3/15/2018

SINOPSIS My Golden Life Episode 51 PART 4

SINOPSIS My Golden Life Episode 51 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Golden Life Episode 51 Part 3

Ji Tae tahu pasti Ji An merasa berat harus meninggalkan ayah di rumah sakit itu. Ji An lalu mengingatkan tentang buku catatan ayah yang dibacanya saat di Jeongseon. “Ya, Kita pergi ke restoran bulgogi dan makan sup kentang, seperti yang ayah inginkan,” kata Ji Tae.


Ji An lalu mengatakan bahwa harapan ayah lainnya adalah memainkan gitar di depan makam orang tuanya. Ayah menulis itu saat ia merasa sendirian, dan tidak menganggap keluarganya ada. Ji An juga memberitahu Ji Tae bahwa ayah membawa gitarnya ke rumah sakit. “Apa itu mungkin dilakukan?” tanya Ji Tae.


“Dokter Mark? Apa kau sudah melihat diagramnya?” tanya Pak Choi dalam Bahasa Inggris.


Malam harinya di rumah sakit, ayah mencoba menahan rasa sakit di perutnya. Ayah berteriak tanpa suara.


Di rumah, ibu sangat sedih dan menatap foto suaminya. Ibu menangis lagi


Sedangkan Ji Tae sedang bicara dengan bayinya. Ia membacakan cerita untuk bayinya.


Ayah mengisi hari-harinya dengan memainkan gitarnya di depan teman-temannya sesama pasien. Di saat lain, ayah juga menerima kunjungan dari keluarganya.


Ayah: “Bagaimana kabar Goldie?”
Soo A: “Goldie? Apakah itu nama panggilan untuk bayi kami?”
Ayah: “Ya, kau memintaku memberinya nama. Sekarang tahun anjing emas.”
Ji Tae: “Aku suka itu. Goldie.”


Soo A mengatakan bahwa ayah tampak lebih baik, Ji An juga mengatakan bahwa ayah terlihat lebih tampan. “Apa ayah berselingkuh?” goda Ji Soo. Ayah tertawa dan berkata kalau ia tidak bisa melakukan itu karena ibu selalu berkunjung setiap hari.


Ji Tae senang karena ayah tertawa dengan lepas, karena sudah lama ayah tidak melakukan itu.. Ayah bilang mood-nya sedang baik. Ji An bertanya apa alasannya. “Tidak masalah jika aku harus mati besok atau bahkan sekarang. Aku hanya sangat bahagia,” kata ayah sambil tersenyum. Anak-anaknya merasa sedh, namun tetap tersenyum di depan ayah.


Dokter mengatakan bahwa kondisi ayah baik. Ji Tae bertanya apakah ayahnya bisa pergi meninggalkan rumah sakit selama satu hari. Dokter mengatakan bahwa bergerak terlalu banyak akan membuatnya sangat lelah.


Tapi dokter mengizinkan jika ayah pergi dengan naik kursi roda. “Benarkah?” tanya Ji An senang.


Keesokan harinya, Ji An kembali mengunjungi ayah sambil membawa kursi roda dan langsung mengambil pakaian ayah. Ji Soo bilang udaranya sangat segar, jadi mereka datang untuk menyelamatkan ayah dari ruangannya. “Ini akhir pekan yang indah. Ayo kita pergi piknik,” ajak ibu.


“Piknik?” tanya ayah heran. Ji An lalu menyiapkan pakaian ayah dan memintanya segera bersiap.


Tidak lama kemudian, mereka terlihat berjalan bersama ke taman tempat dulu Ji Tae melangsungkan pernikahan. Ji Soo bilang di tempat itulah mereka mengadakan acara keluarga mereka. Ji An dan Ji Soo lalu melambaikan pada kedua saudara laki-laki mereka.


Ji Ho dan Ji Tae tampak sedang sibuk menyiapkan tempat konser untuk ayah. Beberapa kursi tamu juga terlihat sudah siap disana. Ayah membaca tulisan ‘Konser Seo Tae Soo’ di spanduk yang Ji Ho bawa.


“Apa itu?” tanya ayah.  Ji An berkata bahwa ayahnya selalu memainkan gitar untuk orang lain, tapi tidak pernah untuk keluarganya. “Kau ingin aku bermain gitar disana?”


Ji An bertanya apakah ayah merasa malu. Ayah masih belum menyatakan persetujuannya. Ji Soo mengeluarkan foto kakek neneknya dan mengatakan bahwa mereka juga akan menyaksikan konser ayah. Ibu juga membujuk ayah dengan mengatakan kalau ibu juga ingin mendengar penampilan gitar solo ayah.


“Tapi terlalu banyak orang,” kata ayah sambil melihat para tamu yang sudah hadir. Ji Soo bilang semua orang yang hadir berhubungan dekat dengan mereka dan sudah seperti keluarga. Ji AN bilang ayah hanya perlu memainkan dua lagu.


Walaupun awalnya sangat gugup, ayah akhirnya mulai memetik gitarnya. Ayah sangat menikmati permainan gitarnya begitu juga mereka yang mendengarkan.  Lagu yang ayah bawakan sangat syahdu, dan membuat semua orang terharu.


Ji An lalu menoleh ke pepohonan, dimana dulu ia datang bersama Do Kyung di hari pernikahan Ji Tae.


Semua orang bertepuk tangan setelah ayah selesai memainkan gitarnya. Mereka semua tersenyum bahagia untuk ayah. Ayah juga terlihat sangat senang. Kemudian ayah pun memainkan lagu yang kedua. 


Lalu giliran Ji Tae yang bernyanyi. Lagu yang dia bawakan masih bernuansa mellow. Sepanjang Ji Tae bernyanyi, Ji An terus menatap ayah yang duduk di sampingnya.


Tidak jauh dari tempat konser, Do Kyung datang dan menatap Ji An dengan sedih. Tidak lama kemudian, dia memutuskan untuk pergi.


Setelah konser selesai, ayah berfoto bersama keluarganya.


Ayah juga bertemu dengan ayah Hyuk untuk pertama kalinya dan saling menyapa. Ayah berkata bahwa bos workshop sudah membesarkan putra yang baik. Ayah memintanya untuk menjaga Ji Soo dengan baik.


Ji Ho lalu mengumumkan bahwa sudah tersedia minuman dan sandwich buataan Ji Soo. Ia mempersilakan para tamu untuk menikmatinya.


“Tuan Seo, apa ini konser pertamamu?” tanya Ji An sambil membawakan kursi rodanya untuk ayah. “Kau terlihat profesional. Duduklah.” Ayah kemudian duduk di kursi roda. “Ayo kita berpamitan, lalu kita akan makan bersama di restoran bulgogi.”


Ayah: “Hari ini aku mengizinkanmu makan lima porsi.”
Ji An: “Apa ayah yakin? Ah, aku harus mengemas foto kakek dan nenek. Ayah tunggu disini sebentar.”
Ayah: “Baiklah.”


Ayah mengiyakan lalu tersenyum, lalu menatap matahari yang bersinar cerah.


Ayah mendengar suara orang yang memuji suara Ji Tae saat menyanyi tadi.


Ji Soo bertanya kapan mereka akan pergi keluar bersama lagi. Ji An menyarankan agar mereka melakukannya satu pekan sekali.”Tidak, ayo lakukan setiap hari,” ajak Ji Soo. JI Ho menyebutnya kekanak-kanakan dan menyindir kalau mereka semua punya pekerjaan. Ji Soo memukul kepala Ji Ho, “Hei, aku akan segera mendapatkan pekerjaan.!”


Mereka tertawa, lalu ibu memukul kepala Ji Soo dan berpura-pura memarahinya karena sudah memukul JI Ho. Ji Ho lalu merajuk kalau telinganya berdering dan meminta dipeluk oleh ibu. “Inilah saatnya ayah ikut berperan,” kata Ji Ho lalu menirukan perkataan bijak ayahnya. “Benar kan, ayah?”


Karena ayah tidak merespon, Ji An menoleh ke arah ayah dan bergumam, “Apa ayah tertidur?” Dia lalu menitipkan foto kakek dan nenek kepada Ji Tae. “Ayah..” panggil Ji An sambil berjalan ke arah ayah. “Ayah... ayah..”


Tapi ayah tidak juga menjawab. Ji An lalu melihat tangan ayah terkulai lemas dan kepalanya terkulai ke samping. Ji An shock dan menghentikan langkahnya.


Ji An hanya merasakan keheningan dan desiran angin. Dengan perlahan ia melangkah sambil terus memanggil ayahnya, tapi ayah tidak juga menjawab.


Hingga akhirnya Ji An berteriak dan berlari, “Ayah...!”
Comments


EmoticonEmoticon