3/08/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 20 PART 4

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 20 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 20 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || OPPA SINOPSIS

Oh Gong kembali ke Sureumdong, saat berada di taman dia memandang batu tempatnya menyembunyikan pedang yang harus digunakan menikam Sam Jang.


Dia ingat saat menyembunyikan pedang itu, dan dengan pedang itu bangau putih mengakhiri hidupnya.


Dia juga melihat batu tempat dia duduk memeluk Seon Mi untuk terakhir kalinya. Saat itu Soen Mi mengatakan dia merasa lega karena Geumganggo, karena Oh Gong tidak akan menjadi sedih setelah kematian Seon Mi.
“Ketika kau ditinggalkan sendirian, aku bersyukur tidak ada cinta yang tersisa.”
Oh Gong pun menangis dan memanggil nama Jin Seon Mi ketika dia sudah meninggal.


Oh Gong sudah mengingat semuanya. Dia menangis, dan ingat nama Seon Mi. Dia terus mengucapkannya dengan berlinang air mata.

Jenderal Es pikir Pal Gye pasti merasa lebih kebingungan karena mendengar kata-kata terakhir Bu Ja yang diucapkan Ah Sa Nyeo, dan akan lebih baik jika tidak mendengarnya. Tapi Pal Gye tidak berpikir begitu.
“Jika seperti itulah yang Bu Ja pikirkan untukku, meskipun sedih, aku bahagia. Sebab jika dia tidak merasa begitu, aku kasihan kepadanya.”
“Hari ini akan segera berakhir. Sam Jang akan segera kembali ke dunia bawah.”
“Benar. Sam Jang... mungkin akan kembali tanpa mendengar perasaan Sage Agung sesungguhnya.”
“Dia pernah mendengarnya sekali. Di hari yang sangat dingin, ketika salju turun untuk sesaat, ketika itu dia mendengar perasaan yang sebenarnya.”


Seon Mi memegang gembok yang pernah dia letakkan di tempat Oh Gong mengatakan perasaannya yang sebenarnya saat Jenderal Es membekukan Geumganggo.


Saat berbalik, Seon Mi terkejut melihat Oh Gong berdiri di belakangnya. Seon Mi mengatakan dia ingin melihat Oh Gong sekali lagi, dan senang ternyata Oh Gong ada di sana.
“Jin Seon Mi.”
“Namaku... kau mengingatnya?” Seon Mi berkaca-kaca mendengar Oh Gong mengingat namanya.
“Oh. Aku juga mengingat kata-kata terakhirmu kepadaku. Kau merasa lega karena adanya Geumganggo. Sebab saat aku ditinggalkan sendirian, kau lega karena tidak ada cinta yang tersisa. Dengan perasaan yang sama seperti itu, aku menyembunyikan sesuatu darimu.”


Oh Gong lalu melepas Geumganggo, setelah itu Geumganggo lenyap saat Oh Gong memegangangnya. Dia lalu meminta Seon Mi bertanya jika ada yang ingin ditanyakannya.
“Kalau ada yang ingin kau tanyakan, katakan sekarang. Bahkan meski kau tidak ingin meninggalkan apa pun, tetap saja tanyakan. Tolong tanyakan.”
Seon Mi bertanya apa dia masih terlihat cantik, Oh Gong menjawab dia Seon Mi cantik karena Oh Gong mencintainya.


Oh Gong menghampiri Seon Mi lalu memeluknya. Seon Mi menangis saat menyadari tidak ada yang menghilang setelah Geumganggo lenyap. Dia bilang mencintai Oh Gong tapi waktunya habis, dia harus pergi sekarang.


“Aku meninggalkanmu sendirian. Bagaimana ini?”
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi seperti ini.”


Oh Gong menuntup mata Seon Mi.
“Jin Seon Mi. Jangan bergerak. Aku akan memberikan sesuatu kepadamu.” Dia lalu meletakkan dahinya di dahi Seon Mi.


Saat Seon Mi membuka matanya, sekilas matanya berwarna merah.
“Sekarang, kau memiliki satu dari bola-mata-api-emas Sage Agung Son Oh Gong.”
(*bola mata itu sangat sakti karena bisa mengenali penyamaran dalam bentuk apa pun, termasuk ketika Ah Sa Nyeo merasuki Bu Ja dan Sam Jang.)


“Kau memberikan aku salah satu matamu?”
“Jin Seon Mi, dengar baik-baik. Aku akan mencarimu. Tidak peduli di mana pun kau dan menjadi apa pun dirimu, aku akan dapat mengenalimu sekarang. Ingatlah namaku. Aku pasti akan menemukanmu.”
“Aku akan menunggu. Jika aku memanggilmu, kau akan datang tidak peduli di mana pun aku. Aku pasti tidak akan melupakan namamu. Aku akan menunggumu.”
“Kita... akan bertemu lagi.”


Kalung bintang Seon Mi bercahaya, dia harus segera pergi. Untuk beberapa saat mereka hanya tersenyum dan saling memandang dengan berurai air mata. Air mata Oh Gong semakin berderai setelah Seon Mi menghilang.


Han Joo membawa payung Seon Mi ke sebuah gedung berhatu yang penghuninya tidak pernah tinggal lebih lama dari sebulan.


Para hantu merasa senang karena pemilik Hanbit Real Estate yang baru tidak bisa melihat hantu sehingga mereka tidak perlu pindah dari gedung itu. Han Joo membuka payungnya karena mendengar para hantu tertawa, dia berlaga seolah olah dia bisa mengusir hantu. Tapi yang terjadi dia malah lari ketakutan.


Han Joo tampak tidak bersemangat, dia menggerutu terlalu takut untuk kembali ke gedung itu.


Jenderal Es mengahmpirinya dan mengatakan kalau Han Joo adalah pelanggan pertamanya. Han Joo lalu menunjukkan payung mendiang Presdirnya dan mulai menceritakan bagaimana sosok Presdir yang dibanggakannya.
“Presdirku adalah orang yang sangat istimewa. Saat dia masih ada, banyak sekali tokoh hebat mengunjungi kantor agen properti kami. Ketua Lucifer Entertainment sering datang menemuinya. Top stars (PK dan Alice) juga datang. Mereka sangat dekat. Pernah sekali, Ketua M Group juga datang menemuinya. Lebih hebat lagi, seorang pria misterius dan tidak biasa... mencintai Presdirku, pria itu. Kenapa orang-orang itu berada di sekitar Presdirku? Mungkin, karena dia bukan manusia.”
“Mungkin kebalikannya. Hanya Presdir itu yang manusia. Sedangkan yang lainnya bukan manusia, tapi monster.”
“Kenapa kau mengatakan hal mengerikan begitu? Tadi aku habis mendatangi gedung berhantu juga. Aku tidak akan bisa tidur. Aku harus mabuk. Aku harus mabuk. Menakutkan.”


Ma Wang dan Oh Gong berada di lembah yang digunakan untuk ritual memanggil naga. Ma Wang sudah membeli tempat itu dari Yayasan Korea.
“Ini areal berhantu di mana banyak sekali Iblis jahat berkeliaran. Meskipun sebelumnya sudah kubersihkan, mereka akan kembali ke sini.”
“Justru sebab itulah aku membelinya. Aku akan membangun hotel di sana. Tepat di atas bukit itu, yang megah. Ada sesuatu yang kupelajari dari peraturan bisnis Presdir Jin Seon Mi. Kau harus menunjukkan kemampuan istimewamu. Bayangkan sebuah hotel berdiri di sini dan menyaksikan Iblis jahat di mana-mana. Kalau kutangkap mereka semua, poinku akan naik drastis. Dari satu tempat, aku dapat uang dari hotel, dan mendapatkan poin menangkap Iblis. Aiih... hebat sekali.” Ma Wang pun menertawakan ide briliannya.


Oh Gong juga tertawa dengan ide yang disampaikan Ma Wang tapi dia tidak mau ikut campur.
“Aku mengira kau hanya memiliki otak manipulatif dalam bisnis dunia hiburan dan terkurung akan popularitas berkat bola energi. Hotel Iblis? Aku tidak ikutan.”
“Datanglah sesekali. Datanglah. Aku akan menyiapkan sebuah kamar dengan kamar mandi super besar dan tiga slot parkir untukmu.”
“Tergantung sebagus apa hotel yang kau bangun. Kalau jelek, aku tidak mau datang. Bangun yang bagus.”
“Aku dengan sabar mengumpulkan poin untuk menjadi Dewa dan entah bagaimana meningkat secara drastis saat kalian terlibat. Bukan. Tidakkah kita yang melibatkan diri dalam hidup luar biasa Sam Jang?”
“Sekalipun langkah itu semula dipaksakan kepadaku dan bertentangan dengan kehendakku. Pada akhirnya, berada di sini bersama Ma Wang... menyenangkan.”
“Fakta kegelapan di sini lenyap dan menjadi begitu terang adalah berkatmu. Kerja bagus. Kau kelihatan keren.”
“Lihat, ini alasanku tidak bisa menyesalinya walau ingin. Karena Ma Wang benar-benar jatuh cinta kepadaku. Kau akan bosan tanpaku. Akan bagaimana kau nanti?”
“Apa? Kau mau pergi?”
“Aku harus melanjutkan perjalananku. Ada seseorang yang menantiku. Jadi aku harus pergi.”
“Baiklah. Lanjutkanlah. Aku harus melanjutkan perjuanganku juga... Aah... untuk anak itu.”
“Ma Wang, mari bertemu lagi di tengah perjalanan kita.”


Setelah berbicara dan bercanda, mereka berdua menghabiskan waktu dengan memandang jauh ke depan.


Sambil mengendarai mobilnya, Ma  Wang menerima laporan dari Sekertaris Ma kalau “dia” sedang berjualan di sekitar China Town. Ma Wang menerima laporannya dan berpesan pada Sekertaris Ma agar jangan menghampiri “dia” dan menunggunya yang segera datang.
“Aey, dasar bocah berandal.” Gerutu Ma Wang tapi dia tampak senang.


Ma Wang menghampiri Hong Hae Ah yang sedang menjajakan barang dagangannya.
“Aish, kau datang untuk menangkapku lagi?”
“Benar, setiap kali aku menangkap basahmu, aku dapat banyak poin.”
“Tapi hari ini aku hanya menjual barang-barang sederhana, kok.”
“Tutup kotak daganganmu itu.”
“Kau tidak sibuk? Banyak sekali Iblis jahat di luar sana, kenapa kau terus menargetkanku?”
“Kau... berhentilah mencuri barang dari toko untuk kau jual. Bekerjalah. Aku berencana untuk menutup bisnis hiburanku dan membuka hotel. Tanyalah pada Nenekmu. Kalau dia tidak keberatan, datanglah.”
“Apa yang akan kukerjakan?”
“Membersihkan toilet.”
“Tidak mau.”
“Kau sudah makan? Ada kedai bubur di sana.”
“Kalau mau membelikan bubur kacang pinus, aku sudah makan. Kalau bubur jamur pinus, belum.”
“Tentu kau harus makan bubur kacang pinus.”
“Tidak mau.”
“Bubur sayuran.”
“Tidak mau.”


“Kenapa banyak sekali yang tidak kau sukai? Aey.”
“Bagaimana kalau bubur abalone?”
“Tidak mau. Hei, kau itu meniru siapa, sih?”
“Nenekku bilang, aku mirip ayahku.”
“Hm... ayahmu pasti sangat tampan.”
“Benarkah? Kurasa tidak.”
“Melihatmu membuatku berpikir dia pasti tampan.”
“Entahlah.”
Mereka berdua melanjutkan obrolan sambil berjalan, dan tanpa disadari mereka menggaruk punggung bersamaan dengan cara yang sama.


Ma Wang pulang dan melihat patung monyet tidak ada di tempat bisanya, dia bertanya kepada Oh Jeong kenama Oh Gong. Oh Jeong mengatakan Oh Gong sudah mengemasi semua barangnya lalu pergi. Menurut Ma Wang, karena Oh Gong membawa patung monyetnya, jadi dia pasti pergi ke tempat yang sangat jauh. Oh Jeong membenarkannya, dia mengatakan Oh Gong pergi ke dunia bawah untuk menjemput Seon Mi.


Ma Wang sangat terkejut mendengarnya, dia pikir pasti Oh Gong akan membuat keributan besar di sana. Tapi kemudian Ma Wang tertawa terbahak-bahak.
“Baiklah. Biarkan saja. Dewa Agung, sinting!!!”


Oh Gong mengendarai mobilnya menuju jalan yang sangat panjang. Dia tidak tampak sedih sama sekali.
“Tunggulah. Saat kau ketakutkan, kesulitan, dan dalam bahaya, panggil namaku, aku akan selalu muncul dan melindungimu. Karena aku mencintaimu.”
Ucapnya dalam hati dengan wajah yang berbinar.
Advertisement

8 comments

Ini udah tamat?? 😮😮😮😮😮

Kaya gantung sih tamat y🙁🙁🙁🙁ga seru

pengen nambah episodenya gqk asik episodenya sedikit bangat

pengen nambah episodenya gqk asik episodenya sedikit bangat

Yah,,
G seru,,
G happy ending,
Sebeeeelllll,,,

Yah,,
G seru,,
G happy ending,
Sebeeeelllll,,,

EndingNya ga Enak. KamprettLa....
NyesaL bacaNya😢😡

EndingNya ga Enak. KamprettLa....
NyesaL bacaNya😢😡


EmoticonEmoticon