3/17/2018

SINOPSIS Eulachacha Waikiki Episode 10 PART 1

SINOPSIS Laughter in Waikiki Episode 10 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS Eulachacha Waikiki Episode 9 Part 4

Dong-gu tengah melamun di ruang tengah, sembari membersihkan kamera kesayangannya. Soo-ah yg melihatnya, langsung bertanya: “Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Aku tidak bisa tidur...”

“Kenapa kamu terlihat begitu murung?”

“Kemarin, kamu bertanya padaku apa aku siap menghadapi semua permasalahan Yoona. Dan kurasa, sepertinya aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Aku tidak yakin dengan jawabanku...”

“Tentu saja. Itu tidak mudah.”

“Ini kamera Dong Gu. Seo Jin, bagaimana ini? Aku merusak kamera Dong Gu. Apa yang harus kulakukan?”


Daripada membiarkanya menggalau sendirian, Soo-ah mengajak Dong-gu untuk minum bersamanya di rooftoop.


Beberapa saat kemudian, Jun-ki dan Seo-jin pulang dalam kondisi yg telah mabuk berat, hingga jalannya pun sempoyongan. Mereka saling dorong, hingga tak sengaja badan Jun-ki menyenggol kamera Dong-gu hingga terjatuh dan hancur berkeping-keping.


Jun-ki melihatnya, bahakn sampai memegang serpihan lensa yg telah terpisah dari badan kamera.. namun dia tak menunjukkan sikap bersalah atau panik sedikit pun, karena pengaruh alkohol yg membuatnya tak sadar dengan apa yg telah dilakukan olehnya.


Esok paginya,.. Soo-ah, Dong-gu dan Du-shik duduk di ruang tengah. Soo-ah mengeluhkkan kondisi perut dan badannya yg kurang enak, karena semalam dia minum lumayan banyak alkohol bersama dengan Dong-gu.


Kemudian, Soo-ah menerima telpon.. dari kantor polisi, yg membuatnya langsung kesal dan menggerutu.. “Astaga, mereka terus memintaku untuk menunggu!” gerutunya

“Memangnya, mereka masih belum menemukan penipu bernama Yoon-seok itu?”

“Belum. Sembunyi di mana dia? Begitu dia tertangkap, aku akan...”

“Jangan cemas. Dia akan segera tertangkap..”


Dong-gu bertanya: “Du Shik, kamu baik-baik saja?”

“Karena Mal Geum sudah pergi. Aku baik-baik saja. Itu kesempatan yang baik untuknya. Aku merasa senang untuknya. Lagipula, aku harus mulai menulis novel fiksi online lagi..” 

“Novel fiksi online!? Kukira cerita itu sudah tamat?!”

“Tapi para penggemarku memohon kepadaku untuk menulis lanjutannya.. Yaitu season ke-2.. . Sebenarnya, aku ingin istirahat sebentar, tapi sebagai penulis, aku tidak bisa berpaling dari permintaan penggemar...”


Di dapur, Soo-ah tengah menyuapi Sol dan dia pun telah menyiapkan sup pereda mabuk untuk sarapan, karena dia tahu bahwa mayoritas penghuni rumah, minum banyak tadi malam.


Seo-jin dan Jun-ki masih belum keluar dari kamarnya dan orang-orang tahu, kalau mereka habis minum bersama tadi malam, “Mereka selalu bertengkar, tapi tampak tidak terpisahkan. Mungkin mereka akan saling mencintai..” celoteh Soo-ah

“Apa? Cinta? Hal buruk macam apa itu? Seo Jin adalah adik tersayangku. Dia pantas mendapatkan yang lebih daripada orang tidak berguna itu...” ujar Dong-gu

“Memang, apa yg salah dengan Jun-ki??” tanya Soo-ah

“Aku tidak bilang dia pria yang buruk. Tapi aku tahu semua tentangnya dan kurasa, dia tidak cukup baik untuk adikku..” jelas Dong-gu


Tak lama kemudian, orang yg barusan dibicarakan pun datang. Dong-gu langsung bertanya: “Apa yang terjadi? Kenapa kalian minum bersama tadi malam? Di mana dan kapan kalian selesai?”


Lucunya, mereka benar-benar lupa secara detail kejadian kemarin, bahkan Jun-ki sampai bertanya pada Seo-jin, “Pukul berapa kita pulang tadi malam?”

“Aku tidak sadar. Aku tidak ingat apa pun” jawab Seo-jin

Beberapa saat berpikir, Seo-jin kemudian menjelaskan beberapa hal yg masih dia ingat, “Kami mulai minum soju sekitar pukul 19.00. Setelah itu, kami memesan bir. Kemudian, kami makan mi dengan siput laut. Kami ingin mengakhirinya dengan sup kue ikan dan makgeolli. Tapi pemilik tempatnya memberikan kami kimchi tahu gratis, jadi, kami pesan soju lagi. Kami mulai minum soju dan...”


Bak tersetrum aliran listrik tinggi, Seo-jin teringat insiden ciuman tadi malam. Dia benar-benar kaget, hingga tak sanggup melanjutkan ceritanya..

Begitu pun dengan Jun-ki. Tapi konyolnya, insiden yg mereka ingat berbeda.. Jun-ki tak mengingat ciuman itu dan hanya ingat insiden rusaknya kamera kesanyang Dong-gu.


“Ada apa? Apa yang terjadi? Terjadi sesuatu di antara kalian berdua?” tanya Dong-ggu

“Tidak terjadi apa-apa. Memangnya bisa terjadi apa..” jawab Seo-jin dengan gelisah, “Aku mau mandi” tambahnya

“Aku mau tidur lagi..” ujar Jun-ki


Jun-ki memastikan memorinya, dan ternyata memang nyata.. kamera Dong-gu telah benar-benar hancur, “Astaga, itu bukan mimpi. Itu sungguh terjadi. Dong Gu akan sangat marah jika mengetahui ini”


Seo-jin pun dibuat panik dan keheranan dengan insiden malam tadi, “Aku pasti sudah gila. Kenapa? Kenapa aku menciumnya?”


Jun-ki buru-buru menghampiri Seo-jin dan bertanya: “Kamu ingat apa yang terjadi semalam?”

“Kamu mengingatnya juga?”

“Tentu saja. Aku tidak memercayainya.  Sekarang kita harus bagaimana?”

“Oppa, bisakah kita melupakannya saja?”

“Melupakannya? Bagaimana kita bisa melupakannya?”

“Lagipula, itu sudah terjadi... Kenapa tidak bisa? Itu hanya akan menjadi rahasia antara kamu dan aku”


“Bagaimana jika Dong Gu tahu?”

“Apa? Kakak? Bagaimana dia bisa tahu? Dia tidak melihatnya”

“Tidak ada yg namanya rahasia di dunia ini”

“Apa maksudmu?”

“Tidak ada yang melihatnya. Jika kita diam, tidak akan ada yang tahu”

“Menurutmu begitu?”

“Ya. Jadi, mari kita rahasiakan ini sampai mati, paham!”


“Astaga, aku pasti sudah gila. Kenapa aku menciumnya? Aku mengutuk alkohol itu!” gumam Seo-jin


“Kenapa aku merusak kamera Dong Gu? Aku menyalahkan alkohol. Itu salah alkohol!!!!” gumam Jun-ki


Du-shik tengah bekerja paruh waktu, sambil melanjutkan kisah pada novel online buatannya. Setelah di Season 1 ‘Presiden adalah Bruce Lee’, diakhiri dengan karakter utamanya yg mati.. sekarang dia muncul dengan ide, presiden yg hidup kembali sebagai zombie dan akan bertarung melawan laien, “Sungguh ide yg sangat fantastis..” pujinya untuk dirinya sendiri


Seorang pelanggan dengan pakaian hitam yg agak tertutup, bertanya mengenai sebuah ramen dengan merk dari bahasa Tahiland. Du-shik bilang, ramen itu habis.. maka pelanggan itu pun, perg tanpa membeli apa pun.


Namun beberapa saat kemudian, Du-shik tersadar.. bahwa pelanggan barusan, kemungkinan besar adalah mantan pacaranya Soo-ah,


Dia mencoba untuk mengejar pelanggan itu, namun kehilangan jejak. Maka dia pun, segera menlpon Soo-ah..


Karena Yoona ada kelas masak, maka dia menitipkan Sol pada Dong-gu. Dan dengan senang hati, Dong-gu mbersedia melakukannya..


Namun tak sengaja, mainan Sol terjatuh di sekitar meja tempatnya menaruh kamera tadi malam. Ketika mengambilnya, Dong-gu dibuat sangat terkejut karena melihat kameranya yg telah hancur, “Siapa yang menjatuhkan ini? Astaga. Ya ampun. Apa yang terjadi pada kameraku? Siapa yang merusakkannya?!” teriaknya kesal


Tak lama kemudian, muncul Jun-ki dan Seo-jin. Mereka lansgung ditanya, apakah mereka yg merusaknya?

“Ti.. tidak...” jawab Jun-ki dengan begitu gugup

Namun dengan begitu santai, Seo-jin mengatakan bahwa dirinya sama sekali tak mengetahui atau bahkan melihat kameranya Dong-gu, di malam tadi.


Berikutnya, Dong-gu menelpon Du-shik untuk menyakan pertanyaan yg sama. Namun Du-shik menegaskan bahwa dia takk mengetahui apa pun tentang kameranya Dong-gu.


“Siapa yang melakukan ini kepada kameraku? Begitu kutangkap, aku akan mematahkan tulang punggungnya. Kameraku yang malang. Siapa yang melakukan ini?!?!?” gerutu Dong-gu dengan emosi yg berapi-api


Dalam kamarnya, Seo-jin masih bertanya-tanya pada siirnya sendiri tentang insiden ciuman malam tadi, “Kenapa aku mencium Jun Ki? Apa aku tidak waras? Memang benar Jun Ki tampak memesona saat wawancara. Tetap saja... Kenapa? Kenapa????”


Ketika dia hendak melepas bajunya, tiba-tiba Jun-ki  datang. Seo-jin kaget, “Kalau mau masuk, harusnya ketuk pintu dulu!” celotehnya

“Maafkan aku. Tapi, ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu.”

“Apa?”

“Seo Jin-aaaa, ayo kita beri tahu Dong Gu tentang apa yang terjadi tadi malam...”

“Apa? Kenapa kamu terus ingin memberi tahu Kakakku?”

“Tidakkah kamu melihat Dong Gu? Jika Dong Gu mengetahuinya di kemudian hari, dia akan semakin marah. Aku sangat gugup karenanya...”


“Memang, bagaimana mungkin kakakku bisa mengetahui semuanya??”

“Seo Jin-aaa, tidak ada rahasia yang bisa bertahan lama di dunia ini. Jika dia tahu bahwa kita tidak memberitahunya, dia benar-benar bisa membunuh kita berdua. Bukankah kamu lebih mengenal sifat Dong Gu? Mari mengaku saja kepadanya....”

“Baiklah, anggap saja kita mengaku. Lantas kamu pikir Kakakku akan memakluminya? Begitu dia tahu, hidupku dan kamu benar-benar tamat. Mending, hapus saja semuanya dari ingatanmu. Tidak akan ada yang pernah tahu jika kita tetap diam.”


“Kenapa dia mau memberi tahu Kak Dong Gu tentang ciuman kami? Apa dia tidak waras?” gumam Seo-jin yg masih salah persepsi tentang insisden apa yg sebenarnya membuat masing-masing dari mereka begitu khawatir


Begitu pun dengan Du-shik, yg kelihatannya begitu panik sekalligus cemas: “Apa Dong-gu tidak akan tahu jika kami tutup mulut? Seo Jin sangat jahat. Bagaimana dia bisa tetap diam setelah merusakkan kamera kakaknya? Aku takut bertemu dengan wanita seperti dia...”


Soo-ah mendatangi minimarket, tempat Du-shik bekerja. Dia melaporkan kejadian barusan pada polisi dan memberikan bukti, berupa rekaman CCTV. Namun masih sama seperti sebelumnya, polisi hanya memintanya untuk menunggu.. hasil penyelidikan berikutnya.


Merasa jengah, Soo-ah memutuskan untuk berjaga dan mengintai di tempat ini.

“Kamu bisa melakukannya, tapi apa dia tidak akan lari jika kamu di sini seperti ini?” komen Du-shik

“Lantas, apa yang harus kulakukan?” tanya Soo-ah


Beberapa sata kemudian, Soo-ah berganti pakaian mengenakan seragam pekerja pruh waktu, “Astaga, desainnya terlihat sangat murahan. Seragam macam apa ini?” gerutunya kesal

“Apa yang bisa kamu harapkan dari seragam pekerjaan paruh waktu..” ujar Du-shik, yg kemudian bertanya, “Sampai kapan kamu menunggu di sini?”

“Sampai aku menangkap bedebah itu. Kenapa? Tidak boleh?” tanya Soo-ah

“Boleh-boleh saja sih...” jwab Du-shik yg kemudian pergi untuk menata barang, dan meminta Soo-ah untuk tetap diam dan menjaga kasir
Comments


EmoticonEmoticon