4/19/2018

SINOPSIS The Great Seducer Episode 22 PART 2

Advertisement
SINOPSIS The Great Seducer Episode 22 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS The Great Seducer Episode 22 Part 1

Meninggalkan markasnya, Shi-hyun terdiam sejenak.. teringat kenangannya bersama dengan ketiga sahabatnya itu.


Semasa SMA... Se-joo dan Soo-ji, sengaja bolos sekolah, hannya demi merayakan ulang tahun. Kala itu, mereka hendak merayakan ultahnya Shi-hyun, mereka telah menyiapkan cake beserta begitu banyak lilin diatasnya..

“Banyak sekali lilinnya. Untung kita hanya perlu menyalakan dua lilin besar tahun depan...” keluh Se-joo

“Kamu mengeluh soal ini? Nyalakan saja lilinnya!” bentak Soo-ji


Namun.. belum sempat lilinnya dinyalakan semua, tiba-tiba Shi-hyun datang. Dia tersenyum, lalu menyalakan lilin yg tersisa, “Setelah usia kita 20 tahun, nyalakan tiga lilin saja. Berapa pun usia kita, satu untuk masing-masing kita. Lee Se Joo, Choi Soo Ji, dan Kwon Si Hyun. Itu tiga...” tuturnya


“Lagi-lagi kamu bersikap keren...” komen Se-joo, sementara Soo-ji hanya diam, tapi matanya berkaca-kaca


Mereka pun saling menggoda, tertawa.. alu menup lilinnya bersama-sama~~~


Tae-hee menyiapkan hadiah buatan tangannya sendiri untuk Shi-hyun. Dia membuat album foto kenangan kebersamaan mereka, serta sebuah bingkai bersisi fotonya Shi-hyun..


“Doaku.. telah terkabul..” ucap Tae-hee sambil mencium bingkai foto tersebut


Lalu kemudian, Tae-hee menyiapkan cake serta sup rumput laut, yg biasanya dihidangkan saat perayaan ultah..


Ditinggal berduaan saja, Se-joo mengulas  kembali fakta yg disembunyikan Soo-ji dan Shi-hyun selama ini, “Kamu dan Si Hyun bersekongkol untuk mencegah ibumu menikahi ayahnya. Yang kalah akan mogok makan dan merelakan mobilnya. Kalian bukan hanya akan mendaftarkan pernikahan, sementara aku bersenang-senang sendirian...”

“Maaf, kami tidak memberitahumu”


“Tidak masalah. Aku sudah curiga karena aku tahu betapa kamu peduli kepadanya. Tapi Soo Ji, dia tidak merasakan hal yang sama. Kamu sudah tahu sekarang. Alih-alih merencanakan permainan bodoh ini, seharusnya kamu menyukai Si Hyun dengan tulus. Apa yang kamu takutkan?”

“Bukankah kamu juga sama? Terlalu takut akan sesuatu untuk mengakui yang sebenarnya?”

“Kamu benar... Aku yang paling bodoh di antara kita. Konyol sekali aku. Seharusnya aku menghentikan kalian. Seharusnya aku menghentikan kalian saat tahu ada yang tidak beres. Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku hanya menyeringai seolah-olah tidak tahu apa-apa? Soo-ji.. Jangan menjadi orang bodoh seperti aku. Berhentilah selagi bisa. Jika kamu menginginkan dia kembali, utarakan perasaanmu yang sebenarnya. Yang kamu inginkan adalah Si Hyun. Kenapa kamu terus melakukan hal-hal yang bisa membuatnya pergi? Kenapa?”

“Dia begitu banyak berubah. Mana bisa aku memberitahunya?”


“Mungkin, kamu akan menyalahkanku atas hal itu..” ujar Soo-ji, yg kemudian bangkit dan berjalan pergi..


Tae-hee tersenyum, melihat kedatangan Shi-hyun yg baru pulang dengan mengendarai mobil merah milik mendiang ibunya. Tapi seketika, Tae-hee teringat kejadian di masa lampau..


Ternyata, pada malam itu.. Tae-hee mlihat ibunya Shi-hyun yg sekarat dalam mobilnya Tae-hee berulang-kali menggedor kaca mobil, namun tak digubris..


Dia pun berlari untuk mencari pertolongan, dan pada saat itulah.. sebuah sedan putih melaju cepat ke arahnya..


Kembali ke realita, Tae-hee bertanya-tanya pada dirinya sendiri: “Kenapa aku terus teringat akan waktu itu?”


Tak langsung masuk kedalam apartemen, mereka sempat jalan-jalan di bawah pohon yg daunnya berguguran..

“Kenapa kamu menunggu di luar padahal udara dingin?” tanya Shi-hyun

“Aku ingin cepat menemuimu...” jawab Tae-hee


Sejenak, langkah Tae-hee terhenti.. dia menegadahkan tangannya, dan sehelai daun terjatuh di telapaknya, “Kamu tahu? Kelopak bunga berguguran karena tertiup angin, bukan? Jika kamu berhasil menangkapnya di tanganmu, cintamu akan terwujud...” tutunya

“Sungguh? Kata siapa?”


“Ayahku... Dia juga pernah membacanya di sebuah buku. Tapi yang penting, kita tidak boleh berusaha menangkap kelopak bunga. Kelopak bunga itu harus gugur dan mendarat di telapak tanganmu”

“Ahh.. Itu berarti aku harus menunggu alih-alih mencoba menangkapnya...”

“Begitukah? Karena cinta adalah sesuatu yang tidak bisa dipegang atau digenggam?”


“Aku selalu melihat ayahku berdiri seperti ini di musim semi. Aku merasa dia menunggu kelopak bunga jatuh ke telapak tangannya sambil memikirkan ibuku...”

“Hmmm.. kira-kira, Siapa yang ibuku tunggu? Aku mencoba meredam rasa penasaranku, tapi terkadang aku penasaran siapa ayah kandungku. Apa ibuku sungguh mencintai ayahku? Dalam ingatanku, ibuku adalah seseorang yang hanya mencintai ayahku. Karena itulah dia sangat kesepian...”


Shi-hyun menengadahkan telapak tangannya, “Kurasa kelopak bunga tidak akan jatuh ke tanganku...” keluhnya


Tae-hee menaruh tangannya di telapak tangan Shi-hyun, “Ayuo kita pulang..” ucapnya sambil tersenyum manis


“Aku sangat suka mendengarkan kalimat, ‘Ayo pulang’...”

“Benarkah?”

“Ya..”

“Aku seperti rumah bagimu, bukan?”

“Tentu saja...”

“Kamu pun seperti rumah yang sebenarnya bagiku..”

“Sungguh?”

“Karena kamu pemilik gedungku...”


Tae-hee tertawa dan jalan duluan.. sementara Shi-hyun terdiam.. menatapnya dari belakang sambil berharap: “Satu hari lagi. Aku ingin merasa bahagia (bersamammu) satu hari lagi...”
Advertisement


EmoticonEmoticon