3/17/2018

SINOPSIS Eulachacha Waikiki Episode 10 PART 2

SINOPSIS Laughter in Waikiki Episode 10 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS Eulachacha Waikiki Episode 10 Part 1

Datang seroang pelanggan pria, yg tingkahnya sangat menjengkelkan. Dia menyuruh Soo-ah untuk mengambilkannya sekaleng soda dan sebatang coklat,

“Apa? Kenapa aku harus melakukannya?” tukas Soo-ah

“Turuti perkataan pelanggan. Kamu terlalu banyak bicara!” bentak si pelanggan

“Kamu bilang apa? Kenapa kamu memerintahku?” celoteh Soo-ah

“Apa tindakanku membuatmu kesal? Kamu hanya seorang pekerja paruh waktu. Beraninya kamu bersikap seperti itu padaku!” ujar si pelanggan


Soo-ah membentaknya balik, “Kamu bilang apa barusan?!”. Tapi tiba-tiba Du-shik datang dan menjadi penegah dengan langsung meminta maaf kepada si pelanggan dan mengambilkan barang yg dia minta.


Ketika memberikan uang, si pelanggan itu melemparnya dengan cara yg kasar. Selain iut, dia pun membuang bungkus makanannya sembarangan,

“Jangan membuangnya di lantai. Tempat sampah ada di sebelah sana!” tegus Soo-ah

“Gajimu termasuk membersihkan. Kamu tidak tahu itu?” ujar si pelanggan yg tentunya membuat Soo-ah tak mau kalah dan lansgung membentaknya balik


Du-sik tak ingin terjadi keributan  besar. Maka dia lansgung meminta maaf dan menjelaskan, bahwa Soo-ah merupakan pegawai baru.

“Aku akan melupakannya demi kebaikanmu. Tapi, lakukan tugasmu dengan baik!”

“Terima kasih, Pak...”


Setelah pelanggan itu pergi, Soo-ah mengomentar sikap Du-shik, “Ada apa denganmu? Apa salahku? Dia yang berbuat salah”

“Dia selalu seperti itu. Dia memiliki restoran barbekyu di dekat sini. Lebih baik menghindarinya.”

“Astaga, kamu orang sangat penurut...”


Seusai kelas memasak, Yoona berjalan pergi dengan begitu lesu. Hyung-joon melihatnya dan dia lansgung menghampirinya untuk bertanya: “Kenapa kamu kelihatan sangat murung? Apa terjadi sesuatu???”

“Saat semua orang melakukannya dengan begitu baik, tampaknya aku banyak tertinggal di kelas...”

“Jangan cemas. Kamu akan sehebat mereka jika berlatihterus..”

“Aku tidak punya tempat berlatih selain di sini.”


Setelah mendengar keluhan Yoona, Hyung-joon lansgung membawanya ke sebuah toko kue yg ternyata adalah miliknya.


Dia bahkan mempersilahkan Yoona untuk berlatih dalam dapur pribadinya, “Ini tempat kerjaku. Aku menciptakan berbagai resep kue disini. Terkadang, aku tidur siang disini tanpa memberi tahu para pegawaiku--”


Jun-ki duduk di ruang tengah, sambil melihat-lihat harga kamera yg setipe dengan punyanya Dong-gu, yg ternyata sangat mahal.. dan dia tak akan sanggup untuk mmebeikannya yg baru.


Tak lama kemudian, Dong-gu pulang.. dia berjalan lesu sambil memeluk tas kameranya,

“Dong Gu, kamu dari mana?”

“Tadi aku pergi memperbaiki kamera. Tapi, mereka bilang itu terlalu rusak untuk diperbaiki. Olivia-ku yang malang”

“Olivia? Siapa Olivia?”

“Itu namanya. Aku lebih memedulikannya dibandingkan adik kandungku. Aku membelinya setelah bekerja di lokasi pembangunan satu tahun. Aku mengelap dan merawatnya setiap hari. Aku sangat menyayanginya.”


Ketika Seo-jin tengah mangsuh Sol,, Jun-ki masuk dan lansgung menyatakan bahwa dirinya ingin memberitahukan yg sebenarnya kpeada Dong-gu..


“Memangnya kenapa????”

“Dong Gu sedang menangis sekarang.”

“Kenapa kakaku menangis? Dan apa kaitannya dia menangis dengan kita?”

“Seo-jin.. Apa kamu memiliki hati nurani?”

“Apa maksudmu? Apa kaitan hati nurani dengan ini?”

“Tidakkah kamu merasa bersalah?”

“Kamu tidak merasa kasihan kepada Dong Gu?”

“Kenapa aku harus kasihan kepada Kakakku?”

“Bagaimana bisa kamu bersikap ini? Aku bahkan tidak bisa menatap Dong Gu”


“Jun Ki oppa, apa yang terjadi adalah kesalahan yang kita lakukan setelah minum-minum. Tidak perlu merasa bersalah...”

“Sungguh, aku tak percaya ini. Tidakkah kamu malu di depan Sol? Aku tak mengerti, mengapa kamu sangat tidak tahu malu..” 

“Tidak tahu malu? Jun Ki oppa, kurasa kamu terlalu gelisah saat ini. Tidurlah. Kamu akan merasa lebih baik setelah tidur...”


Soo-ah menertawakan kelanjutan kisah novel online buatan du-shik, dan itu membuat Du-shik bertanya: “Kenapa kamu tertawa?”

“Aku tertawa karena tidak memercayainya... Presiden Amerika menjadi zombi dan melakukan bela diri? Itu tidak masuk akal...”

“Presiden Amerika terlahir kembali sebagai Bruce Lee”

Tak ingin membahas itu, Dushik bertanya: “Sampai kapan kamu akan di sini?”

“Sampai aku menangkap bedebah itu...”

“Sebentar lagi jam kerjaku selesai, jadi, segeralah berganti pakaian...”


Tibat-iba ponsel Du-shik berdering. Ada tepon masuk dari si pelanggan rese yg minta  dibawakan 5 bungkus ramen yg telah disebuh,

“Tapi, jam kerja saya sebentar lagi selesai..” jawab Du-shik

“Kalau begitu kamu bisa mengantarkannya sambil pulang..” ujar si pelanggan rese


Dengan terpaksa, Du-shik mengantarkan ramen ke toko si pelanggan. Namun disana, lagi-lagi dia diperlakukan dengan kasar. Mulai dari, dibentak karena dianggap lelet, kemudian dilempari uang bayaran.


Melihat Du-shik yg terlalu ‘sabar’, membuat Soo-ah jengkel, “Karena kita sudah di sini, kenapa kita tidak makan daging? Aku yang traktir.”

“Kenapa tiba-tiba makan daging? Kita pergi saja...”


Karena berposisi sebagai pelanggan, Soo-ah sengaja melakukan hal yg serupaka dengan apa yg dilakukan si pelanggan rese pada mereka,

“Bawakan dua porsi daging dan satu botol soda sekarang. Aku ingin dagingnya dimasak. Aku tidak ingin memanggangnya sendiri...” ujar Soo-ah

“Apa katamu?”

“Kenapa? Kamu tidak mau? Jika pelanggan meminta sesuatu, lakukan saja!”

“Dasar bedebah, beraninya kamu meremehkanku!”

“Kenapa? Apa itu membuatmu kesal? Bukankah pelanggan boleh meremehkan pegawai?”


Kemudian, Soo-ah mengelap ingusnya dan membuang tissue-nya ke lantai begitu saja,

“Kenapa kamu membuangnya di sini?!”

“Harga dagingnya termasuk biaya membersihkan, bukan? Itu persis dengan yang kamu katakan tadi...”

“Bedebah. Kamu pasti sudah gila!”

“Apa katamu? Bedebah? Apa kamu baru saja menyebut pelangganmu bedebah? Astaga. Pemiliknya memperlakukan pelanggan seperti sampah.”


Tak cukup disitu saja, Soo-ah kemudian berakting dihadapan semua orang, dengan meunjukkan kondisi tangan kirinya yg kesakitan, “Apa yang baru saja kamu lakukan? Apa kamu baru saja memukulku? Gadis lemah sepertiku?”

“Aku tidak memukulmu. Aku hanya memegang bahumu dengan lembut.”

“Lihat bagaimana lenganku terjuntai. Bahuku pasti patah. Du Shik. Laporkan dia ke polisi. Aku sangat kesakitan!”


Beberapa saat kemudian, si pelanggan rese akhirnya meminta maaf kepada Soo-ah,

“Maafkan aku...”

“Hanya itu saja?”

“Kumohon, maafkan aku...”

“Kamu harus mengatakan itu kepadanya (Du-shik) juga...”

“Kumohon maafkan aku. Kumohon, maafkan semua kesalahanku...”


Dengan nada bicara sinis, Soo-ah memberikan nasihan sekaligus ancan untuk pria itu: “Dia (Du-shik) mungkin terlihat bodoh, tapi ibunya makan sup rumput laut setelah melahirkannya dan merayakan itu. Mengerti? Jadi, kamu tidak berhak meremehkannya. Dia bukan budakmu yang bisa kamu remehkan dan perintah. Jika aku melihatmu memperlakukannya seperti itu lagi, entah apa yang mungkin kulakukan kepadamu!”


Dalam perjalanan pulang, Du-shik tersenyum bangga, “Soo Ah. Astaga.. Kamu mengagumkan. Aku merasa jantungku akan copot karenamu”

“Jadi, jika kamu melihat seseorang memanfaatkan atau menyulitkan orang yang lemah, jangan membiarkan mereka. Jika kamu biarkan, mereka berpikir tidak apa-apa bersikap seperti itu. Kamu hanya akan menjadi budaknya..”

“Baiklah. Tidak akan kubiarkan lagi...”


Tapi kemudian, Soo-ah bertingkah manja. Dia minta tasnya dibawakan dan minta dibelikan tteokbokki.

“Aku akan membelikanmu tteokbokki. Tapi, tunggu sebentar... Soo-ah yaaa, bukankah kamu memanfaatkanku saat ini?”

“Bagaimana mungkin ada hal semacam itu di antara teman? Aku tidak memanfaatkanmu... aku hanya meminta bantuanmu.. Jadi, tunggu apa lagi? Pergi dan belikanlah apa yg kuminta!”


Yoona selesai membuat kue, dan dia menerima pujian dari Hyung-joon, “Lihat? Sudah kubilang kamu bisa melakukannya dengan sedikit latihan.”

“Terima kasih. Aku sangat berutang kepadamu, Hyung Joon...”


“Yoona-ssi, Kenapa kamu ingin menjadi seorang koki pastri?”

“Begini... Ini sedikit memalukan, tapi aku orangnya ceroboh dan selalu membuat kesalahan konyol. Tapi untuk kali pertama, aku dipuji. Orang-orang bilang roti yang kupanggang enak. Kupikir ini mungkin satu-satunya hal yang bisa kukuasai. Aku akan bekerja keras dan memastikan aku sukses. Aku akan membuka toko roti sepertimu. Aku ingin membiarkan Sol melakukan apa pun yang dia inginkan.”

“Begitu rupanya. Yoona.... Mulai sekarang, jika kamu punya waktu, datanglah ke sini untuk berlatih. Aku akan memberi tahu stafku bahwa kamu akan datang.”

“Benarkah? Terima kasih.”


Jun-ki terbangun dari tidurnya, karena bermimpi buruk tentang Olivia yg mendatanginya dalam kondisi berdarah-darah.


Buru-buru, Jun-ki membangunkan Seo-jin dan mengajaknya untuk memberitahu Dong-gu tentang semuanya, saat ni juga!

“Jun Ki, oppa.... Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu terus bersikeras untuk memberi tahu hal itu, kepada Kakakku?”


Enggan menjawabnya, Jun-ki bergegas keluar untuk menemui Dong-gu, yg kini tengah mengelap bagisn-bagian kameranya yg telah rusak,

“Dong Gu. Ada sesuatu yang perlu kuakui kepadamu.”

“Ada apa?”

“Sebenarnya, aku dan Seo Jin...”


Kalimatnya terpotong, karena Seo-jin datang dan langsung mengomelinya, “Ada apa denganmu? Apa kamu gila? Kamu sungguh akan bersikap begini?”

“Berapa lama lagi kamu akan menyembunyikan ini darinya? Kamu tidak kasihan kepadanya? Berapa lama lagi kamu akan bohong? Jika terus bersikap seperti ini, pada akhirnya dia akan mendatangimu. Olivia akan...”


“Apa yang kamu bicarakan?” tanya Dong-gu

“Seo Jin. Katakanlah kepadanya. Ini kesempatan terakhirmu untuk menebus dosa...”

“Astaga. Kamu membuatku gila. Apa yang harus kita katakan kepadanya? Kenapa dia harus tahu?”

“Seo Jin. Apa kamu benar-benar akan terus bersikap seperti ini?”

“Baiklah. Aku akan memberitahunya. Kamu puas? Ini membuatku gila.”


“Apa yang kalian berdua lakukan?” 

“Entah kenapa aku harus memberi tahu ini kepada kakakku...”

“Ayo katakanlah.”

“Kakak. Sebenarnya... Kemarin, setelah minum-minum... Kami sedikit mabuk. Aku dan Jun Ki...”

“Ada apa? Kenapa kamu lama sekali?”

“Kami berciuman..”


Mendengarnya, sontak membuat Jun-ki dan Dong-gu kaget bukan main,

“Apa yang kamu bicarakan? Kenapa aku mau melakukan itu denganmu?” tanya Jun-ki

“Bukankah kamu membicarakan tentang ciuman itu?” ujar seo-jin

“Apa yang kamu bicarakan? Aku bicara tentang bagaimana kita merusakkan kamera Dong Gu kemarin” ungkap Jun-ki


Dong-gu benar-benar marah, “Jadi singkatnya, kalian minum bersama kemarin dan merusakkan kameraku. Sebelum itu, kalian minum-minum bersama dan berciuman. Berciuman? Kalian berdua? Benarkah itu? Sungguh?”

“Kak, itu... Itu sebuah kesalahan” Seo-jin

“Kesalahan?!” bentak Dong-gu

“Dong Gu, tenanglah...” pinta Jun-ki

“Tenang? Bagaimana aku bisa tenang sekarang!” teriak Dong-gu
Comments


EmoticonEmoticon