3/22/2018

SINOPSIS Radio Romance Episode 16 PART 3

SINOPSIS Radio Romance Episode 16 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Radio Romance Episode 16 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Live

Beberapa bulan kemudian, Geu Rim sudah berani mengkritik Nona La yang membuat acara sama persis dengan acara mereka. Nona La menyindir Geu Rim sudah besar sekarang. “Ya, aku sudah besar sekarang. Aku juga sudah mengambil alih acara primetime sebagai penulis utama,” kata Geu Rim.


“PD-nim, ini tidak benar. Kau tidak bisa meniru lembar kerjaku seperti ini,” protes Hun Jung. Seung Soo akan memukulnya dan menyindir Hun Jung sudah besar. “Ayolah. Kita sejajar sekarang. Dan aku juga sutradara utama sekarang.”


“Kalian sudah besar ya, sekarang?” kata Nona La dan Seung Soo bersamaan. Seung Soo menyenggol Nona La senang dan memanggilnya dengan nama kesayangan ‘Jinx’. Hun Jung dan Geu Rim menertawakan mereka. “Apa?” tanya Nona La dan Seung Soo bersamaan lagi.


Jadwal Soo Ho terlihat cukup padat. 


Pria: “Jika Soo Ho terus muncul di depan publik, itu akan membuat orang menjadi bosan.”
Nyonya Nam: “Dia harus dekat dengan masyarakat. Bintang yang dapat didekati adalah tren baru sekarang.”


Soo Ho bertanya apa gunanya bintang yang dapat didekati. “Bintang juga manusia,” kata Nyonya Nam. Soo Ho tersenyum dan mengajak ibunya pergi.


Nyonya Nam: “Kau masih belum berubah, Penulis Song Geu Rim.”
Geu Rim: “Ibu.. berhentilah memanggilku Penulis Song Geu Rim. Ibu terasa sangat jauh. Ngomong-ngomong, selamat ulang tahun.”


Masih dengan memanggilnya Penulis Song Geu Rim, Nyonya Nam berkata bahwa sampai sekarang Geu Rim belum juga mendapatkan penghargaan apa-apa. Geu Rim membela dirinya bahwa ia belum lama menjadi penulis dan penghargaan tidak diberikan setiap bulan.


Geu Rim juga berkilah bahwa tidak ada hal di dunia ini yang pasti, ketika Nyonya Nam mengingatkan bahwa Geu Rim pernah berkata tidak akan pernah jatuh cinta pada Soo Ho. Geu Rim meminta Nyonya Nam bersikap baik padanya, lalu memberikannya hadiah.


Nyonya Nam tersenyum bahagia saat membuka hadiahnya. Ia sudah berubah sekarang. Geu Rim dan Soo Ho juga ikut senang.


Di rumah Soo Ho, Geu Rim tampak minum obat dan berkata bagaimana bisa  Nyonya Nam terlihat sangat karismatik. Ia merasa Nyonya Nam sudah agak menyukainya dan Soo Ho mengiyakan. Soo Ho bertanya apakah Geu Rim perlu pergi ke dokter. Tapi Geu Rim bilang ia akan baik-baik saja setelah minum obat.


“Kau mau aku menusuk jarimu?” tanya Soo Ho. Geu Rim terheran-heran.


Soo Ho lalu meregangkan pundak dan lengan Geu Rim, lalu bersiap menusuk jari tangannya.


Geu Rim: “Tunggu, tungg dulu. Ini bukan pertama kalinya kau melakukan ini, bukan?”
Soo Ho: “Ini pertama kalinya. Aku tidak memegang lengan dan tangan gadis lain.”
Geu Rim: “Tunggu dulu.”
Soo Ho: “Ah, benar. Ketika kita pergi untuk rapat perencaan, kau memegang tangan Lee Gang dan menusuk jarinya saat di kapal, bukan?”


“Kenapa kau membahas itu sekarang?” tanya Geu Rim. Soo Ho juga bilang kalau Geu Rim dan Lee Gang selalu berangkat dan pulang kerja bersama. “Kalau begitu, haruskah aku pergi ke Tibet untuk menemuinya?” Soo Ho lalu akan menusukkan jarinya. “Tunggu dulu. Aku sudah baik-baik saja sekarang.”


Geu Rim melarikan diri dan Soo Ho mengejarnya.


Soo Ho lalu berhasil menangkap Geu Rim dengan mudah. “Apa gangguan pencernaannya sudah hilang?” goda Soo Ho. Geu Rim mengangguk. Soo Ho lalu memutar tubuh Geu Rim.


“Kau mungkin berpikir aku aneh sekarang, tapi aku... ingin menikahimu,” kata Soo Ho tak terduga. Geu Rim mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya. “Jika pencernaanmu terganggu, akan akan menusuk jarimu. Dan aku akan mengejarmu jika kau melarikan diri. Itulah bagaimana aku ingin hidup. Denganmu, selamanya.”


Geu Rim tampak takjub.


“Ayo kita putus!” teriak Tae Ri sampai semua orang melihat ke arahnya. Pak Kim menyuruhnya tenang karena banyak orang disana. “Siapa yang peduli?! Aku tidak boleh pergi ke ulang tahun teman?!”


Pak Kim bilang orang itu bukan sekedar teman, karena dua hari yang lalu orang itu mengatakan kalau ia menyukai Tae Ri.


Tae Ri: “Apa kau memata-mataiku? Bagaimana kau tahu itu?”
Pak Kim: “Aku tahu dengan sangat baik. Aku juga tahu kau pergi ke klub dan berpesta bersamanya di hari ulang tahunnya.”
Tae Ri: “Kalau begitu, ayo kita putus! Ayo putus saja jika kau tidak percaya padaku!”


“Aku akan mengatakannya. ‘Aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Jangan hubungi aku. Mari akhiri ini’. Bukan begitu?” kata Pak Kim memastikan. Tae Ri bertanya apakah Pak Kim ingin menakut-nakutinyadan tetap meminta putus.


Pak Kim lalu pergi meninggalkan Tae Ri. “Aish..” gerutu Tae Ri kesal.


“Penulis Song!” panggil Hun Jung yang sudah menunggu di depan restoran ibu sambil melambaikan tangannya. Geu Rim heran karena Hun Jung kembali lagi. Mereka lalu bicara di dalam restoran.


“Jadi kita harus mendatangkan Soo Ho sebagai bintang tamu kita,” pinta Hun Jung. Geu Rim menolak. “ Apa kau tidak peduli pada rating kita? Tidak bisakah pacarnya melakukan itu? Jika kita tidak melakukan sesuatu dengan rating kita, aku akan dipecat. Tolong selamatkan aku.”


Geu Rim tampaknya memikirkan usulan Hun Jung.


Sesampainya di kamar, Geu Rim menghubungi Soo Ho dan bertanya apakah dia bisa datang sebagai bintang tamu ke acara mereka.


Soo Ho: “Jadi, bagaimana dengan lamaranku?”
Geu Rim: ”Aku tidak tahu.”
Soo Ho: “Kalau begitu, aku juga tidak tahu.”


Keesokan harinya, Soo Ho diwawancara mengenai drama barunya. Soo Ho sedang menjelaskan, lalu tiba-tiba hujan turun dan semua orang sibuk melindungi dirinya.


Soo Ho secara spontan melindungi lawan mainnya dan berlari mencari tempat berteduh. “Ji Soo Ho,” panggil seseorang.


Geu Rim berdiri di depan Soo Ho dan menatapnya cemburu.


Soo Ho kebingungan, antara harus melepaskan lawan mainnya atau tidak. Untungnya, seorang asisten segera datang untuk memayungi pemeran wanita. Soo Ho salah tingkah.


Semua orang sudah berteduh, tapi Soo Ho masih berada di bawah payung dengan Geu Rim. “Datanglah ke acara kami sebagai bintang tamu. Itu tidak terlalu sulit, bukan?” pinta Geu Rim.


Soo Ho: “Jadi? Kau akan menikah denganku atau tidak?”
Geu Rim: “Itu tidak ada hubungannya dengan topik pembicaraan kita. Aku disini untuk meng-castingmu...”
Soo Ho: ”Pria sepertiku... akan selalu menyelimutimu dan membangunkanmu, membelikanmu makanan lezat, memelukmu, dan mencintaimu. Bukankah itu menyenangkan?”


Geu Rim mengakui bahwa itu terdengar menyenangkan, namun tidak sesederhana itu. Soo Ho bertanya apakah Geu Rim membencinya atau menyukainya. Geu Rim menjawab, “Aku menyukaimu. Baiklah, ayo kita menikah.”


Mereka saling menatap di bawah hujan. Lalu Soo Ho mencium Geu Rim.


Para staf tertawa sambil menduga-duga apa yang terjadi di balik payung Soo Ho.


“Kau sudah kehilangan akal,” gerutu Geu Rim. Tapi kemudian Geu Rim tersenyum dan mengecup bibir Soo Ho. Lalu Soo Ho mengecupnya lagi.


“Kim Joon Woo!” kata Tae Ri sambil menghadang Pak Kim yang akan masuk ke apartemennya. “Hanya karena ketika bertengkar, hanya karena aku marah padamu, kau tidak meneleponku?!” Pak Kim lalu berbalik dan berjalan ke mobilnya. “Berhenti! Berhenti disana! Jika kau pergi, aku akan benar-benar membunuhmu!”


“Tenanglah!” kata Pak Kim lalu mengambil cincin dari dalam mobilnya. Tapi ternyata itu tidak bisa meluluhkan hati Tae Ri. “Kemana aku akan pergi? Kau adalah satu-satunya bagiku.”


Tae Ri bilang ibunya menerima ‘sampah’ (cincin) seperti itu dari tiga pria dan sekarang ibunya hanya sendirian. Pak Kim mengambil lagi cincinnya dan menggandeng Tae Ri pergi. Tae Ri berontak. “Ikuti saja aku!” kata Pak Kim.


“Apa ini?” tanya Tae Ri saat melihat apa yang sudah Pak Kim siapkan untuknya. “Kau sangat murahan.” Pak Kim bilang ia ingin menyiapkan sesuatu yang menyenangkan, tapi mereka tidak bisa kemana-mana, karena terlalu banyak orang.


“Aku akan menjadi manajer kehidupanmu selama sisa hidupmu. Ayo kita.. hidup bersama,” ajak Pak Kim.


Tae Ri menangis haru dan langsung memeluk Pak Kim. Pak Kim pun membalas pelukannya.


Pak Kim: “Jangan berani pergi clubbing lagi.”
Tae RI: “Tidak akan.”


Dalam perjalanan pulang, Geu Rim berkata kalau ia sangat menyukai lagu yang sedang mereka dengarkan. Itu lagi Hugh Grant yang berjudul Way Back Into Love, yang menjadi original sountrack film Music  & Lyric.


Soo Ho bilang layaknya bintang top, ia akan membawa Geu Rim ke tempat yang tidak terlupakan. Tapi kemudian ponsel Geu Rim berdering, “Ah, DJ..” Soo Ho mengomel karena DJ itu selalu menghubungi Geu Rim.


Soo Ho melarang Geu Rim menjawab ponselnya, tapi Geu Rim bilang ia harus menjawabnya jika tidak mau DJ-nya menghilang lagi. “Halo?”


DJ acara Geu Rim sedang ada di kedai tenda dan merengek bahwa dia kesepian dan kesal dan hanya Geu Rim yang bisa dia hubungi. Soo Ho bilang tetap saja DJ itu tidak bisa terus menghubungi Geu Rim.


“Kenapa bintang top sepertimu selalu datang bersamanya?” tanya DJ itu. Soo Ho dan Geu Rim saling menatap bingung bagaimana menjelaskannya. Mereka kemudian minum bersama.


DJ itu bilang hidupnya sangat menyedihkan dan ia merasa karir menyanyinya akan segera berakhir, dan siaran radio terasa tidak nyata baginya. DJ itu merasa dipermalukan, karena hanya selebritis pecundang yang melakukan siaran radio. “Hey, jangan katakan itu di depan Penulis Song...” kata Soo Ho.


“Hei, kau! Ada seorang DJ yang kukenal, yang menulis kontrak perbudakan yang menyatakan bahwa dia memutuskan segala hal. Dia sungguh tidak menghormatiku sebagai seorang penulis dan memanfaatkanku sebagai supir dan manajernya,” kata Geu Rim. Soo Ho merasa sangat tersindir.


Geu Rim:  “Dan dia bahkan tidak mau membaca naskah buatanku.”
DJ: “Brengsek sekali dia.”
Geu Rim: “Benar, dia brengsek. Dia bertanya apakah aku sudah pernah memenangkan penghargaan dan menyerangku dengan egonya setiap kali dia bertemu denganku.”
DJ:”Dia terdengar seperti seorang penjahat besar.”


Soo Ho sampai tersedak mendengarnya. Geu Rim berkata, “Ya, benar. Tapi tetap saja, dia melakukan yang terbaik untuk acara radionya. Tidak sepertimu. Apapun yang dia lakukan, dia berusaha melakukan yang terbaik. Walaupun jika dia tidak bagus, tetap melakukan yang terbaik. Sangat beruntung seorang penulis bisa bertemu seorang DJ sepertinya. Jadi tidak bisakah kau menjadi DJ sepertinya?” Soo Ho senang mendengarnya.


DJ itu menganggukkan kepalanya setuju.


Dalam perjalanan pulang, Soo Ho melihat Geu Rim sudah tidur, tapi tetap bertanya, “Jadi,aku menerima lamaranku?” Ia lalu tersenyum sendiri.


Keesokan harinya, ternyata DJ itu tetap tidak datang dan sebagai gantinya Geu Rim yang mengisi acara. “DJ kami menghilang lagi. Aku tidak percaya padanya lagi. Apa yang sedang dia lakukan? Dimana dia?”


Hun Jung tampak pusing. Geu Rim berkata lagi, “Aku bertanya pada para pendengar, untuk memberikan informasi. Aku akan menangkapnya.”


Geu Rim kesal saat membaca pesan dari seorang pendengar ‘Penulis benar-benar harus tenang’. “Aku harus tenang? Ini bukan salahku. Ini salah si kesayangan kalian.” Hun Jung memberi kode agar Geu Rim menutup mulutnya. “Mari kita dengarkan lagu.”


Geu Rim lalu keluar dari booth dan memarahi Hun Jung, “Dia menghilang lagi?! Jangan hanya menarik rambutmu. Bukankah PD harus melakukan sesuatu? Pikirkan tentang Lee Gang PD-nim.” Hun Jung bertanya kenapa harus membawa-bawa Lee Gang dan juga kapan Geu Rim akan membawa Soo Ho.


Geu Rim: “Aku tidak tahu. Kenapa kau bertanya padaku?”
Hun Jung: “Dia pacarmu. Kepada siapa lagi aku bisa bertanya? Kapan si brengsek itu akan datang?!”


Soo Ho membuka pintu studio dan berkata, “Si brengsek sudah disini.” Hun Jung salah tingkah, tapi kemudian ia tersenyum dan mengacungkan jempolnya pada Soo Ho. Soo Ho dan Geu Rim lalu langusng masuk ke booth siar.


Soo Ho membaca naskah Geu Rim dan merasa naskahnya tidak sebagus dulu. Soo Ho juga menuduh Geu Rim menyukai DJ-nya. Mereka bertengkar. “Aku tidak mau melakukannya,” kata Soo Ho lalu pergi. Geu Rim menariknya lagi.


Geu Rim: “Apa yang kau inginkan?”
Soo Ho: “Kau.”
Geu Rim: “Jangan berbuat bodoh.”

Soo Ho tiba-tiba mengecup bibir Geu Rim. Hun Jung tidak bisa melihatnya, karena mereka ada di sudut ruangan. “Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Kosongkan jadwalmu. Aku harus melamarmu.”


Hun Jung tidak mengerti apa yang terjadi, ketika akhirnya Soo Ho dan Geu Rim duduk lagi dan siap untuk siaran. Soo Ho lalu menyapa para pendengar dan memulai siarannya. Dia bahkan salah menyebutkan acara itu sebagai Ji Soo Ho Radio Romance.


Soo Ho berkata, “Jika kalian ada di luar, lihatlah ke langit. Inilah saatnya langit biru berubah menjadi merah. Langit yang indah ini milik kita, jadi pergilah, dan cintai seseorang.”


Geu Rim terkejut sekaligus senang, karena kalimat itu sudah lama ingin ia tuangkan dalam naskah.


Hun Jung juga menyukai kalimat itu.


Setelah selesai siaran, mereka pergi ke sudut favorit Geu Rim di kantor. Di depan langit yang mulai memerah, Geu Rim bertanya bagaimana Soo Ho bisa mengingat naskah itu. Soo Ho bilang itu terjadi secara alamiah, karena Geu Rim ingin menjadi penulis hanya agar bisa menyampaikan kalimat itu. “Baru beberapa bulan saja, tapi sudah banyak yang terjadi pada kita,” kata Soo Ho dan Geu Rim setuju.


Soo Ho meraih tangan Geu Rim dan memasangkan cincin di jarinya.


Mereka saling menatap dan Soo Ho menggenggam tangan Geu Rim.


Soo Ho: “Berjalanlah denganku, mulai sekarang. Pegang tanganku dan hanya menangis di hadapanku.Dan juga aku masih punya satu permintaan lagi.”
Geu Rim: “Apa itu?”


Soo Ho mengecup bibir Geu Rim. “Aku akan melakukan itu selamanya,” kata Soo Ho.


Mereka kemudian berpelukan dan menatap langit bersama.



Terima kasih sudah membaca... Hehe, maaf karena banyak telat-telat di judul ini.
Gumawo...

2 komentar

  1. Yahhhhh..PD nim kemna PD nim

    BalasHapus
  2. Kok suka ceritanya diawal" aja,,,lucu gitu.tapi makin kesini rada kurang greget...konfliknya juga flat bgt,,,
    Ya itu pendapat aku aja sih
    Tpi makasih udah bikin sinopsisnya ...suka😄😄😄😄😄😄

    BalasHapus


EmoticonEmoticon