3/10/2018

SINOPSIS Mystery Queen 2 Episode 3 PART 4

SINOPSIS Mystery Queen 2 Episode 3 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mystery Queen 2 Episode 3 Part 3

Sesampainya di depan rumah sakit, Detektif Ha berterima kasih pada Hee Yeon dan mempersilakannya pulang. Hee Yeon bilang dia akan pulang setelah melihat Detektif Ha diobati. “Tidak perlu. Aku akan menemaninya. Kau pasti sibuk. Kau boleh pergi,’ kata Seol Ok.


Hee Yeon tampak mengkhawatirkan Detektif Ha, tapi sepertinya ia tidak bisa mengungkapkannya.


Setelah perban diganti, Seol Ok mengomelinya karena tidak kontrol ke dokter. Detektif Ha mengira ia akan segera sembuh setelah beristirahat. Tapi sekarang dia malah lebih sakit dan pincang. “Ayo,” kata Seol sambil menyodorkan bahunya. Tapi Detektif Ha bilang dia bisa jalan sendiri. “Berjalanlah sendiri sesukamu,” kata Seol Ok sambil berjalan lebih dulu.


Tapi tiba-tiba Detektif Ha meletakkan tangannya di bahu Seol Ok sambil berkata, “Dokter memintaku berhati-hati. Jika kau ingin membantuku, boleh saja.” Mereka berdua kemudian berjalan bersama dan saaat sampai di luar, Detektif Ha merasa cuacanya sangat dingin.


Seol Ok: “Kau mau tidur dimana?”
Det. Ha: “Di rumahku. Ah, aku lupa. Sudah terbakar. Aku akan tidur di sauna saja.”
Seol Ok: “Kau terluka. Jangan melakukan itu. Ayo ke Baebang-dong. Kyung Mi juga tidak di rumah.”

Detektif Ha berkata dalam hati bahwa Seol Ok menyelina pergi setelah mengambil cincinnya, tapi sekarang malah bersikap seperti itu. “Tidak ada udang di balik batu, bukan? Aku bukan pria gampangan,” kata Detektif Ha.


Seol Ok akan meninggalkannya, tapi Detektif Ha berpura-pura kalau ia sangat kesakitan. Detektif Ha lalu bertanya apakah Seol Ok tidak lapar. “Ayo, cepat. Aku akan memasakkan makanan lezat,” kata Seol Ok sambil tersenyum. Tapi Detektif Ha malah terlihat khawatir.


“Tidak bisakah kita makan di luar saja?” Seol Ok tidak menjawab dan hanya membantu Detektif Ha berjalan lagi.


Di rumah, Detektif Ha terlihat sudah sangat lapar. Tapi Seol Ok masih memasak dengan kikuk. Dia bahkan berlari ke kompor dan masakannya mulai gosong. “Kapan doenjang jjigaenya matang?” taya Detektif Ha. Karena tidak sabar, Detektif Ha membuka jaketnya dan ikut memasak.


Detektif Ha menunjukkan cara memotong sayuran dengan benar, dan memasak sampai selesai. Tapi Seol Ok masih belum percaya dengan kemampuan Detektif Ha. Makanan sudah jadi dan Seol Ok mencicipinya.


Det. Ha: “Bagaimana? Aneh, ya? Lumayan enak.”
Seol Ok: “Menurutmu ini lumayan enak? Ini enak sekali. Kau yang terbaik.”
Det. Ha:”Sudah kubilang, aku ini pandai memasak.”
Seol Ok: “Enak sekali. Kau lebih pandai daripada aku.”


Di kamarnya, Seol Ok tidak bisa tidur.


Detektif Ha bergumam kalau dia sangat lelah tapi kenapa ia tidak bisa tidur. Ia kemudian melihat lampu lantai atas dan menyala dan berpikir kalau Seol Ok juga tidak bisa tidur. “Apa karena dia senang bersamaku? Haha.. astaga.”


Seol Ok kemudian mengetuk anak tangga dan memanggil Detektif Ha. Detektif Ha mendekat dan terkejut, karena Seol Ok berada tepat di depannya. “Ahjumma, aku belum siap,” kata Detektif Ha. Seol turun tangga dan menghampiri Detektif Ha. Detektif Ha sampai mundur ke belakang karena takut.


Seol Ok: “Mana bisa kau menunggu sampai siap di saat seperti ini? Aku..”
Det Ha: “Apa yang kau inginkan dariku?”


Seol Ok: “Aku...”
Det. Ha: “Kau apa?”
Seol Ok: “Aku..”
Det. Ha: “Apa?”


Seol Ok memukul kaki Detektif Ha dan membuatnya semakin was-was.


Detektif Ha melemparkan bantal yang ia pegang sebagai pertahanan diri, ketika Seol Ok berkata, “Kurasa aku tahu siapa pelakunya.” (haha salah paham berakhir) Detektif Ha berkata kalau tengah malam begini, Seol Ok ingin membicarakan pelaku pembakaran. “Jika bukan itu, untuk apa aku menemuimu?”


Detektif Ha tertawa nelangsa dan bertanya, “Siapa pelakunya?”


Apoteker masuk ke kamar Won Jae dan melihat putranya sudah tidur. “Won Jae.. dari tadi kamu bermain game di ponsel ibu?” Apoteker tersenyum lalu keluar.


Won Jae ternyata belum tidur.


Ia mengingat saat kejadian kebakaran di tempat kursus Bahasa Inggrisnya. Di saat teman-teman dan gurunya menjauh, Won Jae malah terdiam dan memperhatikan api yang menyala semakin besar membakar papan tulis yang sampai jatuh ke depan kakinya. Won Jae tidak mempedulikan panggilan guru dan teman-temannya. Dia malah tersenyum.


Won Jae lalu berjalan ke jendela yang pecah, karena lemparan bola api dari Jin Tae. Ia melihat Jin Tae ada disana dan tersenyum padanya.


Sejak kejadian itu, Won Jae menonton video arbiter api dan mencatat semua keperluannya untuk melakukan pembakaran. Dan sasarannya adalah sebuah truk. Ia berkata kalau ia bisa mendapatkan alkoholnya di apotek ibunya.


Keesokan harinya, Won Jae pergi sambil membawa payung kuning.


Ia mendatangi sebuah gedung dan menekan tombol lantai 15 di lift dengan menggunakan ujung payungnya. Ia terlihat tersenyum.


Anak perempuan yang duduk di samping Won Jae di sekolah, tampak masuk ke dalam lift bersama ibunya.


Setelah anak perempuan itu masuk, Won Jae keluar dari lift di sampingnya. Ia kemudian naik tanggai menuju atap.


Sesampainya di bawah, anak perempuan dibelikan strawberi oleh ibunya yang dijual di atas mobil. “Wah, enak sekali,” kata si anak perempuan.


Dari atap, Won Jae memperhatikan keadaan di area parkir. Ia kemudian membuka dan mengambil sebungkus plastik kresek.


Won Jae mengeluarkan peralatan yang ia bawa setelah menonton video arbiter api. Ia menggunting kain yang ia bawa dan mulai mengisi botol kaca dengan aseton.


Ia memasang kain sebagai penutup botol kaca, lalu mengocoknya.


Anak perempuan melambaikan tangan kepada paman penjual buah yang akan pergi.


“Sial, dia belum boleh pergi,” kata Won Jae ketika melihat mobil itu mulai berjalan pergi.


Won Jae menatap botol kacanya.


Ibu Won Jae, si apoteker, tampak terburu-buru keluar dari mobil. Ia sedang bicara dengan panik di ponselnya, “Yang mana blok 103? Baiklah, terima kasih.”


Di belakangnya, menyusul Seol Ok dan Detektif yang baru turun dari mobil dan langsung berlari.


Anak perempuan itu memakan strawberinya dengan senang. Ibunya bilang kalau buahnya harus dicuci terlebih dulu. Anak itu tertawa dan berlari menjauh karena ia ingin tetap memakan langsung buahnya. Sedangkan, ibunya menerima telepon.


“Halo, ibunya Won Jae. Ya. Benarkah?” kata ibu si anak perempuan.


Di atap, Won Jae sudah menyalakan apinya dengan menggunakan pemantik. Ia tersenyum menatap api tersebut.


Sementara si anak menikmati buahnya, ibunya masih bicara dengan ibu Won Jae dan menduga kalau Won Jae hanya ingin bermain ke rumahnya.


“Baiklah. Saat dia tiba, aku akan menjaganya,” kata ibu si anak perempuan. Tapi kemudian ia sangat terkejut, karena melihat ibu Won Jae dan dua orang lain berlari ke arahnya.


“Awaaas!” teriak Seol Ok sambil berlari ke arah ibu si anak perempuan.


Si anak perempuan menoleh ke ibunya dan ibunya melihat ke atas. Terlihat botol kaca berapi yang menuju ke bawah. Botol kaca itu pecah di tanah, dan apinya langsung menjalar. Ibu itu tidak sempat menghindar. 


Ibu Won Jae dan semua orang lainnya sangat terkejut. Detektif Ha berlari ke arah ibu yang terbakar.


Strawberi yang dibawa anak perempuannya jatuh, dan dia melihat ibunya terbakar. “Ibu... ibu.. tidak, ibu..” Seol Ok menghampiri dan memeluknya agar tidak melihat kejadian itu.

Comments


EmoticonEmoticon