku tidak kesini untukmu. Jangan ikut campur,” kata Eun Ho, lalu menatap Ji Na. Ho Young mengikuti arah pandangan Eun Ho, begitu juga Man Bok. Mereka berdua sadar, kalau Eun Ho datang untuk menemui Ji Na.


Eun Ho mengajak Ji Na pergi ke sebuah café. Man Bok dan Ho Young mengikuti mereka. Ho Young penasaran apa yang mereka bicarakan dan menyebutnya mencurigakan. Man Bok bilang tidak ada yang mencurigakan dan itu mungkin saja karena memang banyak yang harus dibicarakan.


Ho Young: “Hey, itu sepupumu! Ini sudah larut malam! Sendirian bersama predator itu. Kau sungguh tidak khawatir sama sekali?”
Man Bok: “Apa itu aneh?”
Ho Young: “Tentu saja aneh! Aku orang yang jujur dan baik. Tapi pria itu?”


Man Bok menatap sahabatnya yang aneh itu.


Ji Na berkata kalau keputusan Eun Ho untuk berhenti berseluncur terlalu gegabah. “Kau sangat suka berseluncur, lalu kenapa berhenti? Kau berseluncur di luar sana seakan tidak pernah berhenti,” tanya Ji Na.


Eun Ho hanya tersenyum . Ji Na berkata lagi, “Dulu aku juga seorang atlet seluncur indah. Aku berhenti karena cedera, tapi terkadang aku masih memikirkannya.” Eun Ho terkejut. “Berhenti dari hal yang kau sukai, tidak bisa melakukan hal yang sangat kau inginkan, itu sangat menyedihkan. Dan kau berhenti dari seluncur cepat yang kau sukai, hanya untuk menunjukkannya pada ayahmu? Tidak, jangan lakukan itu”


Eun Ho tersenyum dan memuji Ji Na sangat dewasa. Ji Na tersipu dan berpesan kalau Eun Ho tidak boleh berhenti dari olahraga. Eun Ho menyadari kalau ia telah membuat keputusan yang salah. “Tapi, aku akan tetap pindah,” kata Eun Ho.


Dalam perjalanan pulang, Ho Young bertanya kenapa Eun Ho pulang bersama mereka. Man Bok bilang kalau Eun Ho sedang mencari tempat tinggal. “Kurasa.. ingin bertanya pada ibuku?” duga Man Bok. Ho Young bilang Eun Ho bisa menanyakannya ke kantor real estate. “Benar. Mungkin… makan malam? Entahlah, aku lapar. Aku ingin tahu ibu masak apa untuk makan malam.”


Man Bok: “Ngomong-ngomong, sampai kapan kau akan tinggal di rumah kami?”
Ho Young: “apa ? Kau tidak suka? Hanya sampai aku ditempatkan di asrama.”
Man Bok: “Hey, bukan itu maksudku. Aku hanya penasaran.”
Ho Young: “Lihat! Agak terlalu dekat, bukan? Lakukan sesuatu!”
Man Bok: “Hey, jaga jarak! Minggir!”


Di rumah, bibi menyiapkan makanan untuk semua orang. Eun Ho masih diam saja, walaupun Ji Na sudah menyuruhnya makan. Bibi bertanya apakah Eun Ho sedang tidak lapar. “Aku jadi teringat pada ibuku. Ibuku meninggal saat aku masih kecil,” keta Eun Ho.


Man Bok sampai tidak jadi menelan makannya. Bibi lalu mengatakan bagaimana perasaan ibunya karena meninggalkan anak semanis Eun Ho. “Makanlah. Anggap saja ibumu yang membuatnya. Kami masih ada banyak, jadi makanlah sebanyak yang kau mau,” kata bibi.


Ji Na lalu bertanya apakah bibi punya kenalan orang kantor real estate, karena Eun Ho sudah mencari tempat tinggal. Bibi bilang banyak kamar disana, ada kamar dekat gerbang dan ada kamar gudang yang bisa dibersihkan, kamar Man Hee dan Man Bok yang luas. “Bagaimana? Kau mau berbagi kamar dengan Man Bok? Tunggu, mungkin akan kurang nyaman,” tanya bibi.


Masih dengan mulut penuh makanan, Eun Ho berkata, “Tidak sama sekali! Kamarnya bagus dan besar. Tidak ada yang tidak nyaman!” Bibi tertawa. “Aku tidur disana kemarin malam, jadi aku tahu.” Bibi bilang Eun Ho tidak perlu mengkhawatirkan makanan, karena masakannya enak. “Terima kasih banyak.”


Yang tidak suka atas keputusan itu tak lain tak bukan adalah Kang Ho Young. (haha..)


Setelah makan, Ho Young memergoki Eun Ho yang sedang membersihkan lantai karena ia merasa banyak debu yang merupakan sarang penyakit. Ho Young menyuruhnya pulang saja ke rumahnya yang bagus.


Man Bok lalu masuk dan merasa aneh dengan kamarnya. Eun Ho kemudian berdiri dan merasa puas dengan kebersihan kamarnya yang sebelumnya seperti kandang babi. “Kandang babi? Dasar kau…” protes Man Bok.


Eun Ho: “Pokoknya, ini akan jadi kamarku mulai sekarang. Kalian berdua.. harus pergi.”
Man Bok: ”Apa maksudmu? Ini kamarku!”
Ho Young: “Itu benar! Ini kamar Man Bok!”
Eun Ho: “Apa maksudmu? Ibumu yang menyuruhku menggunakan kamar ini. Keluarlah!”


Man Bok: “Tidak, ini kamarku!”
Ho Young: “Aku juga.”
Eun Ho: “Tidak mau, hah? Keluar! Sekarang!”


Mereka bertiga lalu berebut kamar, dan berakhir dengan diusirnya Eun Ho dari kamar yang sudah dibersihkannya itu.

Comments


EmoticonEmoticon