4/09/2018

SINOPSIS Eulachacha Waikiki Episode 14 PART 1

SINOPSIS Laughter in Waikiki Episode 14 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS Eulachacha Waikiki Episode 13 Part 4

Ketika syuting, tak sengaja Jun-ki kebabalasan menampar wajah lawan mainnya, “Kamu baik-baik saja? Maaf.. Aku belum bisa mengendalikan diri”

“Tidak apa-apa. Itu biasa terjadi saat akting”

“Terima kasih atas pengertiannya”


Tiba-tiba, datang seseorang yg memberikan ponsel Jun-ki yg katanya terus berdering daritadi. Setelah mengangkatnya, wajah Jun-ki tercengang tak bisa berkata apa pun..

“Ada apa?”

“Begini, aku ditawari membintangi iklan. Terlebih lagi, iklan kopi”

“Apa? Astaga. Aku pun belum pernah membintangi iklan kopi. Selamat, Jun Ki”


Dihadapan geng Waikiki, dengan sangat bangga.. Jun-ki memperagakan ulang adegannya dalam drama, “WAW... Lihat ekspresiku. Aku tampak berkarisma, bukan? Aku hebat, bukan?”

“Kami mengerti. Tapi, bolehkah kami menonton yang lain?”

“Aku muak dan bosan menontonnya”

“Kamu heboh hanya karena jadi pemeran pendukung. Pasti kamu lebih heboh lagi saat memainkan pemeran utama..”


“Omong-omong, kenapa mereka ingin kamu membintangi iklan mereka? Kukira hanya bintang papan atas yang membintangi iklan kopi. Mereka akan bangkrut????”


Tiba-tiba, Soo-ah bertanya pada Jun-ki: “Boleh kupinjam mobilmu nanti?”

“Maksudmu Rebecca? Kenapa? Untuk apa?”

“Tanpa mobil, mengambil pakaian sangat tidak praktis. Taksi juga mahal. Jadi, aku ingin berlatih mengemudi. Kondisi mobilmu bagus?”

“Tentu saja. Rebecca sangat kuat. Tapi jangan coba-coba membuka jendela kanan”

“Kenapa?”


“Ada kisah tragis. Tolong perlakukan Rebecca dengan lembut”

“Baiklah...”

“Sebaiknya pakai mobil lain saja”

“Jangan khawatir”

“Tapi bukankah menyewa pelatih mahal?”


“Bukan masalah. Du Shik akan membantuku”

“Apa? Aku? Kapan? Di mana? Apa? Bagaimana? Kenapa?”

“Ikuti saja dengaku, Direktur Bong!”


Setelah Soo-ah pergi Jun-ki juga pamit karena harus menghadiri rapat. Seo-ji pun ingin pergi bersamanya. Tapi Dong-gu lansgung melarangnya,

“Seo Jin, berhenti! Bukankah kakak memintamu menjaga jarak lima meter darinya? Pergilah lima menit setelah Jun Ki berangkat”

“Kapan Kakak berhenti melakukan ini?”

“Saat kakak tidak perlu mencurigai kalian lagi”


“Astaga. Kamu terus memerintahku. Menyebalkan sekali!”

“Kenapa? Memangnya kamu ada urusan lain?”

“Tidak..”

“Lagi pula kamu menganggur”

“Kamu bisa mengemudi?”

“Tentu saja. Aku dapat SIM delapan tahun lalu. Tapi aku belum mengemudi lagi sejak itu”

“Apa? Sekali pun?”

“Tenang saja, aku orangnya cepat belajar..”

“Baiklah. Mari kita jalan..”

“Du Shik, mana pedal remnya? Sebelah kiri atau kanan?”

“Apa? Kamu akan menyetir tanpa mengetahui itu?”

“Sudah lama tidak mengemudi, aku sedikit bingung...”


Du-shik turun sebentar, untuk memasang kertas peringatan dibelakang mobil/ lalu dia pun, kembali masuk,


[Tidak bisa membedakan pedal rem dan pedal gas]--[Pengemudi pemula, calon pembunuh]


Ketika tengah berjalan sendirian, So-jin dikejutkan oleh seseoak orang yg tibat-tiba menyeretnya. Refleks, dia pun memukulinya, tapi ternayt apria itu adalah Jun-ki..

“Seo Jin, ini aku..”

“Oppa? Apa-apaan? Mengagetkan saja!”

“Kamu baik-baik saja? Kamu yakin tidak dibuntuti? Oleh Dong Gu?”

“Apa maksudmu? Kakak masih punya banyak urusan lain, untuk apa dia membuntutiku”

“Kamu tidak lihat tatapannya? Dia seperti Malaikat Maut. Kita harus berhati-hati”

“Astaga, Memangnya kita sedang syuting film mata-mata?”

“Tidak ada salahnya berhati-hati. Kalau begitu, ayo kita minum kopi?”

“Bukankah kamu ada pertemuan pagi ini?”

“Tapi aku masih  sempat meminum kopi bersamamu. Jangan khawatir”


“Semoga kamu menerima kontrak iklannya”

“Jangan khawatir. Itu sudah hampir pasti”

“Sungguh? Sudah mengabari ayahmu? Dia pasti sangat senang!”

“Ya. Dia bangga denganku. Dia memujiku untuk kali pertama selama 31 tahun usiaku”

“Aku bangga sekali dengan pacarku”


Langkah mereka terhenti, dan mereka lansgung bersembunyi lagi.. ketika menydari bahwa ada Dong-gu didekatnya,

“Astaga. Aku kehilangan dia. Dia tahu aku membuntutinya? Seo Jin! Jun K! Akan kupergoki kalian kelak.. tamatlah riwayat kalian nanti!” tegas Dong-gu


“Hei, kamu gila? Kenapa melepaskan tanganmu dari kemudi?”

“Kamu memeganginya. Apa masalahnya? Kita harus memakai kacamata hitam saat mengemudi”

“Apa maksudmu?”

“Pegang lagi kemudinya”

“Ini bukan mobil otomatis tanpa pengemudi, dasar gila!”

“Pegang kemudinya. Sebentar. Biarkan aku becermin..”


“Dong Gu, kamu sedang apa? Kenapa kamu mengorek rotinya?”

“Aku harus memeriksa apakah senapan angin muat di dalam sini”

“Senapan angin di dalam roti?”

“Tokoh utama kami seorang mata-mata. Mereka ingin memasukkan senapan ke dalam roti”

“Kenapa?”

“Entahlah. Mereka bilang itu ideku, tapi aku tidak ingat. Pokoknya, mereka ingin aku memasukkannya ke roti ini..”


“Kamu mau ke mana?”

“Aku mau ke studio”

“Lagi? Bukankah kamu terlalu sering ke sana? Di sini banyak pekerjaan”

“Aku sudah menyelesaikan semuanya”

“Sungguh? Kemarin aku melihat-lihat dan banyak yang perlu diperbaiki”

“Misalnya apa? Di mana?”


“Misalnya, kamar di lantai dua...”

“Maksudmu kenop pintu yang sedikit longgar? Aku membeli kenop baru dan menggantinya tadi pagi”

“Benarkah? Kalau begitu, Kamar utama di lantai dua...”

“Lampu yang berkedip setiap 4,2 detik? Aku memanjat tangga dan memperbaiki semua korsleting kemarin”

“Benar juga. Kalau yang di lantai tiga...”

“Maksudmu tangga ketiga yang agak tidak stabil? Aku membeli mesin las dan memperbaikinya tadi pagi”

“Kalau begitu, kamu boleh pergi..”

“Baiklah. Sampai nanti, Sol. Tolong jaga Sol...”


“Sol... Ibumu kini bisa mengelas juga. Dia sudah seperti teknisi. Aku tidak ingin dia terlalu sering bersama Hyun Joon”


“Maaf, Jun Ki. Pihak pengiklan tiba-tiba merekomendasikan Jae Hyun”

“Maaf, Jun Ki. Tadinya aku tidak mau, tapi agensiku mendesakku”

“Jangan khawatir. Aku baik-baik saja”

“Tetap saja, aku tidak ingin dianggap merebut kontrakmu. Ini tidak pantas... Omong-omong, kalian tahu alasan mereka merekomendasikanku?”

“Begini, senyuman itu unsur terpenting di iklan ini. Beberapa orang tidak sepenuhnya puas dengan senyuman Jun Ki”

“Tapi senyum macam apa yang mereka inginkan?”

“Senyuman sesegar embun pagi...”


Setelah mendengar pemaparan itu, Jae-hyun jadi terus-terusan menunjukkan senyumannya dalam setiap kesempatan.


“Kenapa tiba-tiba dia tersenyum? Dia memamerkan senyumannya? Bagaimana jika kontrakku direbut olehnya?” gumam Jun-ki yg kemudian ikut-ikutan menunjukkan senyumannya


“Sampai kapan kamu akan bercermin? Kenapa kamu memperbaiki riasan sambil mengemudi?”

“Kamu tidak lihat garis bekas kacamata di wajahku? Diamlah, pegang saja kemudinya”

Selesai dandan, Soo-ah kembali ememgang kemudian. Du-shik mengingatkan: “Jangan mengebut. Injak remnya..”


Tapi ternyata, pedal rem-nya patah, “Astaga, ada apa dengan mobilnya?”

“Aku harus bagaimana, Du Shik?”

“Berhenti menginjak pedal gas. Mobilnya akan melambat”

“Sudah kulepaskan, tapi mobilnya tidak melambat. Bagaimana ini, Du Shik? Astaga, kita bisa kecelakaan...”

“Rem tangan!” teriak Du-shik, tapi ternayta rem tangannya juga rusak

“Du Shik, bagaimana ini?”

“Apa boleh buat. Ayo kita laporkan. Ayo hubungi 911”


“Astaga. Ponselku tertinggal di atas mobil. Soo Ah, pinjam ponselmu”

“Ponselku? Di mana ponselku? Astaga, ponselku tertinggal di rumah”

“Yang benar saja. Kalau begitu, tidak ada pilihan lain”

“Mau apa kamu? Jun Ki melarang kita membuka jendela itu. Katanya ada cerita tragis”

“Mau bagaimana lagi? Ponselku ada di atas!”


“Apa ini? Kenapa jendelanya tidak terbuka? Astaga. Jun Ki sialan. Ini sungguh kacau. Hei, kenapa kamu menaikkan jendela?”

“Tidak kunaikkan”

“Sakit. Turunkan jendelanya. Lenganku bisa putus. Di luar dingin!”

“Tombolnya tidak berfungsi!”

“Mobil macam apa ini?”


“Bagaimana ini? Ada jalan besar”

“Belok kiri. Masuk ke situs konstruksi. Hei, perlahan. Lurus terus!”

“Bagaimana?”


“Lewat samping! Kenapa kamu menabraknya? Apa yang terjadi?”

“Sekarang bagaimana, Du Shik?”

“Belokkan mobilnya ke arah sana. Belok terus”


“Apa? Belok terus?”

“Mau bagaimana lagi? Kita bisa celaka jika keluar. Kenapa kamu ingin berlatih mengemudimu?”

“Aku tidak menyangka ini akan terjadi?!”
Comments


EmoticonEmoticon