3/27/2018

SINOPSIS The Great Seducer Episode 9 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Great Seducer Episode 9 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS The Great Seducer Episode 8 Part 3

Soo-ji duduk sendirian.. menatap langit malam, dan mengeluh: “Kurasa setiap orang memiliki seseorang yang menunggu mereka...”


Dia mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan di grup ‘trio chaebol’: ‘Kapan kalian datang?’

Menunggu beberapa saat, namun tak ada yg membalasnya. Hingga tak lama kemudian, terdengar suara pintu yg terbuka, dan datanglah Se-joo dengan membawa dua kresek besar berisi makanan.


“Kenapa tidak membalas pesanku?” keluh Soo-ji

“Aku sudah di perjalanan. Kamu belum makan, bukan?” tanya Se-joo

“Aku sudah makan sambil menunggu kalian..” jawab Soo-ji


Namun, ketika mengetahui bahwa makanan yg dibawa Se-joo adalah dim sum.. Soo-ji buru-buru berlari menghampirinya dan berkata: “Hei, perutku selalu punya tempat untuk dim sum...”

Dan yg lebih mengejutkan lagi.. ternyata, Se-joo membelinya langsung dari tempat favorit Soo-ji di Hongkong, “Wah.. daebak.. inikah alasannya kamu terlambat datang kesini? Dari mana kamu punya uang? Kartumu disita. Kamu mencuri?” tanyanya

“Aku punya kartu kakakku...” jawab Se-joo

“Hei, telepon dia. Suruh Si Hyun cepat datang..” pinta Soo-ji

“Apa? Baiklah...” jawab Se-joo dengan intonasi yg terdengar agak lesu


Shi-hyun membantu Tae-hee mendapatkan apartemen, untuknya tinggal sementara waktu. Seorang ajusshi, menunjukkan isi ruangan yg bisa dibilang cukup ‘mewah’ untuk seorang mahasiswa.


Tae-hee bertanya tentang kontrak, namun si ajusshi malah bertanya balik, “Memang, kamu belum bertemu dengan pemiliknya? Pemilik gedung ini adalah---”


Shi-hyun memotong pembicaraannya, dengan menyebutkan bahwa si ajusshi itu-lah pemilik gedung ini. Maka Tae-hee menanyakan harga sewa kepadanya. Namun lagi-lagi, Shi-hyun memotong pembicaraan mereka dan kali ini, dia bilang hari sudah terlalu larut dan diskusi tentang harga bisa dilanjutkan besok saja.


Shi-hyun pamit pulang, dan ternyata.. apartemennya, berada tepat di sebrang apatemen yg ditempati Tae-hee sekarang.


“Duh.. kenapa aku harus tentanggaan dengannya..” gumam Tae-hee pelan


Masuk kedalam kamarnya, Shi-hyun lansgung menatap wajahnya di cermin dan berkata: “Astaga, setelah melalui banyak hal pun, kamu tetap tampan...”


Ponsel Shi-hyun berdering, Se-joo memintanya datang ke markas. Awalnya Shi-hyun mengiyakan ajakan tersebut, tapi kemudian.. dia bilang.. malam ini, dia tak bisa datang kesana.


Setelah berganti pakaian, Shi-hyun masuk ke kamar Tae-hee dengan membawakan sebotol minuman dingin untuknya, yg sekarang tengah sibuk membenarkan lampu.


Niatnya sih ingin membantu, tapi ternyata.. Shi-hyun tak banyak tahu tentang perkakas.. dan Tae-hee jauh lebih jago darinya. 


Selesai memperbaiki lampu, Tae-hee lasgung mengambil minuman dingin dari tangan Shi-hyun dan menguknya hingga habis. 


Tapi entah mengapa.. mata Shi-hyun malah terus terfokus pada bibir Ta-hee. Alhasil, dia pun menutupinya dengan lakban..


“Kamu ngapain? Apa karena aku menghabiskan minnumannya” tanya Tae-hee dengan polosnya


Shi-hyun terlihat gugup, dia pun pamit pergi sambil membawa tangga yg belum dia lipat, hingga ujungnya menggores tembok dan meninggalkan bekas yg lumayan besar.

Tae-hee marah... dia pun mengomeli tingkah Shi-hyun yg dia anggap sangat ceroboh, “Hei! Padahal aku tidak memintamu melakukan itu! Penyewa harus mengganti rugi kerusakan unit! Mana harga wallpaper sangat mahal!!!!”


Shi-hyun makin kikuk.. dia tak tahu haru berkata apa dan bergegas pergi keluar, sambil membawa tangga tersbeut untuk dikembalikan ke yg punyanya.


“Astaga. Tidak kusangka dia sangat ceroboh. Pantas saja dia memecahkan piring nenek itu....” gerutu Tae-hee


Masuk ke kamar, Shi-hyun lansgung membaringkan diri di kasurnya. Dia sendiri, tak mengerti, mengapa sikapnya sangat kikuk saat berhadapan dengan Tae-hee? Bahkan tanpa dia sadari, dia telah membawa beberapa tang milik Tae-hee dalam genggaman tangannya. karena tak mungkin untuk mengembalikannya sekarang, maka Shi-hyun menaruhnya dalam laci di lemari samping kasur..


Tae-hee sendiri, masih berusaha untuk membersihkan bekas goresan di dinding. Dia kesal pada Shi-hyun, tapi dia pun merasa bersalah: “Apa aku terlalu kasar kepadanya? Astaga, kenapa sikapku seperti ini?”


Soo-ji mendengar kabar mengenai insiden penangkapan yg menimpa Shi-hyun. Dia pun, jadi bersedih dan mengkhawatirkannya. Sementara Se-joo terlihat cuek, dan malah asyik menikmati dim sum-nya..

“Kamu tidak pernah serius” ujar Soo-ji


Namun, ketika Se-joo menunjukkan wajah serius dan memelas.. Soo-ji malah komentar: “Kamu sedih? Berhentilah berpura-pura!”

“Kamu selalu bilang aku tidak pernah serius dan selalu jahat kepadaku. Namun, Kamu tidak akan berteman denganku jika aku orang yang serius. Beginilah caraku bertahan hidup. Terimalah aku apa adanya...” tutur Se-joo yg kemudian mengingatkan kalau dim sum-nya keburu dingin, karena Soo-ji terus mengomel..


Maka Soo-ji pun, memakan dim sum dihadapannya dengan sangat lahap, “Ini enak sekali. Kamu beli di tempat yang sama? Rasanya berbeda. Pasti karena salju. Ini 50.000 kali lebih enak daripada makan di tempat...” pujinya yg mengeluh, bahwa udara di ruangan ini, terasa begitu kering.


Bergegas, Se-joo melihat pengatur suhu.. kemudian merapikan peralatan musik selo milik Soo-ji,

“Kamu sudah seperti pemain selo profesional saja...” komen Soo-ji

“Bayar aku. Aku bisa menjadi asistenmu saat menjadi peselo...” ujar Se-joo

“Disebutnya ‘Sellis’, bukan ‘Peselo’! Dan aku tidak mau membayarmu..” tegas Soo-ji


“Aku akan diusir dari rumah jika tidak menghasilkan uang. Pilihanku hanya kuliah atau mencari uang. Haruskah aku masuk militer?” tanya Se-joo

“Jika kalian ikut wajib militer, siapa yang akan menemaniku? Tanpa Si Hyun saja sudah sepi...” keluh Soo-ji

“Menikah saja..” ucap Se-joo

“Aku hanya bisa menikah setelah kalian menikah...” jawab Soo-ji 


Kemudian, Soo-ji berjalan kehadapan Se-joo, dan dengan menggunakan alat musik selo miliknya, dia memainkan sebuah alunan musik yg terdengar sangat melo..


Di waktu yg bersamaan, kita melihat dokter Myung yg tengah sibuk mempelajari segala sesuatu yg berkaitan dengan seni..


Sementara Shi-hyun, tengah tersenyum bahagia sambil menggambar sketsa wajah Tae-hee yg terlihat lebih ceria...


Selesai mendengarkan permainan selo Soo-ji, tiba-tiba mata Se-joo lansgung berair, “Astaga, Soo Ji. Apa ini? Apa aku sakit? Pasti aku dihajar cukup parah, sampai sistem hormonku kacau..”


“Bilang saja kamu terharu...” jawab Soo-ji, “Ibuku sama sepertimu. Tanpa sadar, dia tiba-tiba menangis setelah mendengar alunanku. Dia lebih sensitif daripada aku. Kamu tahu, ibuku gila kerja. Dia begitu giat belajar untuk memahami apa yang kumainkan. Padahal aku hanya ingin dia mendengar permainanku...” tambahnya
Advertisement


EmoticonEmoticon