3/04/2018

SINOPSIS Short Episode 2 PART 3

SINOPSIS Short Episode 2 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Short Episode 2 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Short Episode 3 Part 1

Setelah berolahraga pagi, Ho Young berangkat ke pusat pelatihan dan menemui Seung Tae di ruangannya. Ho Young terkejut karena Seung Tae memberitahunya untuk tinggal di rumah Presdir Park untuk sementara waktu sampai alat pemanas di asrama selesai diperbaiki.


Seung Tae mengatakan kalau rumah Presdir Park berada tepat di samping pusat pelatihan, jadi akan memudahkan Ho Young.


Ho Young: “Tapi itu... cukup...”
Seung Tae: “Jangan menolak. Hanya ada Presdir yang tinggal disana. Jadi jangan berisik. Sapa Presdir dengan sopan jika bertemu dengannya.”
Ho Young: “Ah.. Huft.. Baiklah.”


Manajer (sebelumnya kusebut sekreatris) menyambut Ho Young di rumah Presdir dan mengatakan kalau mereka menaruh  harapan besar padanya. Manajer juga bilang kalau Presdir tidak biasanya melakukan hal seperti itu. “Kau spesial! Sangat spesial!” kata Manajer sambil mengajak Ho Young naik ke lantai atas.

Manajer mengantarkan Ho Young ke kamar Eun Ho yang akan menjadi kamar Ho Young selama tinggal disana. Manajer merasa akan lebih menyenangkan jika Eun Ho juga ada disana. Dia menyuruh Ho Young istirahat dulu, dan dia sendiri pergi.


Setelah Manajer pergi, Ho Young memperhatikan kamar barunya. “Kenapa Eun Ho meninggalkan kamar sebagus ini?” gumamnya. Ia lalu mencoba kasurnya.


Malam harinya, Ho Young menyapa Presdir Park dan memuji rumahnya yang sangat bagus. Setelah mendengar kalau Ho Young bermain skating sejak kelas 1 SMA, Presdir Park mengatakan bahwa tujuannya membuat Yayasan Kangbaek adalah untuk menemukan orang seperti Ho Young dan melatihnya dengan baik hingga menjadi pemain profesional. Ho Young berterima kasih.


Presdir Park bertanya apakah Ho Young mengenal seseorang di timnya yang bernama Eun Ho sambil menunjukkan foto masa kecilnya. Ho Young bilang kalau mereka berlatih bersama. Presdir Park bertanya bagaimana Eun Ho itu sebagai atlet.


Ho Young: “Kupikir dia atlet yang hebat. Aku banyak belajar darinya.”
Presdir Park: “Jadilah lebih baik darinya. Jangan pernah merasa cepat puas. Aku harusnya tidak berkata begini karena dia anakku. Sebenarnya dia lemah. Itulah sebabnya orang bilang dia tidak memiliki daya tahan.”
Ho Young: ”Hei, kurasa dia selalu bisa melatih daya tahannya. Dia... sangat kuat!”


Ho Young lalu mendekatkan dirinya ke perapian dan melihat foto yang lainnya. “Foto ini.. aneh. Sepertinya dia menang. Kalian berdua harusnya bahagia. Tapi kalian berdua terlihat sedikit kaku,” kata Ho Young. Presdir Park melihat foto itu lebih dekat. “Mungkin hanya efek kamera. Ayolah, tersenyumlah sedikit,” kata Ho Young lagi.


Presdir Park tersenyum kaku melihat tingkah Ho Young yang terus memintanya untuk tersenyum.


Tidak disangka, Eun Ho pulang ke rumah dan melihat Ho Young sedang tertawa bersama ayahnya. Saat Presdir Park dan Ho Young melihatnya, ia berkata, “Aku kesini untuk mengemasi barang-barangku.”


Ho Young memperhatikan ekspresi Presdir Park.


Eun Ho sedang mengemas pakaiannya ke dalam koper ketika Ho Young mengetuk pintu kamarnya lalu masuk. “Ah.. berantakan sekali. Tapi kau bersikap sok bersih di rumah Man Bok,” kata Ho Young. Eun Ho menyuruhnya keluar, tapi Ho Young malah duduk di atas kasur.


Ho Young menyarankan agar Eun Ho bersikap lebih baik kepada ayahnya yang tinggal sendirian di rumah besar seperti itu. “Bukan urusanmu,” kata Eun Ho sambil memakai jaketnya. Ho Young juga mengatakan kalau Eun Ho harus bersikap baik pada orang tuanya selama mereka masih ada. “Apa yang kau tahu?” tanya Eun Ho. Ho Young mengakui kalau ia memang tidak tahu apa-apa.


Eun Ho: “Oh, kebetulan kita bertemu... Aku akan berkencan dengan Ji NA.”
Ho Young: “Apa? Hey, siapa bilang? Siapa yang dia kencani, itu terserah padanya. Bukan kau.”
Eun Ho: “Jadi kau ingin bersaing denganku?”
Ho Young: “Ya, aku tidak akan menolaknya.”
Eun Ho: “Apa kau benar-benar berpikir kalau kau punya kesempatan?”


“Kita lihat saja nanti,” kata Ho Young yakin. Eun Ho tersenyum mengejek dan setuju untuk bersaing. Eun Ho bilang dia tidak akan menyerah, baik tentang skating ataupun Ji Na.


Keesokan harinya di gym, Seung Tae mengingatkan bahwa pertandingan kualifikasi semakin dekat, jadi mereka harus fokus berlatih dan menjaga stamina.


Ho Young dan Eun Ho mulai berlatih dan aroma persaingan di antara mereka semakin kuat. Setelah berolahraga dengan alat fitnes, para atlet melatih fisik mereka dengan berjalan jongkok menaiki tangga.


“Persaingan kita dimulai sekarang.”
“Aku tidak akan pernah kalah darimu!”


Di rumah Presdir Park, Ho Young kesepian karena ia hanya makan sendirian, padahal makanan yang tersedia cukup banyak.


Hal itu sangat berbeda jika dibandingkan saat ia makan bersama di rumah bibi. Disana mereka bisa makan sambil bercengkerama dan tertawa bersama.


Ho Young memutuskan untuk berhenti makan dan kembali ke kamar. Ia semakin merasa kesepian.


Ia mengingat saat harusnya tidur bertiga dalam satu kamar bersama Man Bok dan Eun Ho. Dan ia merasa itu lebih menyenangkan.


“Astaga.. membosankan.. astaga membosankan...” gerutu Ho Young. “Argh.. argh!” Dia akhirnya bangun lagi dan berkata, “Aku tidak tahan lagi!”


Ho Youn turun dari taksi dan akan kembali ke rumah bibi. Ia melihat poster audisi di dinding dan mengambilnya satu. Ia lalu melihat Man Bok  naik motor dan memanggilnya. Karena Man Bok tidak mendengar panggilannya, Ho Young berlari mengejarnya.


Ho Young baru bisa menyusulnya saat Man Bok berhenti di salah satu tempat untuk mengantarkan pesanan.  Napas Ho Young tersengal-sengal dan berkata kalau dia sudah memanggil dan mengejar Man Bok sejak tadi. Man Bok terlihat tidak bersemangat. Mereka berdua kemudian pergi ke sebuah cafe.


Ho Young: “Kenapa kau ngebut seperti itu hanya untuk mengantar pesanan?”
Man Bok: “Hanya pesanan? Ibuku bisa terkena masalah, jika aku terlambat.”
Ho Young: “Aigoo.. aigoo.. Benarkah begitu? Aigoo.. anak yang sangat baik! Dimana lagi ada anak sepertimu?”


Ji Na yang ternyata sedang bekerja paruh waktu di cafe itu, melihat mereka berdua.


Ho Young lalu bertanya apa yang terjadi, tapi Man Bok bilang tidak ada apa-apa. Ho Young tidak percaya dan bertanya lagi. Man Bok bilang tidak ada apa-apa, tapi menurutnya ibunya sedang butuh bantuan. Ji Na lalu mengantarkan kopi Ho Young.


Ji Na bilang ia sedang bekerja paruh waktu untuk membiayai hidupnya sampai audisi selanjutnya. “Kembalilah ke Amerika. Kalau ayahmu tahu, ibuku akan kena masalah,” kata Man Bok. Tapi Ji Na yakin kalau ia akan lulus di audisi selanjutnya. Ji Na heran karena mereka hanya memesan satu kopi.


Hari sudah malam, ketika Presdir Park pulang ke rumah. Ia membaca pesan yang ditinggalkan Ho Young.“Terima kasih atas niat baik Anda yang mengizinkanku tinggal disini sampai asrama selesai diperbaiki. Terima kasih banyak. Tapi aku merasa tidak nyaman. Aku akan kembali ke rumah temanku. PS: Eun Ho tinggal disana juga,” tulis Ho Young dalam pesannya.


Presdir Park lalu menghubungi manajer dan memintanya mencari alamat rumah kos Eun Ho. “Apa bagusnya tempat itu sampai mereka berdua memilih tinggal disana?” gumam Presdir Park setelah menutup ponselnya.


Man Bok akhirnya jujur pada ibunya kalau dia mendengar soal pinjaman cepat dari Bibi Salon. Man Bok bertanya apakah mereka dalam kesulitan sampai memerlukan pinjaman. Man Bok juga kecewa karena ibunya tidak menceritakan masalahnya. Bibi bilang mendengar Man Bok bicara seperti itu saja sudah membuatnya senang. Bibi mengakui kalau mereka sedang kesulitan, karena banyak mulut yang harus diberi makan.


Bibi meminta Man Bok fokus saja pada latihannya dan mewujudkan harapannya yaitu dengan masuk Tim Nasional. Bibi menyarankan Man Bok agar belajar dari Eun Ho dan menjadi terkenal. Bibi tersenyum dan berkata kalau Man Bok bisa membantunya dengan fokus berlatih.


Man Bok membalas senyum ibunya dan berkata, “Baiklah.” Bibi juga tersenyum lega.


Tapi setelah Man Bok pergi, bibi menggerutu, “Aku harus menjahit mulut wanita itu! Kenapa dia bercerita tentang pinjaman itu?” Tapi bibi mengakui kalau mereka memang sedang dalam masalah.


Bibi kemudian pergi keluar rumah dan melihat sebuah mobil parkir  di depan rumahnya. Bibi heran, tapi ia tetap berjalan pergi.


Orang yang berada di dalam itu adalah Manajer Eun Ho. Ia terus memperhatikan bibi.


Manajer juga memperhatikan rumah bibi alias rumah kos Eun Ho.


Ji Na meletakkan gitarnya, lalu mulai memainkan piano. Ho Young kemudian datang dan menyapanya. Ia tampak menyiapkan poster yang sebelumnya ia ambil dan memberikannya pada Ji Na. “Kau pulang ke Korea untuk audisi, bukan?” tanya Ho Young. “Aku melihat ini di dinding luar sana. Kupikir aku harus memberikannya padamu.”


Ji Na: “Kau membawa ini untukku?”
Ho Young: “Maksudku... Ya. Ini mengingatkanku padamu.”
Ji Na: “Kau pikir aku tidak tahu tentang ini?”
Ho Young: “Hah? Ya, benar. Tidak mungkin kau tidak tahu ini.”


Ho Young akan mengambil poster itu dan membuangnya, tapi Ji Na melarangnya. Mereka berebut kertas itu dan terlihat sangat akrab.


Eun Ho yang baru saja pulang menyaksikan kejadian itu, ketika adegannya tampak romantis. Dia tidak jadi masuk.


Akhirnya Ho Young mengalah dan akan pergi. Ji Na mengucapkan terima kasih karena Ho Young sudah peduli padanya. Ho Young malu-malu. Ia tidak jadi pergi ketika Ji Na mengatakan kalau ia harus lulus audisi demi Ho Young yang sudah peduli padanya, tapi ia merasa hampir kehilangan percaya diri. 


Ho Young menyemangatinya, “Kau pandai menyanyi dan menari. Kau juga cantik, dan tubuhmu proporsional. Tidak mungkin kau tidak lolos! Ikuti saja audisi itu. Pasti kau juara satu.”


Eun Ho masih berdiri di luar dan menatap mereka dengan sedih. Ia melihat Ji Na tertawa mendengar candaan Ho Young, dan juga Ji Na yang bersemangat karena motivasi dari Ho Young.


Eun Ho tampaknya sudah membelikan sesuatu untuk Ji Na di tangannya, tapi ia sangat kecewa.


Epilog: 


Man Hee tampak sedang memilih pakaian dalam. Ia meletakkan pilihan Man Hee dan memilihkannya yang lain.


Ji Na: “Yang ini sangat bagus! Bagaimana menurutmu?”
Man Hee: “Ini? Bukankah ini terlalu terbuka?”
Ji Na: “Hei, pakaian dalam memang harus terbuka!”
Man Hee: “Tapi... bagaimana kalau yang tadi saja?”
Ji Na: “Jangan lihat yang tadi lagi!”


Ho Young dan Eun Ho tidak sengaja melintas di toko yang sama. Mereka berjalan seperti biasa, tapi begitu melihat Ji Na dari luar kaca etalase, mereka mundur lagi.


Mereka mengintip Ji Na dan Man Hee.


Akhirnya pilihan Man Hee jatuh pada warna merah.


Comments


EmoticonEmoticon