3/23/2018

SINOPSIS The Great Seducer Episode 5 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Great Seducer Episode 5 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS The Great Seducer Episode 5 Part 1

Setelah terus-terusan berkata manis, mulailah Nyonya Park menyinggung soal pernikahan ibunya Soo-ji yg sangat mendadak, “Omong-omong, sepertinya kamu tidak tahu bahwa ibumu akan menikah...”

Sambil menunjukkan senyuman palsu, Soo-ji menjawab: “Itu kejutan, jadi, aku pura-pura tidak tahu”


“Oh.. Begitu rupanya. Dia senang membuat lelucon..” komen Nyonya Park, yg padahal dalam hatinya bergumam, “Sungguh pandai berbohong. Kamu bahkan tidak berkedip..”


Bak bermain telepati, mereka saling bertatapan tajam dan melontarkan umpatan untuk satu sama-lain, dalam benaknya saja,

SOO-JI: “Aku tahu ibuku sengaja mengalah kepadamu, jadi, pasti kamu pun meremehkanku...”

Ny. PARK: “Lihat caranya membantah semua ucapanku. Dasar tidak sopan..” 

SOO-JI: “Tidak ada yang bisa kamu lakukan meski kamu menganggapku tidak sopan! Aku bagian dari Grup JK”


Melihat sikap mereka, membuat Hye-jung bertanya: “Sedang apa kalian? Bertelepati?”


Enggan menjawabnya, Nyonya Park memilih pamit pergi, untuk melanjutkan kegiatan membaca buku favoritnya.


Agak sedikit ‘lucu’, karena dia punya rak rahasia.. dimana tersimpan, begitu banyak buku yg berkonten romansa dan ‘dewasa’


Soo-ji diajak masuk ke kamarnya Hye-jung.. disana, Hye-jung langsung mengungkapkan perasaannya, yg sesungguhnya.. dia tidak suka main selo dan sadar bahwa permainannya sangatlah tidak bagus. Maka dari itu, dia meminta bantuan Soo-ji untuk menjelaskan hal ini kepada ibunya, “Senar selo membuatku tercekik, dan piano mengikatku di dalam mimpiku. Itu sungguh menyiksaku...” tuturnya lirih

“Aku bukan guru lesmu!” tukas Soo-ji yg kemudian melepas blazer-nya, karena merasa kegerahan


“Astaga.. eonni, kamu seksi sekali..” puji Hye-jung, ketika melihat baju Soo-ji yg memperlihatkan hampir setengah bagian punggungnya,


Menganggap Soo-ji sebagai teman dekatnya, Hye-jung ingin memperkenalkannya pada ‘Tre’.. yg ternyata, merupakan kura-kura peliharaannya. 

Soo-ji yg tak sengaja menduduki kura-kura tersebut, sontak langsung berdiri kaget.. dia nampak sangat ‘geli’ melihatnya, tapi demi melancarkan aksinya.. dia berusaha mengontrol dirinya supaya terlihat biasa saja.


Berikutnya, dengan gaya yg sangat kekanakan, Hye-jung mengajaknya berfoto ‘selfie’.. tapi tiba-tiba, masuklah pelayan yg membawakan cupcakes, kiriman dari Ki-young, “Nyonya bilang akan berterima kasih kepadanya. Jadi, Nona tidak perlu meneleponnya”


Soo-ji membaca surat yg terselip dalam kotak kue, yg isinya: ‘Aku memikirkanmu saat menikmati cupcakes dari toko ini. Semoga ini menjadi hadiah yang manis untukmu (Dari Ki Young)’

Merasa kesal, Soo-ji langsung berkomentar: “Cara bicara macam apa ini? Pikirnya ini tahun 1900-an? Dikira dia pandai menulis puisi, apa!?!”


Terakhir, Soo-ji mengajak Hye-jung untuk berfoto lagi dengannya. kali ini, dengan ekspresi yg terlihat sangat riang.. seakan mereka adalah sahabat dekat~


“Setelah bertemu dengannya, aku merasa agak kasihan. Teman bicaranya hanya kura-kura. Jadi, selama beberapa saat, aku merasa bersalah dan berpikir akan menjadi kakak baginya. Tapi Ki Young... Dia mengiriminya cupcakes yg sangat imut...” curhat Soo-ji kepada Se-joo


Seperti orang yg kelaparan, Soo-ji terus berbicara sambil makan daging yg dibakarkan oleh Se-joo, 

“Ini porsi keempatmu...” sindir Se-joo

“Jangan ganggu aku. Aku butuh energi untuk perang!”

“Kamu tidak bisa perang jika gemuk..”

“Gemuk? Apa?”

“Maaf...”

“Berani sekali kamu mengatakan senjataku hanya tubuhku!”


Ketika suasana makin memanas, datanglah Shi-hyun.. yg lansgung terduduk lesu, sambil berkata: “Sial.. Aku gagal...”

“Apa lagi sekarang? Ada apa?”

“Dia tahu segalanya termasuk pertemuanku dengan ibunya Kyung Joo..”

“Apa Kyung Joo menceritakan itu? Bahwa ibunya dan kamu melakukan itu?”

“Apa? Tidak mungkin. Dia menjelek-jelekkan ibunya..”


Tapi kemudian, Se-joo penasaran akan jaminan yg menjadi bahan taruhan antara Soo-ji dan Shi-hyun. Niatnya, Shi-hyun ingin menceritakan semuanya.. tapi Soo-ji, buru-buru memotong kalimatnya dan memberikan jawaban palsu untuk  pertanyaan dari Se-joo.


Soo-ji bilang, jika diirnya kalah.. maka dirinya harus mogok makan dan kelaparan. Sementara, jika Shi-hyun yg kalah.. maka dia harus menyerahkan mobil kesayangannya.


“Aku sanggup melihat ayahmu dan ibunya menikah, tapi tidak sanggup melihat mobilmu diambil...” komen Se-joo yg percaya dengan pemaparan dari Soo-ji


Tae-hee menerima kiriman cupcakes dari Ki-young. Bentuk.. serta isi surat yg terselip di dalamanya, benar-benar sama persis dengan yg diterima oleh Hye-jung.

“Kamu harus cepat mengiriminya foto dan bilang sudah menerimanya...” ujar Kyung-joo

“Tidak. Itu terlalu memalukan...” jawab Tae-hee


Namun pada akhirnya, Tae-hee berfoto manis sembari memegang dua buah cupcakes ditangannya. Doto itu, kemudian dia kirimkan pada Ki-young..


Melihat foto Tae-hee, seketika membuat Ki-young tersenyum bahagia, sambil berkata: “Kamu manis. Aku bisa belikan 100 kue untukmu...”


Tapi senyumannya lansgung raib, ketika dia membuka pesan dari Nyonya Park, yg dengan gaya bahasa formalnya.. mengucapkan terimakasih atas cupcakes yg telah diberikan untuk putrinya. ditambah lagi, dia melihat foto Hye-jung beersama dengan Soo-ji..


Tae-hee mengantar Kyung-joo yg pergi dengan menggunakan taksi, “Sampai jumpa. Kirimi aku pesan setelah tiba..”


Berbalik ke belakang, Tae-hee langsung teringat pada sosok Shi-hyun yg beberapa hari ini.. selalu berdiri menunggunya di halte itu, “Hmmm.. apa sikapku padanya, terlalu kasar?”


Bebrapa saat diam, kemudian Tae-hee menarik lagi rasa sesalnya dan berkata: “Masa bodoh. Aku akan mengembalikan pesawat kertasnya atau surat wasiatnya itu. Kemudian mengakhiri semua ini dengan sepantasnya...”


Shi-hyun tengah bersantai di rooftop,dia mengambil ponselnya dan langsung menelpon Tae-hee.. 

Tae-hee sendiri, nampak ragu untuk menganggatnya tapi ketika dia hendak menjawab telpon tersebut, Shi-hyun malah sengaja mengakhiri penggilan telponnya.

“Apa? Kenapa dia meneleponku?” celoteh Tae-hee


Di pagi hari, Soo-ji tengah menikmati sarapannya di kamar. Tiba-tiba, ibunya masuk dan langsung bertanya: “Kamu mau pergi siang ini?”

“Aku mau belanja. Mencari pakaian untuk semester baru..”


“Mau ibu temani? Kita bisa ke salon”

“Untuk apa? Bukankah Ibu sibuk?”

“Memangnya, kamu mau pergi dengan siapa?”

“Ibu ‘kan tahu aku tidak bisa berbelanja dengan orang lain...”

“Kamu menemui Hye-jung. Rasanya menarik sekaligus aneh, mengetahui kamu bisa berteman dengannya.”

“Yang lebih menarik dan aneh adalah Ibu pacaran dengan ayahnya Si Hyun. Apa Ibu sungguh menyukainya?”


“Terserahlah. Yang penting, belikan aku ranjang baru. Aku tidak bisa tidur..”

“Pakai saja yg ini..”

“Kubilang, Aku tidak bisa tidur...”

“Kita akan segera pindah ke rumah baru. Bersabarlah hingga saat itu.”


Masuk ke kamarnya, diam-diam dokter Myung langsung meminum beberapa butir obat (sepertinya, sejenis obat penenang). Dia pun keliahtan sangat gelisah.. namun dia tak mengatakan apa pun, padahal ada ahjumma pelayan yg masuk ke dalam kamarnya~


Ponselnya berdering, ada telpon amsuk dari Tuan Kwon yg langsung bertanya seputar bisnis,

“Kamu sudah sarapan?” tukas dokter Myung

“Aku hanya minum secangkir kopi”

“Kamu bicara pekerjaan lebih dahulu. Itu membuatku sedih”

“Maafkan aku..”

“Kalau begitu, apa kamu ada waktu senggang di hari kepulanganmu dari perjalanan bisnis? Mari kita makan malam dengan anak-anak”

“Baiklah, akan kukosongkan jadwalku.”

“Pilihlah tempat yang Si Hyun suka---”

“Mari kita bertemu di hotel tempat acara waktu itu, saja..”
Advertisement

2 comments

D tunggu yach kelanjutan y 😊

D tunggu yach kelanjutan y 😊


EmoticonEmoticon