3/10/2018

SINOPSIS Mother Episode 13 PART 2

Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 13 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 13 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 13 Part 3

Sebelum pergi menemui Bu Nam.. lebih dulu, detektif menemui Ja-young di tahanan. Disana, Ja-young terllihat begitu tak percaya akan kematian Seol-ak, “Pacarku... bilang beberapa jam lalu... dia mau ke pantai bersamaku. Dan dia bilang dia akan membuatku bahagia. Tapi... kalian bilang dia sudah mati?”


“Semua sudah terjadi. Tidak ada yang mengharapkan hal-hal seperti ini. Misalnya, seseorang yang rencananya mau makan malam bersama Anda beberapa jam lalu... bisa jadi dia mati karena mereka bunuh diri.”

“Pacarku bukan orang seperti itu! Sesuatu bisa saja terjadi. Dan aku perlu tahu apa itu.”

“Seperti yang kau tahu... Lee Seol Ak menculik Hye Na dan minta tebusan. Kang Soo Jin ke sana dan menyelamatkan Hye Na. Dan saat polisi ke sana, mereka menemukan Lee Seol Ak. Dia bunuh diri karena merasa tertekan. Dan dia membakar rumah itu.”

“Kenapa dia harus membakar rumah itu jika dia mau bunuh diri? Sudah jelas ada yang membuatnya kelihatan seperti bunuh diri... dan kemudian membakar rumah itu!”

“Aku melihatnya sendiri. Tepat sebelum dia mati.”

“Kau melihatnya? Bagiamana keaadannya? Dia sedih?”


“Hei, Ahjumeoni! Hye Na... diikat di dalam sana! Apa kau tak berpikir Hye Na pasti ketakutan saat itu? Kami masih tidak tahu apa yang dia lakukan padanya!”

“Pacarku... bukan seseorang yang melakukan hal jahat pada Hye Na. Lihat saja. Orang yang mati akhirnya cuma pacarku. Hye Na selamat dan lari bersama wanita itu... jadi kenapa aku mengkhawatirkan dia (Hye Na)?”

“Apa Anda ini... benar-benar ibunya?”

“Aku mau berhenti, kalau bisa. Sebagai seorang ibu. Tapi pilihan itu tak ada buatku, Tapi bisakah aku berhenti menjadi seorang ibu sekarang? Bagiku... cuman ada oppa di hidupku. Sekarang, aku tak punya apa-apa lagi. Siapa yang membunuhnya? Kang Soo Jin kah? Atau mungkin kalian?”

Di malam hari, akhrinya Soo-jin menerima undangan Pak Lee untuk makan malam bersama.


Sementara Hye-na asyik belajar taekwondo dengan Oh-gyun, Pak Lee menceritakan kisahnya pada Soo-jin,


“Belum setahun... sejak ibu Oh Gyun meninggal karena kanker ovarium. Tapi aku tak tahu cara membesarkan anak itu. Kalau kubiarkan, dia bakal merengek sepanjang hari. Jadi sepanjang hari "makanan"-nya cuma taekwondo. Aku buat dia belajar jam 3, jam 4, jam 5. Pria itu... biasanya mencoba melupakan sesuatu, dengan cara menghabiskan tenaga mereka. Saat berolahraga. Dia dapat sabuk hitamnya belum lama ini... tapi sabuknya hilang. Meski aku yakin, itu pasti harta terbesar bagi anak berusia sembilan tahun..”


Sama seperti ayahnya, diam-diam.. Oh-gyun juga mengajak Hye-na mengobrol. Dia salah mengartikan obrolan Hye-na dengan ibunya tadi siang, dan menganggap kondisi Hye-na sama sepertinya, “Aku tahu rahasiamu.” Ucapnya

“Rahasiaku?”

“Ibumu... akan mati, 'kan?”

“Ibuku?”


“Aku dengar semuanya. Saat aku berdiri di belakang pohon. Tentang bagaimana ini akan menjadi perjalanan terakhir bagi kalian berdua. Dulu aku juga kemari untuk perjalanan terakhirku dengan ibuku. Sama seperti kalian. Kau tak boleh percaya ibumu... jika dia berjanji padamu... kalau dia pasti akan membaik... dan dia pasti tidak akan mati. Karena aku juga percaya semua itu... tapi nyatanya ibuku meninggal. Jadi... kau harus terus bilang kau mencintainya. Karena... kau tak tahu kapan dia akan mati. Dan saat dia mati... semua sudah berakhir. Dan, saat ibumu mati... katakan padanya kau baik-baik saja. Kalau kau menangis... dan tak bisa menerimanya... Menurutmu bagaimana perasaan ibumu nanti?”


“Kau juga seperti itu? Kau juga menangis?”

“Iya”


Makan malamnya selesai, kini mereka berjalan meunuju penginapan. Oh-gyun bertanya pada ayahnya, “Tidak bisakah kita mengantar Yoon Bok dan ibunya pulang ke rumah besok?”

“Kenapa kau tidak tanya sendiri saja?”


“Mau naik mobil sama kami besok?” ajak Oh-gyun

“Benarkah? Aku juga sangat ingin naik van dojo taekwondo.” Ucap Hye-na

“Kalau begitu, ayo kita ulang bersama..” ujar Pak Lee


“Kami berencana mau bepergian, jadi...” tukas Soo-jin

“Sayang sekali. Padahal, Oh Gyun pasti sangat senang jika kalian berdua ikut bersama kami...” ungkap Pak Lee


Berjalan berduaan saja, Hye-na bertanya pada Soo-jin, “Besok, kita aan pergi kemana bu? Adakah tempat lain tujuan kita?”

“Kita tidak punya tempat tujuan. Kemanapun kita pergi, kita selalu berada dalam bahaya. Dan besok, pasti tempat ini pun akan berbahaya juga. Hanya karena... Ibu sangat takut. Ibu hanya ingin hati-hati...” jawab Soo-jin


Sampai di depan kamar, Hye-na sempat melemparkan giginya ke atap kemudian menyebutkan sebuah permohonan dalam benaknya,


“Apa permohonanmu?” tanya Soo-jin

“Permohonan harus dirahasiakan agar menjadi kenyataan.” Jawab Hye-na

“Oh, ya? Beritahu Ibu, kalau sudah jadi kenyataan, ya” pinta Soo-jin


Hyun-jin menemui ibu dari mendiang Won-hee yg dibunuh Seol-ak. Namun wanita itu, menolak untuk diwawancara dan menyatakan bahwa dirinya tak mengenal, siapa itu Seol-ak..

“Lee Seol Ak... menculik pelajar SD dari Mooryung... dan jasadnya ditemukan setelah bunuh diri di Chuncheon kemarin. Anda masih belum mengenal dia?” tanya Hyun-jin


Wanita itu, menggelengkan kepalanya lalu buru-buru masuk mobil dan melaju pergi..


Namun beberapa saat kemudian, kita melihatnya yg telah berubah pikiran. Dia bersedia menceritakan semuanya pada Hyun-jin, lalu bertanya: “Jika artikel ini diterbitkan... polisi akan menyelidiki ini, 'kan?”

“Kemungkinan begitu..


“Aku akan bekerja sama membantu  penyelidikan. Aku juga harus dihukum. Menurutku inilah yang terbaik. Won Hee-ku... sejak hari itu... terus menangis dan mengikutiku. Dan jika aku ingin merangkul anak itu... Jika aku ingin menjadi ibu lagi... Mungkin sudah terlambat bagi Won Hee dan anak-anak lainnya. Tapi menurutku inilah satu-satunya cara agar aku bisa memohon pengampunan...” ungkap wanita itu, yg kemudian memberikan rekaman obrolannya dengan Seol-ak waktu itu


Soo-jin yg tak bisa tidur, jalan-jalan sendirian diluar. Tak sengaja, dia bertemu dengan Pak Lee dan mereka pun mengobrol bersama..


Pak Lee menunjukkan pohhon yg ditaman istrinya, sekitar 2 tahun lalu. Dan ternayta, Oh-gyun sengaja  menghilangkan sabuk hitamnya untuk diikatkan di pohon ibunya itu, “Aku memarahinya karena kukira sabuk hitam dia hilang. Kurasa dia ingin mengikatnya di dekat ibunya. Aku juga tahu dari Oh Gyun... kalau kau juga sangat sakit..”

“Aku sakit?” ujar Soo-jin heran, tapi dia tak berkomentar lebih banyak


“Maaf, jika aku lancang. Aku sebenarnya ingin berbicara denganmu tentang hal itu... karena Oh Gyun dan aku... sudah pernah mengalaminya. Saat istriku mengandung Oh Gyun... Dia mengidap kanker ovarium stadium satu. Jujur, Oh Gyun bisa lahir saja merupakan suatu mukjizat. Dokter memperingatkan kami kalau kankernya bisa menyebar lebih besar. Tapi ibu Oh Gyun bahkan tidak mengkhawatirkan hal itu. Dia anak kecil yang berada dalam rahim di tengah perjuangan semacam itu. Jadi istriku bilang dia tidak peduli walau hidupnya dalam bahaya. Dan berkata dia akan melakukan perjalanan dengan anak itu. Tapi... Bahkan saat ibu Oh Gyun tepat di ambang kematian... Tidak ada yang bisa kulakukan untuknya. Yang kupunya hanyalah kata-kataku. Yang bisa kulakukan hanyalah berterima kasih padanya dengan kata-kataku. atas waktu kami yang dihabiskan bersama... dan atas semua kenangan yang kami alami bersama... bahwa tidak ada hal di bumi ini yang dapat berubah...” papar Pak Lee


“Bagaimana keadaan Oh Gyun setelah itu? Apa dia baik-baik saja? Bukankah dia merasa kesulitan?” tanya Soo-jin


“Anak kecil cenderung mengetahui... bahwa ibu mereka membuat keputusan tertentu demi mereka. Anak-anak lain merasakan kasih sayang ibu mereka lewat sentuhan ibu tiap hari. Tapi Oh Gyun-ku... cuma tahu saja. Dia merasakan kasih sayang ibunya. Keberanian ibunya. Terkadang, aku merasa itu sudah cukup. Karena kuyakin pasti ada kesulitan lain dalam hidupnya. Tapi tugas seorang ayahlah untuk melindunginya dari hal-hal seperti itu...” jelas Pak Lee


Setelah mendengar semu itu, Soo-jin tiba-tiba bertanya, “Apa mungkin... besok kami boleh pergi bersama kalian?”


Soo-jin bergegas menelpon ahjumma, teman ibunya, “Apa mungkin... kami bisa naik kapal besok?”

“Kau ingin datang ke sini buat naik kapal? Wajahmu itu sudah masuk TV! Mana mungkin kau kesini,a palagi dengan seorang anak kecil? Terminal dan stasiun kereta api pun juga pasti sudah dipenuhi polisi!”

“Aku tetap akan mencobanya...”

“Karena kau sudah memberi kami uangnya... jadi kembalilah ke sini kapan saja begitu semua sudah beres..., barulah kau naik kapal itu. Kalau sekarang, terlalu berbahaya!”

“Kemanapun kami sekarang, kami juga tetap dalam bahaya. Jika kami sampai di sana dengan selamat...  kau akan membantu kami naik kapal, bukan?”

“Kalau kau sampai sini... tentu saja aku akan melakukan apapun agar kau bisa naik kapal.”

“Terima kasih. Tapi... tolong jangan beritahu ibuku. Takutnya, ada polisi yg sedang mengintainya..”


Detektif Chang, mendatangi TKP kecelakaan mobil. Saksi mata menjelaskan, bahwa korban adalah seorang wanita muda.. namun ketika pihak asuransi datang, malah ada wanita parubaya yg mengatakan bahwa kecelakaan itu terjadi padanya, “Jadi aku berkata dalam hati ‘Pasti ada yang tak beres’, Mereka mungkin ibu dan anak, tapi...”

“Sebentar... ‘ibu dan anak’???”

“Ya, aku dengar mereka berdua berbicara. Wanita itu memanggil wanita parubaya itu dengan sebutan ‘ibu’....”


Young-shin berbicara berdua dengan Yi-jin, dia membahas kejadian beberapa hari yg lalu ketika dirinya terlalu emosi hingga mengatkan akan tidak menganggap Yi-jin sebagai putrinya lagi,

“Aku minta maaf atas kelakuanku, Bu. Karena melapor polisi. Aku tidak bermaksud agar Soo Jin Unni tertangkap. Tak kusangka polisi akan mengejarnya. Jika, ada yang terjadi pada Soo Jin unni, aku harus bagaimana?”


“Yi Jin. Peluklah Ibu... Jika hal yang sama terjadi padamu juga... Ibu pun akan melakukan hal yang sama padamu juga. Tapi, tentu saja, kau adalah wanita yang rasional. Jadi kau tidak akan pergi dan menyebabkan masalah seperti Soo Jin. Lupakanlah yang Ibu katakan... soal Ibu takkan menganggapmu anak. Kau pasti kesal karena Ibu bilang begitu, bukan? Ibu minta maaf.”
Advertisement


EmoticonEmoticon