3/27/2018

SINOPSIS The Great Seducer Episode 9 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Great Seducer Episode 9 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS The Great Seducer Episode 9 Part 1

Lewat grup chat, Soo-ji mengajak Se-jo dan Shi-hyun untuk bertemu. Tapi keduanya menolak, dengan alasan memiliki kesibukan lain..


Dalam kamarnya, Tae-hee berdandan rapi. Dia mengenakan dress yg cantik, dan tak lupa memoles bibirnya dengan lipstick berwarna merah cerah..


Shi-hyun sengaja membeli peralatan yg dibutuhkan orang baru pindahan, seperti tisu toilet dan sebagainya. Niatnya, dia ingin memberikan itu kepada Tae-hee secara langsung..


Tapi, ketika mendengar suara Tae-hee yg hendak membuka pintu kamar, Shi-hyun hanya menaruh tas belanjaan itu di depan pintu, lalu buru-buru berjalan memasuki kamarnya..


Tae-hee melihatnya, dan dengan ramah dia pun menyapanya dan berterimakasih atas belanjaannya, “Ini pasti berat... Terima kasih...”

“Untuk apa?”

“Bukankah kamu memberiku ini?”

“Itu untuk penyewa baru. Aku juga pernah dapat. Sampai jumpa...” ucap Shi-hyun yg kemudian bergegas masuk kedalam kamarnya


“Duh.. Kenapa aku hanya bilang, ‘sampai jumpa’? Dan barusan, apa dia berdandan? Dia cantik sekali. Astaga, aku sudah gila sepertinya...” gumam Shi-hyun sambil duduk di sofa


Shi-hyun menemui Sekretaris Yoon, yg hendak mengembalikan mobil milik mendiang ibunya.. sekaligus memberitahunya bahwa gedung yg ditempati Shi-hyun sekarang, juga peninggalan dari mendiang ibunya yg diwariskan untuk Shi-hyun, “Tuan Kwon ingin aku mencari tempat untukmu, jadi, aku memindahkanmu ke sini..”


“Omong-omong, benarkah ibuku tewas dalam kecelakaan mobil?”

“Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?”

“Di kantor polisi, aku mendapati bahwa mobil ini tidak memiliki riyawat kecelakaan”

“Entahlah. Aku akan mencari tahu. Selesaikanlah urusan dengan temanmu, dan hubungi aku jika butuh sesuatu. Apa kamu tidak mau menemui ayahmu?”

“Nanti aku akan pergi..”


Dokter Myung makan siang dengan Tuan Kwon. Ternyata, belakangan ini dia banyak mempelajari seni, untuk membuat dirinya terlihat ‘baik’ dimata calon ibu mertuanya yg memang sangat menyukai segala hal yg berkaitan dengan seni tradisional, 

“Pelan-pelan saja. Ibuku tidak akan kembali dalam waktu dekat. Kenapa mesti terburu-buru?” tanya Tuan Kwon

“Banyak sekali yang harus dipelajari. Aku tidak tahu banyak tentang lukisan atau musik. Aku berusaha mengejar ketertinggalanku..”

“Baiklah, Jika kamu butuh informasi, hubungi Sekretaris Yoon. Dia yang paling tahu segalanya tentang hal itu.. Aku sendiri, tidak tahu banyak. Karena Ibunya Si Hyun yang bertanggung jawab untuk semua itu”


Dokter Myung membelikan beberapa dasi untuk Tuan Kwon, tetapi Tuan Kwon bilang.. dia tak usah repot-repot.. karena sudah ada pekerja yg bertugas mengurus busananya.

“Aku ingin membelikan sesuatu untukmu. Sekarang aku boleh melakukan itu, bukan?”

“Terima kasih. Aku akan memakainya...”

“Apa yang biasa kamu lakukan di akhir pekan?”

“Tidak banyak. Aku bekerja atau berolahraga. Kamu sendiri?”

“Aku mendengarkan permainan selo. Dan tidak ada kegiatan lainnya, lagi...”

“Kamu tidak menemui teman-temanmu? Untuk sarapan siang bersama di akhir pekan?”

“Aku punya tiga pertemuan sarapan dalam satu pekan, tapi aku tidak pernah ikut acara sosial seperti sarapan siang”


“Hidup kita, sepertinya sama saja”

“Kurasa begitu. Aku baru menyadarinya...”

“Kalau begitu, ayo kita lakukan.. makan bersama di pagi atau siang hari.. di akhir pekan ini, atau kapan pun yg kamu mau..”

“Baiklah, tapi ada satu hal yang ingin kulakukan, yaitu menonton film dan berkemah..”

“Tidak kuduga kamu ingin seperti itu”

“Kamu bertanya, jadi, aku menjawab.”


Ketika tengah bekerja.. Sekretaris Yoon menemu Tuan Kwon, untuk melaporkan pertemuannya dengan Shi-hyun barusan. Tuan Kwon, bertanya: “Apa yang dia lakukan?”

“Sepertinya dia sehat”

“Itukah yang kutanyakan? Aku tanya apa yang dia lakukan saat bertemu denganmu..”

“Dia menanyakanku tentang kecelakaan ibunya. Jika ada yang perlu kuketahui, tolong beri tahu aku. Dan, Kenapa Anda mengusir Si Hyun?”


“Aku tahu aku memintamu mengurus masalah pribadiku, tapi apa kamu tidak bisa melakukan yang diperintahkan saja? Aku tidak peduli apa yang kamu lakukan, di mana, kenapa, atau bagaimana kamu bertemu dengan orang lain...”

“Baiklah, akan saya ingat perkataan anda..”


Dengan langkah yg sangat gembira, Tae-hee berjalan memasuki gedung kampusnya bersama dengan Kyung-joo..


Didalam gedung, terlihat Soo-ji yg tengah berdiri di depan lokernya yg bertuliskan nama, ‘Choi Soo-ji’. Dia pun mengeluh, bertanya pada dirinya sendiri: “Tahun ini, aku masih Choi Soo Ji. Akankah aku tetap menjadi Choi Soo Ji saat diwisuda nanti?”


Soo-ji menelpon Se-joo, bertanya apa dia tak akan datang kesini? Enggan memberikan jawaban, Se-joo malah buru-buru memutus telponnya..


Berikutnya, Soo-ji menelpon Shi-hyun.. yg untungnya, bersikap ‘agak baik’, karena bersedia datang, sesuai dengan janjinya..

“Jangan pakai jaket. Berpakaianlah yang rapi..” pinta Soo-ji

“Hey.. Aku tetap tampan, meski memakai apa saja...” jawab Shi-hyun


Di taman kampus, Tae-hee curhat pada Kyung-joo... mengenai tindakan Shi-hyun yg tiba-tiba memasanngkan lakbarn di bibirnya, 

Kyung-joo yg polos, berpikiran sama dengan Tae-hee.. dengan menganggap, bahwa itu karena Tae-hee malah menghabiskan jusnya, tanpa menawarinya atau pun berterimakasih atas bantuan darinya.


“Dia belum meneleponmu? Dia sok jual mahal...” ujar Kyung-joo

“Bisakah seseorang lupa telah mencium seseorang?” tanya Tae-hee


“Jika dia mabuk, ya...” jawab Kyung-joo, yg kemudian heboh sedniri karena mengetahui, kalau Tae-hee telah ciuman dengan Shi-hyun. Dengan polosnya, dia pun bertanya: “Seperti apa rasanya?”

“Entahlah.. lebih mudah menjawab pertanyaan matematika, daripada menjawab pertanyaan itu..” ujar Tae-hee


Kebetulan, Soo-ji berjalan melewati tempat Kyung-joo dan Tae-hee berada. Spontan, Kyung-joo berteriak menyapanya, kemudian memperkenalkannya kepada Tae-hee.


“Kamu mau datang ke peragaan busana malam ini? Se Joo mungkin datang..” ucap Soo-ji

“Apa? Ya. Aku mau...” jawab Kyung-joo dengan antusiasnya

“Aku hanya punya satu tiket ekstra. Maaf...” jelas Soo-ji, yg berarti Tae-hee tak bisa ikut dengan mereka,


“Aku ada pekerjaan sambilan. Tidak masalah...” ujar Tae-hee


Soo-ji mengangkat telpon dari Shi-hyun, yg sepertinya sudah ada di dekat sini. Tae-hee yg baru pertama kali melihat Soo-ji, langsung berkomentar, menyebutnya sangat cantik..


Sesaat kemudian, mobil Shi-hyun sampai di hadapan mereka. Seakan ingin ‘menyombongkan’ diri dihadapan Tae-hee, Soo-ji sengaja mengatakan kalau Shi-hyun selalu datang, setiap kali ditelpon olehnya.


Dan dengan sengaja pula, Soo-ji mengatakan bahwa mobil Shi-hyun sudah penuh.. dan hanya Kyung-joo yg bisa ikut naik, sementara Tae-hee tidak.


Tae-hee tak merasa tersinggung akan hal itu.. namun perasaannya agak ‘tersakiti’, karena sikap Shi-hyun yg terkesan sangat dingin padanya.. bahkan, menyapanya-pun tidak dia lakukan~
Advertisement


EmoticonEmoticon