3/13/2018

SINOPSIS My Golden Life Episode 51 PART 1

SINOPSIS My Golden Life Episode 51 BAGIAN 1


#51 – Ini Semua Salahku


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Golden Life Episode 50 Part 4

Setelah mengatakan bahwa dia tidak bisa memaafkan Do Kyung dan juga dirinya sendiri, Ji An malah membantu keluarga Do Kyung tanpa mengetahui apa yang keluarga Do Kyung laykukan pada ayahnya. “Dan ayahku menyelamatkan keluargamu demi aku dan Ji Soo,” kata Ji An.


Do Kyung: “Aku tidak mengira kakek akan berbuat seperti itu?”
Ji An: “Apa kau merasa bersalah?”
Do Kyung: “Sangat, sampai aku tidak bisa menyampaikannya dengan kata-kata.
Ji An: “Kalau begitu, lupakan aku sepenuhnya.”


Ji An bilang hanya itulah hal terakhir yang bisa Do Kyung lakukan untuknya. Ji An juga bilang kalau ia akan melupakan Do Kyung sepenuhnya dan tidak mau jika ia terus berada dalam kenangan Do Kyung. “Jadi jika kita bertemu, maka kita adalah orang asing,” kata Ji An lagi.


Ji An mengembalikan kalung pemberian Do Kyung dan pergi. Do Kyung semakin bertambah sedih. Akibat rasa bersalah atas perbuatan kakeknya, Do Kyung bahkan tidak bisa menghalangi kepergian Ji An.


Di Jeongseon, ayah dan ibu terkejut melihat kedatangan Ji Tae bersama Soo A. Soo A bilang mereka datang untuk menjemput ayah. Ji Tae mengakui bahwa ia ketahuan oleh Soo A. “Ayo pulang, ayah,” ajak Soo A “Sayang, kemasilah barang-barang ayah di dalam.” Ayah menolak. Ji Tae kemudian mengajak ibu bicara terpisah.

Soo A: “Jika ayah tinggal disini, aku akan khawatir, begitu juga dengan bayinya.”
Ayah: “Soo A..”
Soo A: “Aku tinggal terpisah di lantai atas sepulang kerja. Aku mengambil waktu ayah bersama keluargamu. Bagaimana aku bisa merasa nyaman dengan itu? Sekarang, aku akan menjadi ibu juga.”


Ayah bilang ia merasa sangat bersalaj pada Soo A. “Ayah adalah kakek bayi ini,” kata Soo A sambil menggandeng tangan ayahnya. “Ayah, tolong beri nama bayinya.”


Ji An terlihat mendatangi rumah Seok Doo. Ia mengembalikan uang 20.000 dollar yang ayah dulu bilang dapatkan dari Seok Doo. Ji An bilang ia dapat tetap sekolah keluar negeri dengan uang tabungannya sendiri.


Seok Doo akhirnya mengakui bahwa uang itu bukan darinya. “Apa?” tanya Ji An tidak mengerti.


Dalam perjalanan pulang, Ji An melangkah dengan lemas dan sedih, karena Seok Doo memberitahunya bahwa uang itu ayah dapatkan dari klaim asuransi kankernya yang diikutinya sebelum bangkrut. Saking lemasnya, Ji An akhirnya jatuh terduduk di tangga.


Ji An menangis tersedu-sedu, ketika mengingat ayahnya berobohong dengan mengatakan bahwa uang itu adalah hasil usahanya dengan Seok Doo dan juga saat ayahnya mengatakan bahwa Ji An harus berangkat ke Finlandia. “Ayah...” isaknya.


Gi Jae bertanya kenapa Do Kyung menghubunginya tiba-tiba di hari Minggu pagi. Do Kyung menjawab, “Gi Jae, kenapa aku meninggalkan rumah?” Gi Jae bilang Do Kyung membatalkan pertunangannya dengan Jang So Ra dan perusahaan menugaskannya ke Cabang Eropa, dan Do Kyung berusaha untuk hidup mandiri. Gi Jae juga mengatakan bahwa Do Kyung ingin mendapatkan hati Ji An.


Do Kyung membenarkan bahwa dirinya ingin mendapatkan hati Ji An. Ia bercerita pada Gi Jae bahwa ia tidak pernah melakukan apapun untuk Ji An, semenjak dia pergi dari rumah. Gi Jae bilang Ji An bukan orang seperti itu. “Tapi aku memang tidak pernah melakukan apapun untuknya. Aku membual dengan membelikannya kalun dari hasil pekerjaan paruh waktu, dan juga membuatkannya sup rumput laut,” kata Do Kyung.


Gi Jae: “Bagaimana dengannya? Apa yang sudah dia lakukan untukmu? Dia membantumu saat rapat pemegang saham.”
Do Kyung:”Dia membantuku menyiapkan presentasi. Ketika kakek mencegahku mendapatkan kontraknya, dia memperkenalkan sebuah pabrik padaku. Dia mencari informasi tentang mesin bekas dan juga tentang pellet. Bagaimana membersihkan kulkas dan menggunakan mesin cuci. Bahkan cara mengepak produk dan mendesain kemasannya. Desain toilet kucing.”
Gi Jae: “Dia melakukan banyak hal.”


Do Kyung juga bilang kalau Ji An merawat dan membuatkan bubur ketika dia sakit, sedangkan ayah Ji An membantu menyingkirkan artikel tentang ibunya dan membuatnya menjadi Ketua. “Choi Do Kyung, apa yang kau lakukan setelah meninggalkan rumah?” tanya Gi Jae. Do Kyung bilang dia hanya merengek pada Ji An untuk menerima hatinya dan mencintainya. IA juga bilang kalau dia sangat percaya diri bisa memenangkan hati Ji An.


“Meski aku meninggalkan rumah atau tidak, aku tetap Choi Do Kyung dari Haesung,” kata Do Kyung. “Aku tidak ingin melakukan apa yang diinginkan. Aku tidak pernah membantunya, tapi dia malah membantuku. Walaupun...dia menolakku...dia tetap membantuku.”


Gi Jae menatapnya prihatin, “Kau...merasa sangat sedih, bukan?” Do Kyung bilang tidak pantas dimaafkan dan merasa sangat malu, dan marah pada dirinya sendiri. Dia menggenggam tangannya dengan erat.


Ayah akhirnya bersedia pulang bersama Ji Tae dan Soo A. Ayah kemudian mendapat pesan dari Seok Doo, bahwa Ji An sudah tahu tentang uang asuransi ayah. Ayah mengkhawatirkan perasaan Ji An.


Ayah kemudian melihat ke jalan dan berkata, “Ji Tae, hentikan mobilnya.” Ayah ternyata melihat Ji An duduk di depan mini market dengan dua kaleng minuman. Ayah melihat kedua minuman itu masih belum dibuka.


Ayah berkata, “Kau bahkan belum membukanya. Sudah berapa lama kau disini? Kau terlihat sedih.” Ji An hanya menundukkan kepalanya. “Aku bukan menolak melakukan operasi agar bisa memberikanmu uang.” Ji An tidak percaya. “Hei, kau tidak dengar apa yang dikatakan dokter? Jika aku punya kesempatan, kenapa aku tidak mengambilnya?”


Ji An: “Satu persen kesempatan tetaplah kesempatan, tapi ini kesempatannya sepuluh besar..”
Ayah: “Ini lebih kecil.”
Ji An: “Sebenarnya, kenapa ayah melakukan ini? Kenapa ayah melakukan semua ini dalam kondisi kesehatan yang seperti itu? Jika tidak operasi, ayah seharusnya menjalani kemoterapi. Hhh.. tapi bagaimana bisa ayah pergi berkeliling demi Haesung?”


Ayah bilang ia melakukan itu karena tahu ia akan segera pergi. Ji An marah dan menanyakan siapa keluarga Haesung itu sampai pantas membutuhkan bantuan ayahnya, karena Ji An sendiri tinggal disana hanya selama sekitar 2 bulan. Ayah bilang ia hanya ingin membantu mereka.


Ji An: “Kenapa kau melakukan itu? Kenapa?”
Ayah: “Apa kau bertemu dengan kakak Ji Soo? Apa pria itu yang memberitahumu?”
Ji An: “Aku sudah mengakhiri semua dengannya.”
Ayah: “Jika kau bisa melakukannya sekarang, kenapa kau tidak melakukannya sejak awal?”


Ji An tidak bisa menjawab, tapi kini semuanya sudah selesai dan mereka tinggal menikmati waktu yang tersisa dan menjalaninya secara terpisah. “Ayah, ayah maafkan aku,” isak Ji An. “Jika aku memberitahu sejak awal bahwa ayah tidak mengidap kanker...” Ayah berkata bahwa Ji An tidak perlu menyalahkan dirinya sendiri. Ayah bilang sekarang ia sudah lega karena tidak memiliki kesalahpahaman lagi dalam keluarga mereka.


Ji An bilang ia berharap ayahnya bisa bersama mereka lebih lama lagi. “Sampai kapan? Sampai kau tidak sedih?” canda ayah sambil tersenyum. Ji An bilang setidaknya sampai dia menjadi seorang ibu. “Sampai aku bertemu cucuku? Kalau begitu, aku nanti ingin melihat cucuku masuk sekolah dasar, sekolah menengah dan juga pernikahannya. Astaga, jika itu berlanjut, aku akan terlalu sedih untuk pergi,” kata ayah lalu tertawa.


Ayah mengatakan bahwa semua orang akan menghadapi kematian. Dan dia senang, karena sudah melakukan yang terbaik sebagai seorang ayah. Ayah bilang ia tidak apa-apa jika harus pergi, dan Ji An harus melepasnya dengan senyuman. “Mengerti?” tanya ayah dan Ji An menganggukkan kepalanya sambil berusaha berhenti menangis.


Ayah menyentuh pipi JI An dan tersenyum padanya dengan mata bekaca-kaca. Mereka berdua kemudian pulang bersama.


Di depan rumah, Ji Soo sudah menunggunya. “Ayah...” Ji Soo berlari lalu memeluk ayahnya. “Ayah, aku mencintaimu.” Ayah bertanya ada apa, tapi Ji Soo hanya memeluknya dengan semakin erat sambil menangis. Ayah pun menepuk-nepuk pungguh Ji Soo.


Pelayan dan Seo Hyun menyambut kedatangan Pak Choi. Seo Hyun memberitahu ayahnya bahwa ibunya berkelahi dengan Bu Min dengan saling menjambak rambut. “Apa?” tanya Pak Choi terkejut. Ia lalu masuk ke kamarnya dan menemukan istrinya sedang berbaring di tempat tidur.


Pak Choi bertanya apa yang terjadi sampai Ibu No berkelahi dengan Bu Min. Ibu No menarik selimutnya. Pak Choi menanyakan keberadaan Bu Min dan apakah dia mengundurkan diri. Ibu No mengiyakannya dari balik selimut.


Ibu sangat sedang menyiapkan sarapan dan merasa sangat senang, karena rumahnya terasa ramai. Ji Soo membuka panci dan sangat senang melihat sup ikan loach di dalamnya. Ibu bilang Soo A sedang sangat menginginkannya. Ji An lalu memanggil ayahnya yang masih berada di kamar.


Soo A kemudian minta maaf, karena kemarin dia memang ingin makan sup ikan loch, tapi sekarang ia ingin makan hotteok di kedai dekat kantornya. Ibu bilang itu tidak masalah, karena anak-anaknya yang lain akan memakannya. Ji An keluar dari kamar, “Ibu, ayah tidak ada di kamarnya.”


Ayah ternyata sedang menyapu di jalan. Ji An keluar dan menggoda ayahnya yang selalu menyapu jalan luar rumahnya setiap jam setengah delapan pagi. Ayah kemudian memberikan koran dan menyuruh Ji An masuk karena udara sangat dingin. Ji An juga menyuruhnya ayahnya masuk ke rumah.


Ji Tae dan Soo A berpamitan ayah dengan ceria. Namun, setelah menjauh dari ayah, raut wajah mereka menjadi sedih. Ji An kembali meminta ayahnya masuk ke rumah.


Sementara itu, Do Kyung mendatangi kakek di kamar rawatnya dan memberi salam. Kakek tersenyum dan mengacungkan jempol padanya. “Cucuku memang yang terbaik. Aku baru saja memikirkan tentang dirimu. Apa kau datang kesini sebelum berangkat bekerja?” tanya kakek.


Do Kyung: “Kenapa kakek menghubungiku?”
Kakek: “Aku menghubungi Seo Ji An untuk meminta maaf, tapi dia tidak mau menerimanya.”
Do Kyung: “Aku mengerti.”
Kakek: “Aku pikir aku harus jujur ketika meminta maaf. Itulah kenapa aku mengatakan kalau aku sudah memukul ayahnya. Setelah mendengar itu, dia marah dan pergi. Dia tidak mengerti tujuanku.”


Kakek bilang ia mengakui telah membuat kesalahan saat itu, tapi ia berpikir kalau itu adalah urusannya dengan ayah Ji An, bukan dengan Do Kyung. Do Kyung mengatakan bahwa kakeknya bukan memanggil Ji An untuk meminta maaf, tapi karena kakek tadinya berpikir kalau Ji An sudah mendengarnya dari ayahnya.


Do Kyung: “Kakek sudah dipulangkan dari rumah sakit. Kakek bisa pergi ke Hawaii sekarang. Aku juga sudah membeli tiketnya.”
Kakek: “Kau pikir apa yang kau lakukan?! Aku masih mengkhawatirkan kondisiku, jadi aku ingin tinggal di rumah sakit negaraku!”
Do Kyung: “Jika kakek masih ingin tinggal disini, kakek mungkin akan kehilangan posisi di dewan komisaris. Kakek harus pura-pura sehat. Aku sudah bertemu dengan Dokter Kang. Dia bilang sudah merekomendasikan berkali-kali pada kakek agar pulang.”


Do Kyung lalu pamit pada kakek, karena dia harus menghadiri rapat. Dan kakek terlihat sangat marah.


Comments


EmoticonEmoticon