4/01/2018

SINOPSIS Eulachacha Waikiki Episode 12 PART 2

SINOPSIS Laughter in Waikiki Episode 12 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS Eulachacha Waikiki Episode 12 Part 1

Bukannya belajar, Soo-ah malah menggambar dan mewarnai cover buku soal yg harusnya dia kerjakan, “Tiba-tiba aku teringat masa lalu. Aku sering mencoreti buku pelajaranku. Aku berniat belajar setelah ini, sungguh” jelasnya

“Tidak apa-apa. Dahulu aku juga sering begini. Selesaikanlah. Terima kasih. Segera kuselesaikan...” jawab Du-shik sambil tersenyum


Mendengar penjelasan Park Chang-ho, membuat Junki ngantuk hingga tertidur. Ketika dibangunkan, dia beralasan bahwa dirinya kelelahan, karena jadwal syuting yg sagat padat.


“Tidak apa-apa. Itu wajar..” komen Park Chang-ho, yg selanjutnya jadi membaas tentang segala sesuatu mengnai ‘tidur’ secara mendetail dan panjang lebar.


Keluar dari tempat kursusnya, Yoona bertemu dengan Dong-gu yg tengah berdiri tepat di depan gedung, “Dong Gu, kenapa ada di sini?”

“Aku ada urusan di daerah sini. Kebetulan aku melihatmu. Kamu baru selesai kursus?”

“Ya.. Wajahmu kenapa? Matamu merah sekali. Kamu kurang tidur?”

“Aku baik-baik saja, kok..”

“Katanya, kamu mencariku kemarin. Katanya, kamu ingin menanyaiku sesuatu...”


“Hmmm, Kapan isu THAAD terpecahkan? Kamu menolakku lima detik setelah aku menyatakan cintaku, tapi kita sama-sama orang Korea. Kita bisa membahas isu hubungan internasional...” tutur Dong-gu

“Memang sih, tapi aku kurang mengerti isu itu...” jawab Yoona


Berikutnya, Dong-gu mengajak Yooa makan siang bareng di sebuah kedai sundae, favoritnya Yoona. Terlihat jelas, bahwa Dong-gu kelelahan, bahkan hampir tertidur.. namun dia selalu mengelak, dan menegaskan bahwa diirnya baik-baik saja.


Saat wajahnya terlihat menunduk seerti orang yg tidur, Yona menegurnya.. tapi Dong-gi berkilah, mengatakan bahwa dirinya sedang berdoa,

“Biasanya, kamu tidak berdoa”

“Aku berdoa sebelum makan kudapan, terutama sundae...”


Setelah cerita panjang-lebar seputar ‘tidur’, Pak Park kembali melanjutkan cerita mengenai keluarganya. Sementara Jun-ki sendiri, telah tertidur nyenyak, dengan kondisi wajah yg ditutup secarik kertas..


Ketika kertasnya jatuh, spontan Jun-ki terbangun dan bertingkah seolah dia masih mendengarkan cerita dati Pak Park, “Aku sedang mendengarkan psikoanalisis Freud...” ucapnya

“Aku membahasnya sekitar 20 jam lalu. Kamu pasti sangat lelah..” komen Park Park


Tiba-tiba, masuklah ahjumma pembantu yg hendak bertanya menu makan siang. Dengan wajah yg memelas, diaberkata: “Maaf, Pak. Anda ingin makan siang apa, Pak? Pilih saja antara daging, ikan, salad, dan bubur. Pilih saja... Aku sudah mempelajari semua makanan di ensiklopedia. Pilih satu saja. Kumohon.”

“Baiklah. Jun Ki, kamu mau makan apa?”

“Aku... Aku pilih daging”

“Daging apa? Babi? Sapi? Domba? Ayam?”

“Aku mau babi”

“Babi? Pilihan bagus. Mari kita makan...”


Semuanya hendak berjalan menuju ruang makan, tapi langkahnya aterhenti.. karena tiba-tiba Pak Park bercerita mengenai jenis bagian tubuh yg cocok dimakan orang berdasarkan jenis tubuhnya, yg tercantum dalam buku karangan Heo-jun...


Diruang tengah, Du-shik menghampiri Soo-ah sambil memabwa beberapa buku, “Soo-ah, Kamu masih makan?” tanyanya

“Ya, kenapa?”

“Kukira kamu akan kembali usai makan. Ini sudah dua jam. Soo Ah, ini waktunya belajar”

“Tidak ada yang boleh mengganggu orang yang sedang makan. Kamu terlalu keras. Aku tidak bisa belajar jika lapar”

“Begitukah? Maaf. Aku kurang pengertian. Teruslah makan. Santai saja..”


Tiba-tiba, terdengar suara Jun-ki: “Aku pulang..”

“Apa? Dari mana saja kamu?”

“Wawancara Park Chang Ho”

“Bukankah kamu pergi ke sana kemarin? Baru selesai? Wawancara apa yang mencapai dua hari?”

“Itu dia. Aku tidak pernah bertemu dengan orang secerewet dia. Dia menguliahiku tentang masa prasejarah saat makan siang”


Tak lama kemudian, Yoona pulang. Kepada yg lainnya, dia cerita barusan dia berpapasan dengan Dong-gu dan mereka makan bareng diluar.


“Dia makan bersama Dong Gu? Dia pergi ke Sokcho beberapa hari untuk survei lokasi”

“Sungguh? Lantas, kenapa Dong Gu kembali?”


Sekarang Dong-gu tengah mengendarai bus menuju Sokcho. Wajahnya sangat lelah, namun dalam hatinya dia berkata: “Sutradara akan memarahiku habis-habisan di sana. Tapi, tidak masalah selama aku bisa menemui Yoona”


Soo-ah menghampir Yoona yg tengah mengasuh Sol dalam kamar. Dia bertanya: “Kamu makan apa dengan Dong Gu?”

“Sundae..”

“Dong Gu sudah kembali ke Sokcho?”

“Sokcho? Dia pergi ke Sokcho?”

“Kamu tidak tahu? Dia pergi ke Sokcho untuk filmnya. Aku penasaran kenapa dia kembali. Pasti untuk menemuimu...”

“Apa? Maksudmu?”

“Kamu pikir dia pergi jauh ke Seoul demi Sundae? Dong Gu kekanak-kanakan dan tidak berbakat. Masa depannya tidak jelas. Tapi dia orang baik. Dia baik dan penuh perhatian. Dia juga hangat..”


“Omong-omong, kamu suka mantel pemberianku?”

“Ya, mantelnya cantik dan hangat. Terima kasih...”

“Berterimakasihlah kepada Dong Gu. Dia membelikannya untukmu. Kamu tidak tahu, ya? Kukira kamu sudah tahu. Jangan bilang Dong Gu bahwa aku memberitahumu”


Diam di ruang tengh, Jun-ki terus menatap sosmednya dan bertanya-tanya: “Kenapa junki_love_ tidak berkomentar lagi? Perlukah aku mengirim pesan? Mungkin dia terkejut membaca pesanku...”


Namun setelah mengirimkan pesan via DM, terdengar bunyi ponsel di sampingnya, yg ketika dilihat adalah ponselnya Seo-jin.


Dan yg lebih membuatnya terkejut... adalah fakta, bahwasanya pemilik akun ‘junki-love’ adalah Seo-jin..


Bergegas, dia menghampirinya dan bertanya secara langsung: “Seo Jin. Bisa jelaskan? Kamukah yang selama ini mengirim komentar? Kenapa?”


“Menurutmu kenapa? Aku agak sibuk sekarang. Jika tidak keberatan, pergilah.”


Bukannya mulai belajar, Soo-ah malah terus nonton drama. Kali ini, Du-shik bersikap agak tegas dan menyuruhnya untuk mematikan TV, kemudian mengajaknya berlajar matematika.

Soalnya sangat mudah, hanya berbentuk perhitungan sederhana, yg sepertinya.. anak SD-pun bisa menyelesikannya dengan sangat cepat (12+8x2)


Sambil tertawa, Soo-ah berkata: “Hei. Kamu bercanda? Aku mungkin tidak bisa matematika, tapi pikirmu aku tidak bisa ini? Jawabannya 40, bukan?”

“Soo Ah. Kenapa jawabannya 40?”

“8 tambah 12 sama dengan 20. Lalu dikalikan dengan 2, hasilnya 40”


“Soo Ah. Begini,  jika ada perkalian atau pembagian, hitung itu dahulu sebelum penjumlahan atau pengurangan. Jadi, 8 kali 2 dahulu. Lalu, tambahkan hasilnya dengan 12”

“Apa? Kenapa perlu dikalikan lebih dahulu?”

“Ada prioritas dalam empat operasi hitung matematika. Walau letaknya di akhir, perkalian atau pembagian dihitung dahulu”

“Kata siapa?”

“Aku tidak tahu siapa pembuat aturannya...”


“Apa? Lantas kamu ingin mengajariku walau tidak tahu pembuat aturannya? Kenapa aku mempelajari hal yang tidak kamu tahu? Yang benar saja. Memang dia siapa? Sok mengajariku, padahal tidak tahu apa-apa. Dia berlagak tahu segalanya. Yang benar saja. Jika perlu kuhitung dahulu, letaknya harus di depan. Kenapa membuat soal begitu? Kamu ingin membuatku kesal atau apa?”


Setelah sekian lama bersabar, pada akhirnya emosi Du-shik tak teredam lagi, “Jangan belajar jika sikapmu seperti ini. Jika kurang pintar, setidaknya kamu harus rajin. Memangnya ini waktu menonton drama?  Memangnya kamu mengerti dialognya? Kamu mengungkit karakter? Memangnya kamu siapa? Aku ingin membantumu karena kasihan!”

“Dasar dungu. Bodoh. Benarkah kamu pernah lulus sekolah?”

“Astaga! Dasar bodoh! Benar-benar bodoh!”
Comments


EmoticonEmoticon