4/20/2018

SINOPSIS The Great Seducer Episode 24 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Great Seducer Episode 24 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS The Great Seducer Episode 24 Part 1

Shi-hyun mencari Tae-hee ke kamarnya, namun ternyata.. Tae-hee tak pulang dan itu membuat Shi-hyun bertanya-tanya: “Kamu ada dimana?”


Tae-hee sendiri, tengah berjalan seorang diri.. tanpa arah tujuan yg pasti. Hingga akhirnya, dia memilih untuk mendatangi workshop fakultasnya, dimana banyak mahasiswa yg berada disana untuk menyelesaikan tugasnya,


Teman-temannya agak kaget melihat Tae-hee, yg biasanya mengerjakaan tugas dirumah tiba-tiba datang kesini. Namun Tae-hee bila, dia hanya sedang ingin mencari baru. Dan ketika teman-temna mengajaknya cari cemilan keluar, Tae-hee menolak.. mengatakan bahwa dia sedang ingin fokus mengerjakan tugasnya saja.


Sementara Shi-hyun masih dtetap berdiri depan pintu kamarnya, kini Tae-hee tengah duduk menyendiri dalam ruangan yg gelap, lau menlpon Kyung-joo..


“Kamu di mana? Kenapa ponselmu mati?”

“Ada apa?”

“Si Hyun berulang kali meneleponku untuk mencarimu...”

“Sungguh?”

“Apa kalian bertengkar?”


Enggan menjelaskannya Tae-hee malah bilang: “Kyung Joo. Saat Si Hyun meneleponmu, katakan kamu tidak tahu aku di mana. Aku sedang memikirkan sesuatu”

“Apa yang terjadi? Datanglah ke rumahku. Atau kamu mau aku ke sana?”

“Tidak. Aku sedang ingin sendiri. Aku berusaha menghindari Si Hyun. Karena itu ponselku tidak aktif. Jangan khawatirkan aku”


Setelah teponnya ditutup, Tae-hee mendesah gelisah: “Si Hyun. Maafkan aku. Sangat berat bagiku untuk menemuimu sekarang..” ucapnya


Se-joo menemani Soo-ji, “Jika kamu tidak mau pulang, ayo ke persembunyian kita” ajaknya

“Aku tidak mau ke sana...”

“Haruskah kita menghancurkan tempat itu?”

“Kenapa? Di mana lagi nanti aku bisa beristirahat?”

“Si Hyun sudah pergi. Kita tidak bisa kembali seperti dahulu”

“Aku tahu itu. Aku sendiri, yang membuatnya seperti itu...”


Sejenak terdiam, lalu dengan nada bicara yg serius, Se-joo berkata: “Berhentilah mengabaikanku, tatap aku. Ayo bersamaku. Aku akan melakukan semua keinginanmu. Kamu bilang aku menyebalkan karena terlalu mengenalmu. Aku akan pura-pura bodoh sesekali. Jika kamu tidak ingin diganggu, aku akan menjauh beberapa hari. Jika kamu meneleponku, aku akan langsung datang. Itulah yang kulakukan sampai sekarang. Mulai sekarang, aku akan melakukan lebih dari itu...”

Namun, Soo-ji berkata: “Kamu dan aku harus tetap berteman, Se Joo...”

“Si Hyun juga seorang teman. Tidak bisakah kita bahagia seperti dia?”


Soo-ji bediri, sambil menengadahkan tangannya di bawah kelopak daun yg berjatuhan, “Si Hyun tidak bahagia. Aku baru saja memisahkan mereka berdua. Tapi aku pun tidak bahagia. Tae Hee berkata bahwa aku tidak marah, tapi sedih. Dia bilang aku terlihat sedih karena Si Hyun tidak mencintaiku...” jelasnya dengan suara yg bergetar


Se-joo tak mengatakan apa pun, dia lansgung menarik Soo-ji untuk menyandarkan kepala di bahunya...


Se-joo menemui Shi-hyun ke apartemennya, dia menatapnya tajam.. mengajaknya untuk bicara empat-mata.


Di bar, ada Ki-young bersama temannnya dan Kyu-jeong (kakaknya Hye-jung) yg terus saja mengeuh karena harus menemui psikiater supaya tidak menjalani wajib iliternya.

“Menyebalkan. Aku harus mulai menemui psikiater. Aku tidak gila..”

“Itu jauh lebih baik daripada ikut wajib militer. Banyak kerabatku yang harus ikut, tapi tidak melakukannya”


Ditempat yg sama, ada Shi-hyun dan Se-joo. beberapa saat, suasana hening karena tak ada yg membuka pembicaraan,

Hingga akhirnya Shi-hyun berkata: “Bicaralah. Aku tahu kamu akan marah atas perkataanku kepada Soo Ji..” 

“Aku sedang mempertimbangkan untuk menghancurkan tempat persembunyian kita..”

“Lakukanlah! Kita tidak akan pernah bisa berkumpul seperti dahulu. Lagi pula, itu tempatmu. Terserah kamu saja..”


Se-joo menceritakan perasaannya, “Kamu terdengar lebih bodoh daripada dugaanku. Yang berubah telah berubah. Soo Ji dan aku pergi ke rumahmu semalam.. Entah kenapa dia meneleponku dan menangis di tengah malam. Kurasa ibunya memberitahukan sesuatu kepadanya. Dia mencemaskanmu dan ingin segera melihat keadaanmu. Saat itulah kami tahu kalian bertetangga..”, lalu dia bertanya: “Menurutmu bagaimana perasaan Soo Ji?”


Shi-hyun tak menjawab, maka Se-joo melanjutkan kalimatnya: “Terus terang, saat kamu membohongi kami tentang memacari Tae Hee, aku memutuskan untuk mendekati Soo Ji. Aku ingin jujur kepada diriku walau perasaan itu sepihak, tapi Soo Ji ingin kami tetap berteman saja. Menurutmu apa artinya itu?”

“Hubungan semacam itu, akan berubah.. itulah yg selalu dia ucapkan..”

“Kamu tahu seperti apa dia. Dia seperti itu karena nyaris tidak sanggup bertahan. Karena dia akan kehilangan semuanya dan kesepian tanpa aku...”


Seakan tak mempedulikan Soo-ji, Shi-hyun malah membahas tentang Tae-hee, “Se Joo. Aku tidak bisa menghubungi Tae Hee. Kamu tahu apa yang Soo Ji katakan kepadanya hari ini?!”

“Aku tahu!”

“APA?!”

“Orang tua kalian, ibunya Tae Hee. Aku sudah mengetahuinya!”


Shi-hyun marah, “Seharusnya kamu memberitahuku atau mencegah Soo Ji!” bentaknya

“Sudah berulang kali kuperingatkan. Putuskan Tae Hee atau jelaskan perasaanmu kepada Soo Ji. Kamu tidak melakukannya. Jadi, Apa yang harus kulakukan? Apa yang bisa kulakukan untuk menyenangkan kalian?”

“Aku tahu yang kita mulai itu salah. Aku sudah berniat meminta maaf kepada Tae Hee, tapi Soo Ji mengacaukannya!”

“Jangan salahkan dia! Kamu tidak tahu kenapa dia begini? Dia mencegahmu berbuat terlalu jauh dengan menyampaikan fakta!”


“Se-joo.. kurasa sekarang, Soo Ji bukan gadis yang kukenal dulu..”

“Bagaimana bisa kamu mengatakan itu? Kamu yang menjadikan dia begini. Berapa banyak beban yang harus Soo Ji lalui karenamu?!”

“Hentikan. Aku tahu semua itu! Tapi itu maslahnya sendiri!”

“Apa katamu, Bedebah?! Jangan pernah muncul di hadapannya lagi. Jika kamu membuatnya sedih lagi, entah apa yang akan kulakukan!”
Advertisement


EmoticonEmoticon