4/09/2018

SINOPSIS Eulachacha Waikiki Episode 14 PART 2

SINOPSIS Laughter in Waikiki Episode 14 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS Eulachacha Waikiki Episode 14 Part 1

Saat makan siang bersama, Jae-hyun bertanya pada sutradara, mengenai hal lin yg menjadi syarat menjadi model dalam iklan kopinya.

Sutradara menjawab: “Hal terpenting dari iklan ini adalah senyuman seperti yang kukatakan tadi. Berikutnya, ekspresi. Ekspresi kalian haruslah sekaya pelangi...”


Mendengar hal itu, maka Jae-hyun segera beraksi. Dia mengmentari makanan yg dicicipinya, dengan ekspresi berlebihan..  tak mau kalah, Jun-ki pun melakukan hal yg sama.


Beberapa saat berlalu, Du-shik dan Soo-ah masih terjebak dalam mobil. Mereka berdua lelah.. bingung mesti berbuat apa,

“Sampai kapan kita harus berputar-putar?”

“Aku juga tidak tahu. Teruslah mengemudi sampai bensinnya habis!”

“Kenapa perutku kembung? Apa aku terlalu banyak makan piza tadi? Aku ingin buang angin. Bagaimana ini?” keluh Soo-ah 


Niat hati ingin menyembunyikan bunyi kentutnya, Soo-ah sengaja membunyikan klaksan dengan sangat keras,

“Kenapa kamu tiba-tiba mengklakson?”

“Apa? Ada kucing”

“Kucing? Aku tidak lihat ada kucing. Bau apa ini? Soo Ah... Kamu buang angin? Itu alasanmu mengklakson?”

“Tidak. Aku mengklakson karena ada kucing!”

“Jangan berbohong! Bukan hanya perkara bunyi. Bagaimana dengan baunya?”


“Baiklah, aku buang angin! Tapi kamu sangat tidak sopan. Kamu harus berpura-pura tidak tahu jika wanita buang angin. Perlukah kamu mengatakannya?”

“Kata orang, siapa yang kentut, dialah yang marah. Ternyata benar!”

“Sudahlah. Pantas saja kamu tidak pernah punya pacar!”

“Apa? Kenapa kamu mengejek kelemahanku?”

“Sudahlah. Aku tidak mau bicara denganmu lagi!”


Jae-hyun bertanya: “Omong-omong, apakah ada faktor penting lain selain ekspresif?”

“Faktor lain? Suara juga penting. Suara indah seperti bubuk kopi yang larut di air panas. Seperti suara Gong Yoo atau Sung Si Kyung..”


Demi menarik perhatian, Jae-hyun sengaja bertingkah menuruti diallog Gog-yoo dalam drama Goblin. Tak mau kalah, Du-shik menunjukkan seuara merdunya dengan cara menyanyikan lagu dari Sung Si-kyung~


Terlalu lama terjebak dalam mobil yg tak bsia berhenti, Du-shik mulai merasakan sakit perut.. dia pun mengeluh: “Apa ini karena piza yang kumakan? Aku sakit perut. Aku bisa gila. Perutku sakit!”, lalu memrahi Soo-ah yg masih saja kentut seenaknya, “Hei, kamu sangat tidak sopan!”


“Aku salah apa? Aku mengklakson karena ada kucing”

“Berhenti membicarakan kucing. Bukan hanya kamu yang sakit perut! Aku juga! Jika aku lengah sedikit, bencana bisa terjadi. Tapi aku menahan diri karena masih punya sopan santun!”

“Sudahlah. Aku enggan berbicara denganmu lagi!”


Di dapur, Soo-ah terus memandangi Hyun-joon yg engah sibuk menghias cake,

“Kamu melihat apa? Aku tidak bisa fokus”

“Kamu terlihat bahagia sekali. Kamu terlihat sangat bahagia saat memanggang roti”

“Benarkah?”

“Ya... Hmmm, Hyun Joon. Apakah sejak kecil cita-citamu menjadi pembuat roti?”

“Ya. Sejak kecil, aku menyukai roti. Jadi, aku menghabiskan banyak uang untuk roti. Kupikir itu salah. Lalu aku berpikir ingin membuatnya sendiri. Semuanya berawal dari sana, di sinilah aku sekarang”

“Jangan bercanda..”

“Yoona. Bagaimana denganmu? Kamu juga bercita-cita menjadi pembuat roti?”

“Tidak. Aku pernah punya cita-cita lain. Tapi aku sudah melupakannya..”

“Benarkah? Apa?”

“Penyanyi rap... Sejujurnya, aku mengira kemampuan rap-ku hebat, tapi ternyata orang-orang tidak memahami gayaku. Kamu ingin menjadi penyanyi rap?”


Dengan gayanya yg penuh percaya diri, Yoona bernyanyi rap dihadapan Hyun-joon, yg seketika lansgung tersenyum karenanya~


Jun-ki dan Jae-hyun ditinggal berduaan dalam ruangan, karena tim produksi katanya sedang mendiskusikan aktor yg mereka pilih.

“Aku tidak berniat membintangi iklan. Mereka hanya membuang-buang waktuku. Menurutku, tampaknya Sutradara sangat menyukaimu. Jun Ki. Jangan lupa mentraktirku jika kamu dikontrak”

“Baiklah...”


Jun-ki pamit sebenar, karena ada telpon masuk dari ayahnya.


Namun tak sengaja, dia mendengar salah satu tim produksi iklan yg tengah berbicara dengan seseroang via telpon: 

“Tidak perlu khawatir, CEO Park. Kami memutuskan untuk mengontrak Jae Hyun barusan. Mana bisa aku menolak kebaikan Anda, CEO Park? Aku membujuk Sutradara untuk mengontrak Jae Hyun. Tenang. Sebagai gantinya, beri aku tas yang Anda janjikan”

Mendengarnya.. seketika membaut Jun-ki terdiam kecewa~


“Astaga. Perutku sakit. Aku sampai tidak bisa bernapas. Bagaimana jika aku BAB di depan Soo-ah?” gumam Jun-ki

“Astaga. Ini sungguh menyiksaku. Kurasa aku sudah mencapai batasku. Du Shik bersamaku. Aku bisa gila. Baiklah. Tidak ada pilihan!!!” gumam Soo-ah


“Aku harus melompat keluar. Du Shik... Jika tidak keberatan, bisa ambil alih kemudinya?”

“Apa? Soo Ah. Kamu gila? Sedang apa kamu?”

“Jangan cegah aku. Kurasa aku akan mati. Perutku sakit sekali”

“Kamu sungguh akan melompat? Kamu bisa mati jika melompat”

“Aku tidak peduli. Antara mati karena melompat atau mati malu setelah buang air di depanmu. Yang mana pun, aku tetap akan mati. Tapi, Jauh lebih baik mati karena melompat dari mobil!”

“Bicara apa kamu? Tenanglah!

“Jangan mencegahku. Jangan coba mencegahku!”


Tapi tiba-tiba, mobilnya berhenti, “Akhirnya kita selamat!” ujar Soo-ah dengan girangnya

“Aku menemukan tisu!” teriak Du-shik

“Du Shik. Beri aku selembar..” pinta Soo-ah, namun ternyata tissue-nya cuman ada selembar saja


“Aku tidak bisa memberikannya. Ini, benteng hak asasiku yang terakhir. Maafkan aku, Soo Ah”

“Aku mengerti. Tidak perlu merasa bersalah. Entah bagaimana, akan kucari solusinya. Aku cukup mencari sampah kertas di suatu tempat...”


Namun setelah Soo-ah turun, Du-sik berubah pikiran: “Soo-ah.. Ambil sebelum aku berubah pikiran”

“Bagaimana denganmu?”

“Sudah terlambat bagiku. Pergilah yang jauh dari sini!”

“Du Shik. Maaf, tapi aku ingin minta tolong...”


Beberapa saat kemudian, Du-shik dengan suara gemetar menahan rasa ingin BAB, menggerutu kesal: “Soo Ah. Yang benar saja. Kamu tidak sepatutnya menyuruhku melakukan ini. Bisa-bisanya dia menyuruhku begini?!”

Ternyata, dia kesal.. karena Soo-ah memintanya menekan klakson, ketika Soo-ah mengedan, supaya suaranya tak kedengaran~~~


Dong-gu menggerutu: “Apa Yoona tahu sekarang pukul berapa? Kenapa belum pulang? Apa yang dia lakukan bersama Hyun Joon setiap hari?”


Tak lama kemudian, Yoona pulang diantara oleh Hyun-joon, “Aku pulang. Dong Gu. Apa kabar?”

“Kabarku tidak baik! Yoona. Kenapa kamu pulang selarut ini? Kamu tahu sebanyak apa pekerjaan kami karena kepergianmu?”

“Maaf. Aku tidak sadar sudah selarut ini”

“Sudahlah. Ganti pakaianmu dan bersihkan dapurnya!”

“Hyun Joon, sampai jumpa di kelas. Terima kasih hadiahnya!”

“Santai saja.. ‘kan aku seudah mendengar nyanyian rap-mu. Jadi aku ingin memberimu sesuatu sebagai balasan..”

“Terima kasih. Akan kumanfaatkan pemanggang mini ini dengan baik”

“Kalau begitu, aku permisi...”


“Hyun Joon. Kita harus bicara!”

“Apa yang ingin kamu bicarakan?”

“Jika Yoona pulang malam, itu sangat memengaruhi bisnis kami. Bisakah kamu pulangkan dia lebih awal mulai sekarang? Dia pegawaiku. Kamu tidak punya etika bisnis!”

“Kamu seresah itu?”

“Apa?”

“Kelihatannya begitu bagiku. Sudah jelas posisiku tidak menguntungkan, tapi melihatmu seresah itu rasanya lumayan menghibur..”

“Tunggu. Apa maksudnya? Kita belum selesai bicara. Mau ke mana kamu? Aku resah? Untuk apa aku resah? Aku sama sekali tidak resah. Lelucon macam apa itu?”


Beberapa saat berlalu.. Jun-ki pulang sambil menunjukkan wajahnya yg begitu murung. 

“Jun Ki, kamu sudah pulang. Bagaimana dengan iklannya?”

“Tentu saja, seperti biasa, aku gagal audisi...”

“Kenapa? Kamu bilang itu hampir pasti”

“Tapi itulah hasilnya”

“Apa maksudnya? Pasti ada alasannya...”

“Aku bisa apa? Aku harus menerima fakta bahwa aku tidak punya koneksi atau uang”

“Semangat, Jun Ki. Aku yakin ada kesempatan bagus lagi untukmu!”


Berikutnya, Soo-ah dan DU-shik pulang.. dalam kondisi wajah yg llusuh, serta pakaian yg tertukar.

“Kamu berlatih mengemudi sampai pukul sebegini? Kalian kenapa?”

“Bukankah itu baju Soo Ah? Kenapa kamu mengenakannya?”

“Apa yang kalian lakukan di luar?”

“Jangan bertanya. Jangan tanya kami apa pun!”


“Soo Ah. Akan kukembalikan baju ini setelah mencucinya besok”

“Tidak. Simpan saja. Aku tidak bisa memakainya lagi. Simpan saja. Aku mau tidur...”


“Jun Ki. Bagaimana jika kamu bongkar saja Rebecca?”

“Apa maksudmu? Kenapa?”

“Jangan tanya kenapa! Bongkar saja. Itu demi kebaikanmu sendiri”


Esok paginya, geng Waikiki berkumpul di ruang tengah. Mereka menco menghibur Jun-ki yg masih bersedih.. namun mereka tak berhasil..

“Cerialah. Kamu akan segera menerima kontrak iklan lagi”

“Cobalah roti ini. Kamu belum sarapan...”

“Tidak usah. Aku tidak nafsu makan”


Iklan kopi itu akhirnya tayang.. tapi hasilnya sangat menggelikan. Ternyata, aktor utamanya hanya diambil gambar eskpresi wajahnya yg ditempel di biji kopi..

“Tunggu. Bukankah itu iklan yang seharusnya kamu bintangi?”

“Benar. Colombia Espresso...”

“Apa itu? Norak sekali!”

“Sungguh memalukan. Syukurlah kamu tidak jadi membintanginya...”

“Dia bermain curang demi membintangi iklan ini? Memalukan sekali...”


Melihatnya, seketika membuat Jun-ki langsung tertawa cekikikan.

“Akhirnya kamu tertawa. Kamu senang?”

“Tentu, aku senang. Nafsu makanku tiba-tiba kembali”


Sendirian, Dong-gu mengadakan ritual peringatakan kematian untuk Olivia (kameranya). Jun-ki datang dan bertanya heran: “Hei, kamu sedang apa?”

“Sudah 49 hari sejak Olivia ‘meninggal’. Kasihan Olivia. Semoga penderitaannya berakhir..”

“Dong-gu, Kamu sadar kalau kamu ternayta segila aku, bukan?”

“Beraninya bicara begitu? Kamulah pembunuh Olivia!”

“Akan kubelikan yang lebih bagus setelah aku digaji”

“Kapan? Kapan kamu akan digaji? Aku ingin merekam, tapi tidak punya kamera. Jika punya kamera murah, aku pasti bisa melupakan Olivia”

“Ritual seperti ini tidak akan membangkitkannya..”

“Bukan itu alasanku melakukannya!”


Tiba-tiba, Du-shik masuk dan lansgung berteriak: “Hyung!!!! Aku punya penemuan hebat!!! Mau lihat? Ayo!!!”


Melupakan kemalangan nasib Dong-gu, Jun-ki dengan semangat berlari mengikuti Du-shik yg ternyata.. telah menciptakan sebuah permainan seluncur sederhana dari papan. Mereka berdua, bermain dengan girang.. layaknya anak-anak kecil~


Tapi tiba-tiba, Seo-jin muncul dan lansgung memarahi Jun-ki dengan gaya bicara yg erlihat seperti nenek sihir,

“Sedang apa kamu? Kali ini skeleton?”

“Ini bukan permainan skeleton, tapi mirip. Du Shik mendapat ide---”

“Hentikan! Kamu tidak sadar betapa kekanak-kanakannya ini? Berapa usiamu?”

“31 tahun”

“Kamu bukan bocah. Kamu kira, sedang apa kamu sekarang?!”
Comments


EmoticonEmoticon