4/19/2018

SINOPSIS The Great Seducer Episode 22 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Great Seducer Episode 22 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS The Great Seducer Episode 22 Part 2

Pulang ke rumahnya, Soo-ji malah langsung dimarahi oleh ibunya yg tak suka dengan ide Soo-ji yg ingin menikah dengan Shi-hyun.


“Ibu sendiri yg bilang, kalau aku harus menjadi Nyonya Grup JK!” 

“Kamu dan Si Hyun tidak bisa bersama. Karema Shi-hyun... bukan anak kandung Seok Woo!”


“Apa?! Si Hyun mengetahuinya? Paman yang mengatakannya sendiri?”

“Itu tidak penting....”

“Apa maksudnya tidak penting? Itu berarti Si Hyun sebatang kara!”

“Jika kamu begitu mencemaskannya, berpihaklah kepada ibu. Ibu akan melindunginya!”


“Apa maksud Ibu? Apa Ibu akan mengusirnya jika aku tidak menjaga sikapku? Ibu, tolonglah. Semua itu bukan milik Ibu. Hati Paman dan perusahaannya tidak ditakdirkan untuk Ibu. Ibu bilang melakukan ini demi melindungi rumah sakit, bukan meninggalkan Ayah karena bisnisnya bangkrut. Karena hanya rumah sakit itu yang Ibu miliki. Aku berusaha sangat keras untuk memahami Ibu. Jadi, aku minta tolong kepada Ibu untuk kali terakhir...”


Soo-ji menyendiri di kamarnya yg gelap.. dia mengingat kembali, seluruh obrolannya dengan Shi-hyun yg selalu terpootng di tengah jalan, karena ada satu hal yg tak ingin Shi-hyun ceritakan kepadanya..


“Kwon Si Hyun.... Seharusnya kamu cerita kepada kami. Kami bahkan tidak tahu. Kami tidak tahu kamu tidak punya siapa-siapa...” gumam Soo-ji


Bergegas, Soo-ji pergi keluar.. Dalam perjalanan, dia menelpon Se-joo. awalnya dia ingin memberitahukan kondisi Shi-hyun, namun tak jadi dan dia hanya memintanya untuk segera menemui Shi-hyun bersamanya sekarang juga!


Saat ini, Shi-hyun sendiri tengah merayakan ultahnya dengan Tae-hee. Dia begitu tersentuh, ketika Tae-hee menyanyikan lagu ultah untuknya..


Saatnya meniup lilin.. karena ada dua, maka Tae-hee minta satu lilin untuknya. Dia pun mengucapkan sebuah harapan: “Aku berdoa semoga Si Hyun selalu sehat dan bahagia...”


Seketika, Shi-hyun teringat pada mendiang ibunya, yg dulu.. mengucapkan harapan yg sama persis dengan yg diucapkan Tae-hee..

“Doa macam apa itu?” tanya Shi-hyun

“Lalu apa? Apa lagi yang bisa ibu doakan?” jawab Ibu


Kepada Tae-hee, Shi-hyun mengajukan pertanyaan yg sama: “Doa macam apa itu?”

“Lalu apa lagi? Kamu sudah kaya dan tidak memedulikan pendidikan. Hmmm, kamu sendiri punya harapan apa? Karena harapan yang kupanjatkan di hari ulang tahunku terwujud...”

“Apa itu?”

“Rahasia....”


Mereka tertawa bersama, “Aku juga ingin menyiapkan kejutan untuk hari ulang tahunmu...” ucap Shi-hyun

“Hari ulang tahunku masih sembilan bulan lagi...”

“Hfftt.. darimana saja, kamu selama ini..”

Berusaha bersikap gombal, Tae-hee berkata: “Aku terlahir.. hanya untuk merayakan ulang tahun bersamamu...”


Tapi kemudian, dia geli sendiri dengan kalimatny abarusan, “Maaf, aku tidak pandai dalam hal seperti ini...”

“Pasti akan lebih baik jika kita bertemu lebih awal”

“Hei, waktu bertemu tidaklah penting. Yang penting itu cara kita bertemu dan cara agar kita tetap bersama...”


Sebelum meniup lilinnya, Shi-hyun hendak mengutarakann harapannya. Tapi Tae-hee malarangnya, “Kamu harus merahasiakannya agar bisa terwujud...” ucapnya


Kemudian, Tae-hee memberikan kadonya dan itu membuat Shi-hyun cukup terharu, “Ini kado pertamaku dari pacarku...” terangnya


Shi-hyun agak kesulitan ketika membaca aksara China yg tertulis di kartu ucapannya.. lalu Tae-hee menjelaskan, kalau itu adalah namanya yg berarti ‘sukacita yg besar’

“Nama yg sungguh indah..” puji Shi-hyun

“Apa arti namamu?” tanya Tae-hee


Dengan tergagap, Shi-hyun menjawab: “Hmmmm.. ‘Untuk mencerahkan para pengikutnya, Buddha muncul kepada mereka dalam berbagai rupa dan wujud...’ Itu yang ibuku katakan, tapi aku mengerti maksudnya...”

“Nama yang bagus.  Ibumu berharap kamu terus berubah sampai kamu menemukan jati dirimu yang sebenarnya...”

“Iyakah? Padahal, aku mengarang jawaban itu..”


Tae-hee tertawa.. Shi-yun pun demikian. Dia melihat foto-foto dalam album itu, lalu mengatakan bahwa mulai dari sekarang, dia tak akan pernah melupakan lagi, seperti apa senyuman di wajah Tae-hee...


Dalam kamarnya, Shi-hyun melihat kembali isi kado dari Tae-hee. Perlahan, dia membuka lembar demi lembar.. dan di lembar pertengahan tertulis catatan kecil, ‘sisanya kamu isi sendiri’


Masuk ke ruang kerjanya, Shi-hyun mulai membuat hadiahnya untuk Tae-hee. Dia menggambar ulang, foto disaat mereka bersama sambil mengingat semua peristiwa sukda dan suka yg pernah mereka lalui bersama..


“Tadinya kupikir ini kesempatan terakhirku untuk meninggalkanmu. Bolehkah aku menerima senyuman itu darimu? Mendapatkan hak terkecil untuk mencintaimu? Aku harus mengatakan segalanya kepadamu. Aku sudah memutuskan. Jangan biarkan Tae Hee memaafkanku. Beri aku.. sebuah hukuman.. yang sangat berat...” -Kwon Shi Hyun
Advertisement


EmoticonEmoticon