4/10/2018

SINOPSIS The Great Seducer Episode 17 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Great Seducer Episode 17 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS The Great Seducer Episode 17 Part 2

Meningalkan penginapan, Tae-hee mengajak Shi-hyun sarapan di kedai sup. Dia memeasan porsi besar untuknya dan porsi biasa untuk Shi-hyun..


Sepertinya, ini merupakan kali yg pertama Shi-hyun menikmati makanan seperti ini. Dia tak tahu caranya menuangkan saos.. dan dia hanya mengikuti hal-hal yg dilakukan ajusshi disebelahnya, atau mengikuti instruksi dari Tae-hee..


Selesai makan, mereka bahkan sempat jalan-jalan membeli bakpau di pasar~


Dalam tidurnya.. Soo-ji bermimpi, didatangi Se-joo yg hendak menciumnya..


Ketika terbangun,, Soo-ji lansgsung mendumel: “Se Joo gila! Beraninya dia melakukan itu kepadaku karena aku pernah melakukannya?”


Se-joo sendiri, sekarang tengah dimarahi oleh ayahnya: “Haruskah ayah menghajarmu supaya kamu sadar?”


Seakan tak memiliki rasa takut, Se-joo malahan langsung menyuruh adiknya untuk memkulnya: “Cepat pukul aku! Lakukan agar aku bisa pergi tidur! Pukul aku!”


“Kamu tidak lebih berharga dari kotoran anjing. Jika mengelola restoran, kamu harus belanja bahan. Jika tidak menghasilkan laba dalam sebulan, tutup saja!” bentak Tuan Lee


Se-joo tak terlallu menganggapnya, dan dia memilih untuk berjalan ergi meninggalkan ruangan tanpa melakukan pembelaan apa pun terhadap dirinya~


Shi-hyun dan Tae-hee berjalan pulang menuju halte bis. Tae-hee bercerita: “Sudah lama aku tidak ke perdesaan, ini sangat indah. Membuatku teringat tempat tinggalku dahulu”

“Di mana kamu tinggal?”

“Jeongeup. Kamu pernah ke sana?”

“Tidak...”

“Jeongeup juga seperti ini. Udaranya bersih. Di sana ada lapangan dan di sana ada sekolah...”


Tiba-tiba, sebuah mobil lewat dan hampir menyerempet badan Tae-hee. Untuklah, Shi-hyun bergerak cepat, dengan langung menarik Tae-hee kedalam pelukannya..

“Biasanya aku sangat waspada di dekat jalanan. Kurasa aku santai karena ada kamu. Aku sangat ceroboh. Dulu pun aku begitu..” ujar Tae-hee

“Kapan?” tanya Shi-hyun


“Saat aku kecelakaan. Aku menyusuri jalanan seperti ini. Sebuah mobil melewatiku dan... Itu juga tabrak lari. Menakutkan, bukan?”

“Kapan kejadiannya?”

“Sekarang sudah lewat dua tahun. Itu saat libur musim dingin. Waktu itu gelap, jadi, aku tidak ingat mobil apa itu. Tidak ada kamera CCTV lalu lintas atau saksi mata. Aku terguling ke parit seperti itu dan nyaris mati kedinginan. Aku tidak bisa jalan selama beberapa waktu. Hari itu, aku kabur setelah bertengkar dengan ibuku, jadi, kami terpisah. Setelah itu, aku pindah ke Seoul dan ikut ujian kesetaraan...”


Mendengar cerita dari Tae-hee, membuat Shi-hyun terdiam kaget.. dia pun bertanya: “Apa yang akan kamu lakukan jika bertemu dengan pengemudi tabrak lari itu?”

“Aku akan menyuruhnya bertanggung jawab, tentu saja! Kadang aku masih bermimpi buruk. Pasti orang itu baik-baik saja, tidak tahu aku nyaris mati. Bukankah itu jahat? Bisa-bisanya orang melakukan itu?”


Ketika Tae-hee berjalan pergi.. Shi-hyun malah tetap diam ditempatnya. Maka Tae-hee kembali menghampirinya untuk bertanya: “Kenapa? Apa aku membuatmu memikirkan ibumu? Maaf... kalau begitu..”

“Tidak, aku hanya sedang memikirkan hal lain...”


Ki-young menemui ibunya Hye-jung.. Dia mampir untuk minum teh, dan berbincang-bincang,

“Apa Hye Jung sering menemui Soo Ji?”

“Ya. Dia mengajak Hye Jung menonton konser, makanya Hye-jung sangat menyukainya..”

“Tapi Soo Ji terlihat agak 'nakal'. Aku takut dia akan memberikan pengaruh buruk ke Hye Jung yg masih polos..”

“Begitukah? Sepertinya memang begitu... Tapi aku harus meminta bantuan Presdir Myung”

“Bantuan apa? Bagaimana jika aku yang membantu? Myoungjeong tidak akan banyak membantu”

“Kyu Jeong baru saja menerima surat untuk pemeriksaan fisik wamil. Dia berhenti sekoilah karena sakit.. Dia harus dibebaskan dari kewajibannya. Aku ingin meminta....”


Mendengar ibunya berkata seperti itu, Kyu-jeong sontak berteriak mengatakan: “Aku tidak sakit! Jangan bilang begitu!”

Dia berteriak histeris, hingga Nyonya Park lansgung memanggil Hye-jung untuk menenangkan kakaknya itu~


Shi-hyun termenung.. mengingat cerita dari Tae-hee, serta cerita dari dokter Myung, yg jika disatukan... dirasa saling berkatian satu sama-lain~


Tapi kemudian, Tae-hee mengirim sms pada Shi-hyun, untuk mengajaknya makan ramen bareng. Kali ini, Tae-hee bilang, dia yg akan emasak dan Shi-hyun hanya perlu duduk menunggunya di meja makan..


“Di mana tugasmu?” tanya Shi-hyun

“Disana..” ajwab Tae-hee sambil menunjuk ke arah meja belajarnya


Shi-hyun melihat tugas yg telah dibbuat Tae-hee.. lalu tak sengaja, dia melihat sampah robekan kertas yg berceceran di lantai..


Niatnya, dia ingin membereskan semuanya.. tapi dia langsung terdiam, ketika melihat pesawat kertas yg dulu dia berikan pada Tae-hee..


Tae-hee menghampirinya, untuk memberitahukan kalau ramennya sudah siap. Namun Shi-hyun hanya diam dan tak memberikan respon apa pun..


Perlahan, Shi-hyun berjalan menghampiri Tae-hee, lalu menunjukkan pesawat kertas itu..

“Aku tidak tahu kenapa bisa ada di sana. Aku menyimpannya di albumku. Apa itu jatuh..” tutur Tae-hee dengan gugup


“Aku akan mengambil ini sekarang...” ujar Shi-hyun, yg kemudian bertanya: “Apa kamu sudah membacanya?”


Tak menjawabnya secara langusng, Tae-hee hanya mamu berkata: “Maafkan aku...” lalu bertanya, “Apa kamu marah?”


Shi-hyun berjalan pergi, namun Tae-hee terus berusaha untuk menahannya. Hingga tak sengaja, Shi-hyun mendendang kursi dimana tersimpan sebuah gelas yg langsung pecah karena terjatuh..

“Jangan mendekat! Nanti kamu terluka!” tegas Shi-hyun, sembil memungut pecahan beling


Sesaat hanya diam, lalu Shi-hyun menuturkan: “Ini sebabnya aku pergi dari rumah. Hari pertemuan pertama kita di bus itu,  adalah hari aku mengetahui bahwa aku bukan anak ayahku. Entah siapa ayah kandungku. Aku pun tidak mau tahu. Bahkan Se Joo dan Soo Ji juga tidak tahu. Jika memungkinkan, aku berharap tidak ada yang tahu. Kamu bilang aku bisa menceritakan apa pun yang kuinginkan. Hal yang kamu tunggu untuk kuberi tahu. Inilah hal itu...”


Sebelum pergi, Shi-hyun masih sempat berpesan: “Hati-hati. Mungkin masih ada pecahan yang tersisa...”


Tae-hee tak bisa tinggal diam, dia mengejar Shi-hyun dan berulang-kali menekan bel, meminta pintunya dibuka..

“Shi-hyun, maaf. Seharusnya aku mengatakannya kepadamu lebih awal. Aku takut... Aku tahu bahwa menunggumu mengatakannya kepadaku adalah tindakan egois. Aku tidak berpikir sejauh itu. Bisa tolong dengarkan aku? Beri aku waktu sebentar. Ya?” pintanya


Advertisement


EmoticonEmoticon