4/01/2018

SINOPSIS Eulachacha Waikiki Episode 12 PART 4

SINOPSIS Laughter in Waikiki Episode 12 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS Eulachacha Waikiki Episode 12 Part 3

Esok paginya, Dong-gu bangun dan melihat Jun-ki serta Du-shik disampingnya: “Kenapa kalian mengepel lantai? Apa ini? Di mana pakaianku? Siapa yang melepasnya?”

“Kamu mengompol semalam!”


Mereka pun menjelaskan, bahwa semalam Dong-gu sangat mabuk hingga bertingkah seprti orang yg tidak waras. Mulai dari meminta Hyun-joon menjadi saudaranya, hingga mencium dan memeluknya..

“Kenapa kamu melakukannya?! Lagi pula kamu bilang tidak tertarik dengan Yoona lagi”

“Baiklah. Aku masih menyukainya. Apa salahnya? Sekeras apa pun usahaku, aku terus memikirkan dan merindukannya”

“Pantas kamu begitu memedulikan Hyun Joon”

“Bedebah itu selalu ada di dekat Yoona. Itu mengusikku”

“Kenapa itu mengusikmu? Tampaknya mereka tidak menjalin hubungan apa pun”

“Ada yang terasa janggal. Ada sesuatu yang aneh”

“Selimutmu yang aneh! Cepat cuci. Selimutmu bau!”


Setelah berganti pakaian, Dong-gu bertemu dengan Soo-ah.. yg kemudian menceritakan tingkah gilanya tadi malam, yg mengangkat Yoona dengan kakinya seakan tengah menerbangkan Yoona dalam pesawat, karena dia bilang tak pernah naik pesawat..


Tak lama kemudian, rombongan Hyun-joon datang.. Dong-gu bertingkah ‘sok keren’ dengan bilang, kalau dia lupa akan kejadian semalam..


Namun ketika ditinggal berduaan dengan Yoona, Dong-gu lansgung minta maaf atas kelakuannya. Namun Yoona malah tertawa, dan bilang kalau tngkah Dong-gu berhasil membuatnya terhibur~


Hyun-joon tengah menunjukkan kehebatannya bermain gonggi dihadapan teman-teman bulenya. Kebetulan, Dong-ggu lewat dan melihatnya..


Tak mau diam saja, maka Dong-gu bergabung dan menatangnya untuk bermain melawannya. Dong-gu sangat serius.. seakan dia adalah seorang pemain profesional.

Namun nyatanya, dia belum bisa mengalahkan kehebatan Hyun-joon, yg memang pernah menang dalam kompetisi di daerah asalnya.


Tiba-tiba, ponsel Dong-gu berdering.. dia menerima telpon dari Sutradara yg memintanya datang ke kantor.


Tak rela, pertandingannya berakhir seperti ini.. maka Dong-gu menantang Hyun-joon untuk bermain melawannya di lain waktu.


Di kantornya, Dong-gu bekerja dalam kondisi jidat yg memerah karena dijitak oleh Hyun-joon, setelah kalah dalam permainan Gong-gi.


Dalam rapatnya, sutradara bertanya: “Senjata apa yang selalu dibawa oleh tokoh utama?”

Semua orang berpikir.. kemudian Dong-gu ditanya. Lagi-lagi, dia sedang tidak fokus dan spontan menjawab, ‘gonggi’

Sejenak orang-orang terdiam heran, tapi sutrada malah bertepu tangan, “Ide yg bagus! Luar biasa.. ide-idemu memang brilian..” pujinya


Pulang dari kantor, Dong-gu mendatangi kediaman salah seorang seniornya yg dulu pernah memenangkan kompetisi Gonggi, semasa kuliah

“Ajarilah aku bermain gonggi”

“Apa? Maksudmu, kamu ingin belajar gonggi setelah delapan tahun berlalu?”

“Ya, aku ada masalah. Aku harus belajar gonggi. Aku sangat ingin menguasainya. Kumohon...”


Akhirnya, Dong-gu diajar bermain Gong-gu.. diamulai dari berat kelereng yg digunakakkan, tekik melempar hingga beberapa trik jitu~


Ketika tengah menunggu Seo-jin, Jun-ki menerima sms dari Pak Park yg isinya sangat amat panjang: “Dia mengirim SMS setelah aku memblokir panggilannya. Apa ini? Sejenis skripsi? Astaga Aku harus memblokir pesannya.”


Tak lama kemudian Seo-jin keluar dan lansgung menggandeng atangannya, mengajaknya pergi karaoke..


Ekspresi Jun-ki tak pernah berubah, dia selalu terlihat canggung dan kalah agresif dari Seo-jin.


Apalagi, ketika pikiran dan matanya mulai melihat Seo-jin kecil yg berada di hadapannya. Kali ini, Seo-jin menyanyikan sebuah lagu yg liriknya terdengan ‘seksi’. Namun hal itu sangat engganggu Jun-ki.. karena dimatanya, Seo-jin masih anak-anak.


Maka Jun-ki mengambil remote dan mealah memutar lagu Pororo, dan menyanyikannya berasma dengan Seo-jin..


Hingga dalam perjalanan pulang, Jun-ki benar-benar kikuk, karena terus melihat Seo-jin kecil yg berada disampingnya.

“Kita tiba di rumah. Aku sedih. Jika menikah, kita tidak perlu berpisah...”

“Apa? Menikah?”

“Oppa, jika menikah, ke mana kita berbulan madu?”

“Apa? Bulan madu?”

“Aku ingin pergi ke Maladewa.”


“Cukup! Jaga ucapanmu, Bocah! Seo-jin aaa... Aku sudah berusaha, tapi aku hanya bisa menganggapmu gadis kecil. Bagaimanapun, aku tidak bisa menganggapmu wanita. Jadi, Kita akhiri saja. Ya? Tolong mengertilah.”


Tak mengatakan apa pun, Seo-jin malah lansgung mencium bibir Jun-ki. Setelahnya dia bertanya: “Sekarang, kamu masih tidak bisa menganggapku wanita?”

“B.. bi.. bisa... aku bisa menganggapmu sebagai wanita..” jawab Jun-gi tergagap


“Tidak, jawabanmu masih terdengar lemah..” tukas Seo-jin, yg kemudian hendak mencium Jun-ki untuk yg kedua kalinya


Tapi tiba-tiba, Dong-gu datang.. dan berlari sangat kencang melewati mereka. 

“Dong Gu tidak melihat kita?”

“Sepertinya tidak”

“Kakak kenapa?”

“Entahlah. Dia seperti kerasukan”

“Syukurlah dia tidak melihat kita”


Masuk kedalam rumah, Dong-gu lansgung mengajak Hyun-joon untuk bertanding Gonggi denganna..


Sebelum mulau, Dong-gu mempertegas aturannya: “Pemain yang lebih dahulu mencapai 100 poin menang. Hukumannya 20 jentikan di dahi. Setuju?”

“Ya, itu ide bagus!”


Permainan berlangsung menegangkan dan Dong-gu diambang kekalahan, “Jika kali ini aku gagal, Hyun Joon akan menang. Gawat. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?”

Teringatlah dia pada teknik arirang yg diajarkan oleh seiniornya. Teknik itu snagat sulit, namun jika berhasil... dia akan mendapatkan skor 5 kali llipat.


Namun dengan modal nekat, akhirnya Dong-sgu sukses: “Aku berhasil. Aku memakai teknik Arirang!” teriaknya dengan penuh rasa bangga

“Duh, aku terlalu lama bermain gonggi, punggungku sakit, aku izin ke toilet yaa..” ujar Hyun-joon

“Eits.. nampaknya, kamu melupakan sesuatu..”


Masuk kedalam toilet, kita pun melihat jidat Hyun-joon yg memerah karena dijitak Dong-gu..


Esok hari, adalah saatnya Hyun-joon pulang, “Terima kasih banyak untuk beberapa hari ini. Aku pamit...”

“Selamat jalan.. Tunggu. Aku ingin bertanya.”

“Tanya saja..”

“Kudengar kamu meminjamkan studiomu kepada Yoona agar dia bisa berlatih membuat kue. Apa maksudnya? Apa? Apa maksudmu? Itu agak aneh. Pasti ada banyak murid di kelasmu. Kenapa kamu hanya memberikan keistimewaan kepada Yoona?”

“Kurasa kami sepemikiran karena sama-sama membesarkan anak”

“Benarkah?”

“Kukira... Awalnya begitu. Tapi Kini, aku terpikat kepadanya”

“Apa?”

“Aku terpikat kepadanya. Maksudku, aku menyukainya...”

Comments


EmoticonEmoticon