4/10/2018

SINOPSIS The Great Seducer Episode 17 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Great Seducer Episode 17 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS The Great Seducer Episode 16 Part 3

Diam-diam Tae-hee asyik memotret Shi-hyun, tapi Shi-hyun sendiri nampak sibuk memerhatikan ponselnya...

“Apa ayahnya menelepon lagi? Dia terlihat sedih...” gumam Tae-hee yg kemudian berlari kearah Shi-hyun


Saking tergesa-gesa, Tae-hee hampir terjatuh. Tapi untungnya Shi-hyun berhasil menangkap tubuhnya, tepat keedalam pelukannya.

“Ada apa? Kenapa berlari? Hei, kamu harus lebih hati-hati..”

“Aku ingin mengambil foto yang bagus untuk mengenang hari ini. Tidak berhasil, ya? Kamu tidak  mendengar suara kameranya, bukan?”


Spontan, Shi-hyun mengeluarkan ponselnya lalu mengambil beberapa foto bersama dengan Tae-hee...


Tapi kemudian, Tae-hee bertanya: “Bukankah kita butuh sesuatu yang lain?”

“Apa maksudmu?”

“Aku belajar istilah ini dari Kyung Joo. ‘klik’.. Itu hal yang biasanya terjadi di situasi seperti ini..”


Shi-hyun tersenyum, lalu mengecup pipi Tae-hee berulang-kali sambil bertanya: “Seperti ini?”


Tak menjawabnya dengan kata-kata, Tae-hee menjawabnya cukup dengan senyuman manisnya~


“Awas.. Kamu bisa terjatuh..” ucap Shi-hyun ketika melihat Tae-hee asyik berjalan di rel

“Di film, orang-orang melakukan ini saat ada rel kereta. Aku juga ingin mencobanya..” ujar Tae-hee

Shi-hyun tertawa, dan hal itu membuat Tae-hee keheranan, “Kenapa tertawa? Apa karena aku tidak lebih cantik daripada para aktris itu?” tanyanya

“Kamu lebih cantik, kok...” jawab Shi-hyun


“Apa yang kamu lakukan saat aku membuat tugasku?”

“Mengamatimu...”

“Kamu sudah mengingat gambaran bagus tentangku di kepalamu? Katamu kamu selalu lupa!”

“Ya, sudah...”

“Simpan itu di kepalamu dan buatlah sketsa diriku yang bagus beberapa bulan depan” pinta Tae-hee yg kemudian bertanya: “Apa telepon yang kamu terima tadi dari ayahmu?”

“Memang Kenapa?”

“Sesaat tadi, kamu terlihat sedih...”

“Bukan dari dia, kok..”


“Shi-hyun, apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan kepadaku?”

“Misalnya?”

“Apa pun itu... Aku akan menjadi penjaga rahasiamu”

“Tidak ada”


“Hei, kenapa kamu tidak mau berbagi beban denganku? Aku sangat cemas setiap kali kamu terlihat sedih, tapi kamu tidak mau cerita apa pun. Aku pacarmu, tapi kamu tidak mau membagikan masalah atau kecemasanmu!” keluh Tae-hee

Shi-hyun menjelaskan: “Aku sudah memberikannya kepadamu. Pesawat kertas itu..” tutur Shi-hyun, “Jangan menjadi penjaga rahasiaku. Tapi, Berikan aku kartu maaf. Maafkan aku setidaknya sekali jika aku berbuat salah. Kesalahan apa pun itu...”


“Baiklah. Dikabulkan... Tapi berikan aku kartu maaf juga”

“Ya. Baiklah. Akan kuberikan sepuluh. Hmmm, atau justru kuberikan kartu maaf dalam jumlah yg tak terbatas...”


“Ya ampun, kamu harus selalu berlagak keren, ya?” ujar Tae-hee sambil mencubit pipi Shi-hyun

“Hentikan. Sakit...” keluh Shi-hyun

“Sebagai imbalannya, aku punya hadiah untukmu!” ungkap Tae-hee

“Apa itu?” tanya Shi-hyun

“Ikut denganku, pokoknya..” jawab Tae-hee


Entah siapa yg menulisnya.. namun pada pohon yg mereka lewati, terdapat banyak sekali kartu permohonan, dimana dua diantaranya bertuliskan: ‘Izinkan aku tinggal bersama orang yang kucintai’ dan ‘Aku butuh kartu maaf’


Di kedainya, Se-joo engah memanggang daging untuk Soo-ji,

“Ya ampun, Soo Ji. Kamu bahkan berlatih di akhir pekan. Sungguh mahasiswa teladan”

“Tentu saja. Aku akan berlatih dengan giat sampai sidik jariku hilang”

“Baiklah. Makan yang banyak, dan berlatih yang giat...”


Tiba-tiba, ponsel Se-joo berdering.. ada telpon masuk dari si ‘Dompet Tebal’, yg tak lain adalah kakaknya sendiri. Entah apa yg dia katakan, namun setelah panggilannya diputus, Se-joo terlihat panik dan bergegas menelpon seluruh teman yg dia kenal..


Soo-ji menyuruhnya menelpon Kyun-joo, tapi Se-joo menolak: “Kamu saja yg telpon dia!”

“Eitss.. gak bisa, aku lag telpon Shi-hyun!” ujar Soo-ji


Tae-hee membawa Shi-hyun mendatangi sebuah kedai makanan tradisional yg menjual makgeolli (sejenis alkohol)

“Jadi.. ini alasan kita tidak naik mobil?”

“Tentu. Aku memilih daerah ini untuk meminum ini..”

“Kamu bilang memilih tempat ini untuk aku. Tapi apa minum-minum di siang bolong tidak berlebihan bagimu?”

“Apa salahnya? Usiaku sudah 20 tahun..”


Tae-hee mnuangkan minuman ke mangkok Shi-hyun, tapi Shi-hyun menolaknya: “Tidak, aku belum pernah minum makgeolli...”

“Hei, ini disebut minuman ‘duduk dan mabuk’. Rasanya manis dan gurih, jadi, kamu akan terus meminumnya. Kemudian, tanpa sadar kamu sudah mabuk...”


Sempat ragu, tapi pada akhirnya Shi-hyun mencobanya, lalu dia langsung berkomentar, menyebut minuman itu sangat nikmat, “Segar seperti minuman soda. Rasanya manis dan asam..”

“Hei, kamu... Kita habiskan ini dan kembali ke Seoul...”


Namun entah mengapa, mata Shi-hyun tiba-tiba berfokus kearah bibirnya Tae-hee.. dia tak mengatakan apa pun, namun wajahnya terlihat begitu kikuk~


Siang berubah menjadi malam.. Shi-hyun telah mabuk berat, hingga bangun pun kesulitan...

“Si Hyun, bangun! Kita akan ketinggalan kereta terakhir! Padahal kamu minumnya, dikit juga..”

“Aku tidak pernah naik kereta bawah tanah. Aku tidak bisa. Panggil taksi saja. Kita pulang ke Seoul naik taksi...”

“Hei, kamu tahu sejauh apa Seoul dari sini? Kalau begini caranya, kurasa kita tidak bisa pergi. Kita harus menginap... Kita ke sauna saja..”


“Tidak bisa. Aku tidak bisa pergi ke pemandian umum. Ada tato naga di tubuhku...”

“Naga?”

“Aku mau kencing. Aku harus ke toilet. Pokoknya, aku tidak bisa ke sauna. Aku tidak mau!”

“Astaga, aku mesti bagaimana sekarang?”


Kyung-joo sampai di kedai Se-joo.. maka Soo-ji pamit pergi. Tapi Se-joo melarangnya, “Kamu tidak boleh pergi. Harus ada dua orang di sini!”

“Hei, aku tidak bisa makan daging bakar dua kali sehari!”

“Duduklah. Akan kumasakkan yang lain!”


Tak lama kemudian, teman Se-joo yg lainnya mulai berdatangan... dan dia pun mengenalkannya pada Soo-ji..

Sikapnya itu, membuat Soo-ji bertanya heran: “Se Joo. Kenapa kamu mengenalkanku kepada teman-temanmu?”

“Benar juga. Kenapa aku melakukannya?”


Se-joo bertanya pada Kyung-joo: “Kenapa Tae Hee tidak ikut?”

“Dia... sedang punya banyak tugas”

“Minta dia untuk mampir. Hari ini aku yang traktir”

“Dia keluar kota untuk menggarap sebuah proyek”

“Sungguh? Kalau begitu, aku akan bungkuskan makanan untukmu. Kamu tahu rumahnya, bukan?”

“Tidak, dia pergi sangat jauh. Mungkin tidak pulang malam ini...”


Seakan menydari sesuatu.. Mendengarnya, membuat Soo-ji langsung menunjukkan raut wajah kesal, “Aku tidak sanggup makan daging lagi. Aku mau pergi!” tegasnya
Advertisement


EmoticonEmoticon