3/17/2018

SINOPSIS The Great Seducer Episode 3 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Great Seducer Episode 3 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS The Great Seducer Episode 3 Part 1

Soo-ji histeris, dia berteriak keras.. dan bahkan sampai memecahkan gelas kaca yg dia genggam, hingga membuat telapak tangannya terluka.. dan meneteslah darah yg cukup banyak

“Letakkan itu. Mari kita bicara!” pinta dokter Myung

“Apa lagi yang Ibu inginkan dariku? Apa lagi yang harus Ibu renggut dariku?!” jerit Soo-ji


Tak lama kemudian, Shi-hyun tiba. Namun Soo-ji tetap berteriak, menyuruh mereka semua untuk pergi meninggalkannya sendirian, “Jangan mendekat!!!!”

“Soo Ji, dengar! Kendalikan dirimu! Aku di sini. Bicaralah denganku..” pinta Shi-yun yg perlahan berjalan mendekati Soo-ji, kemudian memeluknya.


Sontak, tangis Soo-ji pecah.. dia melihat luka di pelipis Shi-hyun lalu bertanya, “Apa yang terjadi kepadamu? Kamu terluka?”


“Tidak, aku baik-baik saja. Ini bukan apa-apa. Tenanglah. Semua akan baik-baik saja..” jawab Shi-hyun


Beberapa saat kemudian, sambil duduk di sofa.. Shin-hyun mendekap Soo-ji dalam pelukannya. Diam-diam, Se-joo memerhatikan interaksi mereka, dengan tatapan ‘cemburu’, namun dia memilih untuk tak berkomentar apa pun.


“Semua orang yang kusukai meninggalkanku..” ucap Soo-ji dengan suaranya yg bergetar

“Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku ada di sisimu. Jangan khawatir. Aku ada di sisimu. Aku ada di sisi Choi Soo Ji” tegas Shi-hyun


Dari luar, dokter Myung terdiam memerhatikan mereka. Dia tak mengatakan apa pun, namun ekspresinya.. sangat jelas, menunjukkan rasa cemas yg begitu besar.


Dalam toilet, dokter Myung terduduk lemas. Itu membuktikan perasaannya yg memang tengah bersedih tak karuan. 


Sementara itu, Pak Kwon terlihat berdiri merenung, tepat di depan poster pameran Bu Seol...


Dan Soo-ji, dia telah terlelap tidur.. Shi-hyun duduk disampingnya, kemudian menggengam telapak tangannya, yg kini telah dibalut perban~


Se-joo dimarahi habis-habisan oleh ayahnya, karena dianggap telah merusak mobil milik ayahnya Shi-hyun. Dihadapan seluruh saudaranya, dia dipukul berulang-kali.. dan itu terjadi, atas intruksi dari ayahnya.


Tapi tiba-tiba.. datanglah Nyonya Oh yg langsung berlutut dihadapan Tuan Lee sambil berkata: “Tolong tenanglah, Tuan.... Se-joo tidak bersalah. Pukul saya saja.. Awalnya saya kira, saya bisa mendidiknya dengan baik di sekolah dan di rumah dengan segenap kemampuan saya selama tiga tahun dia SMA, supaya dia bisa menyadari betapa saya menyayanginya. Tapi semua itu tidak cukup. Jadi, ini semua adalah kesalahan saya, Tuan...”


Karena ucapan Nyonya Oh, maka hukuman Se-joo dihentikan. Dan berikutnya, Tuan Lee makan bersama dengan seluruh putranya.

“Suruh Jeong Won duduk di kursi di ujung sana!” tegas Tuan Lee

“Itu kursi Ibu!” tukas Se-joo

“Diam! Jika kamu ingin didengar, lanjutkan pendidikanmu. Atau hasilkan uang. Sudah cukup yang kulakukan untuk membesarkan kalian. Aku mau cucu sulungku duduk di sana. Ada masalah?” papar Tuan Lee


“Tuan,.. Jeong Won masih kelas 3 SMA. Jadi, dia pergi ke sekolah pagi-pagi sekali. Lain kali, aku akan memberitahunya dan memastikan dia datang makan bersama disini..” jelas Nyonya Oh


“Kalau begitu, kamu bisa duduk. Jangan ganggu studinya..” ujar Tuan Lee, yg tentunya membuat Nyonya Oh kegirangan bukan main,


“Sebagai gantinya, carikan sekolah tempat kita bisa membuangnya (Se-joo)!!!” perintah Tuan Lee

“Baik. Saya akan berusaha untuk mencarikannya tempat kuliah, Tuan..” jawab Nyonya Oh


Meski tak berkomentar apa pun, tetapi nampak jelas di wajah Se-joo bahwa dia sangat benci dengan situasinya saat ini..


Soo-ji terbangun dari tidurnya.. dia terlihat kaget, begitu melihat tepalak tangannya yg telah dibalut perban.


Setelah sebelumnya bersikap seperti malaikat penyelamat Se-joo... Sekarang, Nyonya Oh, berubah jadi penyihir jaaat, yg sengaja meminta tukang untuk mengganti passcode kunci kamar Se-joo hingga membuatnya tak bisa kabur kemana pun.


Se-joo tak melawan.. namun segera setelah pintu kamarnya ditutup, dia mengambil salah satu ponselnya, kemudian menelpon Shi-hyun, “Hei, ku tahu ada orang yang sangat mirip dengan Jeon Do Yeon (nama aktris) di rumahku. Aktingnya makin lama makin piawai. Bagaimana mungkin dia hidup dengan bakat sebesar itu?”


Shi-hyun tak mau mengomentari hal itu, dia malah bertanya tentang sikap Se-joo yg secara sukarela mengakui kesalahan yg jelas-jelas tidak dilakukan olehnya, “Harusnya kamu tinggalkan mobilnya di sana. Kenapa mau disalahkan?”

“Kamu tidak punya tempat tujuan dan uang. Mereka tidak bisa mengusirmu karena aku yg mencuri mobil ayahmu..” jelas Se-joo, “Pastikan kamu mengamankan kamarku..” pintanya

“Baiklah. Maafkan aku... Tapi, sampai kapan kamu dikurung disana?” tanya Shi-hyun


“Aku hanya perlu tetap diam di tempat, seperti selembar tisu basah. Karena penyelamatku akan mencariku..” 

“Benar juga katamu. Eh, omong-omong... bagaimana kondisi Soo Ji?”

“Entahlah. Aku belum menghubunginya”

“Wajar. Lagipula, apa yang bisa kalian bicarakan sekarang?”


Dokter Myung mendatangi Soo-ji. Dia bertanya sekaligus menceramahi Soo-ji terkait insiden tadi malam, “Sejak kapan kamu minum pil itu? Biar ibu jelaskan. Obat penenang yang kamu konsumsi tidak boleh diminum dengan alkohol. Kamu tidak akan tahu kapan kamu akan pingsan dan tidak menyadari hal-hal yang akan kamu lakukan. Mengerti?”

Soo-ji bertanya balik, “Kenapa tidak bilang sebelumnya? Kenapa baru sekarang?” 

“Karena kamu tidak minum alkohol sebelumnya” jawab dokter Myung

“Jadi, Ibu tahu bahwa putri Ibu yang masih SMA mengonsumsi obat penenang, tapi tidak menjadi masalah, hanya karena dia tidak minum alkohol. Begitu maksudnya?” tanya Soo-ji


“Jangan kekanak-kanakan! Semua orang punya penyakit.. Ibu yakin mereka yang tahu bahwa mereka butuh obat dan mengomsumsinya justru membuatnya lebih sehat. Itu yang Ibu yakini sebagai Dokter Myung...” jelas dokter Myung yg kemudian bertanya “Siapa yang memberikan resep itu untumu?” 

“Jangan khawatir. Dia bukan tukang obat..” jawab Soo-ji

“Choi Soo Ji!!!!” betak dokter Myung

“Aku senang Ibu belum memanggilku Kwon Soo Ji” ujar Soo-ji, “Itu obat Ibu. Ibu tidak tahu?” tambahnya


Enggan mengomentari hal tersebut, dokter Myung malah berkata: “Kepalaku sakit. Aku harus pergi bekerja..”


Berpindah ke sebuah kuil, disana terlihat Nyonya presidr ditemani menantunya (?) yg tengah memberikan penghormatan kepada mendiang ibunya Shi-hyun dan seorang pria (mungkin putranya?). 


Pak Kwon ada disana juga, tapi dia datang terlambat dan hanya memerhatikan prosesi dari depan pintu. 


Dia berbohong dengan menjelaskan pada presdir, bahwa Shi-hyun tidak bisa datang karena ada acara dengan teman-temannya.

Presidr bertanya, “Kamu terlihat lelah. Apa karena pekerjaan?”

“Aku baik-baik saja”

“Jika kamu tidak bisa mengurus dirimu, bagaimana ibu bisa tenang dan menyerahkan perusahaan kepadamu..”


“Selamat atas pernikahan Paman..”

“Apa menyampaikan kabar pernikahanmu pada saat itu adalah gagasanmu?”

“Maafkan saya...”

“Semua kerugian yang disebabkan Bio Medicine ke grup kita tidak bisa dihilangkan hanya dengan mengganti kerugian itu. Semua akan kacau jika peluncuran Tiuzen dibatalkan. Itu satu-satunya alasan ibu mengizinkanmu menikahinya”

“Ya, saya mengerti..”

“Ibu mengizinkanmu menjadi wakil presdir hanya karena Si Hyun. Semua yang tidak sempat kakakmu nikmati harus ditinggalkan untuknya dan Si Hyun..”

“Tapi bu,. Si Hyun ingin melakukan pekerjaan lain”


“Begitulah anak-anak saat masih muda. Dahulu kakakmu dan kamu pun seperti itu. Akan tiba harinya dia menerima bahwa hidup sebagai ahli waris adalah tugasnya. Dan tugasmu adalah membuatnya menerima itu. Ibunya Si Hyun meninggal seperti itu karenamu. Mustahil dia mau menurutimu. Jangan paksa dia”


“Jika kamu tidak yakin, dia bisa mengambil dan mendidiknya. Si Hyun menuruti semua perkataannya”

“Aku akan bicara dengan Si Hyun di lain waktu, Bu...”
Advertisement


EmoticonEmoticon