3/26/2018

SINOPSIS The Great Seducer Episode 8 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Great Seducer Episode 8 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS The Great Seducer Episode 7 Part 3

Pagi hari, Se-joo menemani Shi-hyun olahraga panjat tebing “Ayo. Aku lapar. Si Hyun, ayo!” gerutunya

“Memangnya, Soo Ji mau datang?”

“Entahlah. Dia memutuskan panggilan karena sedang sibuk. Kenapa? Ada yang ingin kamu sampaikan kepadanya? Pokoknya, kalian harus berbaikan hari ini, mengerti!?”


Sesampainya si markas, Soo-ji dan Shi-hyun masih bersikah acuh, tak mau berbicara atau bahkan menayap satu sama lain,

“Hei, berbaikanlah. Jika kalian tidak berbaikan, aku akan membawa kalian ke sudut untuk berpelukan..” celetuk Se-joo

“Dasar gila!” tukas keduanya


Tapi kemudian, Se-joo berkata: “Dia tidak akan menemui Tae Hee lagi..”


SOO-JI: “Sungguh? Kenapa?” 

SHI-HYUN: “Ya, aku akan berhenti. Karena itu melelahkan dan tidak asyik” 

SOO-JI: “Si Hyun, kamu pikir taruhan kita lelucon? Walau mereka akhirnya menikah, aku sudah mohon agar rumah yang kamu dan ibumu tinggali tidak dijual. Kamu bilang mau menyerah karena ini tidak asyik?!”

SHI-HYUN: “Aku tahu. Aku tahu kamu melakukan itu untukku dan aku minta maaf. Dia tidak menyukaiku. Aku bisa apa sekarang?”

SE-JOO: “Bagaimana bisa dia tidak menyukaimu? Aku akan mengencaninya. Aku sangat penasaran dengan gadis yang menolakmu ini”

SOO-JI: “Jangan bohong! Kamu bukan Se Joo! Kenapa kamu ditolak? Kamu Si Hyun, bukan Se Joo!”

SHI-HYUN: “Aku membuat kesalahan. Dia menyuruhku enyah dari hidupnya..”


SOO-JI: “Si Hyun, kamu hanya boleh berhenti setelah menyelesaikan rencana ini! Soal kepindahan itu... Kita bahkan membatalkan kepindahannya ke Asrama Myoungjeong.  Apa hanya aku yang mengingat ini?”

SHI-HYUN: “Bisakah dia mencoba untuk masuk lagi?”

SOO-JI: “Kamu bercanda? Kenapa? Pasti kamu mengkhawatirkannya! Kelihatannya kamu ingin bergegas pergi ke sana untuk membantunya!”

SHI-HYUN: “Aku akan pergi jika kamu menyuruhku...”

SOO-JI: “Apa?”

SHI-HYUN: “Aku akan pergi jika kamu mau, bukan karena aku mencemaskannya”


Dokter Myung menelpon Tuan Kwon, “Aku sudah di dekat kantormu. Mau makan malam denganku?”

“Aku baru saja makan”

“Kamu tidak membalas pesanku hari ini, jadi, aku memutuskan kemari. Kamu mau keluar jika tidak terlalu sibuk? Aku tidak mau makan sendiri...”

“Maaf. Masih ada yang harus kuselesaikan”

“Baiklah. Lanjutkan pekerjaanmu”


Di lobby, Tuan Kwon terdia sejenak.. dia menatap guci berwarna putih besar, yg snegaja disimpan disana oleh mendiang istrinya..


Barusan dia bilang sibuk ada pekerjaan, tapi nyatanya.. itu sebuah kebohongan. Dia menyuruh sekretaris dan supirnya untuk pulang, karena dia ingin pergi ke suatu temapt sendiiran. Dari kejaduan, dokter Myung melihat hal itu, yg tentunya membuat dia sangat marah~


Tiga sekawan, pergi keluar untuk bersenang-senang. Sepanjang perjalanan, Se-joo terus berbicara hal yg aneh, “Angin ini. Lampu-lampu ini. Pasti aku seorang vampir di kehidupan lampau. Kenapa aku begitu suka malam hari?”

“Vampir tidak punya kehidupan lampau. Keabadian mereka berakhir saat menjadi abu disinari matahari” tukas Shi-hyun

“Soo Ji, bukankah aku benar? Semua wanita menyukai vampir. Maksudku, lihat semua film itu, bukan hanya buku klasik...” ujar Se-joo


“Dingin. Tutup jendelanya!” tukas Soo-ji


Dan tiba-tiba, Se-joo melihat ‘pemandangan bagus’, yakni kakak sulungnya yg tengah jalan mesra dengan seorang wanita. Dia pun segera memotretnya dan turun untuk menyapanya *bisa dia manfaatin tuh..* 


Maka, tinggallah Soo-ji dan Shi-hyun dalam mobil tersebut~


Setelah mengepak barang-barangnya, Tae-hee berniat mengirim pesan pada Shi-hyun. Sepertinya, dia merasa bersalah atas kata-katanya.. namun sayangnya, dia tak punya nyali untuk mengirimkan pesan tersebut.


Ternyata, urusan penting yg dimaksud oleh Tuan Kwon, adalah bertemu dengan Bu Seol di sebuah restoran.

“Silahkan, kamu boleh bertanya atau mengatakan apa pun padaku..”

“Putriku kuliah di Seoul. Dia mahasiswa tingkat pertama. Dia masih membenciku. Anakmu sebaya dengannya. Kamu tahu seperti apa mereka. Ayahnya masih tinggal di luar negeri dan kurasa dia masih mengontak putriku. Aku yakin dia baik-baik saja, aku juga baik-baik saja di sini”

“Kukira kamu akan bertanya apa aku sudah lama menunggu hari itu...”

“Aku tidak pantas bertanya. Aku sudah tahu kamu menjadi wakil presdir. Juga beberapa hal tentang dirimu”


“Bagaimana bisa?”

“Kamu terkenal. Walau tidak ingin tahu, aku pernah membaca tentangmu di salon, atau di bagian ekonomi surat kabar. Aku tahu istrimu meninggal beberapa bulan setelah itu”

“Pasti karena itu kamu tidak datang. Itu masuk akal. Selama beberapa bulan itu, pasti kamu menyalahkanku...”

“Saat itu aku tidak berpikir logis. Putriku sakit parah karena kecelakaan mobil. Berulang kali aku berpikir alangkah baiknya jika kamu datang menemuiku hari itu. Seandainya aku tidak ada di rumah, aku tidak akan bertengkar dengan putriku. Ibunya sudah gila karena menunggu pria yang tidak pernah muncul dan tidak tahu bahwa putrinya melarikan diri sambil menangis. Aku menyalahkan diriku, bukan kamu. Tidak apa-apa. Semua sudah berlalu. Kamu juga banyak menderita.  Putramu. Bagaimana dia?”


Enggan membahas tentang putranya, Tuan Kwon malah bertanya: “Tempat ini tidak banyak berubah, ya?”

“Tidak, sudah berubah. Aku kadang-kadang kemari. Walau rumahku di dekat sini, aku akan marah dan melewatinya. Kamu tahu, kita berdua nyaris tidak bisa saling melupakan. Kita berpisah 20 tahun lalu dan gagal bertemu beberapa tahun lalu. Aku menyadari sesuatu setelah itu. Jika kita, sering melewatkan kesempatan untuk bertemu, kita tidak ditakdirkan bersama”

“Walau demikian, kita bertemu lagi sekarang...”

“Ya, dan Cuma itu saja. Aku hanya ingin menemuimu satu kali saja. Kapan pun itu, aku ingin memberitahumu apa yang kulakukan. Ada kalanya, aku ingin menyalahkanmu. Ada pula kalanya, aku ingin bilang rindu kepadamu. Pada hari itu dua tahun lalu, kupikir aku harus memberitahumu semua yang selama ini kupendam. Tapi lihat... Hanya butuh tiga menit. Karena kita sudah lebih tua, tidak perlu banyak bicara lagi. Kita tidak boleh melakukan ini lagi...”


“Berikan nomor ponselmu. Apa? Apa urusannya dengan umur kita? Pokoknya, Berikan nomormu...”

“Kamu belum berubah sama sekali. Masih keras kepala dan liar. Apa kolegamu tahu kamu begini?”

“Cukup untuk malam ini. Aku akan mengantarmu pulang...”
Advertisement


EmoticonEmoticon