4/12/2018

SINOPSIS The Great Seducer Episode 19 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Great Seducer Episode 19 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS The Great Seducer Episode 19 Part 2

Soo-ji sibuk mencari-cari sesuatu, “Jatuh di mana, ya?”


Tak lama kemudian, datanglah Shi-hyun. Awalnya, suasana terasa begitu kikuk, hingga kemudian Shi-hyun membuka pembicaraan dengan bertanya: “Kamu pulang dengan selamat?”

“Aku kesulitan memanggil taksi. Harusnya kamu tidak minum-minum. Kamu terus pingsan. Kamu bisa terkena demensia karena miras...” jawab Soo-ji

“Maaf...” ucap Shi-hyun

Seakan melupakan kejadian malam kemarin, Soo-ji malah bertanya balik: “Kamu minta maaf? Untuk apa? Memangnya kamu melakukan kesalahan?”


Se-joo datang, dia pun bertanya pada mereka: “Ada apa? Kalian sudah bertengkar sepagi ini?”, lalu dia bertanya pada Shi-hyun: “Semalam, kamu pulang dengan selamat?”

“Tidak, aku tidur di sini. Soo Ji mengantarku, kemudian pulang” jawab Shi-hyun

“Kenapa tidak tidur di rumah saja..” gumamnya yg kemudian bertanya pada Soo-ji, kenapa dia memanggil mereka kemari?


Duduk di sofa, tak sengaja Se-joo menemukan sesuatu.. sepertinya itu anting (?)


Kepada Shi-hyun, Soo-ji menunjukkan robekan majalan berisi artikel mengenai Bu Seol. Dia pun menjelaskan, bahwa itulah sosok wanita yg dicintai oleh Tuan Kwon.

“Kamu sudah memeriksanya?”

“Aku melihat mereka bersama dengan mataku sendiri. Dia pernah mengadakan pameran di Hotel Joosung”

“Apa ibumu tahu?”


“Ya.. Bahkan, ibuku membeli beberapa karya wanita itu. Dam kurasa, kamu punya beberapa karyanya di rumah. Dahulu dia cukup terkenal. Di suatu wawancara, dia bilang semua karyanya laku terjual, tapi tidak tahu ke mana perginya semua karya itu. Padahal, supaya seorang seniman bisa terkenal, pembelinya harus memamerkan, menghadiahkan, atau menyombongkan karyanya. Seniman menjadi terkenal saat dibicarakan orang...”

“Seseorang menghancurkan peluangnya untuk itu? Apa ibuku merusak masa depan orang ini?”

“Justru sebaliknya... Mungkin ayahmu mencoba membantunya. Bukankah itu menyentuh?”


Soo-ji memberikan alamat e-mail Bu Seol, lalu menjelaskan bahwa Bu Seol masih memiliki studio di daerah Incheon dan Jeongeup..

Shi-hyun bertanya pada Soo-ji: “Selanjutnya, kamu ingin berbuat apa?”

“Balas dendam.. Mengambil hal yg paling berharga darinya. Apakah paman Seok-woo (ayah Shi-hyun)? Karyanya? Atau anaknya?”


Se-joo membentak Soo-ji, “Cukup! Kamu tak perlu melakukan sejauh itu!”

Namun Shi-hyun, sepertinya tertarik dengan ide Soo-ji. Dia pun bertanya: “Dia sudah menikah? Punya anak?”

Soo-ji berbohong, dengan mengatakan tidak tahu..


“Hentikan! Apa tidak cukup kamu mengetahui siapa dia? Pernikahan itu akan heboh diberitakan. Tidak mungkin dia tidak tahu. Jika ayahmu terus menemuinya, terima saja. Kamu bisa melakukan itu...” ujar Se-joo

“Aku akan menyelesaikannay dengan caraku..” jawab Shi-hyun yg kemudian pamit dan berjalan pergi


Diluar, langkah Shi-hyun terhenti sejenak.. sepertinya dia sangat marah, terlihat dari raut wajahnya yg memerah, menahan emosinya..


Madam Oh memperkenalkan Tae-hee pada Nyonya Park. Dia menepati janjinya untuk mencarikan guru yg tepat untuk Hye-jung..


Dan sepertinya.. Nyonya Park langusng menyukai Tae-hee, karena sikapnya yg ramah yg langsung bisa beradaptasi dengan Hye-jung.


Sambil menunggu kedatangan dr. Myung, presdir mendengar penjelasan dari Sekretaris Yoon seputar keuntungan yg didapat grup JK setelah merger dilakukan,

“Hal paling menjanjikan apa yang sedang mereka garap?”

“Perawatan sel punca baru untuk atopi. Jika uji klinisnya aman, mereka menjualnya di musim gugur”

“Itu terlalu lama.. Bagaimana dengan perajin itu? Kudengar Seok Woo menemuinya lagi”

“Sudah kupastikan wanita itulah yang memutuskan hubungan. Wakil Presdir pun tidak menghubunginya...”


Setelah dr, Myung datang, presdir tak ingin basa-basi dan langsung mengutarakan pendapatnya, “Aku sangat tahu kemampuan Anda. Tapi Anda cenderung menimbulkan masalah saat berbisnis. Masalah atas nama saham itu telah muncul ke permukaan. Aku agak gelisah soal itu”

“Aku minta maaf. Kumohon, Anda tidak perlu memperlakukanku dengan formal”

“Aku memperlakukan Anda dengan santai setelah kita menjadi keluarga. Sekarang ini, Anda bahkan bukan pegawaiku. Kudengar kalian sedang melakukan uji klinis untuk obat baru. Aku akan memantaunya setelah dipasarkan. Aku berharap hasilnya baik agar dapat meredam masalah terkait atas nama saham itu. Ini tentang bisnis. Kerja keras Anda akan diberikan kompensasi. Tergantung dari hasilnya, aku berniat mengalihkan sejumlah sahamku. Selain itu, kinerja Anda menentukan apakah sahamku akan diberikan kepada Seok Woo atau kedua cucuku, Yeo Min dan Si Hyun...”


Sekretaris Yoon memotong pembicaraan dengan berkata: “Jika saham itu tidak diwariskan, bisa ada masalah dengan pajak”

Lalu Presdir menjawab: “Karena itulah aku mengatakan itu tergantung Presdir Myung. Jika Anda kompeten, Anda tidak butuh banyak saham untuk mengelola perusahaan...”


“Saya mengerti.. saya akan berusaha, semampu saya..” tegas dr. Myung


Bu Seol menemui Tae-hee di tempat kafe tempat kerjanya. Dia pun membawakan hadiah untuknya dan kali ini, Tae-hee bersedia menerimanya..

“Kamu memang putri seorang barista. Kamu pandai membuat kopi”

“Ibu sudah tahu Ayah tidak mengajar lagi? Apa kalian masih berkomunikasi?”

“Mana mungkin kami menjadi orang asing? Kami punya putri yang cantik. Saat kamu di rumah sakit, ibu ketakutan dan itu berat bagi ibu, jadi, ibu meneleponnya satu kali. Saat dia menjawab, dia mengatakan, ‘Biji kopi yang kusangrai sekarang adalah untukmu’...”

“Ayah memang begitu..”


“Ibu tidak sanggup memberitahunya bahwa kamu kecelakaan. Ibu memintanya menjaga kesehatan, lalu memutuskan panggilan...”

“Kenapa Ibu tidak memberitahuku soal itu sebelumnya?”

“Kalau tahu, kamu bisa berharap..”

“Ayah masih merindukan Ibu”

“Ibu pun sering merindukannya. Tapi, mungkin sebaiknya kami seperti ini. Saat merindukannya, ibu bisa menemuimu. Wajahmu mirip dengannya. Ibu yakin dia juga sama. Dia bisa melihat wajah ibu di wajahmu.  Ibu akan kembali ke Icheon. Pameran ibu sudah selesai. Ibu sudah lihat bahwa kamu sehat. Selain itu, ibu tidak punya pacar. Ibu datang untuk mengatakan itu”

“Aku tidak ingin tahu..”

“Kalau saja, sifat ibu seperti ayahmu.. kamu pasti akan datang menemui ibu. Ayahmu pria yang hangat, tapi ibu dingin, ya?”


“Kelihatannya Ibu tidak sehat. Ibu sakit?”

“Tidak..”

“Ibu dicampakkan?”

“Eh.. kan ibu bilang, Ibu tidak punya pacar. Selain itu, ibulah yang mencampakkan, bukan dicampakkan”

“Apa kata ibu deh..”


“Setelah kembali ke Icheon, ibu akan fokus berkarya. Mampirlah jika sedang libur”

“Akan aku usahakan...”

“Ajak pacarmu jika kamu punya. Ibu akan masak yang enak”

“Ibu tidak pandai memasak”

“Kamu punya pacar, ternyata..”

“Tidak...”

“Masa sih..”

“Kubilang tidak punya. Menurut Ibu, gara-gara siapa kehidupan cintaku jadi sangat payah begini?!”

“Kenapa kamu menjadi kesal? Tapi, Ibu senang mendengarmu mengatakan hal seperti itu.”


Sebelum pergi, Bu Seol sempat memeluk Tae-hee lalu berkata: “Kamu sudah menerima hadiah ibu, terima kasih banyak”


Shi-hyun menemui Sekretaris Yoon: “Aku pernah menanyakan kenapa tidak ada riwayat kecelakaan di mobil ibuku. Kamu bilang mau menyelidikinya, tapi aku belum mendapat apa pun. Dan aku sudah tahu kenapa kamu tidak mengatakannya. Kamu khawatir fakta bahwa ibuku menyebabkan kecelakaan akan mengejutkanku. Kalau begitu, tolong jawab ini. Aku ragu kamu tidak tahu. Aku tahu bahwa perajin itu dan Ayah memiliki suatu hubungan...”


“Ibuku pernah mengatakan ini. Katanya saat dia melihat karya itu... Ibu merasa seperti pemilik tempat ini. Kini aku mengerti maksudnya. Apa ibuku yang membeli semua karya ini? Atau...”


Sekretaris Yoon diam saja, maka Shi-hyun melanjutkan kalimatnya “Katakan apa hubungan antara kecelakaan mobil ibuku dengan perajin ini. Katakan saja. Atau aku akan mendatanginya sendiri!”


“Ibumu dalam perjalanan menemui perajin itu. Dia kecelakaan di tengah perjalanan. Soal semua karya itu. Presdir sudah lama menginstruksikan untuk membeli karya-karyanya..” jelas Sekteraris Yoon, yg seketika membuat Shi-hyun kecewa lalu berkomentar: “Nenekku?.. Wahhh.. Semua orang di keluargaku tahu, kecuali aku...”


Dalam perjalanan pulang, Shi-hyun bertemu dengan Tae-hee. Sejenak, mereka diam saling-tatap.. namun kemudian, Tae-hee berjalan pergi begitu saja..


Masuk kedalam kamanya, Tae-hee terlihat sangat kesal: “Dia sungguh mengabaikanku. Tapi.. sudahlah, pokoknya dia tidak boleh menunjukkan bahwa dia mengenalku. Lagian, hubungan kami sudah berakhir..” celotehnya
Advertisement


EmoticonEmoticon