4/11/2018

SINOPSIS The Great Seducer Episode 18 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Great Seducer Episode 18 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS The Great Seducer Episode 18 Part 1

Masuk ke kamar ibunya, Soo-ji menyindir soal pembelian keramik dalam jumlah banyak yg diatasnamakan ahjumma pembantu mereka, “Ibu pasti memberinya gaji besar. Dia bisa membeli banyak tembikar!”


Soo-ji menunjukkan beberapa lembar, tanda terima.. lalu dengan tenang, dr. Myung berkata: “Ibu yang membelinya”

“Kenapa? Untuk Paman Seok Woo?”

“Bukan, untuk ibu sendiri..”

“Ibu tahu sesuatu? Ibu bisa mengelabui orang lain, tapi aku memahami semua ekspresi Ibu. Seniman itu tidak terkenal, jadi, Ibu tidak akan menjualnya kembali demi keuntungan. Ibu bahkan tidak suka memberi hadiah. Aku heran melihat Ibu membeli begitu banyak keramik. Aku memikirkan apa makna selo bagiku dan langsung tahu jawabannya. ‘Bagaimana perasaanku jika kehilangan kesempatan untuk tampil?’, ‘Bagaimana perasaanku jika aku merekam sebuah album dan seseorang menghancurkannya?’.....”

“Katakan bagaimana kamu tahu?!”

“Aku sungguh tidak ingin tahu. Tapi, Di tempat pameran di hotel kita bertemu untuk makan malam, aku melihat Paman berduaan dengan seniman itu...”


“Bu.. hentikan semua ini.. kumohon! Ini hanya membuat ibu terlihat menyedihkan!”

“Tidak, ini sama sekali tidak menyedihkan. Kamu tidak perlu memikirkan ini!”

“Jika Ibu tidak mau berhenti, aku pun tidak bisa”


Perusahaan menerima kabar baik, karena tenggat-waktu pengawasan produk Tiuzen diperpanjang.


Dr. Myung ingin mengucapkan terimakasihnya pada Anggota dewan Kim. Tapi panggilannya tak diangkat.. dan malah sekretarisnya yg menelpon balik.

Anggota dewan Kim, berpesan supaya dr.. Myung tak menghubunginya lagi, “Setidaknya JK mendapatkan sesuatu. Tapi.. Seluruh insiden kemarin membuat Pak Kim mendapat banyak masalah”


Ketika Tae-hee hendak berangkat ke kampus, kebetulan Shi-hyun juga keluar dari kamarnya,

Ae-hee menghampirinya dan bertanya: “Kamu masih marah kepadaku?”

“Aku tidak marah kepadamu. Aku hanya butuh waktu sendiri untuk berpikir...”

“Kamu tahu, Si Hyun. Aku memercayai semua yang kamu katakan kepadaku. Jika kamu bilang marah, artinya kamu marah. Jika menyukai sesuatu, kamu sungguh menyukainya. Kamu tahu aku selalu mengartikan ucapanmu apa adanya, bukan? Aku selalu mengartikan ucapanmu sebagaimana adanya...”

“Baiklah...”


“Kalau begitu, aku ke kampus dahulu”

“Mau pergi bersamaku? Aku akan mengantarmu. Dan, jika kamu ada waktu senggang malam ini.. mari kita bertemu..”

“Baiklah..”


Di kampus, Tae-hee menceritakan masalahnya pada Kyung-joo. Dan Kyung-joo berpikiran, kalau Shi-hyun sudah memaafkann Tae-hee, “Dia mengantarmu dan ingin menemuimu malam ini. Dia sudah tidak marah...”

“Kurasa dia belum sepenuhnya baik-baik saja. Akan butuh waktu lebih lama agar perasaannya membaik...”


Tiba-tiba, lewatlah Soo-ji.. dia menyapa mereka, “Lama tidak jumpa. Kamu masih ada kelas?”

“Tidak, kami sudah selesai...”

“Begitukah? Baiklah, kalau begitu. Sampai jumpa nanti malam...”


Menyadari kalau Soo-ji akan datang malam ini, maka Kyung-joo menyuruh Tae-hee untuk pulang dan berdandan yg cantik...

“Aku jarang berdandan, tapi sekali berdandan, aku mahir...” ujar Tae-hee


Shi-hyun mengunjungi makam ibunya. Dia duduk, menaruh sebuket bunga cantik, lalu berkata: “Maaf aku lama tidak datang. Ibu menjagaku, bukan? Jika Ibu sedang menjagaku, artinya Ibu tahu betapa dalam penderitaanku, bukan?”


“Banyak sekali yang ingin kutanyakan kepada Ibu. Bagaimana Ibu tega.. meninggalkanku tanpa mengatakan apa pun? Aku tidak pernah menyalahkan Ibu untuk apa pun. Sungguh, tidak pernah. Tapi, Kenapa Ibu melakukannya? Dia orang pertama yang sangat kusukai seumur hidupku. Kenapa Ibu melakukan itu kepadanya? Kenapa Ibu tidak menghentikanku saat melihat aku memacari Tae Hee? Seharusnya Ibu menghentikanku. Jangan kasihan kepadaku, Ibu. Pasti Ibu sangat menderita. Tae Hee juga. Aku akan mengurusnya,  sebelum kita harus merasa lebih bersalah kepadanya...” ungkap Shi-hyun dengan suara yg bergetar, serta matanya yg berkaca-kaca
Advertisement


EmoticonEmoticon