3/04/2018

SINOPSIS Short Episode 2 PART 2

SINOPSIS Short Episode 2 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Short Episode 2 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Short Episode 2 Part 3

Keesokan harinya di gym, Seung Tae memperkenalkan Ho Young kepada anggota seluncur lainnya. Semua bertepuk tangan, kecuali Eun Ho. Seung Tae bilang Ho Young masih perlu penyesuaian dan berpesan agar mereka saling membantu dan berlatih bersama. “Tinggal dua bulan lagi sampai pertandingan kualifikasi tim nasional ,” kata Seung Tae. Mereka bersiap untuk latihan fisik.


Karena ada perbaikan alat pemanas di asrama, Presdir Park berkata kepada Sekretaris agar membawa Ho Young tinggal di rumahnya untuk sementara. Sekretaris mencatatnya dan mengatakan kalau Eun Ho tinggal di rumah kos.


Sek: “Bagaimana? Haruskah aku memaksanya pulang?”
Presdir Park: “Tidak perlu. Cari tahu alamatnya saja.”
Sek: “Baik.”


Sementara itu ibu kos Eun Ho alias ibunya Man Bok sedang ketakutan karena kedatangan pria penagih hutang. Ternyata bukan bibi yang berhutang, tapi bibi adalah penjaminnya. Jadi karena wanita itu menghilang, bibi yang menjadi sasaran mereka.

Pria penagih hutang itu berkata kalau restoran bibi tampak cukup mahal. Dia menyarankan agar bibi menjual untuk membayar hutang pada mereka. Ia juga berkata kalau bunga pinjamannya berkembang sangat cepat.


“Mari kita mulai dengan bunga satu minggu. Jadi, kami akan bahagia saat penagihan berikutnya,” kata si penagih hutang menakut-nakuti bibi. Ia melambaikan tangannya pada bibi, lalu mengajak teman-temannya pergi.


“Dimana wanita gila itu?!” tanya bibi kesal dan bingung.


Sekretaris datang ke gym bersama beberapa reporter. Seung Tae sempat protes, karena itu menganggu latihan, tapi Sekretaris bilang mereka hanya ingin melihat latihan. Nyatanya, para reporter tertarik pada Ho Young yang video mengalahkan Eun Ho-nya viral di youtube.


Seorang reporter wanita meminta izin kepada sekretaris untuk mewawancarai Ho Young dan Eun Ho. Sekretaris setuju, tapi tidak begitu dengan Seung Tae yang meminta semua anak didiknya melanjutkan latihan.


Namun pada akhirnya, reporter melakukan wawancara itu. Ketika Ho Young ditanya tentang kondisi Eun Ho, Ho Young membelanya. Tapi kemudian Ho Young kesal, karena Eun Ho menyebutnya masih anak kecil dalam hal skating, bahkan skater yang buruk .


Ho Young membalasnya ketika menjawab pertanyaan berikutnya, “Orang-orang bilang dia raja atau semacamnya. Sebenarnya dia adalah raja yang lemah. Haha.. Dia tidak memiliki daya tahan. Kurasa itu hal yang perlu dia latih terus.”


Eun Ho terlihat sangat kesal dan untungnya Sekretaris memahami keadaan itu dan mengatakan apda reporter, bahwa meeka harus kembali berlatih.


Ho Young: “Seperti anak kecil?”
Eun Ho: “Tidak memiliki daya tahan? Apa yang kau tahu?”
Ho Young: “Kau selalu membuat kesalahan di akhir.”
Eun Ho: “Lihatlah siapa yang bicara. Orang yang selalu mengayunkan tangannya saat skating.”


Man Bok mendengar pertengkaran mereka dan berhenti berlatih.


Asisten pelatih juga mendengarnya.


Ho Young: “Posisi yang buruk bisa diperbaiki!”
Eun Ho: “Daya tahan bisa ditingkatkan! Aku adalah raja jarak pendek!”
Ho Young: “Raja apanya?! Kau lebih seperti pecundang!”
Eun Ho: “Jangan mengatakan pecundang lagi!”


Seung Tae datang diantara mereka dan berkata kalau dia tidak meminta mereka menjadi akrab, “Tapi jika kalian bersedia diwawancara, lakukan dengan benar. Apa-apaan itu? Apa kalian ingin semua orang tahu kalau kalian saling membenci?” Seung Tae melarang mereka melakukan wawancara lagi. Dia juga memberikan hukuman dengan menyuruh mereka melakukan pemanasan selama 30 menit setiap sesi latihan dan harus mengirimkan rekamannya sebagai buktinya.


“Pelatih!” kata Ho Young dan Eun Ho bebarengan. Seung Tae tertawa kecil dan berkata kalau mereka akan melakukan latihan tambahan selama satu minggu. Mereka tidak bisa protes ketika Seung Ta mengatakan kalau pemanasannya adalah 3000 meter, masing-masing 13 putaran, sebanyak empat kali, lalu 10 putaran mengelilingi lintasan. “Pelatih!” kata keduanya lagi. Seung Tae menambah 20 putaran lagi dan menyuruh mereka melakukannya sekarang juga.


Seung Tae hanya tersenyum melihat dua anak didiknya yang hampir ambruk.


Dalam perjalanan pulang, Ho Young meregangkan kakinya sedangkan Eun Ho meregangkan bahunya. Man Bok bertanya apa sahabatnya itu baik-baik saja. “Sakit. Jagan bicara padaku,” kata Ho Young. Man Bok bertanya kenapa mereka berdua terus saja bertengkar.


“Oppa! Ho Young oppa!” sapa Man Hee sambil melambaikan tangannya. Ia datang bersama Ji Na. “Oppa, kau sudah selesai latihan?” tanya Man Hee pada Ho Young.


“Hei, aku juga disini,” kata Man Bok protes karena Man Hee hanya menyapa Ho Young. Man Hee tidak peduli dan malah terus memuji Ho Young yang tampak keren di youtube. Ji Na juga mengatakan hal yang sama dan menunjukkan videonya pada Ho Young.


Ho Young tersipu, “Aku sangat keren, bukan?” Eun Ho kemudian berkata kalau ia lebih keren. Mereka tertawa. “Lebih baik kau diam...” kalimat Ho Young terhenti, karena melihata da sepeda motor dengan kecepatan tinggi sedang menuju ke arah mereka.


Ho Young lalu menyelamatkan Ji Na yang hampir saja tertabrak.


Ho Young dan Ji Na saling bertatapan.


Eun Ho terkejut, dan sudah pasti dia tidak menyukai kejadian itu.


Dalam perjalanan pulang, Ho Young tertawa sendiri sambil menatap tangannya yang tadi digunakan untuk menyelamatkan Ji Na. Man Hee berjalan di depannya dengan terburu-buru, karena merasa cemburu.


Ho Young: “Hei, tangan ini sudah melakukan sesuatu yang hebat hari ini! Haha..”
Man Bok: “Seperti ini? Seperti seorang gentleman? Haha..”
Ho Young: “Ngomong-ngomong, ada apa dengan Man Hee?”
Man Bok: “Aish.. orang bodoh ini tidak tahu apa-apa. Kenapa dia menyukaimu? Ah..”


Man Bok lalu berjalan lebih dulu, dan Ho Young bertanya ada apa. “Entahlah!” kata Man Bok yang malas menjelaskannya. Ho Young mengejarnya dan bertanya apa yang harus dia lakukan.


Ho Young melihat Eun Ho yang sedang membersihkan meja dengan sangat teliti dan serius. Ho Young bilang kalau Eun Ho itu terobsesi dengan kebersihan. “Itu karena ini kotor. Kotor!” kata Eun Ho sambil terus menggosok mejanya.


“Oppa! Bisa-bisanya kau..” Man Hee membuka pintunya secara tiba-tiba. Man Hee tersenyum senang.


Ho Young yang saat itu sedang mengganti bajunya panik dan protes harusnya Man Hee mengetuk pintu dulu. “Jangan lihat. Jangan lihat,” larang Ho Young. “Aish! Maeng Man Hee!” Dia lalu memakai bajunya dengan benar.


“Debu!” teriak Eun Ho. Ho Young tidak mempedulikannya dan bergegas menyusul Man Hee. “Debu!”


Man Hee kembali ke kamarnya sambil tersenyum dan terus berkata kalau dia sudah melihatnya. Ji Na tampak sedang berganti pakaian.


“Hei, Maeng Man Hee!” Ho Young menyerobot masuk ke kamar. Man Hee dan Ji Na berteriak da mulai melempari Ho Young. “Wa.. Wa.. Tidak lihat! Tidak Lihat!” Dia lalu berlari kembali ke kamarnya. Ia berpapasan dengan Eun Ho di tangga.


Eun Ho tadinya tidak peduli, tapi kemudian dia melihat Man Hee sedang membantu Ji Na memasang kancing baju tidurnya.


Eun Ho membayangkan yang tidak-tidak. “Dasaaar..” kata Eun Ho.


Man Hee juga membayangkan sama seperti Eun Ho. Ia lalu memperhatikan Ji Na yang sedang sibuk dengan ponselnya. Man Hee lalu mengintip dadanya sendiri. “Cih. Astaga.. padahal ini hampir sama,” ujarnya.


Man Bok datang ke sebuah salon untuk mengambil mangkok dari restoran bibi. Bibi pemilik salon bertanya apakah bibi sudah pulang. “Ya, kenapa?” tanya Man Bok sambil memasukkan mangkoknya.


Bibi Salon: “Beritahu ibumu untuk meneleponku. Aku menemukan seseorang yang bisa memberinya pinjaman cepat.”
Man Bok: “Pinjaman cepat? Apa ibu butuh uang?”
Bibi Salon: “Ya, ada sedikit keperluan.. Pokoknya jangan lupa memberitahunya, mengerti?”
Man Bok: “Baiklah.”


Man Bok pulang ke rumah dan menatapnya ibunya dengan sedih. Ibunya menyuruh Man Bok beristirahat, karena sudah mengambil semua mangkoknya. “Ibu... tidak apa-apa,” Man Bok tidak jadi menanyakan tentang pinjaman cepat itu.


Man Bok datang ke kamar adiknya dan menyuruhnya membantu pekerjaan ibunya. Man Hee bilang ia anak kelas 3 SMA. Man Bok bilang Man Hee juga butuh makan dan sudah pasti diterima di perguruan tinggi. Man Bok bilang ibu sedang mengalami masa sulit, tapi Man Hee tetap sibuk dengan buku pelajarannya. “Kalian berdua yang bersih-bersih sekarang. Ji Na, kau juga ikut membantu, mengerti?” kata Man Bok. Ji Na menganggukkan kepalanya.


“Apa Man Bok Oppa selalu seperti itu?” tanya Ji Na. Man Hee tidak menjawab, tapi ia sepertinya juga sadar kalau Man Bok biasanya tidak seperti itu.


Man Bok lalu menemui Ho Young dan menyuruhnya membantu ibunya mengantar pesanan atau membantu di restoran saat jam sibuk. Ho Young menanyakan alasannya. “Kau hanya mau makanan gratis?” tanya Man Bok serius. Ho Young bilang ia mengerti dan akan melakukan apapun yang diperlukan.


Man Bok: “Kau bisa membayar berapa?”
Eun Ho: “Berapa banyak yang kau minta?”
Man Bok: “Apa kau akan membayar berapapun?


Eun Ho: “Katakan padaku, berapa?”
Man Bok: “Kalau begitu, aku akan minta banyak. Kau tahu keterampilan memasak ibuku. Kau mendapatkan makanan gratis dan kau bisa memakai kamarku 400.000 won sebulan.”
Ho Young: “Hei hei, itu terlalu sedikit. Tambah lagi.”
Eun Ho: “Aku akan memberimu 500.000, tapi aku ingin kamar untuk diriku sendiri.”


Man Bok setuju. Ia dan Ho Young akan pindah ke kamar dekat gudang mulai besok malam. Ia berpesan kalau Eun Ho harus membayar di setiap awal bulan.


Setelah Man Bok keluar, Eun Ho bertanya pada Ho Young, “Hei, apa dia selalu begitu?” Ho Young bilang Man Bok adalah tipe pria yang tidak bisa melihat ibunya menderita. Ho Young menyebut Man Bok anak baik dan ia menduga kalau bisnis restorannya sedang tidak bagus.


“Sudah lama aku tidak melihatnya seserius ini,” kata Ho Young tanpa mengalihkan pandangannya dari bukunya. Eun Ho mengangguk-anggukkan kepalanya, ia mungkin menyadari sesuatu.


Ji Na memuji Eun Ho hebat karena berolahraga dengan menggunakan pemberat di kaki dan tangannya. Ho Young malah bertanya apa Eun Ho akan bertanding dengan banteng. Eun Ho tidak mau kalah, ia menyebut Ho Young yang selalu lari pagi seperti orang kesurupan.


Mereka berdua akan bertengkar lagi, tapi Ji Na berdiri di antara mereka dan berkata, “Senang melihat kalian berlatih pagi-pagi sekali! Berlatihlah lebih giat.” Ho Young dan Eun Ho tersenyum manis pada Ji Na.


Mereka bertiga kemudian berolahraga bersama. Ho Young iseng menendang pelan Eun Ho, dan Eun Ho membalasnya.


“Apa?! Pelatih ingin aku tinggal di rumah Presdir?!” tanya Ho Young pada Seung Tae.
Comments


EmoticonEmoticon