3/06/2018

SINOPSIS My Golden Life Episode 50 PART 1

SINOPSIS My Golden Life Episode 50 BAGIAN 1


#50 – Kenapa Kau Melakukan Itu?”


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Golden Life Episode 49 Part 4

Ji An sangat terkejut ketika menerima telepon dari Ji Ho yang mengabarkan bahwa ayah mereka mengidap kanker stadium empat. Myung Shin yang masih berada disana juga tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Hei, Seo Ji Ho! Apa yang kau bicarakan? Apa maksudmu?” tanya Ji An yang masih tidak percaya dengan kondisi ayahnya. “Berhenti bercanda! Aku akan membunuhmu!”


Ji Ho masih menangis dan berkata, “Ayah.. Ayah sudah pergi ke rumah sakit.” Ji An semakin terkejut.


Sama seperti Ji An, Ji Tae juga belum bisa mempercayainya. Ibu menundukkan kepalanya menahan tangis. Ji Tae mengajak ayah agar memeriksakan dirinya lagi ke rumah sakit. “Kenapa ayah tidak memberitahu kami lebih awal? Kenapa ayah memendamnya sendiri?” tanya Ji Tae. Ayah bilang kankernya sudah menyebar.


Ji An berjalan dengan sangat lemas sampai bertahan pada dinding eskalator. Myung Shin memegangi tubuh Ji An dan sangat mengkhawatirkan keadaannya. Ji An masih tidak percaya, namun matanya sudah berkaca-kaca. Ia mengingat saat ayahnya memberikannya tiket ke Finlandia dan memintanya segera berangkat

“Tidak.. tidak... tidak mungkin. Kasihan ayahku,” gumam Ji An sampai terjatuh. “Myung Shin, apa yang harus kulakukan?” isak Ji An. Myung Shin menyuruhnya pulang ke rumah dan mendengarkan penjelasan ayahnya. “Dia tidak seperti ini sebelumnya.” Myung Shin menyuruhnya berdiri dan akan mengantarkannya pulang. “Tidak. Aku ingin sendirian.” 


Ayah bilang ia sudah membuat keputusan, jadi ayah akan melakukan semua hal yang sebelumnya tidak bisa ia lakukan dan meninggal dalam damai. Ia juga berharap kalau mereka semua tidak menangis di depannya dan tidak menceritakan kepada siapapun tentang kondisi kesehatannya.


Ji Ho: “Ayah, itu tidak masuk akal. Bagaimana kau bisa mengharapkan kami melakukan itu?”
Ayah: “Kenapa tidak? Itulah yang kuinginkan.”
Ji Tae: “Ayah...”
Ayah: “Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku ingin mati seperti keinginanku. Semua orang akan mati, bukan?”


Ji Tae bilang untuk saat ini ia akan pergi ke rumah sakit dan mencari semua kemungkinan perawatan dan operasi yang bisa dilakukan untuk ayah. Ayah menolak. Ia bilang tingkat keberhasilannya kurang dari 10% dan ia tidak mau menghabiskan sisa hidupnya di rumah sakit untuk itu.


“Bagaimana jika aku mati saat dioperasi? Apa kau akan menyelesaikan urusanku yang belum selesai?” tanya ayah. Ji Tae bilang walaupun hanya satu persen, ia akan mengambil kesempatan itu, karena ia tidak bisa membiarkan ayahnya seperti itu. Ji Ho juga mengatakan hal yang sama.


Ayah tertawa kecil dan menyebut mereka masih terlalu muda. Ayah lalu mengatakan bahwa berkat mereka, ia tidak punya urusan yang belum selesai. Ayah berkata bahwa saat ia didiagnosa menderita kanker khayalan, mereka sudah memperlakukannya dengan sangat baik. Padahal sebelum itu, ayah merasa sangat terkhianati, diabaikan dan ditolak sebagai ayah mereka. Ayah mengakui kalau dia kecewa, marah, dan hidupnya adalah sebuah kegagalan.


Ibu semakin dalam kesedihannya. Ayah mengatakan ia senang karena kesalahpahaman diantara mereka sudah berakhir. Ayah berpesan kalau Ji Tae sudah menjadi seorang yang harus melindungi anaknya, ayah juga melarangnya memberitahu Soo A tentang sakitnya itu. Ayah tidak mau Soo A tinggal bersama orang sakit, itulah alasannya dia lebih memilih tinggal di Jeongseon.


Soo A datang Ji Tae menyambutnya. Soo A melihat sepatu ayah di luar dan ingin menyapanya, tapi Ji Tae bilang ayah sudah bersiap untuk tidur. Ji Tae lalu mengajak Soo  A ke kamar mereka di lantai atas.


Ji An menerima pesan dari Ji Tae yang mengatakan kalau mereka akan pergi ke rumah sakit besok. Ji An sangat sedih dan berdiam diri di taman.


Sementara itu, Do Kyung sedang makan malam bersama Gi Jae di sebuah restoran. Gi Jae menanyakan apakah Do Kyung sudah sejak awal ingin mencalonkan diri sebagai Ketua. Do Kyung bilang walaupun dia kecewa, tetapi kakeknya-lah yang mendirikan Haesung, jadi dia tidak bisa membiarkan mereka menendang siapapun dari Haesung.


Gi Jae:”Apa rencanamu selanjutnya? Apa kauakan menjadi pemimpin muda revolusioner yang mempekerjakan eksekutif profesional? Apakah perusahaan tidak akan dijalankan oleh keluargamu?”
Do Kyung: “Ketika aku menunggu kakekku terbangun di depan ruang ICU, aku ketakutan. ‘Apa yang harus kulakukan jika dia tidak bangun?’ Tanggung jawab yang harus kuambil membuatku takut. Dan jika dia bangun. Ji An.. Aku pikir kakek akan menghancurkan Ji An.”


Do Kyung bilang ia akan tetap menjalankan hidup sesuai keinginannya sendiri. Do Kyung bilang ia akan fokus pada pekerjaannya, dan Ji An akan ada disana melakukan pekerjaannya sendiri. Dia tersenyum. Gi Jae mengatakan bahwa kepingan-kepingan itu sudah menemukan tempatnya.


Ibu No menemui Pak Choi di ruang kerjanya. Beberapa buku terlihat sudah terikat rapi. Ibu No bertanya apakah suaminya benar-benar akan menceraikannya. “Cepatlah stempel suratnya. Kita harus mengakhirinya dan memberitahu Do Kyung dan Seo Hyun,” kata Pak Choi masih sambil membaca bukunya. 


Ibu No: “Aku tidak akan bercerai darimu. Aku tidak akan pernah membiarkan terjadi dalam hidupku.”
Pak Choi: “Kenapa tidak? Oh, apa karena reputasimu? Walaupun artikelnya sudah dihapus, semua orang sudah membacanya. Apa kau takut kalau mereka berpikir aku meninggalkanmu karena alasan itu?”
Ibu No: “Jawab ini. Kau bertahan bersamaku selama 25 tahun. Kenapa sekarang?”


Pak Choi mengatakan kalau Ibu No tidak pernah meminta maaf, tidak merasa menyesal, dan tidak mengerti orang lain. Pak Choi juga bilang kalau sekarang ia membenci istrinya dan juga Haesung. Ibu No terkejut mendengarnya. 


Pak Choi bilang ia sangat kagum atas apa yang sudah ayah lakukan untuk anak-anaknya. Itu membuatnya berpikir untuk siapa selama ini ia hidup. Pak Choi bilang ia selalu menerapkan disiplin dan keras pada anak-anaknya, serta membuat jarak di antara mereka. Dan ia menyesali itu semua.


Layar laptop Ji Soo menunjukkan artikel tentang adonan roti, tapi ia malah memikirkan kata-kata ‘putus’ yang disampaikan oleh Hyuk. “Tunggu dulu, apa kami sudah putus?” gumam Ji Soo. Kemudian terdengar notifikasi balasan komentar dari blog Hyuk. Sebelumnya, Ji Soo suka mengirimkan komentar dengan nama samaran Bread Pitt.


Dalam komentarnya, Hyuk merasa kalau Bread Pitt adalah seseorang yang menganggapnya bernilai dan Hyuk menduga kalau Bread Pitt adalah seorang wanita dan ingin bertemu dengannya. Hyuk berharap kalau Bread Pitt tidak tinggal jauh dari lingkungannya, sehingga mereka bisa bertemu.


Ji Soo sangat cemburu. “Hei, Sun Woo Hyuk. Bagaimana kau bisa melakukan ini padaku?” 


Hyuk menertawakan keisengannya sendiri. Dia membayangkan reaksi Ji Soo jika membaca balasan pesan itu. Ia lalu mengetik pesan lagi, bahwa dia ingin bertemu dengan orang yang menghargainya. Ji Soo mendapatkan notifikasi lagi, lalu membaca pesannya.


Ji Soo tidak percaya Hyuk melakukan itu. Ia kemudian membalas pesannya, “Baiklah. Ayo kita bertemu.” Dia cemburu dan marah.


Keesokan harinya, Ji Soo keluar dari kamarnya masih memakai piyama. Ia kemudian melihat Hyuk yang sudah bersiap pergi sambil memakai jas yang sangat rapi. Yong Gook bertanya apakah Hyuk akan pergi kencan buta. Hyuk bilang ia ada rapat bisnis. Yong Gook bilang penampilan Hyuk terlihat luar biasa.


Ji Soo bertambah kesal.


Ibu No datang terakhir ke rumah Haesung dan bertanya apakah Do Kyung pulang larut semalam. Do Kyung mengiyakan dengan mengatakan kalau ia pergi minum bersama Gi Jae. “Kau minum? Lalu kenapa mereka membuat sup belut? Bu Min,bukankah dia membutuhkan sup ikan buntal?” tanya Ibu No terkejut.


Seo Hyun: “Ibu, Bu Min tidak ada.”
Ibu No: “Tidakkah kalian tahu kalau harus membuat sup ikan buntal?”
Pelayan:”Kami tidak tahu. Kami hanya mengikuti jadwal menu harian.”
Do Kyung: “Tidak apa-apa. Ini juga enak.”
Seo Hyun: “Kapan ibu akan berangkat ke kantor? Apa aku bisa belajar keluar negeri musim panas ini?”
Ibu No: “Jika kau sudah selesai makan, kau harus pergi ke kamarmu.”
Seo Hyun: “Ibu..”
Ibu No: “Aku harus bicara dengan oppa-mu dulu.”


Setelah Seo Hyun pergi, Ibu No bertanya apakah Do Kyung benar akan memecat mereka dan membuat mereka hanya duduk di rumah. “Kita berdua harus bicara,” kata Pak Choi lalu pergi lebih dulu. Ibu No lalu mengatakan ketidaksetujuannya tetang Do Kyung yang menunjukan paman untuk memimpin Hotel MJ dan akan mempekerjakan profesional untuk memimpin Divisi Makanan dan Minuman.


“Apa ibu punya mata-mata di kantor?” tanya Do Kyung. Ibu No bilang kalau bibi datang dan berlaku sangat sombong. “Aku hanya memberikannya kesempatan kedua. Aku tidak melibatkan perasaan pribadi dalam hal perusahaan. Perusahaan membutuhkan Paman Myuung Soo. Resort Eropa merupakan bisnis yang besar dan masalah franchise membutuhkan pemimpin muda.”


Ibu No bilang selama ini ia yang sudah bekerja keras di divisi itu. Do Kyung menyarankan ibunya agar rehat dan menarik kembali kepercayaan para pemegang saham lebih baik lagi dari sebelumnya. Do Kyung berdiri, dan Ibu No mengatakan kalau dia belum selesai bicara. Do Kyung bilang ia ada jadwal rapat dan harus segera pergi.


Pak Choi menemui Seo Hyun di kamarnya dan mengajaknya makan siang bersama. Seo Hyun hampir tidak percaya dengan ajakan itu. “Apa yang ingin kau makan? Kita akan pergi ke tempat yang kau inginkan,” kata Pak Choi penuh kasih sayang.


Ji An dan Ji Tae pergi ke rumah sakit untuk berkonsultasi dengan dokter tentang kemungkinan operasi atas kanker ayah. Tapi bilang itu sangat sulit, karena kankernya sudah menyebar selama beberapa bulan. Dan kondisi ayah yang lemah membuatnya tidak akan bertahan dalam operasi maupun kemoterapi.


Dokter mengatakan kalau kemungkinan hidup ayah antara 1 sampai 2 bulan lagi, tapi tidak ada yang tahu pasti tentang hal itu. Ji An dan Ji Tae sangat terkejut.


Ayah baru selesai mandi dan ibu masih saja melamun. Ayah bertanya apakah ibu tidak akan berangkat bekerja. Ibu bertanya apa yang harus ia lakukan dan berkata kalau dialah yang seharusnya mati dan merasa sangat menyesal. Ayah bilang kalau ibu merasa menyesal, maka ibu harus hidup dengan sehat dan selalu mendampingi anak-anaknya tetapi tidak menjadi beban bagi mereka.


Ayah bilang anak-anak akan selalu merindukan mereka walaupun mereka sudah tua. Ayah juga bilang kalau kesalahan ibu tidak terlalu burul. Ji An bahkan menemukan semangatnya setelah dari Keluarga Haesung. Ayah meminta ibu agar tidak khawatir tetap berangkat bekerja.


Ji An termenung sendirian di taman rumah sakit. Ia memikirkan sesuatu, lalu pergi.


Comments


EmoticonEmoticon