3/30/2018

SINOPSIS The Great Seducer Episode 11 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Great Seducer Episode 11 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS The Great Seducer Episode 11 Part 1

Dokter Myung menjadi relawan di panti jompo milik Grup JK. Disana, dia memeriksa kondisi kesehatan para nenek, serta mendengarkan keluh kesah mereka.


Seusai merampungkan tugasnya, dia berjalan melewati lorong, dimana terpajang beberapa foto. Salah satunya, adalah foto Shi-hyun semasa kecil, “Aku tidak pernah melihat fotonya waktu sekecil ini. Dia sangat mirip dengan ayahnya...” komennya


Namun, ketika melihat foto ibunya Shi-hyun, diia berkata: “Lama tidak jumpa. Apa kamu keberatan melihatku di sini? Aku menyesal. Tapi aku tidak akan minta maaf. Aku tidak melakukan kesalahan....”


Sekilas, teringatlah dia kejadian di masa lampau.. ketika dia terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil. Entah seperti apa, siatuasi yg sesungguhnya.. tapi kelihatannya, dokter Myung menabrak mobil yg dikendarai oleh ibunya Shi-hyun.


Seorang perugas panti menghampirinya, “Dia manis, ya? Usianya sudah 20 tahun. Para nenek di sini menyukainya” ujarnya sambil menunjuk foto Shi-hyun

“Dia rutin kemari?”

“Tidak, dia baru mulai datang belum lama ini”


Di villa, Shi-hyun berjalan ke dapur ketika Soo-ji dan Se-joo tengah menyiapkan sarapan. Dia heran, karena hanya da tiga piring disana.. Soo-ji kemudian memberitahukan, bahwa  Tae-hee sudah pergi, bahwakan sebelum semuanya bangun pagi tadi.

“Sudah pergi? Kenapa dia tidak memberitahuku?!” gerutu Shi-hyun


Di pintu kulkas, Tae-hee meninggalkan pesan pada secarik kertas, yg bersisi: ‘Aku lupa bilang, aku harus pulang lebih awal. Terima kasih banyak. Selamat bersenang-senang’

Setelah membaca pesan tersebut, Shi-hyun pamit karena dia ingin mengejar Tae-hee. 


Melihat sikap Shi-hyun, membuat Soo-ji bertanya pada Se-joo: “Lihatlah.. apa Shi-hyun hanya berniat mempermainkannya, ataukah dia sedang berakting supaya terlihat mempermainkannya dihadapan kita?”


Tae-hee sendiri, tengah berjalan sendiiran dalam kondisi kakinya yg masih agak pincang. Merasa lelah, dia pun duduk di salah satu bangku taman, “Tidak seharusnya aku terlibat dalam hubungan mereka. Kenapa perasaanku begini?” gumamnya


Ponselnya berdering, ada telpon masuk dari Shi-hyu.. tapi Tae-hee sengaja tak mengangkatnya,


Namun tak lama kemudian, Shi-hyun muncul dihadpannya, “Astaga.. Eun Tae-hee, Kenapa kamu tidak menjawab telpon dariku?”

“Nanti aku ingin melihatmu, jika mendengar suaramu”


Shi-hyun jongkok di depan Tae-hee, lalu memintanya untuk naik ke pundaknya.. biar digendong olehnya. Tae-hee menolak, namun pada akhirnya dia bersedia..


Perlahan, Shi-hyun berjalan sambil menggendong Tae-hee yg berkata bahwa tempat inni sangat indah, rasanya pasti menyenangkan kalau mengajak para nenek untuk datang kesini..

“Terima kasih sudah datang untukku...” ucap Tae-hee

“Kenapa kamu pergi lebih dahulu?”

“Aku ada janji”

“Apa semalam membosankan?”

“Tidak. Semuanya baik kepadaku, kecuali kamu”

“Ada yang terjadi?”

“Aku bilang tidak”


Mengalihkan topik pembicaraan, Tae-hee bergegas mengajak Shi-hyun untuk berfoto, “Aku datang untuk bersenang-senang, tapi tidak mengambil foto...” ujarnya


“Kamu bisa memintaku untuk memotretmu”

“Ayo ke tempat yang kamu ingin mengajakku melihat bintang”

“Tidak bisa. Jika tidak berangkat sekarang, jalanan akan macet”

“Kamu bisa menggendongku sampai ke Seoul”

“Untuk menggendongmu ke Seoul, kita harus menginap semalam”


“Kenapa tidak? Mari kita bergandeng tangan....” ujar Tae-hee yg kemudian bertanya, “Kamu menyusul karena mencemaskanku?”

“Tidak..”

“Bohong ah.. Matamu tidak bisa bohong..”

“Aku tahu, Orang bilang mataku seperti cermin Cinderella”


“Pasti, Se-joo yg bilang hal itu.. Karena yang punya cermin itu Putri Salju”

“Bagaimana kamu bisa tahu?”

“Kamu pasti tidak baca ceritanya, yaaa....”


Soo-ji pulang bersama dengan Se-joo.. sepnajnag perjalanan, dia ibuk memposting foto mereka beritga, sambil menggerutu.. menyuruh Se-joo untuk tidak salah jalan lagi.


Namun sesaat kemudian, Se-joo malah membawanya ke sebuah tempat memancing yg sangat sepi.. 


“Duduklah, Hanya memancing yang paling bisa membuat pikiran tenang...” ujar Se-joo

“Yang benar saja... Kamu paling bisa membuat orang marah! Aku akan pulang, naik taksi!”

“Hanya satu jam saja..”


“Kamu bisa memancing? Ayahmu yg mengajarimu?”

“Kamu gila? Untuk apa aku kemari dengan ayahku? Jika kulakukan, dia sudah mengikat satu balok timah di kakiku dan aku sudah lama menjadi makanan ikan”

“Aku ingin menjadikanmu makanan ikan sekarang!”

“Ini tempat ideal untuk bersembunyi saat kabur dari rumah. Siapa yang menyangka seorang remaja akan kemari? Di sini menyenangkan. Di sinilah aku meminum soju pertamaku”

“Kamu bangga dengan itu? Berapa ikan yang mau kamu tangkap? Katakan sekarang. Akan kutangkap semuanya!”

“Aku tidak mau menangkapnya. Tujuanku bukan menangkap ikan. Semua ikannya ada di sana dan aku di sini. Itu sudah cukup...”

“Dasar aneh...”


“Pergilah jika kamu mau...”

“Tadi kamu menghalangiku, sekarang mau aku pergi?”

“Kamu tidak suka sendirian, kecuali waktu belanja”

“Kamu terlalu mengenalku. Itu menyebalkan...”

“Dengar.. Seorang nelayan pernah menyuruh umpannya untuk menangkap ikan. Tapi umpan itu malah berteman dengan si ikan. Umpan itu berpikir, haruskah dia kabur dengan selamat dari kail itu dan tenggelam? Atau-----”


“Omong kosong apa ini?!”

“Menurutmu kenapa Tae Hee pergi?”

“Mana aku tahu!”

“Anggaplah kamu sungguh ingin tahu apakah Si Hyun tertarik kepada Tae Hee atau tidak. Karena itu, kamu merencanakan perjalanan ini untuk melihat mereka. Tapi tahukah kamu? Kamu sudah menjadi nelayan tadi..”

“Lalu apa langkah berikutnya?”

“Kamu harus memberi tahu Tae Hee bahwa tidak ada tempat baginya dalam kelompok kita”

“Apa maksudmu?”

“Tapi kamu gagal. Kalau begitu, apa langkah terakhirmu?”

“Itu tidak lucu. Berhentilah mengarang cerita!”


“Apa yang kamu katakan kepadanya di kolam renang? Kamu bisa memberitahuku..” ujar Shi-hyun..

Namun karena, Soo-ji enggan menjwabnya dan hanya menatapnya.. maka Se-joo bertanya: “Kenapa kamu melihatku seprti itu? Kamu tertarik padaku?”

“Sudah cukup?! Ini tidak lucu..”
Advertisement


EmoticonEmoticon