4/18/2018

SINOPSIS The Great Seducer Episode 21 PART 1

Advertisement
SINOPSIS The Great Seducer Episode 21 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS The Great Seducer Episode 20 Part 3

Dengan nafas yg terengah-engah, Shi-hyun bersusah payah menggendong Tae-hee sampai di depan kamar.. 


“Passcode-nya apa?” tanya Shi-hyun, namun Tae-hee yg benar-benar mabuk malah menggetok kepalanya, dan menyebutnya berisik..

“Aku mesti tahu passcode kamarm, uspaya bisa membawamu masuk!” ujar Shi-hyun

“Nomor telponmu..” jawab Tae-hee


Berhasil masuk, Shi-hyun langsung membaringkan Tae-hee di sofa dan membantu melepaskan sepatunya. 


Tak sengaja, dia pun melihat bekas luka di tangan Tae-hee.. yg didapatnya ketika menyelamatkan Shi-hyun dari lemparan bola di taman, beberapa hari yg lalu.. 


Shi-hyun mengambil kotak P3K, lalu mengganti balutan luka itu. Setelahnya, dia terdiam.. menatap Tae-hee yg tengah tertidur lelap. Lalu dia menyelimutinya dan membelai rambutnya perlahan..


“Bukan salahmu.. Semua ini, bukan karemu, melainkan karenaku. Aku tahu kamu menungguku untuk memberitahumu rahasiaku lebih dahulu. Aku tahu meskipun tidak kuceritakan, kamu akan berpura-pura tidak tahu. Aku sudah jahat kepadamu padahal kamu begitu pengertian. Maafkan aku...” tutur Shi-hyun, yg seketika membuat Tae-hee yg secara tak sadar, perlahan mulai menitikan air mata dan tangannya bergerak meraih tangan Shi-hyun


Shi-hyun tersenyuh, “Bersabarlah... Semua akan lebih baik, untukmu dan untukku. Semuanya akan menjadi lebih baik..” tambahnya dengan suara yg bergetar menahan tangisnya


Dalam kamarnya, Shi-hyun terduduk lesu, sambil mengulang kembali perkataannya barusan.. demi menguatkan dirinya sendiri~


Soo-ji mendatangi kedai Se-joo dengan menyetir mobilnya sendiri. 

“Kamu baru bisa menyetir. Kenapa menyetir malam-malam?” tanya Se-joo

“Aku hanya berlatih!” ujar Soo-ji

Ternyata, Soo-ji menggunakan mobil milik ibunya yg telah tak digunakkan, sekitar 2 tahun lamanya. Maka Se-joo menyuruhnya untuk menyervis ulang mobil itu, takutnya ada bagian yg telah rusak atau bagaimana.


Niatnya, Se-joo ingin membenarkan posisi spion, tapi bersamaan dengan itu.. Soo-ji meirik kearahnya dan membuat posisi wajah mereka menjadi sangat berdekatan..


Sejenak diam, tapi kemudian Soo-ji membuka pintu mobilnya tanpa pemberitahuan, hingga membuat Se-joo hampir terjatuh..


Soo-ji melihat mobil Shi-hyun terparkit di depan kedai, “Dia mampir kesini?” tanyanya

“Hmmm.. iya, tapi cuman sebentar..” jawab Se-joo


Beberapa saat kemudian, mereka berdiri berdampingan tepat di depan mobil Shi-hyun.

“Mari kita minta Si Hyun untuk tidak mengunjungi wanita itu. Karena tidak ada gunanya.. bagimu dan juga Si Hyun...” pinta Se-joo

“Tidak, semua hal ini tak ada kaitannya denganku!” ujar Soo-ji

“Pada akhirnya, Si Hyun yg akan menderita. Kamu pikir kamu akan bahagia? Aku bukan menentang pilihanmu, aku mengatakan ini karena aku sangat mengenalmu...” tutur Se-joo yg kemudian memberikan anting milik Soo-ji yg dia temukan di sofa markas mereka.


Soo-ji mengambilnya, sambil menatap Se-joo dengan penuh rasa keheranan. Tapi kemudian, Se-joo berkata: “Kita bertiga tidak bisa bersama selamanya, tapi tidak ada yang boleh sakit hati...”

“Maksudnya, kamu (yg sakit hati)?” tanya Soo-ji


“Bukan.. maksduku, Kamu dan Si Hyun. Kalian berdua sudah cukup menderita karena orang tua kalian. Sekarang, mari kita ikut arus saja, ya?” jelas Se-joo


Shi-hyun mendapatkan balasan e-mail dari Bu Seol, yg memberikan alamat serta kontaknya dan dengan senang hati menunggu kedatangannya. Maka di pagi hari, dia pun telah berdandan rapi untuk pergi menemuinya.


Bersama dengan itu, nampak Eun Tae-hee yg baru saja terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa begitu pening, karena efek alkohol yg diminumnya semalam..


Dia membuka ponselnya dan begitu banyak telpon serta pesan masuk dari temannya yg menanyakan keadaannya. Melihatnya, Tae-hee hanya bisa terduduk lesu, sembari menghela nafas panjang..


Tak sengaja, dia melihat plester ditangannya dan dia langsung menduga, bahwa Shi-hyun yg menggantinya..

Dugaannya terbukti, ketika dia melirik kalung milik Shi-hyun yg terjatuh di karpet samping sofa, tempatnya tertidur semalam.


Tae-hee berniat menemui Shi-hyun, namun sialnya... Shi-hyun telah masuk lift. Maka bergegas, Tae-hee berlari menuruni tangga darurat, sambil berteriak memanggil nama Shi-hyun, tetapi Shi-hyun keburu pergi dengan mengendarai mobilnya.


Tak mau berputus asa, Tae-hee berlari menggunakan jalan pintas, hingga akhirnya dia berhasil menghadang mobil Shi-hyun..


“Turun! Ada yg ingin kubicarakan padamu!” pinta Tae-hee dengan tegas


Shi-hyun menolak, maka secara paksa Tae-hee membuka pintu mobilnya, lalu bertanya: “Ini maksudnya apa?” sambil menunjuk plester di lengannya


Shi-hyun malah bertanya baik: “Apaan apanya?” 

“Jelaskan padaku! Mengapa kamu bertingkah seperti ini, padahal katamu kamu membenciku?” cecar Tae-hee

“Karena kasihan. Puas?!” tegas Shi-hyun

“Kasihan? Kenapa mengasihani orang yang kamu benci?” tanya Tae-hee


Enggan menjawabnya, Shi-hyun malah menghela nafas panjang. Maka selanjutnya, Tae-hee mengembalikan kalung milik Shi-hyun, sambil bertanya: “Terus ini apa maksudnya?”

“Aku suka memberi hadiah ke sembarang orang!”

“Memangnya, aku ini sembarang orang? Kalau benar begitu, buanglah (kalung ini). Kamu ‘kan orang kaya. Dan katamu, ini tak ada artinya.. Buang itu di hadapanku, SEKARANG!”


Shi-hyun diam saja, maka Tae-hee menyuruhnya untuk mengulang kalimatnya sekali lagi, lalu dia bertanya: “Apa kebersamaan kita tidak berarti bagimu? Apa selama ini, cintaku bertepuk sebelah tangan?”


Suara Shi-hyun mulai bergetar, “Cukup.. Semua ini sudah cukup berat bagiku...” ucapnya lirih

“Karena itulah kamu harus menceritakannya. Kenapa kamu harus melalui semuanya sendirian? Ini milik ibumu. Bukankah ini berharga bagimu?!” teriak Tae-hee, “Kalung ini milik ibumu. Bukankah ini berharga bagimu? Jika kamu tidak bisa membuangnya, kenapa memberikannya kepadaku? Jika kamu memberiku sesuatu yang bahkan tidak bisa kubuang, kamu mau aku melakukan apa?” tambahnya


Perlahan, mata Tae-hee mulai berkaca-kaca.. maka Shi-hyun akhirnya mau cerita: “Pemilik kalung ini sudah menabrakmu. Dia orang tidak tahu malu yang nyaris membunuhmu di kecelakaan tabrak lari itu. Aku sudah tahu dia orangnya saat kamu cerita di perjalanan kita. Jadi kumohon lepaskan aku.. dan Aku minta maaf...”


Shi-hyun hendak kembali kedalam mobil, namun Tae-hee manhannya, dan berkata: “Itu bukan kesalahanmu. Bukan kamu pelakunya. Kamu tidak tahu itu aku saat kita bertemu. Kenapa kita harus berpisah?”


“Kamu banyak menderita setelah kejadian itu. Kamu akan teringat kecelakaan itu setiap kali melihatku...”

“Tidak... Aku baik-baik saja, tidak perlu begitu. Kumohon, percayalah kepadaku. Karena pertemuan kitalah aku baik-baik saja. Mengerti?”


Mendengarnya, seketika membuat Shi-hyun tak kuasa menahan tangisnya. Tae-hee kemudian memeluknya erat, sambil berkata: “Pasti sangat berat bagimu. Setidaknya, sekarang aku bisa menyalahkan seseorang. Pasti kamu menderita seorang diri. Aku baik-baik saja. Dan aku berharap kamu baik-baik saja seperti yang kurasakan sekarang. Jangan putus denganku...”
Advertisement


EmoticonEmoticon